Archive for February, 2006

Ikhwanul Muslimin… (kami dapat dari salah satu web salaf ikhwan lombok)

Tuesday, February 21st, 2006

Ikhwanul Muslimun

Sebuah Bencana yang Dianggap anugrah

   Di bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah yang sebenarnya kesibukan orang akan maksimal dengan ibadah dan ketaatan, qiyamullail, membaca al Qur’an serta ketaatan yang lainnya akhirnya disibukkan dengan fitnah yang boleh dibilang merupakan fitnah yang ketiga bagi ahli sunnah- salafiyyin dipulau “seribu masjid ini”. Fitnah yang pertama ketika markaz da’wah ahli sunnah (masjid Aisyah -Mataram) pertama kali difungsikan sebagai sarana ibadah pada awal bulan ramadhan tahun 1422 H, Ahli sunnah dikejutkan dengan serangan fitnah dan kedustaan yang pertama dari seorang dedengkot ikhwan yang hasad terhadap perkembangan dakwah salafiyah dengan mengadakan tabligh akbar di masjid PTN terkenal dipulau ini yang tidak jauh dari lokasi masjid Aisyah dengan tema “Hakikat dakwah salafiyah” yang berisi kedustaan dan pemutar balikan fakta dimana yang hak menjadi bathil dan yang bathil menjadi hak, lalu fitnah itu surut dan bahkan tenggelam setelah dengan izin Allah salafiyyin dalam waktu kurang lebih satu minggu mengadakan tabligh akbar tandingan di masjid Aisyah dengan tema “Hakikat dakwah salafiyah” yang membongkar kedustaan mereka, lalu muncul fitnah yang kedua, makalah sebuah majalah yang mengangkat tuduhan bahwa salafiyyin adalah agen zionis, yang para fanatikus IM (Ikhwanul Muslimin) memiliki andil dalam penyebaran tulisan fitnah dan dusta tersebut beserta ahli bid’ah yang lain, yang fitnah tersebut kemudian tenggelam dan hilang dengan izin Allah dengan terbitnya edisi khusus buletin Al Hujjah dalam 16 halaman membongkar kedustaan fitnah itu dengan judul “Siapa sebenarnya yang agen Yahudi”, sehingga sangat benar perkataan Imam Al-Barbahari yang menyatakan bahwa ahli bid’ah ibarat kalajengking yang bersembunyi yang akan menggigit bila orang lengah, Ahli bid’ah akan terus membuat tipu daya dan makar untuk mencelakakan ahli sunnah bahkan kaum muslimin secara umum dengan menyesatkan mereka dari jalan yang hak.

 Dan sekarang fitnah yang ketiga dengan terbitnya edisi buletin “Risalatuna” dibulan ini yang merupakan corong dakwah IM di Lombok yang tiba-tiba muncul kembali setelah cukup lama hilang dari peredaran yang merasa mendapat angin segar dengan materi yang disebarkan, muncul dengan menyematkan label baru: ”Menghidupkan aqidah dan fikrah SALAF” dan membuat sensasi dengan judul dibawahnya:”AL IKHWANUL MUSLIMUN Anugerah Allah yang terzholimi” yang edisi awal untuk judul ini berisi tentang sejarah perjalanan IM yang terus dizhalimi dengan maksud tentunya para pembaca akan menaruh simpati dengan IM yang “terzhalimi” yang setelahnya para pembaca akan gampang terbius dengan doktrin –doktrin dusta IM, dan mereka menjanjikan edisi bersambung dengan judul ini dan kita menanti kelanjutannya.

Sebenarnya judul tersebut beserta isinya mereka ambil dari buku yang ditulis Farid Nu’man dengan judul “AL IKHWAN AL MUSLIMUN Anugerah Allah yang terzalimi Sebuah Koreksi Bijak dan Tuntas atas Tuduhan, Fitnah dan Celaan tak Pantas Terhadap Manhaj dan Tokoh-Tokohnya”. Yang diterbitkan oleh Pustaka Nauka, Depok, cetakan pertama Agustus 2003 dengan pengantar Amang Syafrudin,Lc. Dan buku ini telah dibedah penulis sendiri di masjid al-Ikhlas Pasar Minggu Jakarta Selatan pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2003 dengan pembanding Musyaffa’ Abdurrahim (buku dan kaset rekaman bedah buku tersebut ada pada kami).

 Sebagaimana kebanyakan buku-buku Ahli bid’ah, isinya sarat dengan kedustaan, penyimpangan, dan penyelewengan ilmiah semata-mata untuk menyerang Ahli sunnah dan menjatuhkan panji-panji yang diusung oleh para ulama’nya. Kamipun telah memberikan banyak”goresan tinta merah”dalam penelitian kami terhadap buku tersebut, yang telah kami masukkan dalam “daftar hitam” kedustaan dan penyelewengan mereka terhadap dalil dan fatwa ulama.Tentunya Ikhwaniyyin menyambut terbitnya buku ini dengan euforia takbir, riuhnya luapan kegembiraan yang diselingi oleh lebarnya senyum kepuasan dan kemenangan.

 Kami katakan:”Wahai Ikhwaniyyin…!!, jangan senang dulu, terbitnya buku tersebut justru menjadi bumerang sekaligus awan kelabu bagi kalian, atau bahkan bom waktu yang tinggal menunggu sesaat untuk meledak”.

Artinya:”Rencana yang jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri” (Fathir:43)

 Karena dengan terbitnya buku tersebut justru semakin menampakkan penyimpangan IM yang selama ini terpendam oleh tabir sandiwara dan kedustaan. Kehadiran buku tersebut adalah bukti otentik tertulis yang justru membeberkan dengan nyata dan gamblang betapa amburadulnya manhaj ilmiah yang ditempuh oleh sesepuh-sesepuh IM, dan betapa rusaknya metode penulis dalam membawakan dalil dan kaidah yang hak untuk digiring kepada pemahaman dan praktik penetapan sesuatu yang bathil. Cukuplah kemahiran mereka dalam memoles dalil untuk maksud yang bathil sebagai bukti betapa berbahayanya gerakan ini bagi Islam dan kaum muslimin. Penulis telah mengukir di dalam buku tersebut kesalahan dan kedustaan yang diramu dengan celaan terhadap salafiyyin bahkan para ulama’nya; dimana mustahil bagi dia untuk menghapusnya kecuali dengan kembali merubah sejarah.

 Atas dasar beberapa pertimbangan syar’i, Al-Hujjah memutuskan untuk memuat bantahan terhadap buku”Al Ikhwanul Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi”, Insya Allah dalam beberapa seri kedepan, sebagai realisasi dari firman Allah:

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran:104).

  Dan sebagai bias dari apa yang pernah terucap oleh lisan Nabi kita yang mulia: “Agama itu adalah nasehat ….(HR.Muslim).

 Sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh para ulama’ salaf bahwasanya membantah penyimpangan dalam agama adalah jihad, dalam rangka menjaga persatuan kaum muslimin diatas al-Haq. Sebab tidaklah seorang mu’min dikatakan mencintai saudaranya karena Allah, jika ia membiarkan saudaranya itu tenggelam dalam penyimpangan dan bahkan menyemprotkan penyimpangannya itu untuk membius saudara mu’min lainnya.

 Sikap tegas kami terhadap Ikhwanul Muslimin adalah sikap yang proporsional mengingat apa yang telah menimpa kaum muslimin di Aljazair sebagai ulah IM melalui partai FIS-nya yang bermain-main dengan api sehingga menyebabkan tumpahnya darah ribuan mu’minin hasil pembantaian karena perang saudara yang belum reda benar fitnahya hingga hari ini. Maka tengoklah bagaimana Aljazair hari ini. Negara ini tengah dikangkangi oleh kaum kuffar, kehidupan ala eropa telah merongrong eksistensi Islam dan jati diri kaum muslimin, dan semisal dengannya apa yang terjadi di Suria, Tunisia dan sebelumnya di Mesir. Inikah yang kalian inginkan wahai Ikhwaniyyin ..?? (lih. Pandangan tajam terhadap Politik oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi hafizhohullah). Sikap keras kami terhadap Al Ikhwan sangatlah beralasan mengingat apa yang telah menjelma di Sudan sebagai hasil kerajinan tangan mereka (Ikhwanul Muslimin); yang telah menyeret Islam ke bengkel liberalisme untuk menerima servis bongkar pasang dan modifikasi, kemudian menjadikan Islam hasil pretelan itu sebagai dasar negara mereka – na’udzubillah  (Lihat kitab Al ‘awashim mimma fi kutub sayyid quthb minal qowashim oleh Syaikh DR.Robi’ bin Hadi Al madkholi hafizhohullah). Pengalaman pahit yang telah menimpa dunia Islam inilah yang tidak kami inginkan untuk terulang kembali bagi kaum muslimin di seluruh belahan bumi terutama di Indonesia.

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (al Hasyr : 2)

Cacian dan cercaan terhadap salafiyyin yang menghiasi buku Farid Nu’man tidak akan memudaratkan kecuali dirinya sendiri. Tidak ketinggalan pula perbuatan talbis (pengkaburan) yang dilakukannya terhadap dalil–dalil yang menjelaskan tentang kemudahan Islam. Konsep samahah (toleransi) Islam dan taisir (kemudahan) dalam Islam ia pelintir sedemikian rupa sehingga jadilah kemudahan Islam itu diterapkan dengan “terpaksa” yang mengebiri sekian banyak hukum Islam lainnya. Dia menebar syubhat seolah–olah terdapat kekeliruan pada manhaj salafiyyin dan para ulama’nya yang menyelisihi manhaj salafus sholeh, dan yang diatas manhaj salafussholeh justru IM dan tokoh-tokohnya. Dia berusaha meng-goalkan konsep dasar yang diusung oleh IM berupa perjuangan Islam melalui kancah politik (non-syar’i) dan demokrasi ala kuffar yang berusaha meraup sebanyak-banyaknya massa dan suara. Hal ini memaksa penulis untuk memeras otak dalam mencari dalil demi menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya dia menemukan dalil-dalil yang menjelaskan tentang kemudahan dan toleransi Islam sebagai sasaran yang empuk untuk “diobok-obok”. Betapa senang dan berbunga hatinya ketika menemukan sang “tokoh” idola seperti Yusuf Qardhawi dan yang lainnya mendukung pemikirannya di banyak buku-buku mereka (anda akan melihat contoh-contohnya dalam edisi Al hujjah selanjutnya). 

Akhirnya menyemburatlah malapetaka….!! Tiba – tiba muncul istilah-istilah yang diberi label islam agar orang tidak berat hati dan merasa terbebani dengan dosa, musik islami, drama islami, artis islami(muslimah boleh jadi artis dengan syarat-syarat khayalan yang diberikan Qordhowi seperti pada fatwanya yang dilansir majalah Al Mujtama’ corong dakwah internasional IM di Kuwait), demo islami, demokrasi islam, sosialisme islam dan yang lainnya, Ya Allah selamatkan kami dari fitnah, musibah dan bencana pemikiran yang menyesatkan ini…

 Farid Nu’man berusaha menyeret pembaca untuk memahami bahwa demokrasi islam yang dimaksud adalah konsep syuro(musyawarah) yang ada dalam Islam. Namun kenyataan dan realita telah mendustakan apa yang mereka ungkapkan tentang demokrasi islam yang mereka fahami.

Dalam prakteknya, IM telah tenggelam dalam politik praktis yang 100% mengekor pada teori-teori sampah yang mereka adopsi dari barat (kaum kuffar). Praktek “demokrasi Islam” yang mereka dengung-dengungkan bertentangan jelas dengan prinsip Syuro dalam islam yang telah dituntunkan oleh al Quran dan Sunnah. Hal yang sama dia lakukan untuk meyakinkan pembaca akan istilah-istilah yang menipu yang dikaitkan dengan prinsip-prinsip islam namun pada realita dan praktiknya adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Kenapa Farid Nu’man tidak membuka mata lebar-lebar melihat realita demokrasi yang dilakoni IM diseluruh dunia apakah musyawarah yang dihadiri para ulama’ dan aktifis Islam yang faham al Qur’an dan Sunnah ataukah mereka semeja dalam keputusan undang-undang bersama orang kafir, fasiq, zindiq, munafiq dan yang lainnya dibawah kesepakatan sistem politik yang kufur yang memerangi Allah dan rasulnya, Farid Nu’man buta melihat realita ini ??? Sesungguhnya hakekat kebutaan bukan pada buta mata tetapi pada butanya mata hati yang ada didalam dada.

 Dimana kalian buang “fiqhul waqi’” yang kalian miliki yang selalu kalian banggakan yang dengannya kalian mencela Para Ulama’ Salafiyyin yang kalian jatuhkan martabatnya dihadapan generasi muda Islam dan kaum muslimin secara umum bahwa mereka tidak faham realita dengan maksud menjauhkan mereka dari Para Ulama’ robbaniyyin lalu mereka menjadi santapan buas para da’i yang membawa kepada kesesatan dan pintu neraka jahannam, Na’udzu billahi min dzalik, dan bahwa kalian orang yang paling faham persekongkolan jahat yahudi dan kaum kuffar terhadap Islam dan kaum muslimin, kalian yang paling tahu kitab”Brutukulat hukama’ shohyun”nya orang yahudi, adapun Para ulama’ mereka tidak faham “waqi’”, bahkan kalian tidak malu-malu mengatakan Syaikh Albani ahli hadits tapi tidak paham waqi’, Syaikh Bin Baz mufti dunia tapi tidak faham realita, tidak perlu kalian meminta bukti ucapan kalian ini secara tertulis karena dia sesuatu yang waqi’ (nyata) dari sikap dan akhlaq busuk kalian.

 Yang jelas Farid Nu’man dan yang semisalnya akan mempertanggung jawabkan dihadapan Allah tentang perbuatannya dan kita semua akan menjadi saksi hidup kedustaannya.

Sekali lagi kami katakan bahwa insya Allah pembaca akan dapatkan pada edisi Al Hujjah selanjutnya pembeberan fakta-fakta ilmiah tentang kedustaan buku Farid Nu’man, kemudian pembaca akan menyaksikan dengan jelas -insya Allah- bahwa Ikhwanul Muslimin bukan anugerah Allah yang terzalimi melainkan sebuah bencana yang dianggap anugerah.

Wal ‘aaqibatu lilmuttaqiin Wala ‘udwana illa ‘alazzolimiin.

 IM sebuah bencana yang dianggap anugrah –bag. 2

 IKHWANUL MUSLIMIN dan Penyatuan agama (PLURALISME)

Berkata Sayyid Quthb (Tokoh Ikhwanul Muslimin) dalam kitabnya Ma’rakatul Islam wa Ar- Ra’samaliyah, hal.61 : “Islam harus berkuasa (memerintah) karena hanya dialah satu-satunya akidah yang positif dan adaptif, yang memadukan antara ajaran kristen dan komunisme, perpaduan yang sempurna, yang mencakup tujuan keduanya, saling menambah, saling melengkapi dan seimbang “

Diantara penyimpangan IM yang nyata dari aqidah kaum muslimin adalah seruannya kepada penyatuan agama (wihdatul adyan) walaupun dengan segala cara Farid Nu’man melakukan pembelaan bahwa itu bukan seruan penyatuan agama (buku Farid Nu’man hal. 189-202 terutama hal.193) akan tetapi nukilan dari tokoh-tokoh IM berikut akan mendustakan kesimpulan Farid Nu’man.

Seruan pluralisme atau penyatuan agama merupakan seruan kekufuran dan kemurtadan. Wajib bagi setiap muslim menjauhkan diri darinya. Allah berfirman : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Ali Imran : 85]. Dan firman-Nya : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [QS. Ali Imran : 19].

 Dan juga firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS al-Maidah : 51].

 Dan Firman-Nya :”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau keluarga mereka” [QS. Mujadilah : 22].

Rasulullah bersabda : “Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya tidak ada seorangpun yang mendengarku dari ummat ini baik Yahudi ataupun Nashrani kemudian mati dan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa melainkan ia termasuk dari penghuni neraka.” [HR. Muslim].

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW marah ketika Umar bin Khattab memegang lembaran Taurat dan bersabda:“Apakah kamu ragu terhadapku wahai Umar? bukankah saya datang dengan sesuatu yang putih dan bersih? Seandainya saudaraku Musa hidup ia tidak punya pilihan kecuali mengikutiku.” [Imam Ahmad (III/387 dan dihasankan oleh Al-Albani].

 Dalil-dalil diatas menunjukkan tentang kebenaran Islam dan kebatilan agama selainnya, dan tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memilih Islam yang haq karena selainnya di atas kebatilan dan membawa seseorang ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Sehingga tidak mungkin akan disatukan antara Islam yang haq dan agama-agama lain yang batil.

 Perkataan Tokoh-tokoh Ikhwan yang Menyeru kepada Penyatuan Agama

 Berkata Hasan al-Banna pada peringatan 20 tahun berdirinya Ikhwanul Muslimin: “Tujuan gerakan Ikhwanul Muslimin bukanlah untuk menyerang aqidah, agama atau kelompok manapun, tetapi perasaan yang menguasai jiwa-jiwa yang menegakkannya merasa bahwa kaidah-kaidah dasar bagi semua risalah ini sekarang terancam oleh atheisme. Maka semua orang yang beriman kepada agama-agama ini harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia dari bahaya ini. Dan Ikhwanul Muslimin tidak benci kepada orang-orang asing yang tinggal di negara Arab dan negara Islam, serta tidak menyembunyikan maksud jahat kepada mereka bahkan terhadap orang Yahudi sekalipun. Tidak ada hubungan antara kita dengan mereka kecuali hubungan baik.” [Qafilah al-Ikhwan oleh Abbas as-Sisi hal. I/311].

 Pada tahun 1946 Hasan al-Banna berpidato di hadapan Lajnah Tahqiq Amerika Britania (Inggris) mengenai masalah Palestina seraya berkata : “….masalah yang akan saya bahas adalah masalah sederhana yang berkaitan dengan masalah keagamaan, karena masalah ini boleh jadi tidak difahami oleh dunia barat. Maka dari itu saya ingin menjelaskannya secara singkat. Saya tegaskan bahwa permusuhan kami dengan orang Yahudi bukanlah permusuhan agama, karena al-Qur’an menyuruh untuk memperlakukan mereka secara baik”.

 Berkata Syaikh Bin Baz :”Ini adalah ungkapan yang bathil dan jelek, Yahudi adalah musuh besar kaum Mu’minin, mereka termasuk sejelek-jelek manusia bahkan mereka yang paling keras permusuhannya kepada kaum mu’minin bersama orang kuffar sebagaimana Firman Allah:”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin”(Al maidah:82), maka Yahudi dan penyembah berhala orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang mu’min. Dan ucapan ini adalah ucapan yang salah, zalim, jelek dan mungkar(dari kaset rekaman Syaikh Bin Baz tanggal 28 Rajab 1412 H).

 Muhammad al-Ghazali (tokoh IM) berkata di dalam Kitab Min Huna Na’lam, hal.150 :

“Dengan adanya sejarah masa lalu yang demikian itu, maka kita harus mengulurkan tangan kita, membuka telinga dan hati-hati kita menuju kepada dakwah yang mengeratkan persaudaraan antara berbagai macam agama dan mendekatkannya, serta melepas sebab-sebab perpecahan dari hati para pengikutnya. Sesungguhnya kita mendukung dengan tangan terbuka setiap orang yang berpegang teguh kepada agamanya, bukan menghancurkan mereka, mengingatkan mereka akan adanya keterikatan nasab dengan agama samawi, serta mengajak mereka untuk berjuang memerangi atheisme dan kerusakan dengan berbagai cara untuk mengembalikan manusia kepada lingkup wahyu, setelah sebelumnya mereka hampir tergelincir selamanya”.

 “Ghazali tidak mengambil faidah dari arahan Allah bagi kaum muslimin dalam al Qur’an dan tidak mengingat ayat-ayat wala’ dan baro’ yang menjadikan orang yang loyal kepada Yahudi dan Nasrani maka dia termasuk bagian dari mereka, maka kapan al Qur’an, Sunnah, Shahabat dan Ulama’ Islam mengajak kepada persaudaraan antar semua pemeluk agama (pluralisme) dan penyatuan yang Ghazali tidak memiliki panutan kecuali Masuni yang atheis-kita berlindung kepada Allah dari kesesatan ini-”(Lihat Al ’awashim Syaikh Robi’ hal:67-68)

 At-Turabi berkata : “Sesungguhnya persatuan nasional adalah salah satu dari program penting kita. Sesungguhnya kita dalam garis Islam dapat mencapai persatuan nasional tersebut melalui dasar-dasar ‘agama Ibrahim’, yang dapat mengumpulkan kita dengan masihiyyun (orang-orang Kristen) dengan warisan sejarah yang satu. Dengan pantauan sejarah keyakinan dan akhlak, kita tidak menginginkan agama fanatis dan permusuhan. Tetapi kita menginginkan agama persatuan, persaudaraan dalam ketuhanan Allah yang satu. [Majalah Al Mujtama’ –corong dakwah internasional IM di Kuwait- no. 736 tgl. 8/10/1985]

 Dan lebih jelek lagi apa yang dikatakan Sayyid Quthb dalam kitabnya Ma’rakatul Islam wa Ar-Ra’samaliyah, hal.61 :“Islam harus berkuasa (memerintah) karena hanya dialah satu-satunya akidah yang positif dan adaptif, yang memadukan antara ajaran kristen dan komunisne, perpaduan yang sempurna, yang mencakup tujuan keduanya, saling menambah, saling melengkapi dan seimbang “

 Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh Utsaimin:”Kami katakan bahwa Nasrani adalah agama yang telah dirubah dan diganti oleh tokoh agama mereka, sedangkan Komunisme ajaran bathil yang tidak memiliki dasar dari agama samawi, sedangkan Islam agama dari Allah yang diturunkan dari Nya yang tidak berubah. Barangsiapa yang berkata bahwa Islam campuran dari(ajaran)ini dan ini maka boleh jadi dia seorang yang jahil atau orang yang tertipu dengan kemegahan kaum kuffar dari Nasrani dan komunis”(Al ‘Awashim Syaikh Robi’ :22).

Berkata Syaikh Isma’il Al-anshori:”Sesungghnya perkataan orang tersebut adalah perkataan yang menyerukan kepada penyatuan agama dan pendekatan agama dan Para Imam dari para Ulama’ telah membantah orang yang mengatakan seperti ini dalam banyak kitab yang mu’tabar(Al ‘awashim:23)

 Berkata Syaikh Hammad al-Anshori:”Kalau orang yang berkata perkataan ini masih hidup maka wajib diminta bertaubat, kalau tidak mau taubat maka dia harus dibunuh dalam keadaan murtad, dan kalau dia sudah mati maka wajib diterangkan bahwa perkataan ini bathil dan kita tidak mengkafirkannya karena kita belum menegakkan hujjah kepadanya”(Al ‘awasim :24)

Sikap & Praktek IM sebagai Wujud

Propaganda Penyatuan Agama

 Hasan At-Turabi (tokoh Ikhwan) mulai mengkampanyekan pemikiran pluralisme-nya dengan mengusulkan adanya ‘agama dunia’ yang menyeluruh, mencakup tiga agama samawi: Islam, Kristen, Yahudi. Bahkan ia telah mengadakan berbagai muktamar dalam upaya kampanyenya. Di antaranya muktamar di Sudan pada bulan Oktober 1994 di mana ia mengusulkan untuk membuat Hizb Ibrahimi (partai Ibrahim), dengan alasan tiga agama tersebut sama-sama termasuk agama Nabi Ibrahim.

Dan tampaknya pemikiran Turabi yang “keblinger” ini benar-benar terealisir di Sudan, negeri yang dielu-elukan Ikhwanul Muslimin. Asal tahu saja, undang-undang Sudan tidak mensyaratkan muslim bagi Kepala Negara! Juga tidak mensyaratkan syari’at Islam sebagai sumber utama bagi semua kebijakan, tetapi mereka menganggapnya sebagai salah satu sumber hukum dengan tetap diberikan pilihan, menerima atau menolak. [majalah al-Mujtama’ al-Kuwaithiyyah edisi 1302 (hal.9)]. Lalu mana “hukum Islam” yang diteriakkan mulut-mulut berbusa Ikhhwaniyyin itu ??

Bahkan pemerintahan Turabi di Sudan mempraktekkan pluralisme dengan sebenarnya dimana dia menempatkan seorang Nashrani sebagai wakil presiden. Lebih lagi pemerintahan di Sudan dijabat oleh banyak menteri yang Nashrani [Kitab Al-Quthbiyah :60 ].

 Makmun al-Hudhaibi (tokoh IM) dalam wawancara di Koran al-Muharrir edisi 267, Senin 29 Agustus 1994 ia mengatakan:“Bila ada seorang Qibthi (Nashrani) yang menerima prinsip-prinsip kami, maka kami akan segera mencalonkannya untuk menjadi pemimpin-pemimpin kami, dan kami tidak menuntutnya untuk menjadi seorang Muslim…” Lalu sang wartawan menimpali : “Kalau begitu, kalian tidak mempunyai larangan untuk mencalonkan orang Nashrani menjadi pemimpin kalian secara langsung ?”Al-Hudhaibi menjawab:“Bukan hanya itu saja, bahkan kami tidak mempunyai larangan bagi orang Nashrani untuk menjadi anggota Ikhwanul Muslimin…”.

 Propaganda musuh-musuh Islam berupa Penyatuan Agama atau yang saat ini berganti label dengan sebutan Dialog Lintas Agama mendapatkan sambutan yang hangat dari petinggi IM terutama at-Turabi, Qardhawy dan Muhammad al-Ghazali. Berbagai seminar dan muktamar pluralisme di dunia Internasional terasa hambar jika tidak dihadiri oleh 3 pentolan IM ini. Saat berlangsungnya muktamar Dialog Lintas Agama di Sudan pada tahun 1415 H/1994 M, Qardhawy mengakui bahwa ia adalah tokoh yang ikut mempromosikan propaganda yang merusak ini, ketika dia berkata : “Secara pribadi aku telah mengajak kepada dialog ini dalam kitab Aulawiyaat al-Harakah al-Islamiyah. Aku mengajak orang-orang barat dialog bersama dalam masalah agama dengan pemuka agama katedral, uskup dan pendeta. Aku juga menyeru untuk membuka dialog politik bersama orang-orang tersebut. Aku telah berusaha untuk bertemu muka dan menghubungi mereka sebagaimana telah dilakukan Hasan at-Turabi. Aku yakin bahwa dialog dalam tataran agama, pemikiran dan politik adalah dialog yang bermanfaat, dapat menyingkap asumsi negatif dan buruk sangka kepada orang lain” [al-Islam wal Gharb ma’a Yusuf al-Qardhawy hal. 86]. Qardhawy juga berucap:“Semenjak beberapa tahun yang lalu aku telah menghadiri pertemuan antara kaum muslimin dengan orang Kristen di Jerman. Dan aku ditemani oleh Syaikh al-Ghazali dan sebagian ustadz besar lainnya.” [Harian Syarqul Ausath, no. 2789, Jumadil Tsaniyah 1416 H/1995 M].

  Berbagai dialog dan muktamar yang dihadiri oleh Qaradhawy tidak bertujuan untuk berdakwah agar Yahudi dan Kristen meninggalkan agama mereka menuju cahaya Islam. Tujuan ini adalah fatamorgana, sebagaimana yang diungkapkannya sendiri : “Kita berdialog dengan masing-masing kita berpegang kepada prinsip-prinsipnya” [al-Islam wal Gharb Ma’a Yusuf al-Qaradhawy hal. 18]. Lalu apa manfaatnya Qardhawy bersusah payah ke seantero dunia, menghadiri muktamar-muktamar yang sarat dengan makar kuffar itu ?? Jika bukan dilatarbelakangi oleh keinginan berupa pendekatan dan persatuan bersama mereka, maka kami tidak tahu lagi apa itu ?? (Untuk bantahan yang lebih panjang terhadap Qardhawi tentang pluralisme, bisa anda baca pada buku “Membongkar Kedok Al-Qardhawi” hal. 77-105, penerbit Masyarakat Belajar Depok, sekaligus sebagai bantahan kedustaan Farid Nu’man)

 Bahkan Ikhwanul Muslimin menempatkan beberapa orang Nashrani dalam jabatan penting organisasi Ikhwanul Muslimin. Berkata Abdul Fattah al-‘Uwaisi dalam kitab Tasawwur al-Ikhwanul Muslimun lil Qadhiyyah al-Palestiniyyah hal 23:“Dan agar Ikhwanul Muslimin menunjukkan ketidak fanatikan, mereka melibatkan dalam keanggotaan lajnah politik yang merupakan bagian dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan pada tahun 1948 M dua orang Kristen yaitu Wuhaib Duss dan Akhnukh Louis Akhnukh.

 Berkata Muhammad Hamid Abu Nashr (Mursyid IM ke-IV) didalam kitab Haqiqatul Khilaf bainal Ikhwanul Muslimin wa Abdin Nashr hal. 33: “Anggota Kantor Dakwah yang telah menetapkan pembentukan Lajnah Tinggi Politik dengan diketuai wakil jama’ah Ikhwan, dimana anggota-anggotanya adalah sekretaris jama’ah Ikhwan, anggota-anggota Kantor Dakwah serta tiga orang pembesar Kristen mereka adalah “Ustadz !!” Wuhaib bik Duss seorang pengacara, “Ustadz !!” Louis Vouns seorang anggota majelis parlemen dan “Ustadz !!” Karim Sabit seorang wartawan terkenal”.

Dari apa yang dipaparkan diatas sangat jelas bagi orang-orang yang masih memiliki akal dan iman bahwa IM menyerukan penyatuan agama yang merupakan seruan kekufuran dan kemurtadan. Maka jangan heran jika partai IM di Indonesia bermain mata dengan tokoh sekuler Indonesia yang notebene dikenal gencar menyerukan penyatuan agama.

 Maka wajib bagi Farid Nu’man dan yang semisalnya untuk menghentikan mulut dan pena usilnya yang menyesatkan kaum muslimin, dan dia menjadi seorang awam diatas sunnah jauh lebih baik daripada dia menjadi penyeru kesesatan yang diikuti.

 Ini sekaligus sebagai seruan bagi mereka yang tertipu dengan gerakan Ikhwanul Muslimin baik para pemuda, mahasiswa dan para tokoh-tokoh muslim agar kembali kepada jalan yang benar dan tidak mudah tertipu dengan kedustaan-kedustaan IM dan tokoh-tokohnya. Dan kita berdo’a agar mereka yang tertipu diberikan hidayah oleh Allah. Adapun mereka yang mengikuti hawa nafsunya tidak menerima kebenaran, agar Allah menyelamatkan kaum muslimin dan diistirahatkan dari fitnah kesesatannya.

 Dengan ini semakin jelaslah bahwa IM adalah bencana bagi Islam dan kaum Muslimin serta telah berbuat zalim kepada syari’at Islam dan bukan anugrah Allah yang terzalimi.

MENYINGKAP KEBODOHAN NU’MAN

Dalam Pembelaannya Terhadap Penghinaan QUTHB

Kepada Sahabat

Berkata Imam Abu Zur’ah Ar-Raziy (194-264 H):“Apabila engkau melihat seorang mencaci maki salah seorang sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah sesungguhnya orang itu zindiq.(Kitab Al-Kifayah fi ilmi riwayah, Imam Al-Khotib Al-Bagdadiy).

PEMBELAAN TERHADAP SAHABAT RASULULLAH DARI CELAAN

SAYYID QUTUB

 Sahabat Rasulullah r adalah perantara antara kita dengan Rasulullah r, semua ilmu agama baik itu pokoknya maupun cabangnya, baik itu Al-Qur’an maupun hadits sampai kepada kita melalui perantara para sahabat Rasulullah r, sehingga orang-orang kafir, munafiq, zindiq, mubtadi’, dan pengekor hawa nafsu mencela para sahabat ini dengan cerita-cerita bohong, hadits-hadits dho’if (lemah), maudhu’ (palsu) bahkan yang tidak ada asalnya sama sekali, untuk memasukkan keraguan ummat Islam pada pribadi para sahabat Rasulullah r, sehingga ujung-ujungnya mereka meragukan Al-Qur’an atau hadits-hadits yang sampai kepada mereka walaupun hadits-hadits tersebut shohih, karena semata-mata hadits itu datang dari sahabat yang mereka cela.

 Cukuplah seorang muslim menahan lisannya dari mencela sahabat Rasulullah r ketika mendengar sabda Rasulullah r : “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang diantara kalian menginfaqkan emas sebesar gunung uhud, tidak akan mencapai satu mud –sebanyak dua telapak tangan orang dewasa- (dari apa yang mereka infaqkan) dan tidak juga setengahnya. (HR. Bukhori Muslim ).

 Demi Allah, bagaimana mungkin seorang muslim mampu menggerakkan lisannya dan penanya mencela sahabat Rasulullah r, sedangkan Allah telah memuji mereka dalam firmannya : “ Muhammad  itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).“.(Al-Fath: 29).

 Rasulullah dan para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sangat keras terhadap orang-orang yang mencela sahabat Rasulullah r.

 Berdasarkan ayat ini Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa orang-orang yang membenci para Shahabat Rasulullah r adalah orang-orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir IV hal. 216 ).

 Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim 16/93 : “Ketahuilah bahwa mencela sahabat Rasulullah r hukumnya haram, termasuk dari perbuatan buruk yang diharamkan. Baik itu mencela sahabat yang terkena fitnah ataupun yang lainnya. Karena mereka Mujtahid dalam peperangan yang terjadi antara mereka. Al-Qodhi (‘Iyadh) berkata : ‘Mencela sahabat termasuk dosa besar, madzhab kami madzhab jumhur yaitu merajamnya dan tidak membunuhnya. Berkata sebagian ulama’ madzhab Maliki orang yang mencela sahabat Rasulullah r hukumannya dibunuh”

 Al-Imam Athohawy menjelaskan sikap Ahlus Sunnah terhadap sahabat Rasulullah (Syarah Aqidah Thohawiyah hal 528) : “Kita mencintai sahabat Rasulullah, dan kita tidak berlebihan dalam mencintai mereka. Kita tidak berlepas diri dari salah seorangpun diantara mereka. Kita benci orang yang membenci mereka dan mengomentari mereka dengan komentar buruk. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta pada mereka adalah iman dan ihsan. Benci pada mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan kedzoliman”.

 Maka tidak perlu kita heran, dengan kemunculan orang-orang pada zaman ini yang siap menghunus pedang untuk membela sahabat Rasulullah r.

 Sayyid Qutub (salah satu tokoh IM) adalah seorang yang jauh tergelincir dalam hal ini. Walaupun telah diperingati dengan “gamblang” oleh Syaikh Mahmud Muhammad Syakir (sastrawan, hidup semasa dengan Sayyid Qutubh) dalam salah satu makalahnya yang dimuat oleh majalah Al-Muslimun No. 3 tahun 1371 H, dengan judul “Laa tasubbuu ashaabii”, namun dengan keras kepala, tanpa malu dan tanpa takut kepada Allah Sayyid Qutubh membantahnya dalam majalah Ar-Risalah No. 977, tanggal 24 Ramadhon 1952 M. Bahkan sampai akhir hayatnya dia tetap mencetak buku “Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah”, dan menasehati orang untuk membaca dan menjadikannya rujukan, sebagaimana yang ia nyatakan sendiri dalam bukunya “Limadza A’damuni” hal. 79 (buku terakhir yang ditulis oleh Sayyid Qutubh). Padahal didalam “Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah” itu ia mencela sahabat Rasulullah r, dan mengkafirkan ummat Islam. Kenyataan ini membantah pembelaan dusta Farid Nu’man yang fanatik buta.

  Sayyid Qutubh Mencela Utsman Radhiyallahu anhu

 Sayyid Qutubh dalam bukunya “Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah” membawakan banyak cerita bohong tentang ketidakadilan Utsman.

Ini adalah salah satu cerita yang paling buruk yang pernah ia toreh dalam kitab tersebut pada halaman 187-189 (cet ke-5) :

“Utsman memberi hadiah menantunya Al-Harits ibn al-Hakam dari harta baitul mal sebanyak 200 dirham. Ketika hari telah menjadi pagi datanglah zaid ibn al-Arqam, penjaga baitul mal. Dari wajahnya tampak kesedihan dan air mata mulai menggenangi kedua matanya. Kemudian ia meminta agar Utsman mencopotnya dari pekerjaannya (menjaga baitil mal). Ketika Utsman mengetahui bahwa hadiah yang ia berikan kepada menantunya dari baitul mal adalah penyebab pengunduran diri Zaid, ia berkata keheranan : “Apakah engkau menangis karena aku menyambung silaturahmiku, wahai ibnul al-Arqom !’ Kemudian laki-laki yang penuh ruh keislaman dalam dirinya itu berkata : ‘Tidak wahai Amirul Mu’minin, akan tetapi aku menangis karena engkau mengambil harta itu sebagai pengganti apa yang pernah engkau infaqkan di jalan Allah pada masa Rasulullah r. Demi Allah, sudah sangat banyak jika engkau memberikan 100 dirham saja. Maka Utsman marah kepada laki-laki yang tidak mampu menahan perasaannya melihat harta kaum muslimin diberikan kepada keluarga khalifah.Utsman berkata kepada Zaid : Lemparkan kunci baitul mal itu wahai ibnu Al-Arqom, sesungguhnya kami akan mengangkat orang selain kamu.”

Perhatikanlah ! bagaiman Sayyid Qutub

membawa cerita bohong ini tanpa

menyebutkan sumber dan sanad cerita tersebut, sehingga kaum muslimin dapat menilai cerita tersebut. Mana sifat kehati-hatiannya terhadap salah seorang yang dipastikan masuk surga oleh Rasulullah r, kepada seorang yang Malaikatpun malu kepadanya ?.

Rasulullah bersabda : “Abu bakar dalam sorga, Umar dalam surga, Utsman dalam surga, Ali dalam surga…..” (HR. Imam Ahmad 1/187,188,189, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Dan sabdanya juga :”Apakah aku tidak malu kepada orang yang malaikatpun malu kepadanya ?”(H.R Muslim)

 Dalam buku yang sama, hal. 189, Sayyid Qutub mengatakan bahwa pemberontakan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi) lebih dekat dengan Ruh Keislaman dibanding sikap Utsman dan pembantu-pembantunya dari bani Umayyah.

Ruh keislaman mana yang dimaksud oleh Sayyid Qutub ini ?. Sedangkan Rasulullah r bersabda kepada Utsman : “Wahai Utsman, semoga Allah memberikan baju kepadamu setelah aku. Dan orang-orang munafiq menginginkan agar engkau menanggalkan baju tersebut” (HR: Imam Ahmad)

Mungkin roh keislaman yang dimaksud Sayyid Qutub adalah ruh kemunafikan!

.Sayyid Qutub mencela sahabat Mu’awiyyah dan Amr bin Ash.

 Berkata Sayyid Qutbh dalam kitabnya “Kutub wa Syakhshiyat” hal. 242, cet. Ke-tiga, Darus Syuruq : “Sesungguhnya Muawiyah dan Amr (Amr bin Ash) tidaklah mampu mengalahkan Ali karena mereka berdua lebih tahu tentang rahasia-rahasia jiwa, lebih mengerti akan tindakan yang bermanfaat pada waktu yang tepat. Akan tetapi karena mereka dengan bebas menggunakan semua senjata (segala cara). Hal ini berhubungan erat dengan akhlaq mereka dalam memilih cara dalam pertarungan. Ketika Mu’awiyah dan temannya (Amr bin Ash) condong menggunakan kebohongan, penipuan, kemunafikan, dan jual beli kehormatan. Sedangkan Ali tidak mampu menggunakan cara-cara rendah tersebut. maka jangan heran jika keduanya sukses, sedangkan Ali gagal (kalah). Sesungguhnya itulah kekalahan yang lebih mulia dari segala kesuksesan” .

 Ketika dibacakan perkataan Sayyid Qutub ini Syaikh Ibnu Baz berkata : “Perkataan yang buruk ! Ini perkataan yang buruk!, celaan terhadap Mu’awiyah dan Amr bin Ash. Semua perkataan ini buruk, perkataan yang mungkar. Mu’awiyyah dan Amr bin Ash mujtahid tapi salah. Mujtahid jika salah dimaafkan”. Syaikh Soleh Al-Fauzan menambahkan :”Mujtahid jika benar akan mendapat dua pahala dan jika salah mendapat satu pahala”

Kemudian Syaikh bin Baz ditanya : “Apakah kita tidak membrendel kitab-kitab yang berisi perkataan ini?. Berkata Syaikh Ibnu Baz :”Pantas untuk dirobek!”.(Bara’atu Ulamail Ummat min tazkiyati ahlil bid’ah wal madzammah, oleh Ashim bin Abdillah As-Sinani, hal. 32-33 ).

 Sayyid Qutub bukanlah sahabat Rasulullah r dari kalangan muhajirin dan bukan pula dari kalangan Anshor. Bahkan dengan celaan ini dia telah mengambil tempatnya sendiri di luar golongan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Hasyr ayat ke-10:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

 Tidakkah ayat ini cukup membuat Sayyid Qutub lari dari mencela sahabat Rasulullah r ? Bagaimana mungkin Amr bin Ash orang yang dipuji oleh Rasulullah r sebagai orang yang soleh dari bangsa quraisy ( HR. Ahmad: 1/161) disifati dengan peng- khianatan , kedustaan dan kemunafikan. Bagaimana mungkin Mu’awiyyah yang didoakan oleh Rasulullah r “Ya Allah jadikanlah ia pemberi petunjuk, orang yang diberi petunjuk dan berilah petunjuk (kepada manusia) dengan perantaraannya. ( HR. Imam Ahmad : 4/216) disifati dengan pengkhianatan, kedustaan dan kemunafikan.

KEBODOHAN NU’MAN

 Perkataan Sayyid Qutub inilah yang berusaha dibela oleh Farid Nu’man. Untuk menguatkan perkataan sayyid Qutub, Farid membawakan cerita tahkim dan perdebatan antara Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash, dimana Amr bin Ash “menipu” Abu Musa dengan memintanya untuk mengumumkan pencopotan Ali terlebih dahulu baru kemudian ia akan mengumumkan pencopotan Mu’awiyyah, sesuai dengan hasil kesepakatan. Akan tetapi setelah Abu Musa mengumumkan pencopotan Ali, Amr bin Ash malah “membohongi” manusia dengan mengumumkan pengangkatan Mu’awiyyah sebagai Khalifah. Dan riwayat ini juga menceritakan Ibnu Abbas mencela Amr bin Ash, dan mengatakan bahwa ia adalah seorang penghianat.

 Riwayat ini mempunyai cacat yang sangat jelas baik dari segi sanad maupun matan. Dari segi sanad riwayat ini dho’if (lemah) karena di dalamnya ada dua perawi yang diragukan. Abu Miknaf Luth bin Yahya (seorang syiah) “Ghairu tsiqoh” (Bukan orang yang terpercaya) sebagaimana perkataan Imam Adz-dzahabi :” Dia ahli sejarah yang rusak, tidak dapat dipercaya”, dan pada tempat yang lain beliau menyebutkan :”Dia meriwayatkan dari orang orang yang tidak dikenal” (Siarul A’lam hal. 419 dan 302). Orang kedua adalah Abu Janab Al-Kalbi adalah seorang yang dho’if (lemah) sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Sa’ad dalam Toboqotnya :6/360. Imam Bukhori berkata : “Yahya Al-Qohtony telah mendhoifkannya” (At-Tarikh Al-Kabir 4/2/267). Demikian pula penilaian Ad-Darimi (At-Tarikh hal. 238) dan An-Nasa’i (Ad-Du’afa’ wal matrukin hal. 253). Sedangkan dar segi matan hadits ini kacau balau.

 Tidak ada seorang imam dari para imam Ahlus Sunnah mencela Mu’awiyyah dan Amr bin Ash, jika mereka membawa riwayat tahkim yang lemah itu, maka mereka menyebutkan sanad dan sumbernya, sehingga kaum muslimin dapat menghukumi cerita tersebut. Mereka selalu memberikan komentar yang baik terhadap sahabat Rasulullah r.

 Adapun Abul A’lal-Maududy (salah satu tokoh IM), karya tulisnya (salah satunya “As-Syaqiqon”) seluruh sahabat Rasulullah r termasuk Abu Bakar dan Umar).

 Bukanlah sesuatu yang aneh jika kita mendapati sebagian tokoh IM (Al-Ikhwanul Muslimun) diam ketika membaca perkataan Sayyid Qutub ini. Sebab IM semenjak didirikan di Mesir telah berusaha menyatukan Sunni dan Syi’ah. Umar Tilmisani (Mursid IM ke-3) berkata : “Pada tahun 40-an -seingatku- Sayyid Qummi (seorang syi’ah) datang bertamu ke markaz pusat Ikhwanul Muslimin. Pada waktu Al-Imam As-Syahid (Hasan Al-Banna) tengah berusaha keras untuk mendekatkan (menyatukan) aliran-aliran (termasuk sunni dan syi’ah). Pada suatu hari saya bertanya kepadanya ‘sejauh mana perbedaan antara ahlus Sunnah dan Syi’ah?’ Maka dia melarang kami ikut campur dalam permasalahan yang sulit ini. Dan dia berkata “Ketahuilah ! Sesungguhnya Ahlus Sunnah dan Syi’ah muslimun, mereka disatukan oleh kalimat “Laa Ilaha Illallah wa Anna Muhammadar rasulullah” (Lihat kitab “Mauqif ulama’ al- muslimin, hal 5-21). Perhatikan sikap orang nomor satu di IM ini !, menutup mata dari seabrek kesesatan Syi’ah yang mengkafirkan hampir seluruh sahabat Rasulullah. Maka jangan heran jika para ‘pengekornya’ diam dari kesalahan Sayyid Qutub.

 Ya Allah inilah yang mampu kami persembahkan untuk membela sahabat Rasul-Mu, Ya Allah jadikanlah tulisan ini sebagai pembuka mata hati orang-orang yang fanatik buta terhadap Sayyid Qutub. Jadikanlah kami selalu cemburu ketika mendengar celaan pada sahabat Rasul-Mu. Berilah kami petunjuk untuk selalu berada diatas jalan mereka, jalan orang-orang yang engkau ridhoi. 

 Sekali lagi, telah jelas dari nukilan-nukilan yang kami bawakan bahwa hakekat pergerakan Ikhwanul Muslimin (yang tergambar dari sikap para tokohnya) adalah sebuah bencana bukan anugrah. Sikap tokoh IM dan orang-orang yang fanatik buta terhadap mereka adalah sikap yang dzolim. Dzolim terhadap Islam dan kaum muslimin, dzolim terhadap sahabat Rasulullah r. IM bukanlah anugrah yang terdzolimi tapi bencana yang yang dianggap anugrah.

 RalatEdisiKhusus:
IKHWANULMUSLIMIN
SebuahBencanaYangDianggapAnugrah(2)
Tertulis :
1.Risalah No: Khusus / Thn.VI / Sya’ban / 1424 H
2.Qithbi (Nasrani)
Seharusnya :
1.Risalah No: Khusus / Thn. VI / Ramadhan / 1424 H
2.Qibthi (Nasrani)

 

ikhwanul muslimin dalam timbangan akidah (copyrigt webmaster www.salafy.or.id

Tuesday, February 21st, 2006

Ikhwanul Muslimin adalah pergerakan Islam - yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah : Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i, dan lain sebagainya.

Sejak awal mula didirikan pergerakan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, seorang penganut Syi’ah Babiyah, yang berkeyakinan wihdatul wujud, bahwa kenabian dan kerasulan diperoleh lewat usaha, sebagaimana halnya menulis dan mengarang. Dia - Jamaludin Al-Afghani- kerap mengajak kepada pendekatan Sunni-Syiah, bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama (lihat. 36).

Gerakan itu lalu bergabung ke banyak negara seperti: Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Yaman, Sudan dan lain sebagainya. (lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 19-25). Ia (Jamaludin Al-Afghani) telah dihukumi/dinyatakan oleh para ulama negeri Turki, dan sebagian masyayikh Mesir sebagai orang Mulhid, kafir, zindiq, dan keluar dari Islam.

Farid bin Ahmad bin Manshur menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani pada beberapa hal, diantaranya:

1. Menempatkan politik sebagai prioritas utama

2. Mengorganisasikan secara rahasia

3. Menyerukan peraturan hukum demokrasi

4. Menghidupkan dan menyebarkan seruan nasionalisme

5. Mengadakan peleburan dan pendekatan dengan Syiah Rafidhah, berbagai kelompok sesat, bahkan kaum Yahudi dan Nasharani. (lihat Ad-Dakwah hal 47)

Oleh sebab itu, jamaah Ikhwanul Muslimin banyak memiliki penyimpangan dari kaidah-kaidah Islam yang dipahami As-Salaf As-Shalih. Di antara penyimpangan tersebut misalnya:

Tidak memperhatikan masalah aqidah dengan benar

Bukti nyata bahwa jama’ah Ikhwanul Muslimin tidak memeperhatikan perkara aqidah dengan benar, adalah banyaknya anggota-anggota yang jatuh dalam kesyirikan dan kesesatan, serta tidak memiliki konsep aqidah yang jelas. Hal itu juga bahkan terjadi pada para pemimpin dan tokoh-tokohnya, yang menjadi ikutan bagi anggota-anggotanya seperti: Hasan Al-Banna, Said Hawwa, Sayyid Quthub, Muhammad Al-Ghazali, Umar Tilimsani, Musthafa As-Siba’i dan lain sebagainya.

Seorang tokoh Islam Muhammad bin Saif Al-A’jami menceritakan bahwa Umar Tilimsani yang menjabat Al-Mursyidu Al-’Am dalam organisasi Ikhwanul Muslimin dalam jangka waktu yang lama, pernah menulis buku yang berjudul Syahidu Al-Mihrab Umar bin Al-Khattab (Umar bin Al-Khattab yang wafat syahid dalam mihrab) yang penuh dengan ajakan kepada syirik, menyembah kuburan, membolehkan beristighatsah kepada kuburan dan berdoa kepada Allah disamping kubur. Tilimsani juga menyatakan bahwa kita tidak boleh melarang dengan keras penziarah kubur yang melakukan amalan seperti itu. Coba simak teks perkataannya pada hal 225-226: Sebagian orang menyatakan bahwa Rasulullah memohonkan ampun untuk mereka (penziarah kubur) tatkala beliau masih hidup saja. Tetapi saya tidak mendapatkan alasan pembatasan itu pada masa hidup beliau saja. Dan di dalam Al-Quran, tidak ada yang menunjukkan adanya pembatasan tersebut.

Di sini, dia menganggap bahwa memohon kepada Rasulullah sesudah kematian beliau, beristighatsah dan beristghfar dengan perantaraannya, hukumnya boleh-boleh saja. Pada hal 226 dia juga menyatakan: Oleh karena itu saya cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa beliau telah memohonkan ampunan dikala beliau masih hidup, maupun sesudah matinya - bagi siapa yang mendatangi kuburan yang mulia.

Pada halaman yang sama dia juga menyebutkan :Oleh karena itu, kita tidak perlu berlaku keras dalam mengingkari orang yang meyakini karamah para wali, sambil berlindung kepada mereka di kuburan-kuburan mereka yang disucikan, berdoa kepada mereka tatkala tertimpa kesusahan. Yang juga mereka yakini bahwa karamah para wali tersebut termasuk kemu’jizatan para nabi.

Kemudian pada halaman 231 ia menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa disamping kuburan-kuburan mereka.. Demikianlah, tidak ada satupun bentuk syirik terhadap kuburan yang tidak dibolehkan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimin itu. Karena kegandrungannya dan kecintaannya yang mendalam terhadap bentuk-bentuk perbuatan syirik dan kufur semacam inilah, sehingga Tilimsani menyatakan: Maka kita tidak perlu memerangi (orang yang mereka anggap) wali-wali Allah dan orang-orang yang menziarahi serta berdoa disamping kuburan-kuburan mereka. Tilimsani sendiri juga hidup di Mesir yang terdapat banyak kuburan-kuburan dimana dilakukakan syirik terbesar, bahkan lebih besar dari syirik ummat jahiliyah pertama. Kuburan-kuburan dijadikan tempat berthawaf dan tempat memohon segala sesuatu yang seharausnya hanya ditujukan kepada Allah I. Di antara yang mereka anggap wali, kebanyakannya adalah kumpulan orang-orang zindiq dan mulhid, seperti: Sayyid Da’iyyah fathimi yang tak pernah melakukan shalat.

Diantaranya juga ada kaum sufi yang keblinger, seperti: Syadzili, Dasuki, Qonawi dan lain sebagainya, yang ada disetiap kota dan pedesaan. Orang-orang itulah yang jadi wali-wali mereka. dan kuburan-kuburan mereka itulah yang dipublikasikan oleh Al-Mursyidu Al-’Am/pemimpin umum dari Ikhwanul Muslimin itu. Dia kembali menyatakan pada halaman 231 sebagai berikut: Meskipun hati saya sudah demikian cinta, suka dan bergantung kepada wali-wali Allah itu, meskipun saya amat gembira dan senang menziarahi mereka di tempat-tempat kediaman abadi mereka dengan melakukan hal-hal merusak aqidah tauhid - menurut anggapannya - akan tetapi saya tidak berorientasi penuh untuk mempropagandakannya. Hal itu hanya sebatas soal intuisi/perasaan. Dan saya katakan kepada mereka yang bersikap ekstrim dalam mengingkarinya: Tenanglah, di dalam masalah ini tidak ada perbuatan syirik, penyembahan berhala, maupun ilhad/kekufuuran.

Maka apalagi yang bisa diharapkan dari keyakinan yang merancukan aqidah dan tauhid, sehingga berdoa kepada orang yang sudah mati disamping kuburan-kuburan mereka kala ditimpa kesusahan dianggap hanya soal perasaan yang tidak mengandung syirik dan penyembahan berhala, seperti yang diungkapkan Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimun tersebut ?

Mushthafa As-Siba’i, Al-Mursyidu Al-’Am dari Ikhwanul Muslimin dari Syiria pernah menggubah qashidah yang dibacakannya di kuburan Nabi. Yang di antara bait-baitnya adalah: Wahai tuanku, wahai kekasih Allah. Aku datang diambang pintu kediamanmu mengadukan kesusahanku karena sakit. Wahai tuanku, telah berlarut rasa sakit dibadanku. Karena sangat sakitnya, akupun tak dapat mengantuk maupun tidur….. (lihat Al-Waqafat hal. 21-22).

Dari kedua bait diatas, kita dapat memahami bahwa dia telah melakukuan istighatsah kepada Rasulullah yang jelas merupakan perbuatan syirik yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah-Nya.

Hasan Al-Banna juga mengambil aqidah dari thariqot sufiah quburiah yang bernama Al-Hashofiah. Dia berkata dalam kitabnya Mudzakkirot Ad-Dakwah Ad-Adalah’iah hal-27 :Aku bersahabat dengan para anggota kelompok hasafiah di Damanhur. Dan aku selalu hadir setiap malam (bersama mereka) di mesjid At-Taubah.

Berkata Jabir Rozaq dalam kitabnya Hasan Al-Banna bi Aqlami talamidzatihi wa ma’asirihi hal-8 :Dan di Damanhur mejadi kokohlah hubungan Hasan Al-bana dengan anggota-anggota al-Hashofiah,dan beliau selalu hadir setiap malam bersama mereka d masjid at-Taubah. Dia ingin mengambil (pelajaran) thariqot mereka sehingga berpindah darii tingkatan mahabbah ke tingkatan at-taabi’ al-mubaaya(lihat Da’wah al-Ikhwan al-Muslimin hal-63)

Bahkan Hasan Al-Banna sendiripun sebagai pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin, nampak sebagai orang yang awam dalam perkara aqidah tauhid. Disebutkan dalam buku Al-Waqafat hal. 21-22, bahkan dia pernah berkata:Dan doa kepada Allah ababila disertai tawassul/mengambil perantaraan salah satu makhluknya adalah perselisihan furu’ dalam cara berdoa, dan bukan termasuuk perkara aqidah. Dalam masalah asma’ dan sifat Allah, dia termasuk pengikut madzhab Tafwidh, yaitu madzhab yang tidak mau tahu dan meyerahkan begitu saja perkara asma’ dan sifat Allah kepada-Nya, tanpa meyakini apa-apa. Itu adalah madzhab sesat, bukan sebagaimana madzhab As-Salaf As-Shalih yang meyakini makna-makna asma’ dan sifat Allah, namun menyerahkan hakikat/bagaimana asma’ dan sifat tersebut kepada-Nya.

Hasan Al-Banna menyatakan dalam buku Al-Aqaid hal. 74: Sesungguhnya pembahasan dalam masalah ini (asma’ dan sifat), meski dikaji secara panjang lebar, akhirnya akan menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu tafwidh (tersebut di atas).

Tokoh besar mereka yang lain yang serupa keadaannya adalah Sa’id Hawwa. Dia beranggapan bahwa umat Islam pada setiap masanya, (lebih banyak -red) yang beraqidah Asy-’Ariyyah-Maturidiyyah (termasuk golongan pentakwil sifat). Sehingga dengan itu beliau berangapan bahwa itulah aqidah yang sah dalam Islam. (lihat jaulah fil fiqhain - Sa’id Hawwa).

Sayyid Quthub pun memiliki aqidah wihdatul wujud. Dia berkata dalam kitabnya Dzilalu Al-Qur’an jilid 6 hal-4002 :Hakekat yang ada adalah wujud yang satu. Maka di alam ini tidak ada yang hakekat kecuali hakekat Allah. Dan di sana tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Perwujudan selain Allah hanyalah sebagai perwujudan yang bersumber dari perwujudan yang hakiki itu.

Selain itu dia juga tidak bisa membedakan antara tauhid rububiah dan tauhi uluhiah. Dan dia menyangka bahwa yang menjadi perselisihan antara para Nabi dengan umat mereka adalah dalam masalah tauhid rububiah bukan uluhia. Dia berkata dalam Dziilalu Al-Qur’an 4/1847 : Bukanlah perselisihan seputar sejarah antara jahiliah dan Islam, dan bukan pula peperangan antara kebenaran dan thogut pada masalah uluhiah Allah ….dan juga perkataannya dalam hal-1852: Hanya saja perselisihan dan permusuhan adalah pada masalah siapakah Robb manusia yang menghukumi manusia dengan syari’at-Nya dan mengatur mereka dengan perintah-Nya dan memerintahkan mereka untuk beragama dan taat kepada-Nya (lihat Adwa’un islahiah karya Syaikh Robi’ pada hal-65).

Menghidupkan bid’ah

Jamaah Ikhwanul Muslimin juga banyak sekali menghidupkan bidah. Sa’id Hawwa menyatakan dalam bukunya At-Tarbiyyah Ar-Ruhiyyah (pembinaan mental): Ustadz Al-Banna beranggapan bahwa menghidupkan hari-hari besar Islam (selain dua hari ‘ied), adalah termasuk tugas harakah-harakah (gerakan) Islam. Beliau juga menganggap bahwa suatu hal yang aksiomatik alias pasti, kalau dikatakan bahwa pada zaman modern ini memperingati hari besar semacam maulid nabi dan yang sejenisnya, dapat diterima secara fiqih dan harus mendapat prioritas tersendiri.

Dikisahkan juga oleh Mahmud Abdul Halim dalam bukunya Ahdats Shana’atha At-Tarikh (1/109) bahwa ia sering bersama-sama Hasan Al-Banna menghadiri maulid nabi. Ia (Hasan AL-Banna) sendiri terkadang maju kepentas untuk menyanyikan nasyid (nyanyian) maulid nabi dengan suara keras dan nyaring.

Setelah menukil banyak kisah Al-Banna tersebut, Syaikh Farid berkomentar: semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bidah. Alangkah bodohnya mereka, alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun.

Dalam lembaran-lembaran majalah Ad-Dakwah, yang dipimpin oleh Umar At-Tilimsani tatkala dia masih menjabat salah satu Mursyid partai Ikhwanul Muslimin (nomor 21 hal 16/Rabi’ul Awwal 1398 H), tercetus banyak ungakapan yang penuh dengan kebidahan dan ghuluw (pengkhutusan/berlebih-lebihan) terhadap Nabi. Di antaranya dalam makalah di bawah judul: fi dzikra maulidika ya dhiya’ Al-Alamin (dalam memperingati hari kelahiranmu, wahai sinar alam semesta)

Ta’ashshub / fanatik terhadap pendapat alim ulamanya

Syaikh Muqbil menyatakan dalam Al-makhraj minal fitan hal. 86:(banyak) dari kalangan pengikut Ikhwanul Muslimun yang mengetahui bahwa mereka bodoh dalam masalah dien. Apabila kita menyatakan kepadanya: ini halal, atau ini haram adalah sudah kita tegakkan dalil-dalilnya, ia akan mengelak sambil menjawab: Yusuf Qordhawi di dalam al-halal wal haram bilang begini, Sayyid Sabiq dalam fiqhus sunnah, atau Hasan Al-Banna di dalam Ar-Rasail atau Sayiid Quthub dalam tafsir fi dzi lalil Quran bilang begini! Bolehkah dalil-dalil yang jelas dipatahkan dengan ucapan-ucapan mereka?

Karena itulah banyak diantara mereka yang masih meremehkan hukum merokok misalnya, yang telah ditegaskan keharamannya oleh ulama ahlul hadits , lewat berbagai tinjauan, karena mengikuti fatwa syaikh mereka Yusuf Qordhawi yang tidak jelas dalam menerangkan hukumnya.

Manhaj dakwah yang melenceng dari syari’ah

Kerusakan manhaj dakwah mereka diawali oleh propaganda Tauhidu As-Sufuf (menyatukan barisan) kaum muslimin yang mereka dengung-dengungkan. Dimana propaganda itu berkonotasi mengabaikan adanya berbagai penyimpangan aqidah yang membaluti tubuh umat Islam Menurut mereka, cukup kita meneriakan : wa Islamah (wahai Islam), maka kita pun bersatu. Hasan Albana pernah berkata : Dakwah Ikhwanul Muslimin tidaklah ditujukan untuk melawan satu aqidah, agama, ataupun golongan, karena faktor pendorong perasaan jiwa para pengemban .dakwah jama’ah ini adalah berkeyakinan fundamental bahwa semua agama samawi berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu atheisme (lihat qofilah Al-Ikhwan As-siisi 1/211).

Utsman Abdus Salam Nuh mengomentari ucapan itu dalam bukunya At-Thoriq ila Jama’ati Al-Umm halaman 173: Bagaimana bisa disebut dakwah Islamiah, kalau tidak sudi memerangi aqidah-aqidah yang menyimpang, sedangkan Islam sendiri diturunkan untuk memberantas berbagai penympangan keyakinan dan membersihkan hati manusia dari keyakinan-keyakinan itu.

Inti pemahaman inilah yang akhirnya melahirkan gerakan yang disebut pan Islamisme, yang menyatukan umat Islam dengan berbagai keyakinannya dibawah satu panji.

Ikhwanul Muslimin juga banyak mempergunakan berbagai sarana yang tidak sesuai dengan syari’at untuk mengembangkan dakwahnya. Diantaranya : Mengadakan pertunjukan sandiwara. Dalam hal ini, Syaikh Muqbil memberikan tanggapan :Sesungguhnya pertunjukan sandiwara itu, kalaupun tidak dikatakan dusta, amatlah dekat dengan kedustaan. Kita meyakini keharamannya, selain itu juga bukan merupakan sarana dakwah yang dipergunakan ulama kita terdahulu. Imam Ahmad meriwayatkan satu hadits dari Ibnu Mas’ud , bahwasanya Rosulullah bersabda :

Manusia yang paling keras disikda hari kiamat nanti ada tiga : Orang yang membunuh seorang nabi atau dibunuh olehnya, seorang pemimipin yang sesat dan menyesatkan, dan pemain lakon (mumatsil).

Beliau melanjutkan :Yang dimaksud mumatsil disitu adalah pelukis atau orang yang melakonkan perbuatannya di hadapan orang lain. Sebagaimana ditegaskan dalam kamus. (lihat Al-Makhroj ‎Minal Fitan halaman 90).

Para ulama juga lebih mengharamkan (saandiwara) lagi, tatkala sering terjadi dalam sandiwara seseorang harus memerankan diri sebagai orang kafir, bahkan penyembah berhala yang mempraktekkan ibadahnya di hadapan patung. Dan banyak lagi yang lainnya.

Mendahulukan urusan politik daripada syari’at

Meski secara lahir, jama’ah Ikhwanul Muslimin selalu menggembar-gemborkan harus tegaknya kekuasaan Islam, namun secara mengenaskan mereka hanya menjadikan itu sebagai selogan umum yang aplikasinya meninggalkan dakwah tauhid dan menjejali orang awam hanya dengan propaganda politik mereka. Contohnya, ketika mereka mengakui bahwa syarat pemmpin Islam yang ideal adalah ilmu dan taqwa, mereka justru mengangkat Mujadidi sebagai pemimpin Afghanistan, hanya demi menyenangkan banyak pihak termasuk dunia barat. Hal itu diungkapkan oleh Abdullah Al-Azhom dalam majalah Al-Jihad nomor 52 maret 1989 :Mujadidi adalah profilpemimpin ideal menurut dunia Internasional khususnya barat. Hal itu akan memuluskan jalan Afghanistan untuk menjadi negara yang diakui di dunia secara formal….. (At-Thoriq 214) juga akan kita dapati, bahwa para pengikut gerakan Ikhwanul Muslimin lebih banyak berbicara dan mengulas tentang politik daripada aqidah, dalam majalah, buku-buku bahkan di podim-podium, sampai-sampai dikala menyampaikan khotbah jum’at.

 Masih banyak lagi penyimpangan dakwah Ikhwanul Muslimin yang tak mungkin dirinci disini satu persatu. Semuanya sudah banyak diulas ulang oleh para ulama ahlul Hadits. Yang jelas, gerakan ini turut membidani kelahiran berbagai gerakan sejenis di berbagai negara. Di Libanon sperti At-Tauhid, di Palestina Hammas, di Mesir Jama’ah Islamiah, di Aljazair FIS, di Malaisyia Darul Arqom, di Indonesia seperti NII (Negara Islam Indonesia) yang sebelumnya dikenal dengan Darul Islam atau DI TII, Al-Usroh, Komando Jihad, JAMUS (Jama’ah Muslimin) dan sekarang adalah PKS atau Partai Keadilan Sejahtera yang jelas sekali menguatkan pengakarannya terhadap Ikhwanul Muslimin, yang dengan tegas menghalalkan sesuatu yang sudah dianggap bid’ah dalam agama menjadi perkara yang sunnah dalam berdakwah dan lain-lain.

Wallahutaala alam Bi shawwab