Archive for March, 2006

Jangan lihat dirinya tapi lihat siapa temannya…

Friday, March 10th, 2006

 

Jangan lihat dirinya tapi lihat siapa temannya…

Seringkali kita temukan indikasi kebaikan seseorang dilihat dari temannya atau sahabatnya. Bila sahabatnya itu baik tentulah dirinya baik, bila temannya itu buruk bisa jadi ia akan menjadi buruk pula. Kenyataannya seperti itulah, atau mungkin yang lebih berbahaya lagi ketika suatu saat Alloh telah memberikannya teman terbaik bagi dirinya disana ia merasakan kebaikan, ketentraman, dan kemuliaan tetapi suatu ketika ia kembali kepada keburukan dengan meninggalkan banyak kebaikan karena tak berjumpa lagi dengan temannya yang mengajak kepada kebaikan tersebut (nas’alulloha walakum ‘afiyah)

Rasulullooh telah mengatakan “ orang itu mengikuti agama temannya, maka setiap orang dari kamu hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Berapa banyak kisah perjalanan hidup tentang seseorang yang telah berusaha untuk menggapai hidayah ternyata tak sampai terhadap apa yang diharapkannya yang dikarenakan oleh temannya. Seperti kisah dua orang shahabat karib Uqbah bin Abi Mu’ith dengan shahabatnya yang bejat bernama Umayyah bin Khalaf. Suatu hari Uqbah mengundang Rasululloh untuk jamuan makan, namun beliau enggan datang kecuali dia mau masuk islam. Maka Uqbah pun masuk Islam dan berucap kalimat syahadat, Rasulullah pun menghadiri undangannya.

Ketika itu Umayyah tak hadir karena berada di Syam, ketika Umayyah pulang dan mengetahui keadaan shahabatnya lalu ia mendatanginya dan mengatakan kepada Uqbah “Haram kita bertatap muka jika kamu tetap menjumpai Muhammad.” Sehingga akhirnya Uqbah berkata “ apa yang bisa kulakukan untuk mengobati sakit hatimu ?” lalu Umayyah menjawab “aku tidak akan pernah rela sampai kamu kembali dan mendatanginya (Rasululullah) di majelisnya lalu meludahi wajahnya dan mencacinya dengan cacian terburuk yang kamu ketahui. Ludahi dia dan injak lehernya dan katakan padanya begini dan begitu”

Bisikan setan manusia ini dikabulkan sebagai bentuk KESETIA KAWANAN. Uqbah meludahi wajah Rasululloh namun ludahnya kembali mengarah kewajahnya sendiri dan membakar wajah dan kedua bibirnya, bekasnya terlihat sangat jelas di wajahnya sampai ia terbunuh ketika perang Badar karena Rasululloh telah bernadzar untuk membunuhnya. Nas’alulloha wa lakum ‘Afiyyah.

Begitu pula yang terjadi pada Abu Thalib ketika akhir hayatnya, sahabatnya dari musyrikin Quraisy ters menerus membujuknya untuk tidak meninggalkan agama nenek moyangnya yang dibujuk oleh Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah sehingga karenanya Abu Thalib mati dalam kekafirannya. Dan masih banyak kisah lainnya yang disebabkan oleh teman karib dan para shahabatnya yang dapat dijadikan ibroh dalam kesehariannya.

Perhatikanlah teman disekitar anda apakah diantaranya ia mengajak diri anda kepada kebaikan, selalu mengingatkan akan kampung akhirat, tak pernah takut untuk meluruskan kesalahan yang anda miliki dan mencegah diri anda kepada kemungkaran untuk selalu menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Ataukah teman anda justru malah teman yang tak lebih dari sekedar benalu, mengajak anda untuk cinta dunia dan takut mati, menjatuhkan kedalam kubangan jahiliyah dan kemaksiatan, menghancurkan kehidupan anda dan menjauhkan anda dari mengingat Alloh. Lihatlah dan sekali lagi perhatikanlah teman anda apakah selama ini perubahan yang anda miliki telah sampai kepada kearah kebaikan atau justru semakin menjauh ? semoga Alloh melindungi kita dan kita berusaha untuk mencapai kebaikan yang hakiki.

Alloh telah berfirman “ Apakah mereka hanya menunggu saja kedatangan hari Kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya ? Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa. ” (QS. Az Zukhruf (43) : 66-67)

"Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu
orang-orang yang bukan golonganmu (sebab) mereka senantiasa menimbulkan
bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu." (QS. Ali
Imran:118)

Rasululloh mengatakan “ Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya, atau sekurang-kurangnya kamu mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi, akan membakar badan dan bajumu, atau kamu hanya mendapatkan bau tidak sedap” (HSR Bukhari dan Muslim)

Di riwayat lain Rasululloh mengatakan “kebiasaan orang itu sama dengan tabiat shahabatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang menjadi sahabatnya” (HR. Ahmad).

Mujahid bin Jabr mengatakan “tak ada orang yang hendak mati melainkan dia merasa seperti didatangi teman duduknya.” (maksudnya kalimat terakhir yang diucapkannya ketika hidup ialah apa yang biasa diucapkan kepada temannya)

Dlamrah bin Rabi’ah berkata, (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al
Khurasaniy berkata :"Sesungguhnya di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada para pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang Ahli Sunnah.
Dan iaakan bergabung bersamanya di atas As Sunnah." (Al Ibanah 1/205 nomor 43 dan
Ash Shughra 133 nomor 91 dan Al Lalikai 1/60 nomor 31)

Ibnu Mas’ud berkata :"Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya." (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)

Dan ia berkata (Ibnu Mas’ud) :"Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya." (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : "Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab
sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang
mengagumkannya (karena seperti dia)." (Al Ibanah 2/477 nomor 501)

Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam
bersabda : "Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya." (Al Ibanah 2/480 nomor 514)

Qatadah berkata :"Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah
dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan
dengan mereka atau menjadi seperti mereka." (Al Ibanah 2/477 nomor 500)

Al A’masy mengatakan :"Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah(mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya."(Al Ibanah 2/476 nomor 498 )

Abdullah bin Mas’ud berkata :"Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman." (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)

Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :"Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli Sunnah wal Jamaah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamudari (mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung di atas apa yang pertama kali ia tumbuh dan dibentuk." (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)Ia –juga– mengatakan : "Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan Ahli Ilmu ia akan selamat danjika ia condong kepada yang lain ia akan celaka."

Perhatikan pula apakah diri kita telah menjadi teman yang baik dan saling mengisi kepada teman ataupun sahahabat kita nantinya ya akhi. Alloh berfirman ” … Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Alloh, sungguh, Alloh sangat berat siksaannya. ” (QS. Al Ma’idah : 3)

Dan ingatlah pula kepada firman Alloh ” Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata : ’ Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong/pengkhianat manusia” (QS. Al Furqaan : 27-29)

Jadi jangan lihat siapa dirinya tapi lihat bergaul akrab dengan siapakah dia…

+ ada sebuah buku bagus yang Alhamdulillah telah diterj. Kedalam bhs Indonesia dengan judul ” Akibat salah pergaulan” oleh pustaka At Tibyan, penulisnya ana lupa dan Insya Alloh buku tersebut pasti sangat bermanfaat bagi yang ingin mengetahui lebih dalam.

Wallahul Muwaffiq.

  • maraaji : Al Qur’an terj syaamil, Ar Risalah (majalah), Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Edisi Indonesia Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits, dll

Islam seperti inilah yang saya terima sejak kecil hingga saat ini…

Friday, March 10th, 2006

Islam seperti inilah yang saya terima sejak kecil hingga saat ini…

Kaum muslimin yang berbahagia, sebagian orang saat ini masih saja ada yang mengira bahwa apa-apa yang mereka lakukan saat ini telah sesuai dengan syariat islam yang mulia. Diantara mereka ada pula yang menyangka bahwa yang dilakukan seumur hidupnya dengan penuh keyakinan dirinya telah sesuai dengan ajaran islam, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa yang diterimanya dari orang tuanyakah, kyainya, gurunya, murabbinya, ustadnya, atau pembimbing spiritualnya sekalipun secara sadar ataupun tidak telah meyakini pasti sesuai tak mungkin salah dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Teringat pepatah arab “semua cinta laila, tapi laila hanya mencintai satu” dengan bahasa lain semua mengaku cinta Alloh dan Rasul-Nya tetapi yang diinginkan Alloh dan RasulNya kan hanya yang sesuai dengan yang di perintahkan oleh Alloh dan Rasul-Nya pula. Seakan akan sangkaan sebagian kaum muslimin tanpa pertanyaan sesuaikah dengan Al Qur’an dan As Sunnah apa yang mereka perbuat telah terjebak dan terjerumus ke dalam suatu fanatisme dan taqlid (asal dari kata qiladah yang berarti mengikat, mengalungkan) kepada apa-apa yang mereka tak ketahui landasannya.

Sebenarnya bila kita mau jujur dan berusaha untuk mencari dan bertanya pada hati nurani kembali. ”Apakah saat ini islam yang saya lakukan ini telah sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah ?” Ikhwan tanyakanlah pada diri antum dan hati nurani antum yang sejujurnya.


Jauh sebelum kita lahir ke bumi ini Alloh telah berfirman di dalam QS. Al Maaidah : 104, ” Dan apabila dikatakan kepada mereka, ” Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Alloh dan (mengikuti) Rasul. ” Mereka menjawab, ”Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya). ” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk.”


Di dalam QS. Al Baqarah : 170 Alloh pun telah menegaskan ” Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh. ” mereka menjawab, ”(tidak!) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk.


Betul sekali letak terjatuhnya kita dalam memahami masalah din ini ialah dikarenakan hampir sebagian besar umat muslim di sini (indonesia) menjalankan agamanya berdasarkan ikut-ikutan saja. Diantara mereka tidak memiliki bashirah dan hujjah yang kuat bila ditanyakan ”engkau melaksanakan hal seperti ini apakah sudah ada tuntunanya dari Rasululloh ?” kemungkinan besar diantara mereka menjawab ” kami tak tahu, seperti inilah yang diajarkan kepada saya. Dan guru/kyai/murabbi/ustadz saya mengajarkan ini mereka islam dan ’alim jadi saya pikir /rasa ini bagian dari Islam”. Dan banyak lagi perkataan seperti ini dan sejenisnya. (ada sebuah buku berbahasa indonesia bagus dengan judul ”Lau Kanaa Khairan Lasabakuna Ilaih” yang ditulis oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Darul Qolam Jakarta. Selain itu ada vcd dengan judul ”Tegakkan Dakwah Dengan Hujjah dan Dalil” yang berisi penjabaran tentang permasalahan seputar syubhat din yang mulia ini oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat)


Terlebih lagi bila diantara mereka banyak yang ikut-ikutan membenci apa yang dibenci oleh gurunya, dan menyukai apa yang disukai oleh gurunya sekalipun tidak ada dalil sekalipun ada pasti dhaif dan maudhu atau salah dalam kaifiyahnya tentang hal tersebut. Misalkan Kyainya merokok ia juga (murid) ikut merokok, dan ditanyakan ”lho mas kok anda merokok bukankah di dalam islam itu haram?” dengan tangkas dan serta merta ia menjawab ”eh, kata kyai saya merokok itu boleh. Kyai saya itu tinggal 15 tahun di Mekkah, ia lebih tahu islam ini dalilnya –qola Rasulullah inna dukhanun halal- berkata Rasulullah sesungguhnya merokok itu halal” Ya ampun dalil darimana ini, dan mengatakan kyai saya 15 tahun di Mekkah lagi. Kita balikin aja dengan perkataan seperti ini ” Abu Jahal, Abu Lahab seumur hidupnya tinggal di Mekkah bahkan ketemu Rasulullah tapi tetep aja namanya kadung kesemsem ya udah seperti itu jadinya ahlu naar” atau ada juga mantan pejabat teras di negeri ini yanh hafal 30 juz pendidikan S1-S3 di Madinah justru malah tukang korupsi percaya pula dengan mistik/cerita khurafi lagi. Dengan demikian tak jaminan tinggal di Saudi sekalipun.

Di akhir kesempatan ini kami mengatakan janganlah mengikuti sesuatu tanpa dasar dalil yang dipertanggung jawabkan. Firman Alloh ” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al Isra : 36)


Selain itu janganlah diantara kalian sangat fanatik mengikuti mazhab (terlebih bila mengatakan diluar mazhabnya sesat). Perhatikanlah ini perkataan para Imam Mazhab yang mencela taklid.


Al Imam Abu Hanifah mengatakan : ”tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui darimana kami mengambilnya.” dalam riwayat lain beliau mengatakan ”haram bagi siapapun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).

Al Imam Malik mengatakan : ” saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapatku, apabila sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka ambillah. Dan apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”


Al Imam Asy Syafii (Nashirus sunnah, yang memiliki pengikut terbesar terlebih di Indonesia dan Asia), mengatakan : ”semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadist yang shahih dari Rasululloh dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup atau sesudah mati.” dalam riwayat lain mengatakan ”idzaa shahil hadist fa huwa mazhabi, jika hadist itu shahih maka itulah mazhabku.”

Al Imam Ahmad bin Hambal, mengatakan : ” janganlah kalian taqlid kepadaku dan jangan taklid kepada Malik atau Asy Syafi’i, atau Al Auza’i, ataupu Ats Tsauri. Tapi ambillah darimana mereka mengambilnya.” (semua pendapat ini dikutip dari majalah Asy Syariah vol 1/no.01/1424 H/2003)


Semua para salafush shaleh merujukkan perkataannya kepada Qalaallah wa Qalaa Rasul. Pendapat mereka tidak mau mutlak ditelan bulat-bulat dan tidak mau di ikuti bila itu bertentangan dengan nash dan dalil. Maka darimana kita akan mengambil, inilah perkataan yang mulia dari Rasulullah “ Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin mahdiyin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shohih).

Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Malik ketika melakukan muhadhharoh di Masjid Nabawi ”setiap orang bisa salah bisa benar kecuali pemilik kubur itu (seraya tangannya menunjuk makam Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam)


Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, dan apa yang kami kerjakan semata-mata hanya mengharap ridha Alloh. Pasti di tulisan ini banyak kesalahan mohon maaf apabila menyinggung perasaan karena tulisan ini hanya bersifat –wata’awuna ’alal birri wa taqwa- saran dan kritik kami terima serta bantahannya,

Wallahul Musta’an.

EMANSIPASI WANITA DAN GERAKAN FEMINISME

Friday, March 10th, 2006

 

EMANSIPASI WANITA DAN GERAKAN FEMINISME

Fenomena upaya penyatuan gender dan persamaan hak atasnya seakan-akan sudah menjadi barang baru kembali bagi penganut mazhab liberal, dan hal itu membuka kancah cakrawala dunia islam semakin terbelalak. Ketika seorang professor dari universitas di Virginia sebuah negara bagian di Amerika, menjadi seorang imam shalat jum’at tertanggal 18 maret 2005 di sebuah gereja anglikan dengan penuh pengawasan dan penjagaan ketat. Konteks epistemology dalam setiap kajian hermeneutic yang mereka dengungkan dalam menafsirkan apa yang dikatakan sebagai tafsir ayat-ayat suci menjadi merupakan suatu bias tersendiri, sebab apa yang mereka dengungkan selama ini adalah adanya kesepadanan kata yang satu; yaitu tidak ada perbedaan antara agama yang satu dengan yang lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama , bahwasanya mereka hanya mengupayakan tiga aspek bidang yang menjadi dasar titik tolak kebudayaan kebebasan berpikir yang mereka suarakan, antara lain adalah persamaan gender.

Sebagian besar dari tokoh-tokoh yang dikenal di Indonesia dengan acap kali disebut dengan sebutan –cendekiawan muslim- contohnya. Telah mampu merasuki pola pemikiran masyarakat awam, dan semakin mempengaruhi dengan adanya fatwa-fatwa yang menyesatkan. Sebelumnya di sekitar pertengahan tahun 2004 ada yang mereka lahirkan diantaranya adalah ‘Draft KHI’ atau ‘ yang sering mereka katakan ‘Counter Legal Draft’. Dengan pasal-pasal perubahan yang baru yang bersifat lebih menekankan adanya persamaan hak antara pria dan wanita dalam kasus hubungan pernikahan ataupun perceraian. Sebelumnyya dan hampir setiap tahunnya mereka pun mendapatkkan suntikan dana yang cukup besar dari The Asia Foundation atau Ford Foundation, misalnya. Dan dapat dibayangkan keuntungan tiap bulannya bagi seorang Ulil Abshar Abdalla adalah berkisar hingga 30 juta perbulan, hanya untuk membumikan paham teologi rasional.

Pada saat hari raya Id yang lalu sekitar tahun 2004 public Kanada di kejutkan oleh sesuatu yang baru dan ini lebih dahulu dibandingkan dengan gebrakan Amina Wadud menjadi imam sekaligus khatib shalat Jum’at. Seorang gadis berusia 20 tahun bernama Maryam Mirza menjadi khatib sahalat Id. Seakan bias dari equality gender ataupun gender mainstream telah sampai ke titik puncaknya. Maryam Mirza di hadapan 200 jamaah lainnya dengan lantang mengatakan “Kita semua, ujar Maryam, harus terus menerus mendidik diri dan memprakarsai perubahan di komunitas dan agama kita. "Dan semua hal ini dapat kita lakukan dengan tetap berpegang pada ajaran Quran," tambahnya dalam khotbah 10 menit itu. Dan perkataan selanjutnya “"Demi kelangsungan hidup kita, manusia harus berubah sesuai gerak zaman, atau kita akan tertinggal," katanya di depan 200an jamaah. "Hal yang sama dapat diterapkan pada agama. Saudara-saudariku sesama umat Islam, kita semua harus membantu agar Islam bergerak maju, dan saya yakin kita semua mampu melakukannya”.

Mungkin tolak ukur kesetaraan gender di Indonesia baru terjadi setelah adanya pemberontakan yang dilakukan oleh R.A Kartini pada tahun 1901, dimana ibu itu mendobrak kesetaraan gender pertama kalinya dalam sejarah islam di Indonesia. Di dalam buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang “ disitu ditegaskan dengan jelas bahwa apa- apa yang di inginkan oleh Kartini dalam menyamaratakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan tercapai sudah. Hingga berdampak sampai sekarang dimana era kebebasan persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria.tercapai dengan kenyataan yang sukses.

Tetapi mungkin tanpa disadari hal itu pun telah sangat jauh meninggalkan dari apa yang dinamakan kesetaraan, terlebih lagi dengan gagasan seorang Ahli Peneliti Utama DEPAG. Prof. Dr, Siti Musdah Mulia, MA. APU, yang memasukkan Draft KHI terbaru ke dalam tubuh DEPAG, dan berisikan akan kesamaan hak antara pria dan wanita di dalam hukum perkawinan. Draft yang kontoversial tersebut pun dengan cepat mendapat respon positif dari beberapa Ormas-Ormas Islam di Indonesia termasuk MUI, yang melarang dengan keras legalisasi pengesahan draft tersebut nantinya.

Sehingga dapat dipastikan bahwa upaya penyetaraan gender atau pengarusutamaan gender atau gender mainstream atau gender equality memang merupakan suatu kampanye tersendiri bagi penganut jargon liberal. Karena dalam memahami suatu ayat diantara mereka lebih mengutamakan ra’yu dan mengaitkan kesemuanya dengan konteks perkembangan zaman. Hal ini merupakan sebuah tantangan baru bagi para du’at dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan heterogenitas.

Terlebih lagi di suatu kampus yang terkenal dengan penghasil para intelektual muslim diberikan mata kuliah studi kesetaraan gender dan seringkali diadakan suatu acara seminar yang menampilkan para tokoh-tokoh gerakan feminisme dan penyeru emansipasi wanita. Sehingga tak ayal nantinya para calon penerus bangsa dibidang keislaman lebih suka merusakkan generasi berikutnya.

Dukungan dari sumber dana NGO asing pun menjadi suatu yang dinanti bagi para penyeru pembebasan hak-hak wanita untuk selalu berkreasi, berinovasi, dan melakukan upaya terobosan dalam bidang emansipasi wanita. Walhasil sebagian besar para kaum wanita di perkotaan lebih menjadi terbuai dengan perkataan mereka dibandingkan dengan petunjuk para ulama yang tsiqah dalam berpegang kepada Al Qur’an, As Sunnah, dan manhaj salaf. Dengan alasan “ mereka semua yang berbicara kan professor, doctor, intelektual islam, sekolahnya saja diluar negeri “ dalam memberikan fatwa dan komentar dalam suatu urusan sehingga timbulnya para ulama su’ yang menentukan fatwa diantara manusia dan mereka itu sesat dan menyesatkan.

Mereka merubah tafsiran Al Qur’an dengan tafsiran mereka sendiri yaitu hermeneutic (tafsir yang digunakan untuk menafsirkan bibble). Oleh karena sikap kita bagi yang telah memperolok-olokkan Al Qur’an seperti yang Alloh katakana “ Dan sungguh Alloh telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat dmikian). Tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir didalam Jahannam. “ (QS An Nisa : 140 )

Dalam ayat yang lain Alloh menegaskan larangan untuk duduk bersama mereka yaitu “ Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).(QS. Al An’am : 68 )

Karena sesungguhnya yang menjadi landasan mereka dalam mengagas sebuah kamanya persamaan gender dan emansipasi wanita adalah tak lain melainkan hanya memperturutkan hawa nafsunya sendiri. Dan Alloh telah menegaskan “ Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas“ (QS. Al Kahfi : 28 ) di dalam ayat yang lain Alloh telah memperingatkan kembali “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. “ ( QS Al Jatsiyah : 23 )

oleh karena itu pada akhirnya upaya yang seharusnya kita lakukan adalah untuk mencari ilmu syar’i yang berlandaskan kepada Al Qur’an, As Sunnah, dengan bimbingan manhaj salafush shalih. Dan sebisa mungkin untuk mebebaskan belenggu saudara kita wanita muslim yang sudah terkena atau akan terkena syubhat emansipasi wanita dengan bekal ilmu yang telah kita miliki.

Wallahul Mustaan

Demokrasi dalam kampus islam, adakah ?

Friday, March 10th, 2006

 

Demokrasi dalam kampus islam, adakah ?

Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sempurna, baik itu dalam syariah, muamalah, dan lainnya. Seperti yang di firmankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an : “ …. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu Nikmat-Ku, dan telah kuridhai islam itu jadi Agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al . Maaidah : 3 )


Begitupun juga dalam system mengatur ke pemimpinan. Sekalipun hal ini sangat sensitive untuk diangkat dan dijadikan sebuah wacana. Tetapi masalah ini bukanlah sebuah ikhtilafiyah, sebab dalam pemilihan kepemimpinan islam telah memiliki cara tersendiri. Para Shahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin, dan orang yang konsisten di jalanNya. Sudah membuat segala peraturan sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih.

Adanya golongan dan firqah islam yang tumbuh berkembang belakangan ini telah membuat citra islam semakin buruk. Adanya rasa fanatisme ghuluw terhadap golongannya menjadikan islam terpecah belah, dengan banyaknya golongan seperti itu semakin membawa ummat jauh dari Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf ash shalih yang wala’ mereka terhadap islam lebih baik dibandingkan dengan sekarang.

Banyaknya jumlah gerakan ishlahiyah, yang sebenarnya bertujuan untuk membawa islam kepada jalan Al-Quran dan Sunnah, ternyata justru membawa kehancuran dalam islam. Diantara mereka ada yang mengupayakan system ke khalifahan terlebih dahulu dalam melakukan dan mengembalikan kembali kejayaan islam, menjadikan jumlah islam secara kuantitatif sedangkan minim akan akidah yang shahih, ikut terlibat aktif didalam system bukan islam yang diantaranya akan dibahas dalam masalah ini yaitu DEMOKRASI yang jelas bukan dari islam, bahkan sebagian lainnya lagi menegaskan bahwa khilafah akan terwujud dengan cara menyatukan seluruh Negara didalam naungan islam secara mujmal tetapi mereka tidak memperhatikan dan mengetahui akidah yang sebenarnya.

Ketahuilah wahai muslimin bahwasanya Rasulullah tidak pernah menghalalkan segala cara dan mengajarkan kepada kita tentang berkelompok yang menimbulkan perbedaan, Rasulullah lebih menitikberatkan pada aspek akidah dan tauhid yang lebih utama dibandingkan dengan kekhalifahan. Sebab perlu diketahui banyaknya orang bukan berarti hal itu dapat membawa kebenaran.

Yang ada Rasulullah hanyalah menyerukan kepada dakwah tauhid yang sesungguhnya dan juga akhlak mulialah sebagai misi utama para Nabi dan Rasul lainnya.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat ( untuk menyerukan ) : beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala sesembahan selain-Nya.” ( QS. An Nahl : 36 ).

Rasulullah juga menegaskan : Aku diutus ( oleh Allah ) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus.” ( HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashirudin Al Albani dalam Ash Shahihah no 45 ).

Perhatikan pula firman Allah di ayat ini “ Serulah ( manusia ) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “ ( QS.An Nahl : 125) 

Ibnu Katsir berkata, “Allah memerintahkan utusan-Nya, Nabi Muhammad agar menyeru manusia supaya taat kepada Allah dengan hikmah yaitu dengan membacakan Al-Qur’an dan Sunnah, dengan mauidhoh hasanah yaitu menyebutkan larangan dan ancaman-Nya, agar mereka takut siksaan Allah dan dengan jidal yang hasanah yaitu membantah mereka dengan cara yang baik bila mereka perlu bentahan, dengan lembut dan kata-kata yang indah sebagaiman firman Allah “ Dan janganlah kamu membantah ahli kitab kecuali dengan cara yang baik, kecuali bila mereka berbuat zhalim.” Dan seperti firman Allah ketika memerintah Nabi Musa dan Harun untuk memenuhi Raja Fir’aun “Hendaklah kamu berdua berbicara dengannya dengan perkataan yang lembut, barangkali dia mau mengambil peringatan atau takut, “ karena Dialah Allah yang lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya yang benar. “ ( Tafsir Al Qur’anul Adzhim ).

Di dalam Al Qur’an Tidak ada ayat yang menyatakan untuk membuat partai-partai di dalam islam golongan-golongan yang baru, hizbiyah dan pergerakan lainnya. Hal itu diantaranya tidak lain hanyalah sesuatu yang baru di dalam islam. Tentang adanya sebagian orang yang menyatakan bahwa di dalam Al Quran pun tertera untuk dapat ditafsirkan bahwa yang dimaksud di ayat tersebut adalah partai. Selain itu ada pula salah satu jemaah islam yang menjadikan dalil ini sebagai hujjah mereka, ayat tersebut adalah “ Dan hendaklah diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar ; mereka itulah orang-orang yang beruntung. “ ( QS. Ali Imran : 104 ). Tafsiran mereka tentang ayat ini yang mengartikan partai adalah sangat jauh sekali dari tafsiran salaf ash shalih. Al Hafidz Ibnu Katsir di dalam tafsir al quranul adzhim, menyatakan bahwa yang di maksud di ayat ini adalah ULAMA dan MUJAHID. Jadi jelas bukan apakah didalam islam ada yang menyerukan kepada partai? 

Selain itu pula diantaranya ada beberapa saudara kita pula yang ingin menegakkan islam dengan cara yang salah, ikut masuk kedalam demokrasi yang merupakan system kuffar. Berlomba-lomba mencari kursi kekuasaan, menghabiskan dana besar untuk kampanye dan mengerahkan massa akhwat dalam melakukan kampanye naudzubillah.padahal kita semua tahu pada saat memulai dakwahnya Rasulullah telah ditawari oleh para pemuka dan pejabat kafir Quraisy untuk memilih dan menikmati harta, tahta, dan wanita. Lalu apa yang dikatakan oleh Rasulullah “tidak pamanku apabila engkau meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku aku tidak akan meninggalkan dakwah ini….”. Dan ikut menikmati hal itu lebih mengutamakan daulah islamiyah terlebih dahulu dibandingkan dengan dakwah tauhid. Alasan mereka tidak beralasan dengan mengatakan “ menegakkan khalifah islamiyah lebih dahulu baru islam akan berjaya “ hal ini sangat melenceng jauh dari manhaj dakwah Rasulullah yang lebih menekankan terhadap dakwah tauhid akan penyembahan terhadap Allah secara mujmal penghapusan syirik dan kerusakan jahiliyah lainnya untuk kembali kepada islam.

Syaikhul islam ibnu Taimiyyah Rahimahullahutaala menyatakan : “ Orang yang berkata bahwa masalah imamah adalah tujuan yang paling penting dan utama dalam hukum-hukum agama dan masalah kaum muslimin yang paling mulia, maka dia itu berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin baik yang sunni ataupun yang syi’i. bahkan ini termasuk kekufuran, karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya lebih penting dan utama daripada masalah imamah. Hal ini adalah perkara yang dimaklumi secara pasti dari agama islam. Dan seorang kafir tidaklah menjadi mukmin sampai ia bersaksi : Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah ( bukan karena imamah, dan tentunya hal ini menunjukkan pentingnya permasalahan iman, pen ). Inilah alasan utama Rasulullah memerangi orang-orang kafir. Beliau bersabda: “ Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah, kemudian mereka menegakkan shalat dan membayar zakat. Maka bila mereka melakukan hal itu terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya.” ( HR. Al Bukhari no 25 dan Muslim no 22 ).

Ibnu Taimiyyah juga menyatakan : “ Perlu dimaklumi bagi kita semua, apabila didapatkan masalah kaum muslimin yang paling mulia dan tujuan yang paling penting dalam agama ini, tentunya akan disebutkan dalam Kitabullah lebih banyak daripada perkara selainnya. Dan demikian pula keterangan Rasulullah tentang perkara tersebut, tentunya akan lebih utama dan lebih banyak daripada keterangan beliau terhadap perkara lainnya. Sementara kita lihat Al Qur’an penuh dengan penyebutan Tauhidullah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, kisah-kisah, perintah dan larangan, hukum had dan kewajibannya. Tidak demikian halnya dengan masalah imammah. ( maka kalau dikatakan masalah imamah lebih penting daripada yang lainya, pen) lalu bagaimana bisa Al Quran dipenuhi dengan selain perkara yang lebih penting/utama dan lebih mulia ?!.” (Minhajul Anbiya’ 1/21 )

Selain itu pula para jamaah dakwah ishlahiyah islamiyah yang mengusung pembaruan kontemporer lebih sering kali menyelisihi pemerintahan yang berkuasa sekalipun pemerintahan tersebut dipimpin dan didominasi oleh orang muslim. Mereka sering kali keluar menuntut dan mencemarkan aib penguasa didepan umum, melakukan demonstrasi dan terkadang dibeberapa Negara melakukan pengrusakan sehingga menjerumus kepada tindakan yang arogan dan anarkis, memadati jalanan yang merugikan orang banyak dengan slogan-slogan pembangkangan terhadap pemerintah ( seperti apa yang dilakukan oleh khawarij ), dan berbagai tindakan lainnya hal ini karena mereka mengatakan bahwa bagian dari DEMOKRASI. Lihatlah para wanita turun ke jalan ikut berorasi, bercampur-baur dengan para pria, sekalipun mereka menggunakan pakaian syar’I, membawa atribut dan bendera masing-masing jamaahnya. Dimana ya ikhwan! tentang pemahaman akidah mereka saat ini yang menyerukan tentang daulah islamiyah padahal tauhid mereka pun belum lurus dan merujuk kepada pemahaman salafush shalih yang mereka katakan mengikutinya ?

Setelah terjadinya proses demokrasi dikenal juga dengan demonstrasi, karena demonstrasi merupakan anak kandung dari demokrasi. Perhatikanlah ya ikhwan berapa banyak yang dilakukan oleh demonstrasi mereka hanya senang-senang dengan jamaahnya sendiri. Atau bahkan mengatakan bahwa inilah yang disebut dengan solidaritas setiap kali mereka memulai aksi. Hal itu tidak lebiih dari mencari simpati agar masyarakat memilih pada pemilihan yang akan datang. Lalu kita lihat apa yang diperbuat dalam aksi tidak lebih dari bernasyid ria, melakukan aksi tetater solidaritas, para wanitanya membacakan sajak-sajak puisi yang dengan suara tersedu-sedu, menggelar sandiwara, dan hingga akhirnya digelar orasi bertajuk daulah islamiyah. Kampanye terselubung dan sebagainya.

Subhanallah berapa banyak kader yang dilakukan setiap kali aksi sehingga membuat jalannan macet, membuat orang menggerutu,dll. Dan diantaranya adalah banyaknya para pemuda-pemuda islam yang lebih mengedepankan ghirah islamiyah saat ini jingkrak-jingkrak tetapi mereka bodoh akan hal ilmu. Naudzubillah.

Yang lebih lucunya lagi adalah jemaah dakwah yang bersifat harakah hizbiyah, yang selalu koar-koar dalam masalaha amar ma’ruf nahi mungkar, sering melakukan aksi penumpasan dan pemberantasan tempat maksiat setelah dilihat kehidupan asli dari mereka yaitu melakukan peringatan hari besar islam yang jelas-jelas merupakan bid’ah bahkan langsung dipimpin tabligh itu oleh ketua laskar tersebut, sebagian jemaahnya lagi ada yang sangat antusias sekali mendengarkan panggung festival musik rock walaupun hanya beberapa bahkan sangat asing dengan goyangan gambus ala penari telanjang seperti yang dilakukan oleh para sufi ekstrim baik dari rafidhah dan selainnya (dan ana khusnudzon semoga itu merupakan anggota yang seringkali futur). Lalu mau bagaimana amar ma’ruf nahi mungkar kalau masih suka sowan ke makam para wali’? itulah karena fondasi yang mereka lakukan bukan dakwah tauhid, sehingga dosa besar menjadi lebih berbahaya dibandingkan musyrik’.

Dengan dasar syariat islam lah mereka mulai bergerak, lalu kita bisa katakan apa mungkin syariat islam terbentuk bila dalam penegakkannya dilakukan dengan cara yang batil, atau secara halus apa mungkin seorang dosen dapat memberikan santrinya nilai baik bila yang dikerjakannya salah semua?. Mari kita dudukkan penggalan hadist “ Sollu kamaa Ra’aitumuni Ushallii “( shalatlah kalian seperti melihatku shalat ) sekarang mari diperlebar maknanya menjadi dirikanlah syariat islam/daulah seperti kalian melhatku mendirikan daulah. Rasulullah telah menjelaskan dan jaman keemasan para sahabat, imam mazhab pun tak lepas dari apa yang dilakukan Rasulullah sebagai tuntunan. Katanya kalian mempelajari kitab Tarikh, Sirah Nabawiyah, dan sejarah para Khulafa’, coba perhatikan bagaimana para Khoiru Nas melakukan penegakkan daulah, apakah melakukannya dengan menggunakan partai, harakah, ataupun hizbiyyah??? Ijtihad atau qiyas apalagi dan hujjah apalagi yang ingin di tampilkan selain merujuk kepada para salaful ummah?

pergulatan tanpa judul, untukmu kampus peradaban

Friday, March 10th, 2006

 

Pergulatan tanpa judul

Pergulatan antara yang hak dan batil, tak akan pernah berhenti. Begitupun dengan fenomena perkembangan aliran sesat di Negara ini.

Mainstream dan stigma yang terbentuk sebagai asas adanya ke-nyelenehan tersebut karena adanya doktrin. Ya, doktrin yang menghibur setiap orang. Sebab rasio mereka terbentuk dengan janji palsu nan manis. Tidak ada toh sebuah aliran yang mengajak pengikutnya ke neraka, hatta kaum kuffar pun begitu kan.

Sebuah institusi terbesar di Negara ini yang mencitrakan sebagai pusat pembentukan dan pengembangan intelektualitas manusia islam yang berakhlak sesuai dengan norma islam, telah membentuk kader-kader siap guna yang bertugas menghancurkan islam.

Memang institusinya tidak bersalah, tetapi ada sisi lain yang diterapkan disana. Apa itu ? ideology, dogma, dan paradigma dari para pembimbingnya sebagian besar. Ketika semua membaur jadi satu ketika itu pula terbentuk reaksi yang secara prinsipil dan terselubung tak tanggung-tanggung menginjak islam itu sendiri.

Mulai dari bantuan yang mempunyai misi dan motif tersendiri, hinnga bai’at miskin yang tak logic. Perhatikanlah dengan mudah setiap MoU ditandatangani menjadi satu dan apa yang terjadi PERUSAKKAN AKIDAH yang makin merajalela.

Ketika dulu kita mengenal mazhab ciputat yang bersifat bukan pada tataran destruktif, sekarang justru kita mengenal (dan bagi yang belum, mungkin akan mengenalnya nanti). Menggejala indikasi Hubbul Falsifah wa suffiyah, yang lebih softly dibandingkan mazhab ciputat.

Karena mereka telah menemukan maqam yang pas untuk dipelajari lebih baik dan lebih berguna, dibandingkan dengan Al Qur’an yang dijadikan hermeneutic dalam tafsirannya. Sunnah yang dibuang dibelakang punggung mereka (bahkan ketika saya mengikuti mata kuliah metodologi studi islam, seorang dosen mengatakan “ bagimana kita akan mengikuti hadis, bila diantara satu riwayat dengan riwayat yang lain bertentangan dan juga berbeda redaksinya.” Hingga akhirnya ia mengatakan perkataan ‘pakar tafsir Indonesia’ dengan perkataan “ hasbuka minal Qur’an (cukuplah kami dengan Qur’an-red).” Pantaskah ini keluar dari perkataan seorang muslim ataukah masih dipertanyakan ke-islamannya). Atau bahkan nantinya mungkin ketika saya lontarkan perkataan “bagaimana dengan atsar sahabat pak dosen ?” saya takut mereka menjawab tak ada sahabat yang lebih baik kecuali Abdullah bin Saba’, nah lo klo begini kan repot toh. Lha wong ketika senior saya yang akrab dengan yayasan Al Huda samping Republika itu loh mas, dikatakan oleh dosen saya “ada gak disini yang syiah? Klo ada wah hebat itu…” saya gak terusin lagilah nanti mata-mata berkata beda lagi.

Lepas dari itu kawan-kawan tau kan The Asia Foundation (TAF), itu lho yang mensponsori buku kontoversial “ fiqh lintas agama “ dan juga yang membuat cetakan kembali “ catatan pergolakan pemikiran Ahmad Wahib “ klo gak salah judulnya itu. Buku tersebut sempat dilarang yang subtansi pemikirannya cenderung sangat liberal. Eh malah disini, di organisasi ekstra kampus ini dibuat Ahmad Wahib Award dengan total hadiah 25 juta. Apa sih ahmad wahib award itu ? sebuah annual price award yang diadakan oleh rekan FORMACI (forum mahsiswa ciputat. Ini tu dulu embrio JIL lho mas-pen) dengan mengirimkan artikel bertema pemikiran ataupun ‘wacana’ yang ditulis rapi 10-20 hal, dengan font times new roman, berspasi ganda, dsb. bila lulus seleksi teman-teman dpat undangan di suatu hotel mewah di Jakarta untuk menghadiri malam penghargaannya, klo beruntung dan tentunya tulisan sesuai dengan ideology dapat deh 25 juta. Thoyyib…

Dus kawan-kawan saya yang aktif di FORMACI pakaiannya rata-rata necis lho, jangan salah penampilannya aja dandy. Tapi dari atas kebawah apa dari bawah keatas terselip misi tertentu. Jangan heran ketika mereka seringkali mondar-mandir PARAMADINA untuk mengikuti kajian filsafatnya Hermawan Kertajaya, dkk.

Bagaimana dengan organ ekstra yang dibawah naungan organisasi terbesar di Indonesia, yang dahulu pernah jadi presiden Indonesia salah satu tokohnya. Gak jauh beda ! gini lho mas klo yang ini lebih lucu, sebab mereka mempelajari Filsafat oke, Hermeneutik jalan, Postmodernisme apalagi kritik nalar epistemology (yang bahsannya pernah saya turunkan disini beberapa waktu lalu). Tapi mesti diingat klo sudah dihadapkan dengan kyai-nya cium kaki pun rela, yah itukan hanya sekedar common sense mereka aja lah. Tapi klo ahlusunnah salafiyin menilai itu sih jahil banget atau bahkan jahil murakkab (jahil kuadrat).

Ayah saya memperoleh beberapa lembar artikel milik pak Hartono Ahmad Jaiz ( tapi klo mas ulil lebih suka mengatakan Hartono yang boleh-boleh saja, jaiz=boleh) yang setelah saya baca sempat surprise. Apa itu ? beberapa organisasi yang dinaungi oleh TAF dan FF (Ford Foundation, gak beda ama TAF ). Pak Hartono menrinci jumlahnya hingga sampai 44-an organisasi yang memiliki satu corak ideology.

Diantaranya ada pula yang membuat saya dan teman-teman lain cukup terkejut sebab memang sebelumnya kami seringkali menerka-nerka apa iya organisasi itu memiliki misi tertentu.

Lalu apakah FORMACI termasuk ? jelas pasti. Gini lho mas FORMACI itu dari dulu sudah gak beres, lha kenapa gak beres ? seperti yang telah saya terangkan mereka itu punya misi lain selain liberal, tetapi yang lebih dari itu bisa jadi sinkkretisme.

Belakangan ini kan muncul kabar bahwa Salamullah / kerajaan Tuhan / Lia Eden yang mentahbiskan bahwa Jibril masuk ke dalam dirinya dia dan banyak lagi persaksian bodoh dan perkataannya (mas bisa lihat di tv deh akhir-akhir ini ). Organisasi ini kan berasaskan perenialisme (tak ada perbedaan antar agama) ya Kristen, Islam , Buddha, Hindu, bahkan Atheis kan boleh jadi satu. Benang merahnya apa sama gak dengan JIL? Yah jelas lha wong yang bela mati-matian aja mereka kok biar bunda Lia dibebaskan. Mungkin kawan ada yang mengenal dengan Imam Mahdinya ? dengan menyelisipkan nama Muhammad yang katanya memang titisan dari Rasulullah, menjadi Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman. Mas (abdul rahman) yang satu ini juga alumni satu almamater dengan saya, fakultas Ushuludin Jurusan Filsafat (ibaratnya saya tau lah dikit-dikit anak ushulludin, lha kan satu gedung dengan fakultas saya). Klo dah begini kayak tumbu ketemu tutup. Beliau ini ternyata pernah menjadi Imam Besar Formaci klo gak salah periode 93/94, klo sekarang kan Imam besar FORMACI nya kak Seif El Jihadi (terus terang saya belum ketemu orangnya). Dengan jelas mas abdul rahman mendampingi ibu Lia setelah mengalami pengembaraan spiritualnya seluruh aliran mungkin hampir pernah ia salami. Barulah partner yang cocok saat ini Ibu Lia, karena apa? Statusnya enak IMAM MAHDI versi mereka kan dahsyat toh.

Seperti setiap orang yang menayakan kepada saya tentang bagaimana IAIN? Dengan enak kan bisa saya jawab dengan “ klo mo bikin aliran sesat atau mau menemukan ratusan aliran nyeleneh ya disana itu “ karena apa didalam sini ada berbagai macam pemikiran dan puluhan seminar setiap minggunya, dari tekhnologi sampai teologi mas.

Kita hampir sampai pada titik akhir bahasan ini, kesimpulan yang didapat adalah kampus islam yang 100 % mahsiswanya muslim memang memiliki aneka jajanan tersendiri, ada gado-gado, es buah, lontong sayur, nasi uduk, dll sesuai dengan selera ada disini. Dikit aja coba deh bandingkan dengan Universitas Islam Madinah (wuiih jauh amat) tapi setidaknya disana kan tolak ukurnya satu yaitu satu pemahaman dibawah Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan manhaj Salafush Shaleh. Lalu sampai kapan pendidikan islam ini menjadi sebuah corak yang berbeda tanpa satu kalimat yang sama. Ujung-ujungnya pada satu akhir kata, seperti yang seringkali orang lain katakan pada saya “ bagaimana orang islam mau bener, lha klo anak mudenye aje udeh kagak bener. Pan kite jadi bingung semue Professor, semue Doktor, jadi mane nyang bener ???”

Wallahu ‘Alam Bishawwab

kemanakah dirimu saat ini yaa ukht ???

Friday, March 10th, 2006

 

Kemana dirimu saat ini yaa ukht…

Dulu antara kau dan aku saling mengenal dalam satu jalan dakwah di saat masih bersama-sama mengenakan seragam putih-abu abu. Alih-alih mengambil rujukan hadis tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan dimana tidak ada yang mendapatkan naungan di akhirat “ pemuda dan pemudi yang mencintai karena Alloh atau sepasang pemuda yang bertemu dan berjumpa karena Alloh” . yaa karena saat itu kita berada dalam satu jemaah dakwah yang bertekad mensyiarkan islam dengan semangat yang tinggi

Tetapi sekarang masa-masa itu telah lewat, kau kemana dan aku pun kemana. Semenjak saat itu perbedaan prinsip dan ideology melatarbelakangi kita untuk tak lagi saling menasehati. Di mulai dengan perkataan bahwa aku sudah tak lagi di atas manhaj yang benar dan tidak lagi memiliki semangat dakwah seperti dulu.

Di lain hal aku menilai dirimu dan ingin sekali engkau mengetahui kebenaran lain selain yang engkau dapatkan dari halaqahmu dan juga dapat mengajak temanmu yang lain agar mendapatkan jalan islam yang sesungguhnya dengan mengarungi samudra ilmu yang sangat luas yang telah diwariskan oleh para pembela islam dan menjadi teladan sepanjang masa.

Jurang perbedaan semakin lebar ketika klaimmu terhadapku dengan perkataan “ yaa akhi kau merasa paling benar sendiri saat ini…” di suatu pertemuan yang tak dijanjikan. Padahal dahulu engkau pernah mengatakan bahwa “ sampai kapanpun kita hidup harus tetap belajar, yaa mencari kebenaran dan mendakwahkannya semampu kita maka tetaplah istiqomah akhi…” begitu tulisanmu di sebuah pesan pendek yang kau kirimkan untukku.

Lalu mengapa saat ini kau menjadi tak konsisten dengan perkataanmu. Apakah ada yang salah dari pihakku atau dirimu, seiring berjalannya waktu dengan penuh kedewasaan di antara kita.

Perhatikanlah ukhti bahwasanya islam bukanlah milik salah satu jamaah, dan selain dari jamaahmu keislamannya diragukan. Atau kau beranggapan bahwa jamaah dakwahmu yang paling konsisten didalam menegakkan islam sedangkan ikhwan yang celananya cingkrang, jenggotan, akhowatny bercadar kau katakan sebagai orang-orang yang tak memahami fiqhud dakwah, fiqhul waqi’ atau sebagai orang yang kaku, keras, dan kau caci dengan menyamakannya dengan kaum liberal.

Lihatlah bila itu perkataanmu atau murabbimu atau ustadzmu ataukah itu dari dirimu sendiri. Aku berharap komentar itu tak kau katakan karena engkau menuruti hawa nafsumu di dalam mengatakan itu sehingga akalmu yang menilai segalanya, bukanlah sebuah dalil.

Tentunya kau dan aku mengenal Ali bin Abi Thalib (atsar ini shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, dan di shahihkan oleh Asy Syaikh Albani) yang pernah mengatakan “ islam itu tidak berdasarkan akal, bila saja didasarkan oleh akal maka mengusap bagian bawah khuf lebih penting dibandingkan dengan mengusap bagian atasnya…”

Di akhir perjumpaan yang singkat ini kupesankan kepadamu sebuah nasehat berharga yang dikatakan oleh seorang yang mulia pula Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan : kenalilah kebenaran karena itu benar, lihatlah kebenaran dari apa yang diucapkan bukan dari siapa yang mengucapkannya…”

Bukankah kau percaya bila ada seorang anak yang mengatakan “ada lubang..” ketika sedang berjalan karena anak itu benar dalam perkataanya dan kau pun melihat bahwa yang dikatakan itu benar. Maka terimalah kebenaran hatta dari seorang anak yang lebih muda darimu.

Wallahul musta’an

demonstrasi, amar ma’rufkah???

Friday, March 10th, 2006

“Akhi / ukht kenapa antum gak ikut demo, ini termasuk jihad lho. Amar ma’ruf nahi mungkar dan tugas dakwah kita yang mulia…”

Perkataan yang senada kami dengar pula dari beberapa saudara-saudara muslim di salah satu organisasi LSM mahasiswa yang berideologi sosialis dan jauh dari nilai syar’i, mereka mengatakan dengan mengubah dendang nasyid yang dulu pernah kami hafal ketika di salah satu jemaah dakwah “ Alloh cinta para demonstran” saya Tanya : “lho kok demonstran sih mujahid tau ?” lalu dijawab “ iya demonstrankan juga mujahid, berjuang melawan penindasan gitu lho” ketika ramai-ramai ada arus reformasi seluruh elemen mahasiswa bergerak menuju perubahan Indonesia (ini sedikit flash back aja) termasuk organ islam ekstra dan intra kampus.

Yah, namanya juga mahasiswa pikiran masih labil dan sok-sok punya ideology dengan peran yang ingin dilihat di masyarakat. Lagi-lagi seperti perkataan teman kami “ payah antum salafy hanya ingin menjadi saksi sejarah bukannya menjadi pelaku sejarah” waduh dipikiran kami pelaku sejarah berarti kalau wafat terus namanya harum dan masuk kedalam RPUL atau setidaknya menghiasi Koran dan majalah walau hanya satu pekan.

Perlu digaris bawahi bahwa yang jelas demonstrasi itu bukan dari islam !! ia jelas-jelas merupakan anak dari demokrasi tata system Yunani yang oleh plato/aristoteles menjadi bagian dari silus polybiosnya. Bagi antum yang tau buku ada buku bagus tulisan Asy Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi judulnya “madarikun nazhar fii siyasah…” atau klo di Indonesia ini diterjemahkan menjadi “pandangan tajam terhadap politik” (tolong klo salah diluruskan, sebab ana sendiri lagi mencari kitab itu terj/asli) hanya saja buku itu yang selalu dijadikan referensi tambahan dalam menjawab tentang demokrasi.

Kembali kepada pembahasan apakah demonstrasi juga merupakan amar ma’ruf nahi mungkar ? kami jawab tidak sama sekali sebab tak ada contohnya yang dilakukan oleh khairu nas dalam menegakkan daulah. Tapi kenyataan yang ada beberapa jemaah dakwah justru malah seringkali demonstrasi. Sebagi contoh ketika perebutan kursi pemimpin wilayah di daerah di Indonesia terjadi pertikaian dan ketegangan yang sangat sengit padahal kedua masa adalah muslim (kira-kira pantes gak sesame muslim bertikai).

Sehingga apa yang terjadi adalah kosongnya kepemerintahan selama beberapa bulan. Ahlusunnah wal Jamaah sebagai suatu manhaj yang konsisten dalam membela izzah islam telah memiliki fondasi dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, hal ini sesuai dengan teladan para salafush shaleh melakukan sebuah nasehat bijak dan tak pernah memberontak terhadap kepemimpinan yang telah sah. Baik dengan cara demo ataupun dengan apa yang dilakukan sebagian kaum muslimin saat ini seperti aksi terorisme.

Tidak ada satu pemimpin pun di dunia ini yang lebih kejam dibandingkan dengan fir’aun, sedangkan kepada fir’aun pun nabiyullah Musa dan saudaranya Harun diperintahkan oleh Alloh untuk menasihatinya. Alloh berfirman “ pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” ( QS. Taha : 43-44 ). Lihatlah kepada fir’aun yang telah menisbatkan dirinya sebagai Tuhan dengan mengatakan “ ana robbakumul a’la” Nabiyullah Musa dan saudaranya diperintahkkan untuk menasehatinya, bukan memeranginya ataupun melawannya.

Lantas apa yang terjadi di masa ini, banyak diantara kaum muslimin mencela dan menghina para pemimpin di negaranya yang mayoritas muslim. Setiap kali pemimpin mengeluarkan kebijakan mereka serta merta turun ke jalan untuk menggalang kekuatan dan berlomba-lomba menuju gedung dewan dan berdemonstrasi yang maslahatnya lebih kecil dibandingkan dengan madharatnya. Mencaci, mencela hingga merusak merupakan hal yang tak diajarkan di dalam islam. Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran” (HSR. Bukhari 48 dan Muslim 116, melalui jalan Ibnu Mas’ud) Jelas tak ada tuntunanya dalam melaksanakan seruan tindakan demonstrasi turun ke jalan baik dilakukan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam, para shahabat ridwanallohu ‘ajmain, para tabi’in ataupun tabiut-tabiin, dan yang mengikuti mereka hingga saat ini melakukan aksi demo.

Tunjukkan hujjah bila mereka pernah melakukan aksi demo. Jadi untuk meringkas tulisan ini, tak sepantasnya bagi kaum muslimin yang beriman melakukan aksi demo yang jelas-jelas sangat menentang dan jauh dari ajaran islam. Dalam satu riwayat hadist shahih disebutkan dan ini ada di dalam riyadhush shalihin Al Imam An Nawawi dikatakan: orang-orang mengeluhkan apa yang dilakukan oleh Al Hajjaj (ia adalah Al Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafi, seorang khalifah dengan julukan penumpah darah dari Tsaqif yang telah membunuh cucu shahabat yang mulia Abu Bakar Ash Shidiq atau anak dari asma’ bintu abu bakar yaitu Zubeir bin Awwam) kepada Anas bin Malik. Lalu apa yang dikatakan oleh Anas bin Malik “ isbiru” bersabarlah kalian, sesungguhnya masa-masa yang akan datang akan lebih sulit lagi dari masa ini. Lalu Anas bin Malik mengatakan “aku mendengarnya dari Rasululah”.

Dan terbukti setlah itu Alloh menggantinya dengan pemerintahan yang adil dan bisa digolongkan sebagai khulafaur rasyidin yang ke 5 karena keadilannya, zuhudnya, dan wara’nya menyeupai shahabat yang 4, ia adalah Umar bin Abdul Aziz. Sebagian ulama mengatakan jelas antara zaman Al Hajjaj dengan Umar bin Abdul Aziz terdapat perbedaan, bila dilihat lebih baik zaman Al Hajjaj sebab saat itu masih banyak para shahabat-shahabat besar yang dapat ditanyakan ilmu kepada mereka. Jadi kami pesankan bagi penggerak dakwah, aktivis, pelopor pergerakan, bersabarlah kalian bukankah Alloh telah berfirman “Sekarang Alloh telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Alloh. Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al Anfaal : 66)

Asy Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, memberikan komentar yang cukup bagus ketika beliau rahimahullah juga memberikan komentar pada karya Asy Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani di dalam Fitnatu Takfir. Syaikh Utsaimin mengatakan : “sebagian ulama telah berpendapat bahwa sesungguhnya hal itu berlaku di masa lemahnya kaum muslimin. Dan suatu hokum selalu merujuk kepada sebabnya. Maka setelah Alloh mewajibkan kepada mereka untuk bersabar menghadapi sepuluh orang (QS Al Anfal 65) Dia berfirman, “sekarang Alloh ringankan dari kalian dan Dia mengetahui bahwa ada kelemahan pada kalian”.

Kemudian kita katakan : Kami mempunyai nash-nash yang muhkam (sangat jelas) menerangkan perkara ini, diantaranya firman Alloh “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 286). Jadi Alloh tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Alloh juga berfirman “Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu.” (QS. Ath Thaghabun : 16).

Andaikan penentangan terhadap pemerintah itu sudah wajib (berdasarkan syarat dan batasan yang disebutkan oleh para ulama yang mulia), maka itu belum wajib atas kita yang tidak sanggup melengserkannya. Jadi, perkaranya jelas …hanya saja hawa nafsulah yang menjerumuskannya. Demikian pula yang dinukilkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (Fathul Barii Syarh Shahih Bukhari, 13/9) dari Ibnu Baththal –rahimahullah-, beliau berkata : “Fuqaha sepakat tentang wajibnya mentaati sulthan/penguasa, jihad bersamanya, dan bahwa mentaatinya itu lebih baik daripada memberontak kepadanya, karena akan melindungi tertumpahnya darah dan menenangkan orang banyak”. Ibnu baththal melanjutkan : “Dan mereka tidak mengecualikan dari larangan tersebut kecuali bila sulthan/penguasa itu jatuh ke dalam kekufuran yang nyata, maka tidak boleh mentaatinya bahkan wajib memeranginya bagi orang yang memiliki kemampuan.”

Dan kami cukupkan dengan apa yang dikatakan oleh Al Imam An Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim bi Syarhil Nawawi, :12/229. beliau rahimahullah menyebutkan: “ adapun memberontak kepada penguasa dan memerangi mereka maka haram menurut kesepakatan kaum muslimin, walaupun pengusa itu fasiq zalim” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: “ Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah mengkhianati mereka dan janganlah membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, karena sesungguhnya perkara itu dekat.” ( HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani di dalam Zhilalul Jannahnya. Fudhail bin Iyadhy mengatakan “jika aku mempunyai satu doa yang pasti dikabulkan oleh Alloh niscaya pasti akan kuperuntukkan bagi pemimpin “ (mawaidzh lil Imam Fudhail bin Iyadh).

“Sungguh akan memimpin kalian para pimpinan yang kalian pahami perbuatan mereka adalah perbuatan maksiat dan kalian mengingkari perbuatan tersebut dilakukan. Maka barangsiapa yang benci (terhadap kejahatan/kezhaliman pemimpin tersebut) sungguh ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkarinya sungguh ia telah selamat, akan tetapi siapa yang ridha dan mengikuti (kejahatan para penguasa maka orang itu bersalah)”. Para shahabat bertanya : “ apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka ??” Beliau shalallhu ‘alaihi wasallam menjawab : “ tidak boleh, selama mereka masih shalat” (HSR.Muslim no 1854) demikianlah apa-apa yang dapat disampaikan kuarng lebihnya wal ‘afu minkum, tak ada gading yang tak retak mohon masukkan dan kritiknya.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

“ si ustad itu klo ceramah lucu banget…”

Friday, March 10th, 2006

 

si ustad itu klo ceramah lucu banget…”

ikhwan / akhowat sering denger gak perkataan itu. Bahkan pernah lo belum lama ini saya denger perkataan seorang ustad yang lagi naik daun dan sedang tenar-tenarnya bilang kurang lebih begini “ biarin cerammahnya seru apa gak yang penting tepuk tangan..” ya subhanallah ini orang gimana sih justru malah disuruh tepuk tangan. Tulisan ini bukan lantas menjadikan sebagai hakim dakwah tapi mendudukkan dakwah sesuai dengan posisinya. Sebab bicara tentang dakwah ana sendiri mahasiswa fakultas dakwah jadi mungkin tulisan ini bisa mewakilkannya. Semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Alloh dalam menyampaikan ‘ilmu yang telah kami terima sebagai sarana tashfiyah dan tarbiyah.

Serulah ( manusia ) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang terseat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “ ( QS.An Nahl : 125 )

Ibnu Katsir berkata, “Allah memerintahkan utusan-Nya, Nabi Muhammad agar menyeru manusia supaya taat kepada Allah dengan hikmah yaitu dengan membacakan Al-Qur’an dan Sunnah, dengan mauidhoh hasanah yaitu menyebutkan larangan dan ancaman-Nya, agar mereka takut siksaan Allah dan dengan jidal yang hasanah yaitu membantah mereka dengan cara yang baik bila mereka perlu bentahan, dengan lembut dan kata-kata yang indah sebagaiman firman Allah “ Dan janganlah kamu membantah ahli kitab kecuali dengan cara yang baik, kecuali bila mereka berbuat zhalim.” Dan seperti firman Allah ketika memerintah Nabi Musa dan Harun untuk memenuhi Raja Fir’aun “Hendaklah kamu berdua berbicara dengannya dengan perkataan yang lembut, barangkali dia mau mengambil peringatan atau takut, “ karena Dialah Allah yang lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya yang benar. “ ( Tafsir Al Qur’anul Adzhim )

Memang menyampaikan suatu kesalahan lebih banyak risikonya dibandingkan dengan menyampaikan kebaikan. Oleh karena itu banyak sekali diantara ustadz-ustadz yang saat ini di setiap lingkungan bertebaran baik yang baru ataupun yang lama jadi senior (ini bahaya bila dalam berdakwah sudah ada predikat senior). Diantara mereka lebih suka menyerukan kepada fadhail amal dan tak berusaha mencari apakah hadist yang ia sampaikan betul atau tidak (shahih/dhaif), ayat Al Qur’an yang mereka tafsirkan sesuai dengan para mufassir yang tsiqoh atau tidak. Atau justru mereka malah lebih senang mengatakan “asal jemaah bisa tertawa, senang, pulang dengan cerita dongeng lucu-lucuan, dan nama saya (si ustadz) semakin terkenal” nas’alulloha wa lakum ‘afiyah bila ini yang terjadi.

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ( Muqadimmah ; Minhajul Anbiya’ Fid Da’wati Ila Allah Fihil Hikmatu Wal ‘Aql )mengatakan “ Tidaklah layak orang-orang yang bodoh menjadi seorang da’I, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah kepada Nabi-Nya. Katakanlah, “ inilah jalan ( agama ) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak ( kamu ) kepada Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. “ ( QS. Yusuf : 108 ).

Klo boleh mengatakan, syaikh bagaimana kami mengetahui bahwa si fulan duat itu bodoh dan masyarakat awwam tak mengetahuinya. Dan seketika itu teringat perkataan Asy Syaikh Muqbil ibn Hadi Al Wadi’i pun menegaskan “ Kita sekarang sudah berada pada masa di mana kebenaran telah terbalik sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Para ahli ilmu di permulaan langkah mereka dianggap sebagai orang yang akan membela dan menjaga islam karena dikenal melalui sikap mereka. Kita tidak menduga setelah itu kalau mereka telah sampai ke batas membela kekufuran dan menjadikan kekufuran itu sebagai suatu kewajiban. Mereka menjadikan Bid’ah sebagai Sunnah, kesesatan sebagai petunjuk dan penyelewengan sebagai bimbingan ( semua itu ) bukan sesuatu yang asing bagi dirimu “ ( Tuhfatul Mujib hal 297 )

Lantas fenomena yang terjadi saat ini para duat bagi masyarakat awwam justru malah membenci sunnah yang telah di bawa oleh Rasulullah. Melewati batas syariat dengan ikut gabung bersama para selebritis dengan membuat cd lagu rohani. Saya tegaskan dakwah islam tidaklah menggunkan musik bila sekarang itu yang terjadi apa beda kita dengan orang nashrani / kristen yang beribadah dengan menggunakan musik, perhatikanlah ini wahai para dai yang menyerukan kepada islam khususnya bagi yang terkenal dan sudah terlanjur terkenal. Atau justru antum semua menyerukan para jemaah pendengarnya kepada kebaikan sedangkan antum sendiri tak mengamalkannya “ Mengapa kamu suruh orang lain ( mengerjakan ) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri padahal kamu membaca Al Kitab ( Taurat ) ? maka tidakkah kamu berpikir.“ ( QS. Al Baqarah : 44 )

Ikhwan tulisan ini bukanlah ajang pelampiasan bagi kami untuk menghakimi dakwah yang telah menyimpang dari manhaj salaf lalu memaksakan manusia untuk mengikuti manhaj salaf. Tugas kita adalah hanya untuk menyampaikan diterima atau tidak tergantung pribadinya. Dan tempatkanlah dakwah sesuai dengan tempatnya jangan menjadikan dakwah sebagai ajang komersialisasi dan upaya meraup untung.

Dari Abu Hurairah berkata, “ Rasulullah bersabda, ‘ Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dianngap jujur, yang jujur dianggap dusta. Orang yang khianat dianggap amanah dan yang amanah dianggap khianat,dan Ruwaibidhoh berbicara’ Dikatakan , ‘ Apa maksud Ruwaibidhoh?’ Beliau menjawab, Orang pandir yang berbicara masalah ummat. “ ( HR. Ibnu Majah, Al Hakim dan Ahmad )

Wallahu ‘alam

jangan terlalu fanatiklah…

Friday, March 10th, 2006

 

Jangan terlalu fanatic lah, hidup itu jangan dipersulit…”

Sebagian orang saat ini di Negara kita ini, memandang orang yang mengenakan symbol agama di dalam dirinya itu sebagai keanehan. Contohnya ketika seseorang ber-janggut lebat, orang-orang akan lebih sering mengucapkan “ awas ada mbe’ (maksudnya kambing) lagi jalan..” atau ada lagi bila melihat orang mengenakan gamis bagi laki-laki mereka sering kali mengatakan “ kok laki-laki pakai daster yaa, emang lagi hamil mas..” ada pula bila wanitanya mengenakan cadar, dengan hijab menutupi seluruh tubuh sekaligus mengenakan sarung tangan karena menjaga diri agar tak bersentuhan dengan lawan jenis dikatakan “ awaas ninja lewat…”. Dan tentunya masih banyak lagi perkataan lainnya.

Sekilas lalu perkataan itu tak mengandung konsekuensi apapun, terlebih lagi yaa memang jika perkataan tersebut dikatakan oleh kebanyakan orang yang belum mengetahui lebih banyak tentang din yang mulia ini. Tetapi sesungguhnya hal itu dapat berakibat fatal, karena dengan adanya label seperti itu membuat seseorang yang mengenakan busana agak berbeda dianggap aneh, berbeda dengan yang biasanya dan kemungkinan besar terjadi diskriminasi dalam kehidupan sosialnya yang membuatnya jadi kurang untuk bergaul.

Terlepas dari sering adanya tanpa disengaja pertanyaan dan jawaban, bantahan, dan diskusi yang sering dilontarkan masyarakat luas kepada kawan-kawan saya sesama penuntut ilmu syar’i yang Walhamdulillah dengan sabar mereka menjawab pertanyaan teman-teman yang belum paham, mahasiswa pergerakan, akhowat/ikhwan yang seringkali berkonsultasi, semoga Alloh menerima amalan kalian semua akhi. Saya coba tuliskan dengan kemampuan yang saya miliki ini. Semoga bermanfaat dan berguna. Dan berharap kepada Alloh agar memudahkan urusan ini.

Berbicara tentang islam dan perangkat-perangkatnya (maksudnya segala isinya) memang memiliki waktu tersendiri. Tapi lebih dari itu semua di dalam islam telah diatur dengan sempurna dan sebaik-baiknya, sebab Alloh telah berfirman didalam Al Qur’an, QS. Al Maaidah : 3 “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” ayat yang mulia ini turun pada saat Rasululloh sedang melaksanakan haji wada dan ayat yang terakhir turun kepada beliau. Jadi jelas Rasulullah telah membawa din yang mulia ini telah sempurna dan menyampaikan risalahnya dengan sebaik-baiknya, tidak ada yang menyulitkan ummatnya dan tak ada yang menjadi susah karenanya. Sebab seluruh perilaku dan kebiasaan serta adab yang Rasulullah lakukan ditiru pula oleh para shahabat-shahabat beliau.

Oleh karena itu seorang ulama’ besar pemilik mazhab yang terkenal, Imam Malik pernah mengatakan “ barangsiapa yang mengerjakan perbuatan bid’ah (menambah-nambahi, mengurangi, dan mengada-ada di dalam urusan agama) dan menganggapnya baik, berarti ia telah menuduh Rasulullah mengkhianati risalah kerasulannya. Karena Alloh telah berfirman ( QS. Al Maaidah : 3, diatas). Maka yang bukan merupakan perkara agama pada masa hidup beliau, maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama..” ( Al-I’tishaam I / 65, Imam Asy Syathibi)

Selanjutnya kita belum membicarakan tentang bid’ah, karena masih agak jauh dan ada baiknya bila didahului oleh pengantar ini. Sesungguhnya Alloh telah mengutus Rasulullah dan Rasul sebelumnya ialah merupakan sebagai pembawa berita dan peringatan dari Alloh “ Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Alloh setelah Rasul-rasul itu diutus. Alloh Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. An Nisaa : 165). Selain itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menataati perintah Alloh dan mengikuti petunjuk yang diberikan dari Rasululloh “ Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. “ (QS. An Nisaa: 136).

Sekali lagi Islam itu telah sempurna, dan bagi yang telah menempuh jalan kesempurnaan itu berarti ia telah menapaki jejak yang telah diwariskan oleh Rasululloh, Shahabatnya, dan para tabi’in, tabiut tabi’in yang turut menapaki jejak mereka “Katakanlah (Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan yakin, Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.Yusuf : 108) . Jadi jelas hipotesa pertama tentang fanatic terpecahkan, karena memang jalan yang diikuti oleh orang yang konsisten diatas manhaj yang haq telah sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Alloh dan Rasul-Nya jadi bukan fanatic. Sekalipun dikatakan fanatic, yaa memang benar fanatic kepada Alloh dan Rasul-Nya dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan yang dilarangNya, dan bersegera untuk melakukan kebaikan demi mencapai ridha-Nya dan Rahmat-Nya yang seluas langit dan bumi. Lalu bukankah sah bila fanatic tersebut ditujukan kepada pemilik alam semesta dengan senantiasa mengamalkan perbuatan yang dilakukan oleh Rasul-Nya sewbagi bukti cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya. “ Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang. “ (QS. Ali Imran : 31).

Jadi jelas apa-apa yang dilakukan mereka semata-mata hanya berdasarkan dalil dan nash-nash yang qath’i dan tak terbantahkan lagi atasnya berdasarkan bimbingan para salafush shaleh (generasi terbaik, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah). Diantara mereka tidak menilai suatu dalil dengan akal pikiran mereka saja, seperti yang terjadi pada saat ini dan sungguh sangat menyedihkan mereka pun yang tak paham ikut terpengaruh tanpa dasar ilmu. Padahal Ibnul Jauzi telah mengatakan didalam Mukaddimah Talbisul Iblis : “ perumpamaan dalil dengan akal adalah bagaikan matahari dengan mata manusia, mata yang sehat pasti akan dapat melihat matahari dengan sangat cerah. Begitupun juga dengan akal, akal yang sehat pasti akan menerima dalil dengan sempurna..”

Sehingga diakhir tulisan ini, ada baiknya bila kita semua kembali belajar menuntut ilmu di majelis-majelis ilmu yang syar’i sehingga nantinya tidak terjadi lagi missed communication, missed understanding dalam diri kita ini. Dan bertanyalah bila memang tak tahu “ Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan (‘ulama) jika kamu tidak mengetahui. “ ( QS. An Nahl : 43).

Ah kan cuma sunnah

Friday, March 10th, 2006

 

ah kan Cuma sunnah… “

sekilas kata ini sangat remeh dan mungkin biasa saja. Tapi dibalik itu sebenarnya memiliki nilai hukum syar’i yang sangat berat bagi yang mengatakannya, terlebih lagi bila yang mengatakannya itu telah mengenal ilmu dasar-dasar agama. Disebagian para pemuda yang memiliki nilai ghirah yang sangat tinggi, bila dikatakan kepadanya “ mas jenggotnya jangan dicukur dong, itu kan sunnah Rasulullah yang mulia…” atau juga bila dikatakan “ mas celananya itu disunnahkan diatas mata kaki…” atau ketika dikatakan tentang sunnah-sunnah yang lainnya banyak sekali diantara mereka yang dengan enteng menjawab “ jenggot ini kan hukumnya sunnah…”

terlebih lagi sebagian besar orang saat ini menganalogikan sunnah hanya sebatas pada definisi dari sisi fiqh saja yaitu dikerjakan dapat pahala tidak dikerjakan ya tak apa-apa. Padahal dalam banyak hadist Rasulullah sangat menekankan untuk mengikuti sunnah beliau saw. Diantara hadist yang mengatakan demikian adalah “ Sesungguhnya saya telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan pernah tersesat kalian sesudahnya yaitu kitabulloh dan sunahku ” (diriwayatkan Al Hakim di dalam Mustadraknya 1/93).

Jadi dengan jelas bahwa indicator seseorang dalam kehidupannya sesat atau tidak ialah selain mengikuti Kitabullah (Al Qur’an) dan juga otomatis Sunnahnya. Sebagaimana yang telah Alloh firmankan “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.(QS Al Hasyr: 7).

Rasululloh sangat menegaskan untuk mengembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah, begitu pula di dalam sabdanya “ Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin mahdiyin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shohih).

Dengan kata lain setelah mengetahui beberapa dalil yang diutarakan diatas akan pentingnya sunnah. Oleh karena itu semua perbedaan yang terjadi saat ini dalam menilai sunnah adalah tidak lain karena berbedanya pemahaman di dalam memahami sunnah tersebut. Tetapi lebih bijaknya bila kita mengambil perkataan dari shahabat yang mulia dan sudah dijamin masuk surga yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq yang mengatakan : “Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun yang dulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wassalam kerjakan kecuali aku pun mengerjakannya. Sesungguhnya saya benar-benar takut jika aku tinggalkan sesuatu dari perintahnya, aku menjadi menyimpang dari kebenaran” (Ta’dzhimus Sunnah, saya copy perkataan ini dan sebagiannya dari artikel tulisan di www.muslim.or.id )

Jadi memahami sunnah bukan hanya sekedar dikerjakan dapat pahala, tidak dikerjakan ya tak mengapa. Bukan hanya itu, ketentuan itu berlaku pada beberapa definisi sunnah menurut ‘ulama ilmu fiqh yang sering diambil oleh sebagian besar umat muslim saat ini. Tetapi alangkah bila sangat wajarnya jika kita memasukkan definisi sunnah menjadi bila dikerjakan mendapatkan pahala karena mengikuti Rasulullah dan bila tidak dikerjakan rugi.

Oleh karena itu perkataan “ ah kan Cuma sunnah…” tersebut pun dapat dilihat dengan dua pandangan :

Pertama, ia telah mengetahui bahwa hukum tersebut sunnah berdasarkan definisi yang bila dikerjakan dapat pahala dan bila tidak rugi. Maka dapat digolongkan ia adalah orang yang terkena dengan hadist “ barangsiapa yang membenci sunnahku bukanlah golonganku. “ ( HR. Bukhari 5063 dan Muslim 1401 ).karena bisa jadi ia telah meremehkan sunnah, dan bila meremehkan sunnah berarti ia telah menganggap sunnah sebagai sesuatu yang tak penting.

Kedua, ia adalah orang awwam yang belum mengerti tentang hakekat sunnah yang lebih dalam selain dari definisi para ulama fiqh yang sering diucapkan. Hal seperti ini merupakan yang paling banyak di masyarakat saat ini. Dan biasanya diantara mereka bila tidak taqlid terhadap ustadznya atau kyainya atau murabbinya lebih mudah untuk diajarkan ilmu syar’i kepadanya. Dan merupakan suatu kewajiban bagi yang ber’ilmu untuk menjelaskannya.

Dilain tempat syaikh DR. Said bin Wahf Al-Qahtani mengatakan : “ sunnah adalah benteng Alloh yang kuat, yang bila dimasuki seseorang, orang itu akan aman. Sunnah merupakan pintu Alloh terbesar, yang barangsiapa yang memasukinya akan termasuk diantara mereka yang menyambung silaturahmi dengan Nya. Ia akan tetap menegakkan pemiliknya meskipun sebelumnya terduduk karena amal perbuatan mereka. Cahayanya akan berjalan di hadapan mereka, ketika cahaya ahli bid’ah dan kemunafikan sudah sirna. Ahlusunnah adalah orang-orang yang diputihkan wajahnya, ketika wajah ahli bid’ah dihitam-legamkan.” ( terjemahan ‘Mengupas sunnah membedah bid’ah’. Pustaka Darul Haq Jakarta. )

Sementara Asy Syaikh Nashr bin Abdulkarim Al-Aql menyebutkan makna sunnah berdasarkan definisi ulama’ aqidah : “ sementara sunnah menurut istilah ulama’ aqidah islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para Shahabat beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan : si fulan termasuk Ahlusunnah. Artinya ia orang yang mengikuti jalan yang lurus dan terpuji.” (terjemahan ‘Mengupas sunnah membedah bid’ah’. Pustaka Darul Haq Jakarta. )