Bingung Mau Kasih Judul Apa…

April 12th, 2007 by adjhee

Assalamu’alaikum, yaa akhi wa akhwati fillah.
Telah lama ana tak menulis lagi tentang tulisan-tulisan ana di blog ini
khususnya disebabkan banyaknya kesibukan yang saat ini ana jalani ditengah
sela-sela tugas kuliah yang menumpuk dan mesti melakukan berbagai praktek
lapangan untuk melakukan penelitian
terhadap masyarakat.

 

Walhamdulillah, qadarallah beberapa saat yang lalu
ana pernah sembari melepas kelelahan dikarenakan banyaknya browsingan yang
harus dilakukan dalam memenuhi tugas kampus. Dan seperti biasanya ana
melakukannya dengan menyambinya membuka halaman Friendster ataupun YM (Yahoo!
Messenger). Qadarallah, secara tak sengaja ana berdiskusi dengan seorang ukhti
yang ia merupakan salah satu kader partai politik berbasiskan Islam di
Indonesia ini. Mulailah kami chat dengan membicarakan hal yang ringan terlebih
dahulu, hingga akhirnya kami sempat mencapai titik klimaks yang hampir-hampir
menyebabkan terjadi clash. Pembicaraan tersebut berkisar tentang permasalahan
politik Islam dan bagaimanakah politik Islam seharusnya itu.

 

Diskusi dilakukan pada hari Senin, tanggal 29
Shafar 1428 H atau dalam masehi pada tanggal 19 Maret 2007, pukul 22.00 malam.
Adapun mengapa hasil diskusi ini ana biarkan apa adanya tanpa melakukan edit
terlebih dahulu, semata-mata hanyalah untuk menjaga keaslian penulisan diskusi
ini dimana nanti antum semua akan mengetahui bahwa awalnya diskusi ini tak
bermaksud untuk melakukan debat antar gerakan Islam. Ana transkrip hasil
diskusi ini kedalam blog ini semata-mata bukan untuk gaya-gayaan atau merasa
paling hebat. Namun, yang ana harapkan para pembaca dapat mengambil ibrah dari
hasil diskusi ini, khususnya para aktivis yang menamakan dirinya kader dakwah
dan bekerja untuk kemajuan Islam. Dimana hendaklah apa yang akan ia lakukan
nantinya didasarkan oleh ilmu dan bashirah yang memadai dan tidak asal
serampangan dalam berdakwah. Sebagaimana di dalam QS. Yusuf : 108 :

 

Katakanlah:
"Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada
termasuk orang-orang yang musyrik".

 

Adapun ana tidak menampilkan nama teman diskusi
ana dengan nama aslinya melainkan dengan nama Ummu Abdullah sebagai pengganti
nama aslinya. Sedangkan ana pun tak dapat menampilkan alamat YM id nya ataupun
alamat e-mailnya dikarenakan pertimbangan satu dan lain hal. Baiklah demikian
mukadimmah dari ana selamat mengikuti, dan berikan komentar. Insya Alloh bila
ada waktu kembali untuk menurunkannya ana akan memberikan catatan terhadap diskusi
ini.

 

Afwan Jiddan transkrip Diskusi Dihapus, Karena Satu Dan Lain Hal. Harap maklum.

Barakallohufiikum kepada pihak yang telah mengkoreksi ana, tapi insya Alloh ana akan menyampaikan kebenaran sekalipun itu pahit. biidznillah

Walhamdulillah demikianlah isi dari transkrip yang
ana cantumkan ini…mohon maaf bila ada pengeditan pada nama tempat dan lokasi
yang memang tak dapat disebutkan, karena semata2 diskusi ini bukan untuk lain
hal, melainkan ana berharap dari diskusi ini para pengunjung blog yang aneh ini
dapat mengambil ibrah..

 

Wallahu ‘alam bishawwab..

 

 

Kajian di UIN Jakarta

March 4th, 2007 by adjhee

Hadirilah Kajian Islam Ilmiah

 

Dengan
Kitab

 

Syarh
Ushul Tsalatsah

( Karya,
Asy Syaikh Faqihul Ashr Muhammad bin Shalih Al Utsaimin )

 

Bersama  : Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdulrahman

 

Hari   :  Senin,
Insya Alloh Rutin

 

Waktu   :  Ba’da
Ashar / 16.00 WIC

 

Tempat : Masjid Al
Jamiah Student Center Universitas Islam Negeri Jakarta. Lantai Atas, Hijab
Berwarna Hijau

( tanpa pengeras suara ).

 

Terbuka Untuk Umum

Ikhwan & Akhowat

 

Penyelenggara ;

 

FKI ASY SYIFA UIN
JAKARTA

 

( Berdakwah
Ditengah Syubhat, Istiqomah Diatas Sunnah )

 

Contact Person
:

 


Abu Yahya Rizki : 0856 780 3627

 

Mirta E Fahmy : 0813 808 25347


 

 

Kemuliaan Ilmu dan Pentingna Berilmu

March 1st, 2007 by adjhee

Muadz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu berkata :

 

“ Belajarlah kalian akan ilmu, karena
mempelajarinya karena Alloh merupakan khasy-yah
(yakut) kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mempelajarinya kembali ilmu itu
adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, dan mengajarkannya kepada orang yang
belum tahu adalah shadaqah. Karena ilmu itu adalah petunjuk halal dan haram dan
petunjuk jalan ahli surga. Ilmu itu penghibur di saat takut, teman di saat
asing, teman bicara disaat sendiri, pedang yang menebas musuh, dan sebagai
perhiasan disaat kosong (tak punya perhiasan apapun).

 

Dengan ilmu ini, Alloh mengangkat derajat suatu
kaum sehingga Alloh jadikan mereka sebagai panutan dalam kebaikan, sebagai imam
(pemimpin) yang diikuti jejaknya, tindak-tanduknya mereka ditauladani dan
pemikiran mereka selalu dijadikan pegangan.

 

Malaikat senang menjadi sahabat karib mereka
(penuntut ilmu, pen) dan meletakkan sayap-sayapnya untuk mengagungkan mereka
(penuntut ilmu, pen). Seluruh yang basah maupun yang kering dan ikan-ikan di
laut berikut binatang buasnya dan binatang-binatang ternak, semuanya memintakan
ampun buat mereka (penuntut ilmu, pen). Karena ilmu itu penghidup hati yang
bodoh dan penerang bagi pandangan yang gelap. Dengan ilmu ini seorang hamba
bisa sampai kepada kedudukkan orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di
dunia dan akhirat.

 

Tafakkur dalam ilmu sama halnya dengan puasa dan
mempelajarinya sama halnya dengan qiyamullail. Dengan ilmu ini silaturahmi
tersambung dan dengannya-lah diketahui mana yang halal dan mana yang haram. Ilmu adalah imam bagi
amal, sedangkan amal pengikutnya, orang-orang yang diberi ilmu (dan
mengamalkannya) adalah orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang diharamkan
dari ilmu adalah orang yang bahagia. “

 

( Jami’
Bayanil Ilmi wal Fadhlihi
1 / 54-55, Al Imam Ibnu Abdil Barr )  

Meraih Kemulian Dengan Kemurnian Tauhid

March 1st, 2007 by adjhee

Prolog

 

Thayyib, awalnya tulisan ini mau saya beri judul La Izzata Ila bi At Tauhid, dengan
maksud untuk mendahulukan segala aspek dakwah, muamalah, ibadah, dan urusan
syari’ah lainnya kepada tauhid, dan tidak memulainya dengan aspek yang lain
dalam membenahi ummat. Dimana kita bisa melihat sebagian besar saudara kita
muslim, sangat menggebu-gebu dan bersemangat dalam berupaya untuk mendirikan daulah
Islam. Namun sangat disayangkan sebagian dari mereka justru tidak menyoroti hal
ini ( tauhid ) lebih awal sebagai prioritas utama. Melainkan mereka ingin
menjadikan Jihad, Daulah, Khilafah dan sebagainya sebagai prioritas utama.

 

Sehingga sangat disayangkan sekali, seandainya
saja mereka mau merenungi dan menggunakan seluruh semangatnya tidak untuk
hal-hal yang mubazir terlebih laisa minal
Islam
( bukan dari Islam ), maka Insya Alloh kita akan dapat menyaksikan
dan menyongsong kejayaan ummat lebih cepat dan menuai buah yang sempurna,
dengan kokohnya akar keimanan dan terpancangnya batang kemurnian secara
paripurna.

 

Selamat menikmati tulisan ini, semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca.

 

Pembahasan

 

Tauhid, adalah sesuatu yang paling mulia dan
merupakan suatu prioritas yang paling utama dan paling awal dalam Islam. Dakwah
seluruh Rasul dan Anbiya pertamakali ialah tentang At Tauhid, tentang
mengesakan Alloh menjadi satu-satunya Dzat Yang Berhak Diibadahi oleh kaum
muslimin dan menafikan sembahan-sembahan lain selain Alloh yaitu At Thaghut.

 

Ayat-ayat yang mendahulukan tentang wajibnya
mendahulukan tauhid ialah diantaranya sangat banyak sekali di dalam Al Qur’an,
diantaranya :

 


Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan ( yang berhak
diibadahi)melainkan Alloh. “
( QS. Muhammad : 19 )

 


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat ( untuk
menyerukan ): ‘ Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah thaghut. “
( QS. An Nahl : 36 )

 

Adapun hadist-hadist yang berkaitan dengan
pembinaan tauhid paling awal pun sangat banyak sekali, diantaranya ialah hadist
yang paling masyhur ialah hadist ketika Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa
sallama mengutus sahabat Muadz bin Jabal radhiayallohu’anhu, beliau shalallahu
‘alaihi wa sallama bersabda :

 


Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa
tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Alloh saja, maka jika mereka
menta’atimu dalam hal itu …..(dan seterusnya hingga akhir hadist tersebut) “
( Muttafaqun Alaih ).

 

Asy Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani
rahimahullah, mengatakan “ Jalan keluar dari semua problem ummat islam di dunia
modern sekarang ini dan setiap waktu ialah hal yang mengharuskan kita untuk
memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa
sallama, yaitu pertama-tama memperbaiki apa-apa yang telah rusak dari akidah
kaum muslimin. Dan yang kedua ialah ibadah mereka, sedangkan yang ketiga adalah
akhlak mereka “ ( Tauhid Awwalan Yaa
Duatal Islam
, terjemahan Indonesia. Tauhid
Prioritas Pertama Dan Utama
. hal 9  )

 

Namun belakangan ini munculnya gerakan-gerakan
Islam yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Islam khususnya Indonesia;
membuat ummat semakin bingung dan rancu dengan perkembangan Islam yang
dilakukan oleh antar gerakan islam. Diantara gerakan-gerakan Islam tersebut
justru ada yang memulainya tidak dengan pembinaan tauhid di awal dakwahnya atau
yang lebih dikenal dengan Tashfiyah
dan Tarbiyah, melainkan diantara
mereka justru menganggap hal ini merupakan permasalahan kulit bukan
permasalahan inti. Mereka membagi kondisi ummat ini dan kajiannya dengan
permasalahan inti ( juz’iyyat) dan
kulit (kulliyat). Bahwa memulai
dakwah dengan tauhid adalah sebuah usaha yang sia-sia dan terlalu lambat dalam
memajukan kondisi ummat Islam yang menurut dugaan mereka telah terpuruk.

 

Sehingga akhirnya mereka memulainya dengan
permasalahan-permasalahan yang dapat membangkitkan ghirah ummat dengan cepat.
Maka dihembuskanlah isu-isu tentang daulah
islamiyyah
, jihad fi sabilillah, masa’il waqi’iyyah, dimaqratiyyah harakiyyah, dan hizbiyyah
al jadidah
. Dimana hal itu mereka menganggap dapat mengembalikkan izzah
ummat Islam. Sehingga akhirnya timbullah ketergesa-gesaan dan menimbulkan sikap
saling menggampangkan terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka meremehkan
kaum muslimin yang itisham bi sunnah
dengan sungguh-sungguh dan terkadang mencibir dengan pandangan yang miris dan
meremehkan dakwah kepada islam yang sebenarnya dengan tuduhan-tuduhan keji,
jelek, dan kotor. Maka ketahuilah sesungguhnya usaha-usaha yang dilakukan oleh
gerakan-gerakan dakwah Islam saat ini tidak akan berhasil dengan paripurna dan
sempurna sebelum mereka kembali mendakwahkan tauhid terlebih dahulu diantara
masalah lainnya. Sebab tauhidlah seperti apa yang dikatakan di awal inti dakwah
para Nabi alaihimush shalatu wa sallam hingga akhir hayatnya.

 

Maka ketahui pula apabila dalam suatu masyarakat
telah terciptanya kekokohan tauhid dan keimanan mereka telah kuat dan tak mudah
goyah dengan segala macam syubhat niscaya Alloh akan menurunkan keberkahan pada
penduduk tersebut, sebagaimana firman alloh subhanahu wa ta’ala “

 

Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..”
 ( QS. Al A’raaf : 96 )

 

Kejayaan ummat Islam akan kembali bila mengikuti
generasi awal yang telah baik. Seperti  apa yang pernah dikatakan oleh Al Imam Malik
rahimahullah dalam memberikan solusi agar kejayaan Islam dapat kembali kepada
izzahnya. Perkataan beliau rahimahullah ialah “ tidak akan baik akhir ummat ini, sebelum kembali kepada apa-apa yang
membuat baik generasi awal ummat ini “
(dinukil oleh Al Imam Asy Syathibi
dalam Al Itishamnya).

 

Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang berfikir
jernih dan memiliki keyakinan dalam mencari sebuah kebenaran. Sudah sepantasnya
mereka memulai dakwahnya dan amal kesehariannya pertamakali ialah tauhid.
Tauhidlah jalan awal yang menjadi landasan bagi setiap muslim dalam
kehidupannya.

 

Wallahul muwaffiq.

 

 

 

Saudaraku…. Sudahkah Engkau Ikhlaskan Seluruh Perbuatanmu

February 17th, 2007 by adjhee

Seringkali kita mendengarkan sebagian orang
mengatakan perkataan seperti “ saya mah
ikhlas kalo di apa-apain.. ”
atau juga perkataan “ saya gak ikhlas kalo dia sampai melakukan hal itu…” dan perkataan-perkataan
lainnya yang semisal dengan itu. Umumnya pula masyarakat muslim di sekitar kita
pun tidak mengerti dan memahami apa itu ikhlas yang sebenarnya dan bagaimanakah
sesuatu dapat diakatakan ikhlas, maupun bagaimanakah pula caranya seseorang dapat
menggapai predikat ikhlas. Sehingga pernah ada suatu film yang mengangkat tema
ini, yang bercerita tentang seorang pria dimana ia berkeinginan untuk menikahi seorang
gadis, namun sebelum dapat menikahinya si pria di haruskan oleh orang tua si
gadis untuk dapat memiliki ilmu ikhlas.

 

Definisi ikhlas adalah memurnikan tujuan
bertaqarrub kepada Alloh azza wa jalla dari hal-hal yang mengotorinya. Arti
lainnya; menjadikan Alloh azza wa jalla sebagai satu-satunya tujuan dalam
segala bentuk ketaatan. Atau; mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu
berkonsentrasi kepada Al Khaliq. ( Tazkiyatun Nafs, Dr Ahmad Farid. Hal 1 )

 

Alloh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang
keikkhlasan di beberapa tempat di dalam Al Qur’an, diantaranya :

 


Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan
(katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah
Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah
menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)"
. (QS.
Al A’raaf : 29)

 

Di ayat yang lain Alloh berfirman :

 


Dan (aku Telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus
dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.”
( QS. Yunus : 105 )

 

Dan masih ada beberapa tempat lain di dalam Al
Qur’an yang menyebutkan tentang keutamaan ikhlas diantaranya, QS. Al Mukminuun
: 14 dan 65, QS. Az Zumar : 2 dan
11, QS. At Tahrim : 8, maupun ayat yang
paling masyhur dan sering diucapkan oleh para da’i di dalam tiap khutbahnya
yaitu QS. Al Bayyinah : 5.

 

Sebagian ‘ulama seperti Al Imam Fudhail bin Iyadh
dan Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan ikhlas termasuk merupakan syarat
diterimanya amal dan ibadah. Keikhlasan disandingkan dengan ittiba’ yaitu
mengikuti dengan benar apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahahu
‘alaihi wa sallam. Keikhlasan memiliki derajat yang agung dan kedudukan yang
tinggi, sehingga Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat
haji Wada’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallohu
‘anhu yaitu :

 


Semoga Alloh mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya.
Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga
hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal
kepada Alloh, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin, dan
selalu bergabung dengan jama’ah mereka. “
( HR. Al Bazzaar ) [1]

 

Setidaknya kita pun pernah mendengar hadist yang
berbunyi tentang ketiga manusia yang dilemparkan oleh Alloh kedalam neraka
disebabkan amalan-amalan yang dilakukan oleh mereka tidak diniatkan ikhlas
karena Alloh. Diantaranya ialah seorang qari’ yang membaca Al Qur’an hanya
untuk dikatakan bahwa ia adalah seorang yang bagus bacaanyna, adapula seorang mujahid
yang hanya ingin dipanggil sebagai mujahid / pahlawan dan jihadnya itu tidak
dilakukan karena Alloh, adapula seorang dermawan yang hanya ingin dipanggil
sebagai orang yang baik dan hanya ingin diketahui oleh orang banyak bahwa ia
adalah seorang dermawan.

 

Telah banyak atsar dan qaulus salaf tentang
perkataan-perkataan yang menyatakan tentang keutamaan ikhlas, diantaranya :

 

Dari Musa bin Al Mu’alla, dia berkata : Hudzaifah
berkata : “ Wahai Musa, ada tiga hal
jika ketiuganya berada dalam dirimu maka tidak akan ada kebaikan yang turun
dari langit kecuali hanya yang memang telah menjadi bagianmu. Pertama,
hendaklah amal perbuatanmu ikhlas karena Alloh azza wa jalla. Kedua, hendaklah
kamu mencintai manusia sebagaimana ketika kamu mencintai dirimu sendiri.
Ketiga, hendaklah kamu mencari makananmu yang halal. “ ( Shifatush Shafwah IV /
269, Karya Abul Faraj Ali bin Al Jauzi ).

 

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata : Hamdun bin
Ahmad pernah ditanya : “ Mengapa perkataan orang-orang salaf bisa lebih
bermanfaat dibandingkan dengan perkataan kita ?” Dia ( Hamdun bin Ahmad )
menjawab : “ Sebab mereka berbicara atas nama kejayaan Islam, dengan jiwa yang
murni dan karena mencari ridha Dzat Yang Maha Pengasih. Sedangkan kita
berbicara berdasarkan kejayaan pribadi, mencari dunia dan untuk mencari ridha
makhluk. “ ( Shifatush Shafwah IV / 122 ).

 

Demikianlah sebagian dari perkataan teladan yang
telah mendahului kita, dimana mereka ( para salafush shaleh )melakukan segala
hal di dalam kehidupan mereka semata-mata hanya dilakukan untuk mengharapkan
Wajah Alloh… dan saat ini pula sebagian ‘Aimmah Ahlusunnah yang hidup pada
zaman mutaakhirin semisal Asy Syaikh Ibnu Baaz, Asy Syaikh Nashiruddin Al
Albani, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin, Asy Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi,
dan selainnya. Senantiasa melakukan selruh amalannya hanya untuk Alloh dan
mengharapkan hanya RidhaNya. Setidaknya hal ini dapat kita temukan dalam
berbagai mukaddimah kitab mereka yang terkadang berbunyi “ Semoga Alloh menjadikan amalanku hanya
untuk mengharapkan WajahNya saja “

 

Lantas saudaraku, sudahkah saat ini kita telah
melakukan hal yang sama dengan senantiasa menjaga segala bentuk amalan kita
dari riya’, sum’ah, dan penyakit hati lainnya yang dapat menjadi sebab
terhalangnya keridhaan Alloh kepada para hambaNya.

 

Yaa…keikhlasan yang tumbuh dari dalam diri dan
tidak hanya sekedar perkataan tanpa arti dan makna. Dan jadikanlah pembeda
dalam ucapanmu antara kerelaan dengan keikhlasan. Sebab keikhlasan adalah
merupakan amalan hati dan hanya Allohlah yang tahu apakah ia itu ikhlas ataupun
tidak.

 

Semoga kita semua terlindung dari hal seperti itu
dan Alloh menjaga kita dan hati kita agar tetap di dalam keikhlasan dalam
beribadah kepadaNya. 

 

Wallahul Muwaffiq..

 

Maraji’

 

Dimana
Posisi Kita Pada Kalangan Salaf
, Abdul ‘Aziz bin Nashirul Jalil & Bahauddin bin Fatih ‘Aqil.
Penterjemah Wawan Djunaedi,  Penerbit Pustaka
Azzam.

Tazkiyatun
Nafs
,  Dr. Ahmad Farid. Penterjemah Imtihan Asy Syafi’i,
Penerbit Pustaka Arafah

Catatan Kaki


[1] HR. Al Bazzaar dengan isnad hasan
dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya. Hadist ini shahih, dan diriwayatkan juga
oleh Ibnu Majah dari berbagai jalan, As Sundiy berkata, “sebagian hadist ini
telah diperbincangkan dalam Az Zawaaid.
Akan tetapi matan-matannya nyata-nyata benar dari para imam. ( I / 104 ) Ibnu
Hibban mencantumkan hadist ini dalam Al
Mawaarid
hal 47 dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu. Wallahu
‘alam

Murrabi’… Sekarang Aku Telah Menemukan Kebenaran Itu

February 13th, 2007 by adjhee

( bagian kedua dari serial ‘Kembalilah Murrabi’ku’,
tulisan sebelumnya adalah ‘Pesan Singkat Untuk Murrabi’ku’ bagi yang belum
mengikutinya dapat dibaca  di sini
)

 

Alhamdulillah..ini mungkin surat kedua yang aku
tujukkan untukmu, guruku sekaligus sahabatku tersayang. Oh iya semoga engkau
telah membaca suratku sebelumnya dan semoga pula kau tak merasakan keheranan
ataupun terkejut sebelumnya.

 

Akhi / ukhti murabbi’ku.. aku telah mengetahui dan
mengikuti kajian yang dikatakan penuh dengan kebenaran itu, dan aku sangat
merasakan hal yang berbeda di dalam kajian itu. Kenapa yaa..?? mungkin karena
ini kali pertama aku merasakan sebuah sensasi baru dalam kehidupan keislamanku.

 

Akhi / ukhti murabbi’ku.. sebenarnya aku sangat
riskan untuk mengatakan ini. Hal ini terjadi ketika aku baru pertama kalinya
memasuki majelis kajian itu. Entah mengapa yaa..?? saat itu aku sendirian
memasukinya dan merasakan hatiku penuh dengan gejolak yang semakin lama,
semakin terus berkecamuk di dalam dadaku ini.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. sungguh kudapati kajian
yang penuh ilmu, perkataannya tak pernah keluar dari apa yang difirmankan oleh
Alloh dan apa yang dikatakan oleh RasulNya, selain itu pula aku temukan di
dalamnya para ustadznya (begitu mereka menyebutnya) tidak termakan dengan
isu-isu yang terjadi di luaran sana.. seakan-akan dalam kajian ini terdapat
keteduhan dan sajiannya tidak terlepas dari sesuatu yang melalaikan dan
merugikan.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. mengapa ketika ku disana
aku menemukan sesuatu yang berbeda di bandingkan dengan halaqoh kita, tidak
sekalipun mereka mengatakan tentang sesuatu berdasarkan kehendak dan dari akal
pikiran mereka, ketika itu juga bila bersamamu halaqoh kita terfokus pada
tarbiyah. Maka kali ini lain, kali ini kajian yang ada memfokuskan kepada dua
hal sekaligus yaitu tashfiyah dan tarbiyah.. mengapa seperti itu..?, semoga
nanti aku menemukan jawabannya..

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. sungguh aku sangat ingin
untuk mengajakmu dan sahabat kita yang lain untuk duduk di kajian itu, bersama
saudara muslim yang lain menikmati indahnya untaian perkataan-perkataan yang
bermanfaat dari Alloh dan RasulNya dengan pemahaman generasi yang sesungguhnya
merasakan kemenangan, yaa… generasi  yang
penuh dengan kegemilangan dan kebenaran dibawah bimbingan hamba Alloh yang
paling dicintaiNya alaihimush shalatu wa sallam.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. ikutlah dikajian itu
niscaya engkau, aku, dan sahabat yang lain akan merasakan sesuatu yang
subhanallah…. membuat mataku semakin berkaca-kaca dan merasakan kegembiraan
yang nyata. Sebagaimana ketika dahulu aku menemukan halaqoh yang di bina
olehmu..

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. mari kita bersama ikuti
kajian itu, mari bersama pula kita memfokuskan kepada ilmu yang bermanfaat dan
pemahaman yang benar, mari bersama juga kita menuntut ilmu yang diridhai oleh
Alloh.. majelis yang penuh dengan dzikrullah.. majelis yang dipenuhi oleh para
malaikat yang membentangkan sayapnya.. majelis yang diisi oleh orang-orang yang
semangat untuk bersegera kepada kebaikan..majelis yang penuh dengan hamba-hamba
Alloh yang zuhud..hamba Alloh yang wara’.. dan hamba Alloh yang senantiasa haus
dengan ilmu syar’i berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasululloh shallahu
‘alaihi wa sallam.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. aku berharap kepada
Alloh, semoga surat ini dapat membuat dirimu menemui kebenaran yang selalu
engkau rindui.. akhi / ukhti buanglah terlebih dahulu prasangka yang
menyelimuti qalbumu terhadap kajian penuh ilmu ini.. jauhkan pula segala bentuk
caci-maki yang pernah kau lontarkan kepada saudara-saudara muslim kita selagi
dahulu.. toh buktinya murrabi’ku, di kajian yang pernah kau caci dan sering kau
ghibahi ini tersimpan ilmu yang ternyata kita belum pernah mengetahuinya.

 

“…
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak Mengetahui.”
( QS. Al - Baqarah : 216 )

 

 

Silaturahmi Akbar, Ulama dan Ummat 4

February 5th, 2007 by adjhee

HADIRILAH!
TERBUKA UNTUK UMUM


Silaturahmi Akbar
ULAMA & UMMAT


SEBAB-SEBAB TURUNNYA MUSIBAH DAN AZAB SERTA JALAN
KELUARNYA

Bersama Ulama Ahli Hadits dari Yordania
Murid-murid senior Syaikh Al-Albani rahimahullah

Syaikh Salim Bin ‘Ied al-Hilali
Syaikh Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid al-Halabi
Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nashr

Masjid ISTIQLAL, Jakarta
Sabtu, 10 Februari 2007
09.00 - Dhuhur

Hadiri pula Silaturahmi & Tabligh Akbar :


KEMBALI kepada Al-QUR’AN & AS-SUNNAH
DENGAN PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH

Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara
Ahad, 11 Februari 20007
09.00 - Dzuhur

RUTE ANGKUTAN UMUM ke Jakarta Islamic Centre:

KP.
Rambutan PAC07/P8,

Cawang/Cililitan
P8A,

Blok
M PAC65/P89


Ciputat PAC135,

Bekasi
PAC25/P40,

Cikarang
Mayaraya,


Cikampek Warga Baru,

Tangerang
Bus AJA


Kemudian naik KWK 06, Jurusan Semper, turun di JIC

Informasi:
0815 8863 543
0812 9040 267
0812 1055 616
0812 1055 891

Penyelenggara:
Yayasan Imam Bukhari,

Jakarta

Yayasan Minhajus Sunnah,

Bogor

Mengapa Salafiyah ???

January 31st, 2007 by adjhee

MENGAPA
SALAFIYAH

 

Lahirnya istilah
Salafiyah sebenarnya merupakan sebuah tuntutan keadaan dari munculnya
berbagai firqah atau kelompok baru dalam tubuh umat Islam. Jadi pada
dasarnya sebutan salafiyah, ahlussunnah dan yang semisal itu tidak akan
ada kalau saja dalam tubuh umat Islam tidak muncul berbagai aliran dan kelompok
yang menyimpang dari jalan Nabi dan para shahabat.

 

Disebabkan umat
Islam terpecah, maka istilah Salafiyah / ahlusssunnah tersebut
keberadaannya justru menjadi sebuah keharusan, sebab tanpa dimunculkannya nama
ini, kaum muslimin tidak dapat membedakan mana kelompok yang paling sesuai
dengan jalan para pendahulunya: Nabi, shahabat dan tabi’in. Banyak dalil shahih
yang menunjukkan bahwa ummat Islam ini akan terpecah belah dan mengalami banyak
perselisihan seperti disebutkan dalam hadits iftiraq atau hadits Al-Irbadh bin
Sariyah.

Dan fakta juga membuktikan bahwa apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut
benar-benar terjadi. Belum selesai masa Khulafaur Rasyidin umat Islam sudah
mulai berpecah belah dan bahkan hingga saling bunuh, yakni dengan munculnya
firqah khawarij. Dan seterusnya muncul berbagai kelompok aliran seperti syi’ah,
murji’ah, qadariyah, jabbariyah, shufiyah
dan lain-lain. Maka dalam kondisi
demikian ahlussunnah atau salafiyah menjadi sesuatu yang mau tidak mau pasti
ada atau tidak bisa tidak.

 

Mungkin akan
timbul pertanyaan, "Bukankah dengan memunculkan nama salafiyah,
ahlussunnah justru akan menambah perpecahan dan memperparah keadaan?"
Mengapa kita tidak mengembalikannya sebagaimana pada masa Nabi dan shahabat
yaitu Islam atau Muslimin? Untuk
menjawab pertanyaan ini maka kita harus mendudukkan beberapa masalah, yaitu:

 

Pertama;
Sebutan Islam atau muslim secara mutlak itu berlaku ketika kaum muslimin dalam
keadaan bersatu, sebagaimana yang terjadi pada masa Nabi dan generasi terbaik setelah
beliau.

 

Ke Dua;
Ajaran salafiyah atau ahlussunnah itu adalah ajaran kaum muslimin atau Islam
sebelum mereka berpecah. Dan dalam keadaan umat terpecah, terbukti ahlussunnah
tetap komitmen dengan para pendahulunya. Jadi esensi ajaran mereka sama sekali
tidak berubah atau menyelisihi apa yang dipegang oleh Rasulullah dan para
shahabat.

Ke Tiga; Apabila ahlussunnah hanya menggunakan nama Islam secara mutlak,
maka tidak ada yang dapat dibedakan antara mereka dengan kelompok-kelompok
lainnya yang menyimpang dari al-haq, sebab mereka yang menyimpang dari manhaj
nabawi pun mengatasnamakan Islam.

 

Ke Empat;
Penyebutan salafiyah atau ahlusssunnah ini justru untuk mempertahankan
identitas dan memberikan tekanan bahwa mereka adalah kaum muslimin yang
benar-benar konsisten dengan jalan Islam yang ditempuh Nabi dan para shahabat.

 

Ke Lima;
Salafiyah atau ahlussunnah tidak berintima’ atau dinisbatkan kepada seseorang,
tetapi berintima’ kepada Nabi dan para shahabat. Salafiyah atau ahlussunnah
bukan kelompoknya Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab, Imam Ibnul Qayyim, bukan pula kelompoknya Syaikh Bin Baz, Syaikh
Nashiruddin al-Albani, Syaikh Utsaimin.

 

Karena itu tidak
pernah ada yang namanya amir salafiyah, musyrif ‘aam atau sekjen salafiyah. Ini
menunjukkan bahwa salafiyah bukanlah firqah yang ta’ashub kepada seseorang,
sebagaimana terjadi pada aliran-aliran sesat atau thariqah shufiyah dan
selainnya. Mereka menjadikan syaikh mereka sebagai figur sentral dan
berta’ashub buta kepada masyayikhnya. Sementara ahlussunnah mengikuti masyayikh
dan para ulama semata-mata karena kesesuaian dan komitmen mereka kepada sunnah
Nabi.

 

Ke Enam;
Penggunaan istilah ahlussunnah wal jama’ah, al jama’ah, salafiyah, ahlul hadits
dan semisalnya adalah sah-sah saja. Sebab itu tidak menghilangkan eksistensi
dan identitas keislaman, bahkan memperjelas identitas pada masa perpecahan.
Dalil yang paling jelas adalah hadits Nabi, yang merangkan tentang iftiraq (perpecahan
ummat).

 

Nabi bersabda, "Umat
yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, umat nashrani
telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah
menjadi tujuh puluh tiga golongan. Seluruh golongan itu masuk neraka kecuali
hanya satu kelompok saja.

 

Para shahabat bertanya, "Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah? Beliau menjawab, "Mereka adalah al-Jama’ah" (HR.
Abu Dawud, ad-Darimi, Ahmad, al-Hakim, berkata al-Hakim "Sanad-sanadnya
dapat menjadi pegangan untuk menshahihkan hadits ini," disetu-jui oleh
adz-Dzahabi. Al Hafidz berkata, "Sanadnya hasan, Syaikul Islam Ibnu
Taimiyah berkata, "Ini adalah hadist shahih masyhur". Dishahihkan
oleh asy-Syathibi dalam al-I’tisham, dan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, no
204).

 

Perhatikan
jawaban Nabi ketika para shahabat bertanya, "Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah? Yaitu siapakah satu golongan yang akan selamat itu. Maka beliau
menjawab, "Mereka adalah al-Jama’ah". Rasulullah tidak mengatakan
bahwa mereka adalah al Islam atau Muslimin.

 

Apakah kita
berpikiran bahwa Nabi akan mengganti agama Islam pada saat terjadi perpecahan
dengan nama baru yaitu al-Jama’ah? Tidak sama sekali, sebab al Jama’ah yang
dimaksudkan Nabi ini tidak lain juga Islam yang beliau praktekkan bersama para
shahabat. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau dalam riwayat lain
ketika para shahabat bertanya dengan pertanyaan serupa, beliau menjawab, "Man
kaana ‘ala mitsli maa ana ‘alaihil yauma wa ash-habii." Yaitu siapa saja
yang seperti aku dan para shahabatku saat ini."

 

Kalau kita
menggunakan nama Islam dalam menyifati satu golongan yang selamat ini, maka
jelas tidak akan nyambung. Bagaimanakah kita akan memahami kalimat berikut ini,
"Ummat Islam akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya
di neraka, kecuali hanya satu golongan saja yang selamat, yaitu Islam."

Dalam kalimat ini tidak ada yang spesifik, sehingga membutuhkan penekanan bahwa
di antara mereka yang menisbatkan diri dalam Islam yang selamat adalah yang
Islamnya sesuai dengan Islamnya Nabi dan para shahabat atau jama’ah (kelompok)
mereka, yakni Islam ahlussunnah wal jama’ah, salafiyah, ahlul hadist, ahlul
atsar dan semisalnya.

 

Kasus ini mirip
dengan yang terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal, yakni ketika ada seseorang
bertanya kepada beliau, "Apakah tidak cukup kita mengatakan bahwa
al-Qur’an kalamullah, tanpa tambahan bukan makhluk? Maka beliau menjawab,
"Kalimat itu (Al-Qur’an kalamullah) tidak ada masalah jika diucapkan pada
masa shahabat, tetapi untuk saat ini maka harus ditambah dengan kalimat
"bukan makhluk" karena kondisinya berbeda." Ucapan beliau ini
sangat beralasan, karena pada saat itu menyebar di kalangan kaum muslimin paham
mu’tazilah yang berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan paham ini
menjadi madzhab resmi pemerintahan kala itu.

 

Karena perlunya
spesifikasi inilah, seorang pemimpin partai politik di Indonesia menambahkan
kata "perjuangan" *) pada nama partai yang dia pimpin. Sebabnya
adalah karena ada pihak lain yang mengklaim punya partai dengan identitas yang
sama. Nah untuk membedakan antara partainya dengan partai lain yang serupa,
serta untuk memperjelas identitas bahwa visinya adalah visi yang semula ketika
partai belum pecah, maka dia menambahkan kata perjuangan tersebut. Padahal
partai tersebut hanya terpecah menjadi dua kubu saja, lalu bagaimana dengan
ummat Islam yang oleh Rasulullah sudah dipastikan akan terpecah menjadi tujuh
puluh tiga golongan?

 

Maka sangat
beralasan dan bahkan merupakan keharusan jika kita menambahkan kalimat
ahlussunnah (sunni), salafi pada identitas keislaman kita, pada saat kondisi
kaum muslimin sedang terpecah belah. Jadi kesimpulan-nya tidak ada yang perlu
dikhawatirkan atau ditakutkan dengan sebutan salafiyah, ahlussunnah atau al
jama’ah. (Kholif Muttaqin)

*) Ini hanya
sebagai misal dalam hal perpecahan.

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=409

AL-KAFIYAH ASY-SYAFIYAH FIL INTISHOR LIL FIRQOTIN NAJIYAH

January 29th, 2007 by adjhee

(sebuah kutipan
dari Qashidah Nuuniyah karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah)

 

Sungguh aku akan
menjadikan peperangan terhadap mereka ahlul ahwa’ dan bid’ah sebagai
kebiasaanku

 

Dan sungguh aku
akan membongkar kedok mereka di hadapan orang banyak

Memotong kulit mereka dengan lisanku

 

Akan kusingkap
rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi

 

Bagi orang yang
lemah diantara makhluk-Mu, dari mereka dengan penjelasan

 

Aku akan selalu
membidik mereka hingga dimanapun mereka berada
Hingga dikatakan hamba yang paling jauh

 

Sungguh aku akan
merajam mereka dengan bukti-bukti petunjuk

 

Sebagai rajam
terhadap pembangkang dengan bintang yang gemerlapan

 

Sungguh aku akan
menggagalkan tipu daya mereka

 

Dan aku akan
mendatangi mereka di setiap tempat

 

Sungguh aku akan
buat daging-daging mereka menjadi darah mereka

 

Pada hari
datangnya pertolongan-Mu adalah pengorbanan yang sangat besar

 

Sungguh aku akan
datangkan pada mereka pasukan tentara

 

Yang takkan lari
ketika dua pasukan telah saling berhadapan

 

Dengan
membawakan pasukan tentara pengikut wahyu dan hati nurani

 

Memadukan logika
dan nash-nash syariat dengan baik

 

Hingga jelaslah
bagi orang yang berakal

 

Siapa yang lebih
utama menurut logika dan petunjuk

 

Sungguh aku akan
menasehati mereka karena Allah kemudian Rasul-Nya

 

Kitab-Nya dan
syariat-syariat keimanan

 

Jika Tuhanku
menghendaki dengan saya kekuatan-Nya

 

Jika tidak
dikehendaki, maka perkara itu kembali kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

 

( Majalah Adz
Dzaakiirah Al Islamiyyah )

Alangkah Mulianya Menuntut Ilmu Agama !!!

January 29th, 2007 by adjhee

Imam Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah rahimahullah, berkata :

( Ilmu adalah
peninggalan dan warisan para Nabi, oleh karena itu ), Ahli Ilmu adalah pewaris
para Nabi. Ilmu adalah kehidupan bagi hati, pelita tuk penerangan dan obat bagi
sanubari. Ilmu adalah taman akal pikiran, penyejuk bagi yang dilanda resah dan
gulana serta kelezatan bagi rohani. Dialah petunjuk bagi yang ditimpa
kebingungan dan dialah timbangan bagi kata dan amal perbuatan serta realita
dalam kehidupan ini

 

Ilmu adalah
pembeda antara keraguan dan keyakinan, antara petunjuk dan kesesatan. Dengan
ilmu itulah Alloh dikenal dan di ibadahi, disebut dan di Esakan, di sanjung dan
dipuji. Dengan ilmulah seseorang yang berjalan menemukan tujuan. Dari jalan
ilmulah orang bisa meraih impian dan harapan. Dengan ilmulah ( manusia )
mengetahui hukum-hukum syari’at, mengenal mana yang halal dari yang haram.
Dengan ilmu itulah tali persaudaraan semakin merekat. Dengan ilmu itulah bisa
diketahui apa yang dicintai dan diridhai
oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, yang dengan mengikuti ( syari’at-Nya )
seseorang bisa mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Ilmu adalah imam
dan perbuatan adalah makmumnya. Dia adalah panglima sedangkan amal adalah
prajuritnya. Ilmu adalah teman dikala keterasingan, tempat kecurahan hati
dikala kesepian, penghibur lara tatkala dirundung kegelisahan. Ilmu adalah
penyingkap bagi kesamar-samaran. Ilmu adalah suatu kekayaan yang takkan pernah
miskin pemiliknya. Ilmu adalah tempat bernaung yang takkan pernah tersia-siakan.

 

Mempelajari ilmu
adalah tasbih, menuntut ilmu merupakan jihad dan mendekatkan diri kepada Alloh.
Menyebarkan ilmu itu shadaqoh, mengulang kembali itu sama pahalanya dengan
puasa dan shalat ( dimalam yang gelap gulita-pent ) kebutuhan manusia akan ilmu
melebihi kebutuhan tuk makan dan melepas dahaga.

 

( Madaarijus
Salikin 3 / 469 – 470 ; Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 12 Th. II 1425 H / 2005 M )