Archive for June, 2006

Syaikh Muhammad Nashirrudin Al Albani

Wednesday, June 28th, 2006

Syaikh Muhammad Nashirrudin Al Albani

( Mujaddid dan Muhadditsin Abad ini )

Nama dan Nasabnya

Beliau –rahimahullah- adalah Al-Muhaddist Al-Allamah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Najati Al-Arnauth Al-Albani.

Kelahirannya


Beliau –rahimahullah- dilahirkan tahun 1333 H bertepatan dengan 1914 M di Skoeder ibukota Albania Eropa, dalam keluarga yang penuh dengan pancaran ilmu. Ayahandanya adalah rujukan manusia di sekitarnya dalam ilmu dan nasehat

Pertumbuhan dan Guru-gurunya

Ketika Albania berubah menjadi negeri yang berwawasan sekuler barat, keluarga beliau hijrah ke Damaskus, Syria. Di situ beliau masuk di Madrasah Is’af Al-Khairi di Damaskus dan menamatkannya dengan prestasi yang menonjol ( sempurna ).

Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dengan riwayat Hafsh dari ‘Ashim atas bimbingan ayahnya, sebagaimana beliau belajar kepada Syaikh Sa’id Al-Burhany kitab Maraqil Falah fil Fiqh Hanafi dan sebagian kitab-kitab lughah dan balaghah, di saat beliau waktu itu sering menghadiri halaqah Syaikh Allamah Bahjah Bahtiar.

Mengingat pandangan pribadi ayahandanya pada pendidikan formal dari segi agama, maka diputuskan, beliau tidak melanjutkan pendidikan formal dan memberikan metode pengajaran ilmiah yang khusus baginya, dengan memberikan pengajaran Al-Qur’anul Karim, Tajwid, Nahwu, Sharaf, dan Fiqh diatas Mazhab Hanafi.

Beliau mendapat keahlian memperbaiki jam dari ayahandanya, lalu beliau menekuninya sehingga menjadi ahli reparasi jam yang masyhur. Beliau mengais rizki dari keahliannya tersebut. Profesi tersebut memberikan waktu yang luas untuk menelaah dan mempelajari kitab-kitab. Sebagaimana tinggalnya beliau di Damaskus memberikan kesempatan untuk dirinya mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Syar’i dari referensi-referensi yang otentik.

Perhatiannya kepada Ilmu Hadits

Meskipun ayahandanya sangat menekankan agar mendalami fiqh Mazhab Hanafi dan memperingatkannya dari mempelajari ilmu Hadits, tetapi beliau mengarahkan perhatiannya kepada ilmu Hadits. Beliau mulai mendalami ilmu Hadits ketika berusia 20 tahun dengan banyak mendapat faidah dari Majalah Al Manar yang diterbitkan oleh Asy- Syaikh Rasyid Ridha.

Karya ilmiah dalam ilmu Hadits yang pertama kali beliau tulis adalah ta’liq atas kitab Al-Mughni an Hamlil Asfar fi Takhrij Ma fil Ihya’ minal Akhbar karya Al Hafizh Al-Iraqi.

Karya ini merupakan pintu pembuka bagi beliau dalam menggeluti ilmu hadits. Sejak itu ilmu hadits mendominasi kesibukannya. Jadilah beliau terkenal dengan keilmuannya di bidang kajian keilmuan ilmu hadits di medan ilmiah kota Damaskus. Sampai-sampai penjaga perpustakaan Azh-Zhahiriyyah Damaskus menyiapkan ruangan khusus bagi beliau untuk melakukan penelitian ilmiah. Beliau juga diberi duplikat kunci perpustakaan sehingga bias masuk ke perpustakaan kapan saja beliau inginkan.

Beliau mulai menulis karya ilmiah sejak usia 20 tahun. Tulisan perdana dalam bidang fiqh dengan mengacu kepada dalil adalah kitab Tahdzir Sajid min Ittikhadzil Qubur Masajid yang telah beberapa kali dicetak ulang. Dan takhrij perdananya adalah Raudhun Nadhir fi Tartib wa Takhrij Mu’jam Thabrany Ash-Shaghir yang sampai sekarang masih berupa manuskrip.

Kesibukannya dalam menggelitu hadits-hadits Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam memberika arahan kepadanya untuk menempuh manhaj as-salaf, terlebih ketika beliau menelaah tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taiymiyah dan muridnya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, serta selainya dai para tokoh madrasah salafiyah.

Syaikh Albani kemudian memegang panji dakwah tauhid dan sunnah di Syria dengan mengunjungi banyak masyayikh di Damaskus sehingga terjadilah diskusi ilmiah antara beliau dengan mereka dalam masalah tauhid, ittiba’, ta’ashub mazhab, dan bid’ah. Banyak penganut ta’ashub mazhab dan ahli bid’ah menghalangi dakwah beliau. Mereka mempengaruhi orang-orang awam agar tidak mengikuti dakwah Syaikh Al Albani dan menjuluki dirinya sebagai orang wahabi yang sesat. Di saat itu pula dakwah beliau mendapat sambutan baik dari para ulama yang masyhur di Damaskus seperti Al-Allamah Syaikh Bahjah Bahtiar, Syaikh Abdul Fattah Al-Imam, Syaikh Taufiq Barzah, dan selain mereka dari para ahlul ilmu ataupun ulama.

Kegiatan Dakwahnya

Beliau menyampaikan dakwahnya melalui :

1. Halaqah-halaqah taklim yang diadakan seminggu dua kali, dihadiri oleh para penuntut ilmu dan sebagian dosen-dosen universitas, diantara kitab yang dikaji di halaqah taklimnya adalah :

· Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh

· Raudhah Nadiyah Syarah Dhurar Bahiyah Syaukani karya Siddiq Hasan Khan

· Ushul Fiqh karya Abdul Wahhab Khalaf

· Ba’its Hatsits Syarh Ikhtisar Ulumil Hadits karya Syaikh Ahmad Syakir

· Minhajul Islam fil Hukm karya Muhammad Asad

· Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq.

2. Rihlah dakwah setiap pekan pertama tiap bulan, beliau mengunjungi propinsi-propinsi di Syria dan beberapa tempat di Urdun ( Jordania ). Hal inilah yang menyebabkan orang-orang yang benci kepada dakwah beliau mengadukannya kepada pemerintah Syria sehinga beliau dipenjara.

Menerima Ujian dan Hijrahnya

Pada awal tahun 1960, Syaikh Albani di bawah pantauan pemerintah Syria dengan tuduhan melakukan kesalahan politis, padahal beliau sangat jauh dari kegiatan politik praktis, beliau dipenjara dua kali, yang pertama sebelum tahun 1967 selama lebih kurang satu bulan di Qal’ah Damaskus, tempat dahulu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dipenjara. Ketika terjadi perang pada tahun 1967 pemerintah Syria melepaskan semua tahanan politik.

Ketika perang semakin sengit beliau dipenjara lagi, yang kedua ini bukan di Qal’ah tetapi di hiskah sebalah tenggara Damaskus, selama 8 bulan. Selama itulah beliau mentahqiq Mukhtasar Shahih Muslim karya Al Hafizh Al Munziri.

Kegiatan Ilmiahnya

1. beliau diminta oleh Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus untuk mentakhrij hadits-hadits buyu’ yang kemudian diterbitkan oleh Universitas Damaskus pada tahun 1955.

2. beliau diminta oleh Universitas Salafiyah Benares India untuk mengajar mata kuliah hadits, tetapi beliau meminta maaf tidak bisa memenuhi karena sulitnya keadaan dengan terjadinya perang antara India dan Pakistan.

3. beliau diminta oleh Menteri Pendidikkan Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Hasan Alu Syaikh pada tahun 1388 H untuk menjadi Kepala Bagian Pasca Sarjana Universitas Makkah, tetepi hal itu tidak bisa terlaksana.

4. beliau terpilih menjadi anggota Majelis A’la universitas Islam Madinah pada tahun 1395-1398 H.

5. beliau memenuhi undanga Persatuan Mahasiswa Muslim di Spanyol dan memberikan ceramah yang kemudian dicetak dengan judul Al-Hadits Hujjatun Binafsihi fil Aqaidi wal Ahkam.

6. beliau mengunjungi negeri Qatar dan memberikan ceramah yang berjudul Manzilatus Sunnah fil Islam.

7. beliau ditugasi oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz direktur Darul ‘Ifta wad Dakwah Untuk berdakwah di Mesir, Maroko dan Inggris.

8. beliau mengunjungi Kuwait, Emirat, dan beberapa Negara Eropa untuk berdakwah.

9. pada tahun 1419 H bertepatan dengan tahun 1999 M beliau diberi anugrah Penghargaan Internasional King Faishal dalam pengabdiannya di bidang hadits.

Murid-muridnya

Di antara murid-muridnya adalah Syaikh Hamdi Abdul Majid As-Salafi, Syaikh Ali Khassan, Syaikh Muhammad led Abbasi, Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali, Syaikh Muhammad Musa Nashr, Syaikh Masyhur Hasan Salman, dan masih banyak lagi selain mereka.

Pujian Ulama Kepadanya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata, “Aku tidak pernah melihat saat ini dikolong langit seorang yang lebih alim tentang hadits seperti Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani adalah Mujaddid Zaman ini dalam dugaanku Wallahu A’lam.”

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad –hafizhahullah- berkata,” Beliau, Syaikh Al-Albani termasuk para ulama yang menonjol yang menghabiskan umur mereka di dalam pengabdian kepada Sunnah, berdakwalah ilallah, membela aqidah salaf, memerangi bid’ah, dan membela sunnah.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah- berkata,”Yang kukenal dari beliau dari sedikit pertemuanku dengan beliau, bahwa beliau sangat bersemangat mengamalkan sunnah dan memerangi bid’ah, baik dalam aqidah maupun amalan. Tulisan-tulisannya menunjukkan keluasan ilmunya tentang hadits, secara riwayat maupun dirayah, dan alloh telah memberikan manfaat yang besar kepada kaum muslimin dengan sebab tulisan- tulisan nya “

Wafatnya

Syaikh Al- Albani wafat menjelang hari Sabtu di Yordan menjelang 22 Jumadi Tsaniyyah tahun 1420 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M, dimakamkan sesudah shalat Isya’. Semoga Alloh meridhainya dan menempatkan dalam keluasan JannahNya

Rujukan

Tarjamah Syaikh Al-Albani, dari www.albani.org ( disusun oleh Abu Aisyah, dari Majalah Al-Furqon –menebar dakwah salafiyah ahlusunnah wal jama’ah- Edisi 11 Tahun IV, Jumadil Awal 1426 H ) –ditulis ulang oleh abu yahya adjhee al-bykazi.-

 

  

Bolehkah kita menuliskan SAW untuk menyingkat “shalallahu ‘alaihi wa sallam”

Wednesday, June 28th, 2006

Bolehkah kita menuliskan SAW untuk menyingkat “shalallahu ‘alaihi wa sallam”

Al-Akh Abul ‘Abbas

Penterjemah : Abu Yahya Adjhee Al-Bykazi

Dengan menyebut nama Alloh, semoga shalawat[i] dan salam[ii] tercurah kepada Nabi terakhir –shalallahu ‘alaihi wa sallam-, seorang muslim seharusnya senantiasa mengirimkan shalawat dan salam kepada Muhammad (shallahu ‘alaihi wa sallam) ketika nama beliau di sebut. Karena Alloh telah memerintahkan itu

“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “[iii]

Dan Rasululloh (shallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan :

“ Di setiap mengucapkan shalawat kepadaku, Alloh mencatatnya dengan sepuluh kebaikan dikarenakan hal itu. “[iv]

Dan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan orang yang tidak mengatakan shalawat kepada beliau ketika disebut namanya adalah orang yang bakhil ( pelit ).[v] Dan beliau berseru “aamin!” agar Jibril ‘alaihi salam memohonkannya. “semoga Alloh menolak seseorang yang mendengar sebutanmu dan tidak menyerukan shalawat kepadamu!”[vi]

maka ini adalah topik bahasan yang harus dijelaskan : sebagian orang menggunakan singkatan ‘SAWS’ -dalam b.indonesia seringkali disingkat SAAW / SAW- atau ‘PBUH’ dalam memenuhi kewajibannya disetiap tulisan mereka ( maksudnya kewajiban mengucapkan shalawat dan salam, cukuplah menulis dengan SAW). Adakah suatu kewajiban untk menyampaikan shalawat dan salam kepada Nabi? Mari kita lihat pendapat beberapa ahli mengenai hal ini.

Majelis Ulama Saudi Arabia yang diketuai oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengeluarkan keputusan[vii] ketika ditanyakan tentang kebenaran bolehkah menyingkat shalawat kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) : ia mengatakan (syaikh bin baz) “ di Sunnahkan untuk menulis keseluruhan ucapan “shalalahu ‘alaihi wa sallam.” Karena itu merupakan semacam permohonan, dan permohonan itu merupakan suatu permintaan. (di dalam tulisan seseorang) ataupun hanya di dalam khutbah/pidato seseorang. Maka bila dengan menyingkatnya menjadi SAAD[viii] di dalam tulisan atau SAAD-LAAM-‘AYN-MEEM itu bukanlah suatu permohonan maupun suatu permintaan, apakah hal itu terjadi di dalam perkataan ataukah di dalam tulisan. Karena hal ini pulalah, permohonan ini atau lafazh tersebut tidak pernah digunakan oleh tiga generasi pertama dalam Islam (sahabat, tabi’in, tabiut-tabi’in), yang telah Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- katakan tentang kebaikan mereka.

Seringkali singkatan tersebut digunakan di beberapa kitab Arab. Di dalam padanan/persamaan kata bahasa Inggris memiliki kesamaan dengan : SAW, SAWS, SAWS,SAAWS,PBUH, dan sejenisnya

Fairuz Abadi mengatakan, “ itu tidaklah sesuai untuk menggunakan symbol atau sekedar tanda dalam mengucapkan shalawat dan salam, dan penggunaanya hanya dilakukan oleh para pemalas, seperti halnya orang-orang yang malas, bahkan para pelajar yang memiliki pengetahuan pun-menuliskanya dengan ‘ SAAD-LAAM-‘AYN-MEEM’ didalam menyingkat tulisan ‘shalallahu ‘alaihi wa sallam’.[ix]

Ahmad Shakir mengatakan, : ini merupakan tradisi yang terus menerus digunakan di generasi selanjutnya dimana mereka menyingkat tulisan shalallahu ‘alaihi wa sallam.”[x]

Wasiullah ‘Abbas, mengatakan, “hal ini tidak diperbolehkan dalam menyingkat salam ( maksud yang penterjemah ambil adalah seperti banyak diantara kaum muslimin termasuk di Indonesia menyingkat salam ketika mengirimkan sms/e-mail dengan tulisan ASS / ASLM / ASLMKM /ASS.Wr.Wb,dll ) di tulisan, hal itu pun tidak diperbolehkan pula dalam menyingkat shalawat dan salam kepada Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Dan selain itu tidak pula diperbolehkan dalam menyingkatnya di setiap perkataan, ceramah, maupun pidato.[xi]

Dan Alloh Maha Mengetahui, semoga kesempurnaan shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita tercinta, para shahabatnya dan keluarganya.

Sumber : www.Bakkah.net  

Untuk lebih lengkapnya, beserta footnotenya antum bisa kunjingi ke halaman web blog ana di friendster ini….



[i] Salam : keamanan

[ii] mengirimkan shalawat kepada Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) ucapan itu bermakna memohon kepada Alloh untuk memuji dan menyebutkan kedudukannya yang tinggi di hadapan para malaikat, lihat  Jalaa’ Al-Afhaam (h.253) oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Fat-hul-Baaree (11/179-197) oleh Ibn Hajar Al Asqalani, atau Ibn Katheer’s di dalam tafseer to verse 33: 56

[iii] QS. Al Ahzab : 56

[iv] Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya (#906, 3/187). Diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallohu ‘anhu-. Syaikh Albani mengatakan hadist shahih di dalam Silsilah Ash Shahihah (#3359, 7/1080).

[v] Hadist Hasan yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani di dalam As-Salaah ‘Alan-Nabee (p.30-31) melalui sanad Abu Dzar (radhiyallohu ‘anhu) Hamdi As Salafy mengatakan hadist ini hasan di dalam kitabnya.

[vi] HR. Ath Thabrani di dalam Mu’jam Al Kabir melalui sanad Jabir bin Samurah –radhiyallohu ‘anhu- Syaikh Albani menshahihkannya di dalam Shahih Targhib wa Tarhib Al Munzhiri (# 1677, 2/298)

[vii] Fatawa Lajnah Da’imah #18770 (12/208-209)

[viii] Kalau antum sering melihat di beberapa kitab arabyang bukan karangan ‘ulama Ahlusunnah Salafiyyun, pasti antum akan seringkali melihat singkatan Shalallahu’alaihi wa sallam dengan hanya menggunakan huruf arab ‘shad’ saja.

[ix] di dalam As-Salaatu wal-Bushr, as quoted in Mu’jam Al-Manaahee Al-Laf-thiyyah( h.351)

[x] Musnad Imam Ahmad (# 5088, 9/105 )

[xi]  from a handwritten answer provided by the shaykh, file no. AAWA004, dated 1423/6/24

Jamaatut-Tableegh

Sunday, June 18th, 2006

In the Name of Allaah, All Compassionate, All Merciful

Jamaatut-Tableegh

Ash Shaykh Al ‘Allaamah Hammad bin Muhammad al Ansaree 1

With regards to Jamaatut-Tableegh [2] then they have within them good and bad [characteristics]. In ‘Aqeedah they adhere to the heretic innovated beliefs of the Matureedeeyah, [3] and are bigoted blind-followers of the Hanafee[4] Madhab [in Fiqh].

He also said: This group [Jamaatut-Tableegh] does not have an interest or zeal for [Islaamic] knowledge, nor do they seek [Islaamic knowledge]. Based upon this methodology, they cause more corruption and mischief [in the religion] than goodness and righteousness. I know [Jamaatut-Tableegh] very well. In Aqeedah they are Matureedee and Chishtis[5], and in Fiqh they are bigoted blind followers of the Hanafee Madhab.

He also said: The Salafees are the people of Sunnah and they are the Jama’ah, because Salafiyyah means to adhere and hold fast upon that which the pious predecessors were upon.

He also said regarding them: Anybody that adheres to a view that contradicts and opposes the [way of the] people of Sunnah, then that person can not be regarded as being from amongst them. Therefore Ikhwaanul-Muslimeen[6] & Jamaatut-Tableegh are not from Ahlus-Sunnah because their ideology contradicts and opposes the way of the people of Sunnah.


[1] He is the Allamah Hammad bin Muhammad Alansaree As’sadee Alkhazrajee, born in the year 1343 or 1344 AH [1924 CE] in Mali, West Africa. He died on Wednesday morning 21st Jamaaduth-Thanee 1418 AH corresponding to 22nd October 1997. For a detailed biography of the Muhadeeth of Madeenah in English refer to :
Fatwaonline.com [TN]

[2] Jamaatut-Tableegh is a group who ascribe themselves to the innovated ideology in calling to Islam of Muhammad Ilyas Deobandee Chisti [1885-1949 CE]. Muhammad Ilyas founded this group in the early 1920’s and adopted this idea from a man by the name of Saeed Annoorsee, nick-named as Badeeuz-Zamaan Annoorsee [1293-1379 AH] from Turkey. For a detailed history about this group and its beliefs refer to the following books:

1. Alqawlul-Baleegh Fee Tahdeer min Jamaatet-Tableegh by Allamah Hamood Tuwaijaree.
2. Asiraajul-Muneer Fee Tanbeeh Jamaatet-Tableegh Alaa Akhtaaehim by Allamah Dr Taqiudin Alhilali.
3. Jamaatut-Tableegh its history & its beliefs by Abu Usamah Sayeed Talibur-Rahman, with the introduction of Allamah Saleh Alfawzaan. [TN]

[3] Matureedeeyah: a heretic sect in Aqeedah that opposes the methodology of the pious predecessors particularly in understanding the Names & Attributes of Allah the Most Exalted and many other issues pertaining to Aqeedah. Its founder was Abu Mansoor, Muhammad bin Mahmood bin Muhammad Almatureedee, Asamarqandee Alhanafee born in the year 238 or 258 AH and died on 333 AH. [Almatureedeeyah Volume 1 page 212-213.] For a detailed refutation on this heretic sect, their history and beliefs refer to the outstanding refutation of Allamah Shams Asalafee Alafghani known as ‘Almatureedeeyah’. [TN]

[4] Blind-followers of Numan bin Thabit bin Alkhazaz Alkufi (80-150 A.H), famously known as Abu Haneefah in the application of the subsidiary issues of the Shariah [Fiqh] [TN].

[5] Ascription to the Chishti Sufi order. This order was founded by a man by the name of Khawja Abu Ishaq Shami [d. 941 AH] who brought Sufism to the town of Chist, 95 miles east of Herat in present day Afghanistan. The most famous of the Sufis in the Chisti order is Khawja Moinuddin Chishti who was born 536 AH/1141 CE in Sajistan, Khorasan in Persia. He travelled to India and was the first person to introduce Sufism in India. He settled in the city of Ajmer, India where he died on 627 AH/1230 CE. His tomb has become the central place of grave worshipping worshipped by ignorant Muslims, Hindus, soothsayers, and magicians etc. Jamaatut-Tableegh ascribe themselves to this man and his heretic beliefs. For his detailed biography refer to ‘Nuzhatul-Khawaatir’ Volume 1 page 104. [TN]

[6] The group Ikhwaanul-Muslimeen [Muslim Brotherhood] was founded in 1928 by a school teacher by the name of Hassan Albanna (1906-1949 CE). Its other influential leader and main writer include Sayyid Qutub (1906- 1966 CE). For detailed refutations of this deviated sect refer to the refutations of Shaykh Rabee ibn Hadee Almadhkhalee which include:

1. Mataeenu Sayyid Qutub Fee Ashaabi-Rasulillah
2. Addwaau-Islamiyyah Alaa Aqeedati-Sayyid Qutub.
3. Alawaasim Mimmaa Fee Kutub Sayyid Qutub minal Qawaasim. [TN]

 

Almajmoo’ the biography of Allamah Hammad bin Muhammad Alansaree, Volume 2, page 587 / 672-673 / 762

Translated by: Zulfiker Ibrahim AlMemoni AlAtharee. ( http://www.madeenah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=186&Itemid=2 )

sejarah maulid Nabi

Monday, June 5th, 2006

Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah Bani Ubaid Al-Qadah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah (yang nantinya menjadai dinasti Fathimiyah) dan mereka menisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalih radhiyallohu anhu.

Padahal sebenarnya mereka adalah peletak dasar untuk mendakwahkan aliran kebatinan (yang selanjutnya ana sebut menjadi bathiniyah).

Pada tahun 402 H. sekelompok’ulama, qadhi.orang-orang mulia, orang-orang adil, salihin, para fuqaha, dan muhaditsin menyampaikan kuliah tentang celaan terhadap nasab Al Fathimiyah Al Abidiyah (bani Ubaid Al-Qadah). Mereka semua bersaksi bahwa pemimpin Mesir kala itu yaitu Manshur bin Nazzar (lihat biografinya di Al Bidayah wa Nihayah Ibnu Katsir XII/10-12) yang diberi gelar dengan Al Hakim bin Ma’ad bin Ismail bin Abdullah bin Sa’id ketika sampai di negeri Maghrib (Morocco sekarang-pen) mengganti nama dengan Ubaidillah dan membuat gelar dengan nama Al Mahdi.

Para pendahulu mereka (nenek moyang dari bani Ubaid/Abidiyun) adalah penganut aliran Khowarij dan tidak ada nasab sama sekali dengan putra Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu. Dengan jelas ana tegaskan bahwa keturunan pembuat bid’ah maulid Nabi ini adalah anak-cucu khawarij (sekte paling ekstrem dalam islam). Hingga akhirnya mereka meyelusupkan dirinya kedalam barisan Syi’ah Rafidhah.

Al Qadhi Al Baqillani, seorang ahli kalam terkenal pada masanya yang bemazhab Asy’ariyah mengatakan di dalam kitabnya (Kasyfu Al Asraar wa Hatki Al Astaar) “Mereka adalah kaum yang menampakkan paham rafidhah (syi’ah) secara lahir dan menyembunyikan ke kafiran” (antum akan menemukan di banyak kitab bahwa mereka adalah kalangan zindiqah wal munafiqqin, lihat Al Bidayah XI/387).

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang mereka adalah “begitu juga dalam hal nasab mereka dan menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan orang Majusi dan Yahudi” (perhatikanlah ini wahai pecinta Maulid !!!)

Sekali lagi kami ulangi bahwa orang yang pertama kali mengadakan acara buruk ini adalah kelompok Bathiniyah yang ingin mengubah agama manusia dan memasukkan di dalamnya apa yang tidak termasuk bagian darinya, untuk menjauhkan manusia dari agama mereka, lalu menyibukkan mereka dengan bid’ah, suatu jalan yang paling mudah untuk mematikan sunnah dan menjauhkan mereka dari syariat Alloh yang mudah dan Sunnah Rasululloh shalallaahu ‘alaihi wa salam yang suci.

Kelompok Abdiyah (abidiyun/ bani Ubaid) masuk Mesir pada tahun 362 H, hari kamis bulan Ramadhan (lihat Al Bidayah wa Nihayah XI/306).

Dan itulah awal kekuasaan mereka terhadap Mesir yang selanjutnya mereka namakan dengan dinasti Fathimiyah.

Ada yang mengatakan mereka masuk Mesir pada hari selasa tangga l 7 bulan Ramadhan tahun 362 H. bid’ah peringatan Maulid Nabi secara umum dan khususnya terjadi pada masa kepemimpinan Abidiyun ini, yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh siapapun.

Tidak hanya peringatan Maulid Nabi, tetapi mereka juga menyelenggarakan Maulid yang lainnya diantaranya : Maulid Ali bin Abu Thalib, Maulid Fathimah Az Zahra, Maulid Hasan-Husain, peringatan awal malam bulan Rajab, malam Nishfu sya’ban, awal malam Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan, hari raya idul fitri secara bid’iyah beserta hari raya idul adha, dan lain-lain.

Perhatikanlah tujuan mereka sesungguhnya bukanlah meninggikan kemurnian islam tetapi tujuan mereka adalah menyebarluaskan aliran Ismailiyah Bathiniyah yang mereka anut dan akidah rusak mereka di kalangan manusia  serta menjauhkan manusia dari akidah yang benar dan ajaran yang murni dengan cara mengadakan peringatan bid’iyah tersebut agar mendapatkan keuntungan harta pula melalui peringatan tersebut. (perhatikanlah ini wahai muslimin tradisionaliyun !!!)

Bila itu sejarah yang terjadi bahwa peringatan tersebut tidak dari islam dan bukan syariat islam, lantas diantara kaum muslimin masih saja merayakannya. Seperti keterangan di atas mereka adalah aliran bathiniyah yang lebih busuk dari syi’ah rafidhah yang busuk, dan lebih sadis dibandingkan dengan khowarij yang sangat sadis. Perhatikanlah ini!!! Sunnah siapa yang lantas kita ikuti??? Dan untuk apa kita saat ini merayakannya??? Bukankah sesuatu yang tak pernah ada contohnya menjadi tertolak??? Lantas untuk apa kalian memgumpulkan dana untuk acara besar dalam rangka Maulid??? Apa bedanya kalian dengan kaum Nasrani yang mengadakan Natal kalian mengadakan Maulid??? Apa maksud tasyabuh kalian?? Benarlah ternyata peringatan saat ini justru kembali lagi dengan alasan harta untuk para ustadz, terkenal untuk para penyelenggaranya, dan buang-buang biaya dan waktu diantara para pemuda.

Wahai penggerak islam jangan kau jadikan sisa hidupmu menyelenggarakan acara yang tak ada gunanya. Amalan kalian tertolak dan menjadi seperti debu yang beterbangan tak bernilai di sisi Alloh. Dasar kalian menyelenggarakan acara tersebut adalah tertolak sebab para shahabat radhiyallohu anhum tak pernah mengadakannya karena mereka yang paling tahu islam, paling dekat dengan Rasululloh, dan paling tahu bagaimana memuliakan Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam. Lantas siapakah yang kalian jadikan pedoman dalam hal ini???

Wallahu ‘alam bi showwab.

maraji
Al Bida’ Al Hauliyyah dan Fatawa Tata’allaq bil Maulid An Nabawi (edisi Indonesia “adakah mauled Nabi ?? penerbit Darul Falah Jakarta) Penulis Abdullah bin Abdullah At Tuwaijiry dan Dakhihulah bin Bakhit Al Mathrafi.

( abu yahya adjhee ibn heru al-bykazi al atsary. Mahasiswa universitas islam negeri Jakarta. Program sarjana pengembangan masyarakat islam, fakultas dakwah dan komunikasi )

pertanyaan penting bagimu pencinta maulid Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam

Monday, June 5th, 2006

 

Tulisan ini
berdasarkan pertanyaan ana kepada ikhwan yang sangat antusia dengan mauled, dan
sampai sekarang belum ada jawaban barang satupun dari beliau. Semoga Alloh
telah menunjukkan jalan kebenaran bagi beliau, dan semoga ia dapat kembali
kepada manhaj yang haq

 

Walhamdulillah,
ana telah membaca risalah antum yang ana berharap hal itu keluar dari lubuk
hati antum yang penuh dengan fitrah, dan bukan maksud untuk mempertunujukkan
luasnya ke-ilmuan antum. –semoga Alloh menyelamatkan antum dari sifat riya’ dan
nifak-.

 

Sebenarnya bila
kesibukan kuliah tidak menyita waktu ana, ingin rasanya ana menuliskan ta’liq
maupun tahqiq artikel antum yang panjang 16 hal itu paragraph per paragraph.
Insya Alloh lain waktu akan ana tuliskan. Sebagai bagian dari saling menasehati
diantara kaum muslimin.

 

Tetapi
sebelumnya ana ingin kepada antum menjawab beberapa pertanyaan dari ana yang
ana pikir ini penting bagi ana pribadi.

 

  1. antum memperingati maulid atas dasar apa ??? apakah
         ibadah atau main-main ??? (ana harap tak ada jawaban lain selain dari 2
         opsi yang ana berikan diatas)
  2. antum menyinggung masalah adab kepada Rasululloh
         shalalahu ‘alaihi wa salam secara panjang lebar. Tetapi mana adab antum dalam
         shalawat dan salam kepada Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam, jika
         antum menyingkatnya menjadi SAAW. Lalu di kitab mana yang mengatakan bahwa
         itu termasuk adab ??? apa antum merasa keberatan bila menuliskan shallahu
         ‘alaihi wa sallam ??? ataukah itu semata-mata hanya dari ra’yu antum ?
  3. ana baru baca selintas antum menyitir bid’ah di
         lakukan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Di kitab mana Umar
         Radhiyallaho ‘anhu memerintahkan shalat tarawih seperti yang antum
         tuliskan ??? apakah jaman Umar atau Umar radhiyallahu anhu yang
         memerintahkan ??? karena setahu ana Rasululloh pernah mengerjakan shalat
         tarawih dengan berjamaah sehingga tidak dikatakan bid’ah secara syar’I.
         yang dilakukan Umar radhiyallohu anhu hanyalah justru menghidupkan apa
         yang pernah dilakukan oleh Rasululloh shallahu ‘alaihi wa sallam
  4. ana mau bertanya apakah telah shahih bahwa rasululloh
         shalallahu ‘alaihi wa salam lahir pada tanggal 12 rabiul awal ? tunjukkan
         di kitab mana dan siapa yang menshahihkannya ??? karena setahu ana di
         rahiqul maktum syaikh al mubarakfuri bukan 12 rabi’ul awal.
  5. lantas sebagian kaum muslimin menyangka bahwa mauled
         itu berasal dari shalahuddin al ayyubi rahimahullah yang membuat sayembara
         dan dimenangkan oleh imam al barzanzi, nah yang menjadi pertanyaan ana
         adalah apakah shalahuddin al ayyubi hidup sejaman dengan al imam barzanzi
         ??? kapankah shalahuddin al ayyubi rahimahulloh lahir dan wafat dan kapan
         Imam al barzanzi lahir dan wafat ??? tunjukkan pula dikitab mana ???
  6. antum mengatakan metode takdirul kalam dalam hadist
         yang antum nukil di tulisan antum, kitab ‘ulama ahlul hadist mana yang menafsirkan hadist tersebut
         dengan metode takdirul kalam tersebut ??? oke lah bila hal itu rajih, maka
         tunjukkan pula ‘ulama ahlul hadist mana yang melakukan syarh hadist kullu
         bid’atin dhalallah menjadi sayyiah dan hasanah ? karena setau ana dalam
         perkataan bahasa arab hal itu adalah bentuk qath’I dan tidak ada sebab
         yang mengecualikannya dan tidak ada kata “ila”
  7. antum mengatakan  pengusung bendera salaf  apa
         yang antum ketahui tentang salafy ??? apakah antum hanya mengetahui ini
         dari “ katanya…. katanya…. dan katanya….” ??? hati-hati ya akhi ana
         khawatir antum terjerumus dengan perkataan antum sendiri tentang salaf.
         Atau bahkan antum sendiri tak tahu salaf itu apa dan siapa.
  8. kalau betul bid’ah hasanah itu ada dalam islam, maka bagaimana cara
         kita mengetahuinya bahwa sesuatu amal itu masuk ke dalam bagian bid’ah
         hasanah ? dan adakah kaidah yang mengaturnya ? apakah setiap amal yang
         dianggap baik kemudian dimasukkan ke dalam peribadatan, itukah yang
         dikatakan sebagai bid’ah hasanah ?

 

barakallohufik,
semoga antum dapat menjawab pertanyaan ana yang memang belum memiliki pemahaman
agama sedalam antum, kemampuan berbahasa arab setinggi antum, dan kecintaan
antum kepada Rasululloh shallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun pertanyaan ini
hanyalah semata-mata tidak lain untuk melakukan tabayyun dan tatsabut agar ana
tida salah memahami diri antum dan juga memfitnah antum dengan tuduhan yang
tidak sepatutnya. Barulah mungkin setelah ana mengetahui jawaban antum bila
Alloh mengizinkan maka akan saya buat catatan pada tulisan antum yang ana harap
dapat bermanfaat bagi ana, antum dan kaum muslimin.

wallahul
musta’an

 

abu
yahya adjhee ibn heru al-bykazi (adjhee_al-bykz@plasa.com )

(thullab
kulliyatul da’wah wa itisoli, jami’ah islamiyah hukmiyah jakarta dan santri
pada ma’had al mulazamah li kitab al-arabiyah islamiyah muasasah asy syifa’ )

Ikhwanul Muslimun Sebuah bencana yang dianggap anugrah…

Monday, June 5th, 2006

Ikhwanul Muslimin

Sebuah Bencana yang
Dianggap anugrah

Di bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah yang
sebenarnya kesibukan orang akan maksimal dengan ibadah dan ketaatan,
qiyamullail, membaca al Qur’an serta ketaatan yang lainnya akhirnya disibukkan
dengan fitnah yang boleh dibilang merupakan fitnah yang ketiga bagi ahli
sunnah- salafiyyin dipulau “seribu masjid ini”. Fitnah yang pertama ketika
markaz da’wah ahli sunnah (masjid Aisyah -Mataram) pertama kali difungsikan
sebagai sarana ibadah pada awal bulan ramadhan tahun 1422 H, Ahli sunnah
dikejutkan dengan serangan fitnah dan kedustaan yang pertama dari seorang
dedengkot ikhwan yang hasad terhadap perkembangan dakwah salafiyah dengan
mengadakan tabligh akbar di masjid PTN terkenal dipulau ini yang tidak jauh
dari lokasi masjid Aisyah dengan tema “Hakikat dakwah salafiyah” yang berisi
kedustaan dan pemutar balikan fakta dimana yang hak menjadi bathil dan yang
bathil menjadi hak, lalu fitnah itu surut dan bahkan tenggelam setelah dengan
izin Allah salafiyyin dalam waktu kurang lebih satu minggu mengadakan tabligh
akbar tandingan di masjid Aisyah dengan tema “Hakikat dakwah salafiyah” yang
membongkar kedustaan mereka, lalu muncul fitnah yang kedua, makalah sebuah
majalah yang mengangkat tuduhan bahwa
salafiyyin adalah agen zionis, yang para fanatikus IM (Ikhwanul Muslimin)
memiliki andil dalam penyebaran tulisan fitnah dan dusta tersebut beserta ahli
bid’ah yang lain, yang fitnah tersebut kemudian tenggelam dan hilang dengan
izin Allah dengan terbitnya edisi khusus buletin Al Hujjah dalam 16 halaman
membongkar kedustaan fitnah itu dengan judul “Siapa sebenarnya yang agen
Yahudi”, sehingga sangat benar perkataan Imam Al-Barbahari yang menyatakan
bahwa ahli bid’ah ibarat kalajengking yang bersembunyi yang akan menggigit bila
orang lengah, Ahli bid’ah akan terus membuat tipu daya dan makar untuk
mencelakakan ahli sunnah bahkan kaum muslimin secara umum dengan menyesatkan
mereka dari jalan yang hak.

 

Dan sekarang fitnah yang ketiga dengan terbitnya edisi buletin
“Risalatuna” dibulan ini yang merupakan corong dakwah IM di Lombok yang
tiba-tiba muncul kembali setelah cukup lama hilang dari peredaran yang merasa
mendapat angin segar dengan materi yang disebarkan, muncul dengan menyematkan
label baru: ”Menghidupkan aqidah dan fikrah SALAF” dan membuat sensasi dengan
judul dibawahnya:”AL IKHWANUL MUSLIMUN Anugerah Allah yang terzholimi” yang
edisi awal untuk judul ini berisi tentang sejarah perjalanan IM yang terus
dizhalimi dengan maksud tentunya para pembaca akan menaruh simpati dengan IM
yang “terzhalimi” yang setelahnya para pembaca akan gampang terbius dengan
doktrin –doktrin dusta IM, dan mereka menjanjikan edisi bersambung dengan judul
ini dan kita menanti kelanjutannya.

 

Sebenarnya judul tersebut beserta isinya mereka ambil dari buku
yang ditulis Farid Nu’man dengan judul “AL IKHWAN AL MUSLIMUN Anugerah Allah
yang terzalimi Sebuah Koreksi Bijak dan Tuntas atas Tuduhan, Fitnah dan Celaan
tak Pantas Terhadap Manhaj dan Tokoh-Tokohnya”.
Yang diterbitkan oleh
Pustaka Nauka, Depok, cetakan pertama Agustus 2003 dengan pengantar Amang
Syafrudin,Lc. Dan buku ini telah dibedah penulis sendiri di masjid al-Ikhlas
Pasar Minggu Jakarta Selatan pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2003 dengan
pembanding Musyaffa’ Abdurrahim (buku dan kaset rekaman bedah buku tersebut ada
pada kami).

 

Sebagaimana
kebanyakan buku-buku Ahli bid’ah, isinya sarat dengan kedustaan, penyimpangan,
dan penyelewengan ilmiah semata-mata untuk menyerang Ahli sunnah
dan menjatuhkan panji-panji yang diusung oleh para ulama’nya. Kamipun telah
memberikan banyak”goresan tinta merah”dalam penelitian kami terhadap buku
tersebut, yang telah kami masukkan dalam “daftar hitam” kedustaan dan
penyelewengan mereka terhadap dalil dan fatwa ulama.Tentunya Ikhwaniyyin menyambut
terbitnya buku ini dengan euforia takbir, riuhnya luapan kegembiraan
yang diselingi oleh lebarnya senyum kepuasan dan kemenangan.

 

Kami
katakan:”Wahai Ikhwaniyyin…!!, jangan senang dulu,
terbitnya buku tersebut justru menjadi bumerang sekaligus awan kelabu bagi
kalian, atau bahkan bom waktu yang tinggal menunggu sesaat untuk meledak”.

 

Artinya:”Rencana
yang jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri”
(Fathir:43)

 

Karena dengan terbitnya buku tersebut justru semakin menampakkan
penyimpangan IM yang selama ini terpendam oleh tabir sandiwara dan kedustaan.

Kehadiran buku tersebut adalah bukti otentik tertulis yang
justru membeberkan dengan nyata dan gamblang betapa amburadulnya manhaj ilmiah
yang ditempuh oleh sesepuh-sesepuh IM, dan betapa rusaknya metode penulis dalam
membawakan dalil dan kaidah yang hak untuk digiring kepada pemahaman dan
praktik penetapan sesuatu yang bathil.
Cukuplah
kemahiran mereka dalam memoles dalil untuk maksud yang bathil sebagai bukti
betapa berbahayanya gerakan ini bagi Islam dan kaum muslimin.
Penulis telah mengukir di dalam buku tersebut kesalahan dan
kedustaan yang diramu dengan celaan terhadap salafiyyin bahkan para ulama’nya;
dimana mustahil bagi dia untuk menghapusnya kecuali dengan kembali merubah
sejarah.

 

Atas dasar
beberapa pertimbangan syar’i, Al-Hujjah memutuskan untuk memuat bantahan
terhadap buku”Al Ikhwanul Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi”, Insya Allah
dalam beberapa seri kedepan, sebagai realisasi dari firman Allah:

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar;
merekalah orang-orang yang beruntung.”
 (Ali Imran:104).

 

Dan sebagai
bias dari apa yang pernah terucap oleh lisan Nabi kita yang mulia: “Agama
itu adalah nasehat ….
(HR.Muslim).

 

Sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh para ulama’ salaf
bahwasanya membantah penyimpangan dalam agama adalah jihad, dalam rangka
menjaga persatuan kaum muslimin diatas al-Haq.
Sebab tidaklah seorang mu’min
dikatakan mencintai saudaranya karena Allah, jika ia
membiarkan saudaranya itu tenggelam dalam penyimpangan dan bahkan menyemprotkan
penyimpangannya itu untuk membius saudara mu’min lainnya.

 

Sikap tegas
kami terhadap Ikhwanul Muslimin adalah sikap yang proporsional mengingat apa
yang telah menimpa kaum muslimin di Aljazair sebagai ulah IM melalui partai
FIS-nya yang bermain-main dengan api sehingga menyebabkan tumpahnya darah
ribuan mu’minin hasil pembantaian karena perang saudara yang belum reda benar
fitnahya hingga hari ini. Maka tengoklah bagaimana Aljazair
hari ini.
Negara ini tengah dikangkangi oleh kaum kuffar, kehidupan ala
eropa telah merongrong eksistensi Islam dan jati diri kaum muslimin, dan
semisal dengannya apa yang terjadi di Suria,Tunisia
dan sebelumnya di Mesir. Inikah yang kalian inginkan wahai Ikhwaniyyin
..
?? (lih. Pandangan tajam
terhadap Politik oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi hafizhohullah).

Sikap keras kami terhadap Al Ikhwan sangatlah beralasan mengingat apa yang
telah menjelma di Sudan sebagai hasil kerajinan tangan mereka (Ikhwanul
Muslimin); yang telah menyeret Islam ke bengkel liberalisme untuk menerima
servis bongkar pasang dan modifikasi, kemudian menjadikan Islam hasil pretelan
itu sebagai dasar negara mereka – na’udzubillah (Lihat kitab Al ‘awashim
mimma fi kutub sayyid quthb minal qowashim oleh Syaikh DR.Robi’ bin Hadi Al
madkholi hafizhohullah). Pengalaman pahit yang telah menimpa
dunia Islam inilah yang tidak kami inginkan untuk terulang kembali bagi kaum
muslimin di seluruh belahan bumi terutama di Indonesia.


Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai
orang-orang yang mempunyai pandangan.
(al
Hasyr : 2)
.

 

Cacian
dan cercaan terhadap salafiyyin yang menghiasi buku Farid Nu’man tidak akan memudaratkan kecuali dirinya sendiri. Tidak ketinggalan pula perbuatan talbis (pengkaburan) yang
dilakukannya terhadap dalil–dalil yang menjelaskan tentang kemudahan Islam.

Konsep samahah (toleransi) Islam dan taisir (kemudahan) dalam
Islam ia pelintir sedemikian rupa sehingga jadilah kemudahan Islam itu
diterapkan dengan “terpaksa” yang mengebiri sekian banyak hukum Islam lainnya. Dia menebar syubhat seolah–olah terdapat kekeliruan pada manhaj
salafiyyin dan para ulama’nya yang menyelisihi manhaj salafus sholeh, dan yang
diatas manhaj salafussholeh justru IM dan tokoh-tokohnya.
Dia berusaha meng-goalkan konsep dasar
yang diusung oleh IM berupa perjuangan Islam melalui kancah politik
(non-syar’i) dan demokrasi ala kuffar yang berusaha meraup sebanyak-banyaknya massadan suara. Hal ini memaksa penulis untuk memeras otak dalam
mencari dalil demi menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.

Akhirnya dia menemukan dalil-dalil yang menjelaskan tentang
kemudahan dan toleransi Islam sebagai sasaran yang empuk untuk “diobok-obok”.

Betapa senang dan berbunga hatinya ketika menemukan sang “tokoh” idola seperti
Yusuf Qardhawi dan yang lainnya mendukung pemikirannya di banyak buku-buku
mereka (anda akan melihat contoh-contohnya dalam edisi
Al hujjah selanjutnya).

 

Akhirnya
menyemburatlah malapetaka….!! Tiba – tiba muncul istilah-istilah yang diberi label islam agar orang
tidak berat hati dan merasa terbebani dengan dosa, musik islami, drama islami,
artis islami(muslimah boleh jadi artis dengan syarat-syarat khayalan yang
diberikan Qordhowi seperti pada fatwanya yang dilansir majalah Al Mujtama’
corong dakwah internasional IM di Kuwait), demo islami, demokrasi islam,
sosialisme islam dan yang lainnya, Ya Allah selamatkan kami dari fitnah,
musibah dan bencana pemikiran yang menyesatkan ini…

 

Farid Nu’man
berusaha menyeret pembaca untuk memahami bahwa demokrasi islam yang dimaksud
adalah konsep syuro(musyawarah) yang ada dalam Islam.
Namun kenyataan dan realita telah mendustakan apa yang
mereka ungkapkan tentang demokrasi islam yang mereka fahami.

 

Dalam prakteknya, IM telah tenggelam dalam politik praktis yang
100% mengekor pada teori-teori sampah yang mereka adopsi dari barat (kaum
kuffar).
Praktek “demokrasi Islam” yang mereka dengung-dengungkan
bertentangan jelas dengan prinsip Syuro dalam islam
yang telah dituntunkan oleh al Quran dan Sunnah. Hal yang sama
dia lakukan untuk meyakinkan pembaca akan istilah-istilah yang menipu yang
dikaitkan dengan prinsip-prinsip islam namun pada realita dan praktiknya adalah
sesuatu yang diharamkan Allah. Kenapa Farid Nu’man tidak membuka mata
lebar-lebar melihat realita demokrasi yang dilakoni IM diseluruh dunia apakah
musyawarah yang dihadiri para ulama’ dan aktifis Islam yang faham al Qur’an dan
Sunnah ataukah mereka semeja dalam keputusan undang-undang bersama orang kafir,
fasiq, zindiq, munafiq dan yang lainnya dibawah kesepakatan sistem politik yang
kufur yang memerangi Allah dan rasulnya, Farid Nu’man buta melihat realita ini ??? Sesungguhnya hakekat kebutaan
bukan pada buta mata tetapi pada butanya mata hati yang ada didalam dada.

 

Dimana
kalian buang “fiqhul waqi’” yang kalian
miliki yang selalu kalian banggakan yang
dengannya kalian mencela Para Ulama’ Salafiyyin yang kalian jatuhkan
martabatnya dihadapan generasi muda Islam dan kaum muslimin secara umum bahwa
mereka tidak faham realita dengan maksud menjauhkan mereka dari Para Ulama’
robbaniyyin lalu mereka menjadi santapan buas para da’i yang membawa kepada
kesesatan dan pintu neraka jahannam, Na’udzu billahi min dzalik, dan
bahwa kalian orang yang paling faham persekongkolan jahat yahudi dan kaum
kuffar terhadap Islam dan kaum muslimin, kalian yang paling tahu
kitab”Brutukulat hukama’ shohyun”nya orang yahudi, adapun Para ulama’ mereka
tidak faham “waqi’”, bahkan kalian tidak malu-malu mengatakan Syaikh Albani
ahli hadits tapi tidak paham waqi’, Syaikh Bin Baz mufti dunia tapi tidak faham
realita, tidak perlu kalian meminta bukti ucapan kalian ini secara tertulis
karena dia sesuatu yang waqi’ (nyata) dari sikap dan akhlaq busuk kalian.

 

Yang jelas
Farid Nu’man dan yang semisalnya akan mempertanggung
jawabkan dihadapan Allah tentang perbuatannya dan kita semua akan menjadi saksi
hidup kedustaannya.

 

Sekali
lagi kami katakan bahwa insya Allah pembaca akan dapatkan pada edisi Al Hujjah
selanjutnya pembeberan fakta-fakta ilmiah tentang kedustaan buku Farid Nu’man,
kemudian pembaca akan menyaksikan dengan jelas -insya Allah- bahwa Ikhwanul
Muslimin bukan anugerah Allah yang terzalimi melainkan sebuah bencana yang
dianggap anugerah.

 

Wal ‘aaqibatu lilmuttaqiin Wala ‘udwana illa ‘alazzolimiin.

(dari salah satu website ikhwan salafiyyin Lombok-Masjid Aisyah. ana -abu yahya- agak lupa websitenya. namun hingga saat ini masih eksis menyebarkan bulletin dakwah At Tauhid. semoga Alloh membalas amal perbuatan mereka dengan balasan yang banyak)

Menggali Hikmah dari Bencana dan Musibah

Monday, June 5th, 2006

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi
dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab
(Lauhulmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu
jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan
terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”

(QS. Al Hadid 57 : 22-23)

 

saudaraku,
musibah dan bencana akan selalu datang silih berganti bila Alloh menghendaki.
Belum selesai duka menyelimuti saudara muslim kita di Nangroe Aceh Darusallam,
musibah kembali terjadi lagi menimpa saudara kita di

Yogyakarta

.
Kesemua musibah tersebut tidak akan ada yang menyangkanya. Belum lagi jumlah
korban yang lebih dari 5000 korban jiwa, ribuan orang menderita, ratusan rumah
hancur, dan banyak korban yang kehilangan anggota tubuh dan keluarganya. Dalam
tulisan ini kita akan mencoba menggali hikmah dan pesan dari musibah yang
terjadi, semoga hal ini dapat membuat kita mengambil pelajaran dan lebih
mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala dengan ikhlash dan ittiba kepada
Rasululloh shallalahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pertama, sebagai ujian keimanan seorang
hamba

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang mendapat petunjuk..”
( QS Al Baqarah 2 : 155 – 157
)

Dari Shuhaib
radhiyaullohu anhu dia berkata : telah bersabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi
wa sallam : “sungguh menakjubkan urusan
orang mu’min itu, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini
tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Jika dia mendapatkan
kegembiraan maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya dan jika ia
mendapatkan kesusahan maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.”

( HSR. Muslim )

 

Kedua, sarana introspeksi diri

Saudaraku,
apapun musibah dan bencana yang menimpa kita hendaklah menjadi sarana
introspeksi diri dan bukan sebagai bahan sesalan tak bertepian sehingga harus
berputus asa dari rahmat Alloh ta’ala. Haruslah kejadian tersebut tidak lantas
membuat kita lalai dan berpaling dari nikmat Alloh. Maka sudah sewajibnya kita
memperbanyak istighfar, dzikir yang syar’I, dan memperbanyak bertobat. Semoga
Alloh ta’ala mengganti musibah tersebut dengan kemudahan, kebaikan, keberkahan
dan kejayaan

Dan
apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

(QS. Asy Syuro 42 : 30 )

Dari Abu
Hurairah radhiyallohu ‘anhu, beliau mengatakan : Rasululloh shallalahu ‘alaihi
wa sallam telah bersabda: “barangsiapa
yang dikehendaki Alloh kebaikan pada dirinya, maka Dia akan memberikan cobaan
kepadanya”
(HSR. Al Bukhari)

 

Ketiga, meninggikan derajat dan mengurangi
dosa seorang mukmin

Dari Abu
Hurairah radhiyallohu ‘anhu dia berkata : Rasululloh shallalahu ‘alaihi wa
sallam telah bersabda : “sesungguhnya
seseorang benar-benar memiliki kedudukan di sisi Alloh, namun tidak ada satu
amal yang bisa menghantarkannya kesana. Maka Alloh ta’ala senantiasa mengujinya
dengan sesuatu yang tidak disukainya sehingga dia bisa sampai pada kedudukan
yang dikehendaki oleh Alloh ta’ala. “
(Silsilah alahdist ash-shahiihah lis-Syaikh
Al Albani no 2599)

Dari Al Aswad
rahimahulloh, dia berkata : beberapa pemuda Quraisy menemui Aisyah radhiyallohu
‘anha sambil tertawa. Maka ‘Aisyah berkata, “apa yang menyebabkanmu tertawa ?”
mereka mengatakan “si fulan jatuh dari tenda yang menyebabkan leher atau kedua
matanya hampir celaka (patah atau buta, pen).” Kata ‘Aisyah : “janganlah kamu mentertawakannya karena sesungguhnya aku
pernah mendengar Rasululloh shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau
lebih dari itu melainkan ditulis baginya dengan sebab itu satu derajat dan
dihapuskan pula satu kesalahan darinya “
( HSR. Muslim ).

 

Keempat, ladang amal shalih

Sesungguhnya Abdulloh
bin Umar radhiyallohu ‘anhu, mengabarkan bahwasanya Rasululloh shallalahu
‘alaihi wa sallam, bersabda : “orang
muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak akan menzhalimi dan
menyerahkannya pada musuh. Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya yang
muslim maka Alloh akan memenuhi hajatnya. Dan barangsiapa yang menghilangkan
satu kesulitan saudaranya yang muslim maka Alloh akan hilangkan satu kesulitan
di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim maka Alloh akan
menutup aibnya di hari kiamat
“ (HSR. Muttafaq ‘alaih )

 

Saudaraku itulah
hikmah dan pesan dibalik musibah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran.
Semakin besar musibah yang menimpa kita, jika kita sikapi dengan penuh
keikhlasan dan benar maka insyaAlloh Alloh akan memberikan balasan kebaikan
bagi kita.

 

Rasululloh
shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya
jika Alloh mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang
ridho, maka baginya keridhoan Alloh itu dan barangsiapa yang murka (mencaci dan
tidak ridho dalam menghadapi ujian) maka baginya kemurkaan Alloh “
( HR.
Tirmidzi, dengan derajat hasan. Lihat. Silsilah Ash-shohiihah Syaikh Albani no
146 ).

 

Wallahu ‘alam bi
showwab

 

  • sumber bulletin Sabilul Mukminin dengan tambahan
         seperlunya

 

Abu Yahya Adjhee Al-Bykazi Al-Atsary ( mahasiswa PMI )