Jangan lihat dirinya tapi lihat siapa temannya…
Friday, March 10th, 2006
Jangan lihat dirinya tapi lihat siapa temannya…
Seringkali kita temukan indikasi kebaikan seseorang dilihat dari temannya atau sahabatnya. Bila sahabatnya itu baik tentulah dirinya baik, bila temannya itu buruk bisa jadi ia akan menjadi buruk pula. Kenyataannya seperti itulah, atau mungkin yang lebih berbahaya lagi ketika suatu saat Alloh telah memberikannya teman terbaik bagi dirinya disana ia merasakan kebaikan, ketentraman, dan kemuliaan tetapi suatu ketika ia kembali kepada keburukan dengan meninggalkan banyak kebaikan karena tak berjumpa lagi dengan temannya yang mengajak kepada kebaikan tersebut (nas’alulloha walakum ‘afiyah)
Rasulullooh telah mengatakan “ orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Berapa banyak kisah perjalanan hidup tentang seseorang yang telah berusaha untuk menggapai hidayah ternyata tak sampai terhadap apa yang diharapkannya yang dikarenakan oleh temannya. Seperti kisah dua orang shahabat karib Uqbah bin Abi Mu’ith dengan shahabatnya yang bejat bernama Umayyah bin Khalaf. Suatu hari Uqbah mengundang Rasululloh untuk jamuan makan, namun beliau enggan datang kecuali dia mau masuk islam. Maka Uqbah pun masuk Islam dan berucap kalimat syahadat, Rasulullah pun menghadiri undangannya.
Ketika itu Umayyah tak hadir karena berada di Syam, ketika Umayyah pulang dan mengetahui keadaan shahabatnya lalu ia mendatanginya dan mengatakan kepada Uqbah “Haram kita bertatap muka jika kamu tetap menjumpai Muhammad.” Sehingga akhirnya Uqbah berkata “ apa yang bisa kulakukan untuk mengobati sakit hatimu ?” lalu Umayyah menjawab “aku tidak akan pernah rela sampai kamu kembali dan mendatanginya (Rasululullah) di majelisnya lalu meludahi wajahnya dan mencacinya dengan cacian terburuk yang kamu ketahui. Ludahi dia dan injak lehernya dan katakan padanya begini dan begitu”
Bisikan setan manusia ini dikabulkan sebagai bentuk KESETIA KAWANAN. Uqbah meludahi wajah Rasululloh namun ludahnya kembali mengarah kewajahnya sendiri dan membakar wajah dan kedua bibirnya, bekasnya terlihat sangat jelas di wajahnya sampai ia terbunuh ketika perang Badar karena Rasululloh telah bernadzar untuk membunuhnya. Nas’alulloha wa lakum ‘Afiyyah.
Begitu pula yang terjadi pada Abu Thalib ketika akhir hayatnya, sahabatnya dari musyrikin Quraisy ters menerus membujuknya untuk tidak meninggalkan agama nenek moyangnya yang dibujuk oleh Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah sehingga karenanya Abu Thalib mati dalam kekafirannya. Dan masih banyak kisah lainnya yang disebabkan oleh teman karib dan para shahabatnya yang dapat dijadikan ibroh dalam kesehariannya.
Perhatikanlah teman disekitar anda apakah diantaranya ia mengajak diri anda kepada kebaikan, selalu mengingatkan akan kampung akhirat, tak pernah takut untuk meluruskan kesalahan yang anda miliki dan mencegah diri anda kepada kemungkaran untuk selalu menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Ataukah teman anda justru malah teman yang tak lebih dari sekedar benalu, mengajak anda untuk cinta dunia dan takut mati, menjatuhkan kedalam kubangan jahiliyah dan kemaksiatan, menghancurkan kehidupan anda dan menjauhkan anda dari mengingat Alloh. Lihatlah dan sekali lagi perhatikanlah teman anda apakah selama ini perubahan yang anda miliki telah sampai kepada kearah kebaikan atau justru semakin menjauh ? semoga Alloh melindungi kita dan kita berusaha untuk mencapai kebaikan yang hakiki.
Alloh telah berfirman “ Apakah mereka hanya menunggu saja kedatangan hari Kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya ? Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa. ” (QS. Az Zukhruf (43) : 66-67)
"Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu
orang-orang yang bukan golonganmu (sebab) mereka senantiasa menimbulkan
bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu." (QS. Ali
Imran:118)
Rasululloh mengatakan “ Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau tidak sedap” (HSR Bukhari dan Muslim)
Di riwayat lain Rasululloh mengatakan “kebiasaan orang itu sama dengan tabiat shahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya” (HR. Ahmad).
Mujahid bin Jabr mengatakan “tak ada orang yang hendak mati melainkan dia merasa seperti didatangi teman duduknya.” (maksudnya kalimat terakhir yang diucapkannya ketika hidup ialah apa yang biasa diucapkan kepada temannya)
Dlamrah bin Rabi’ah berkata, (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al
Khurasaniy berkata :"Sesungguhnya di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada para pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang Ahli Sunnah. Dan iaakan bergabung bersamanya di atas As Sunnah." (Al Ibanah 1/205 nomor 43 dan
Ash Shughra 133 nomor 91 dan Al Lalikai 1/60 nomor 31)
Ibnu Mas’ud berkata :"Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya." (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata (Ibnu Mas’ud) :"Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya." (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : "Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab
sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang
mengagumkannya (karena seperti dia)." (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam
bersabda : "Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya." (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :"Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah
dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan
dengan mereka atau menjadi seperti mereka." (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Al A’masy mengatakan :"Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah(mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya."(Al Ibanah 2/476 nomor 498 )
Abdullah bin Mas’ud berkata :"Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman." (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)
Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :"Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamudari (mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung di atas apa yang pertama kali ia tumbuh dan dibentuk." (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)Ia –juga– mengatakan : "Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan Ahli Ilmu ia akan selamat danjika ia condong kepada yang lain ia akan celaka."
Perhatikan pula apakah diri kita telah menjadi teman yang baik dan saling mengisi kepada teman ataupun sahahabat kita nantinya ya akhi. Alloh berfirman ” … Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Alloh, sungguh, Alloh sangat berat siksaannya. ” (QS. Al Ma’idah : 3)
Dan ingatlah pula kepada firman Alloh ” Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata : ’ Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong/pengkhianat manusia” (QS. Al Furqaan : 27-29)
Jadi jangan lihat siapa dirinya tapi lihat bergaul akrab dengan siapakah dia…
+ ada sebuah buku bagus yang Alhamdulillah telah diterj. Kedalam bhs Indonesia dengan judul ” Akibat salah pergaulan” oleh pustaka At Tibyan, penulisnya ana lupa dan Insya Alloh buku tersebut pasti sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui lebih dalam.
Wallahul Muwaffiq.
-
maraaji : Al Qur’an terj syaamil, Ar Risalah (majalah), Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Edisi Indonesia Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits, dll