Archive for August, 2006

SEBUAH KRITIK UNTUK : Kritik nalar epistemology

Monday, August 7th, 2006

Mungkin sebagian teman kami tak mengetahui apa terminology dari judul diatas. Secara transparan kami pun belum tahu apa arti secara lugha’ dan harfiah, tapi kami menemukannya pada saat presentasi teman kami dalam mata kuliah Islamic method study.

Pembahasan tentang Qadha dan Qadar memang sangat menarik terlebih dilakukan di kalangan mahasiswa yang memiliki intelektualitas yang sempurna dalam menggunakan akal. Sehingga setiap kata yang terucap hanya berkisar pada aqlaniyun saja.

Ketika pemaparan tentang bahasan akidah, tercetus sebuah pertanyaan dari seorang mahasiswi yang menggunakan pakaian polkadot.(kami ingat karena memang tak ada hijab, dan memang dengan mudah terlihat wajahnya dan pakaiannya, yah itulah fenomena sebuah kampus islam yang mengusung jargon liberal) diantara pernyataannya ialah: “ sedari dahulu pembahasan tentang qadha dan qadar hanya berkisar pada langit, kita ambil contoh dalam masalah ini tentang tsunami. Mengapa kita selalu mengaitkannya dengan takdir, apakah tak ada pembahasan lain yang bisa jadi ini juga merupakan ulah manusia. Sudah saatnya kita berpikir kritis tentang hal ini dalam memahami qadha dan qadar, agar tak selamanya kita tak menjadi orang yang berserah dan berpasrah diri hanya kepada langit. Hal ini yang dapat disebut dengan perkataan kritik nalar epistemology. Jadi tak hanya membicarakan tentang urusan langit saja dalam memahami qadha dan qadar.”

Kurang lebih itulah yang terdengar, membuat hati kami berpikir kok bisa ya orang berpikir seperti itu. Kesimpulan kami memang sangat sederhana apakah orang ini hanya taqlid atau memang mafhum akan hal ini.

Mari kita dudukkan, hal ini memang sudah menjadi barang basi komunitas lingkar ciputat yang mengusung mazhab ciputat yang lebih konstruktif dan kontekstual dalam memahami aqidah, -wallahu ‘alam-

Tetapi sebaliknya ahlusunnah memahami hal ini bukan hanya sekedar pemahaman yang kita berlepas diri akan hal ini seperti qadariyah, jabariyah, ataupun jahmiyah atau mutazilah sekalipun. Aqidah ahlusunnah adalah aqidah yang tak ada keraguan di dalamnya mengenai hal ini. Aqidah ahlusunnah adalah aqidah wasitiyah tidak ghuluw dan juga tafrith dalam hal iradah ini.

Dan ketahuilah bahwasanya masalah qadar ialah termasuk bagian dari rukun iman. Dan apa yang dikatakan oleh syaikh shaleh fauzan yang menyebutkan di kitab tauhidnya bahwasanya iman itu termasuk bagian dari aqidah yang termasuk ushuluddin. Lalu pertanyaanya apakah para doctor ciputat telah lebih hebat dari syaikh shaleh yang termasuk ulama kibar di Saudi dan juga anggota mufti dinegeri tersebut. Dan agak mengherankan ternyata mereka (para doctor) Al Quran pun tak hafal secara keseluruhan apalagi hadis yang beradadi kitab induk milik para ahlul hadis.

Berikut ini kami akan mengutip perkataan syaikh Nashr Abdulkarim Al-Aql di dalam kitabnya Mujmal Ushul Ahlusunnah wal jamaah fi Aqidah, poin-poinya sebagai berikut:

  1. termasuk rukun iman ialah imana kepada qadar (takdir), yang baik maupun yang buruk adalah dari Alloh Ta’ala. Iman kepada qadar meliputi iman kepada setiap nash tentang qadar dan tingkatannya (diketahui,dicatat,dikehendaki,dan diciptakan oleh Alloh). Tidak ada seorang pun yang dapat menolak ketetapanNya atau yang dapat membatalkan keputusanNya.
  2. iradah (kehendak) dan amr (perintah) yang tercantum dalam Al Quran dan sunnah ada dua macam :
    • iradah kauniyah qadariyah yang pengertiannya sama dengan masyi’ah yaitu kehendak yang berkenaan dengan takdir Alloh terhadap alam semesta, dan amr kauniy qadariy yaitu perintah yang berkenaan dengan takdir Alloh terhadap alam semesta, contohnya dalam firman Alloh di QS Yaasin : 82 “sesungguhnya perintah Alloh apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : “jadilah !, maka terjadilah ia”.
    • Iradah syar’iyah yang berarti disenangi dan dicintai oleh Alloh yang berkenaan dengan syariat, dan amr syar’iy yaitu perintah yang berhubungan dengan syariat, seperti perintah tentang shalat,zakat,puasa,dll

  1. perlu diketahui makhluk mempunyai keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya itu mengikuti keinginan dan kehendak Al Khaliq.
  2. petunjuk dan kesesatan makhluk ada di tangan Alloh. Di antara makluk ada yang diberi Alloh petunjuk karena rahmat dan karuniaNya, dan ada pula yang tersesat karena keadilanNya.
  3. makluk dengan segala tingkah lakunya adalah ciptaan Alloh Ta’ala. Hanya dial ah sang pencipta. Alloh lah yang menciptakan tingkah laku dan perbuatan makhluk.
  4. menetapkan bahwa segala yang diperbuat Alloh ada hikmahnya dan segala usaha akan membawa hasil atas kehendak Alloh Ta’ala.
  5. ajal telah ditulis, rezeki telah dibagi dan kebahagiaan serta kesengsaraan telah ditetapkan oleh-Nya untuk seluruh umat manusia sebelum mereka diciptakan.
  6. berdalih dengan takdir boleh dilakukan terhadap musibah dan cobaan, namun dosa dan kesalahan tidak boleh berdalihkan dengan takdir tetapi harus bertaubat dan pelakunya berhak mendapat celaan.
  7. bersandar kepada usaha saja adalah syirik dalam tauhid, sedangkan meninggalkan usaha sama sekali berarti menolak ajaran agama. Menyatakan bahwa usaha tidak ada pengaruh dan hasilnya bertetangan dengan ajaran agama dan akal. Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.

Selesai sampai disini, bahwasanya apa yang telah dipaparkan syaikh secara singakat dan jelas merupakan kecukupan dari pertanyaan yang dilontarkan kaum sekuler, plural, liberal, dan inklusiv. Oleh karena itu hal yang terabaik adalah menyerahkan semua urusan hanya kepada Alloh setelah kita bertawakal dalam melakukan suatu urusan. Seperti apa yang sering dikatakan oleh para ‘aimmah yaitu “tawakal lebih dahulu baru engkau qanaah”. Wallahu ‘alam bi Shawwab, semoga Alloh menolong kita dari tipudaya yang dapat menjauhkan dari jalanNya. (abu yahya ibn heru al bykazi, 191205)

pergulatan liberal,plural.sekuler di kampus islam

Monday, August 7th, 2006

Pergulatan antara yang hak dan batil, tak akan pernah berhenti. Begitupun dengan fenomena perkembangan aliran sesat di Negara ini.

Mainstream dan stigma yang terbentuk sebagai asas adanya ke-nyelenehan tersebut karena adanya doktrin. Ya, doktrin yang menghibur setiap orang. Sebab rasio mereka terbentuk dengan janji palsu nan manis. Tidak ada toh sebuah aliran yang mengajak pengikutnya ke neraka, hatta kaum kuffar pun begitu kan.

Sebuah institusi terbesar di Negara ini yang mencitrakan sebagai pusat pembentukan dan pengembangan intelektualitas manusia islam yang berakhlak sesuai dengan norma islam, telah membentuk kader-kader siap guna yang bertugas menghancurkan islam.

Memang institusinya tidak bersalah, tetapi ada sisi lain yang diterapkan disana. Apa itu ? ideology, dogma, dan paradigma dari para pembimbingnya sebagian besar. Ketika semua membaur jadi satu ketika itu pula terbentuk reaksi yang secara prinsipil dan terselubung tak tanggung-tanggung menginjak islam itu sendiri.

Mulai dari bantuan yang mempunyai misi dan motif tersendiri, hinnga bai’at miskin yang tak logic. Perhatikanlah dengan mudah setiap MoU ditandatangani menjadi satu dan apa yang terjadi PERUSAKAN AKIDAH yang makin merajalela.

Ketika dulu kita mengenal mazhab ciputat yang bersifat bukan pada tataran destruktif, sekarang justru kita mengenal (dan bagi yang belum, mungkin akan mengenalnya nanti). Menggejala indikasi Hubbul Falsifah wa suffiyah, yang lebih softly dibandingkan mazhab ciputat.

Karna mereka telah menemukan maqam yang pas untuk dipelajari lebih baik dan lebih berguna, dibandingkan dengan Al Qur’an yang dijadikan hermeneutic dalam tafsirannya. Sunnah yang dibuang dibelakang punggung mereka (bahkan ketika saya mengikuti mata kuliah metodologi studi islam, seorang dosen mengatakan “ bagimana kita akan mengikuti hadis, bila diantara satu riwayat dengan riwayat yang lain bertentangan dan juga berbeda redaksinya.” Hingga akhirnya ia mengatakan perkataan ‘pakar tafsir Indonesia’ dengan perkataan “ hasbuka minal Qur’an (cukuplah kami dengan Qur’an-red).” Pantaskah ini keluar dari perkataan seorang muslim ataukah masih dipertanyakan ke-islamannya). Atau bahkan nantinya mungkin ketika saya lontarkan perkataan “bagaimana dengan atsar sahabat pak dosen ?” saya takut mereka menjawab tak ada sahabat yang lebih baik kecuali Abdullah bin Saba’, nah lo klo begini kan repot toh. Lha wong ketika senior saya yang akrab dengan yayasan Al Huda samping Republika itu loh mas, dikatakan oleh dosen saya “ada gak disini yang syiah? Klo ada wah hebat itu…” saya gak terusin lagilah nanti mata-mata berkata beda lagi.

Lepas dari itu kawan-kawan tau kan The Asia Foundation (TAF), itu lho yang mensponsori buku kontoversial “ fiqh lintas agama “ dan juga yang membuat cetakan kembali “ catatan pergolakan pemikiran Ahmad Wahib “ klo gak salah judulnya itu. Buku tersebut sempat dilarang yang subtansi pemikirannya cenderung sangat liberal. Eh malah disini, di organisasi ekstra kampus ini dibuat Ahmad Wahib Award dengan total hadiah 25 juta. Apa sih ahmad wahib award itu ? sebuah annual price award yang diadakan oleh rekan FORMACI (forum mahsiswa ciputat. Ini tu dulu embrio JIL lho mas-pen) dengan mengirimkan artikel bertema pemikiran ataupun ‘wacana’ yang ditulis rapi 10-20 hal, dengan font times new roman, berspasi ganda, dsb. bila lulus seleksi teman-teman dpat undangan di suatu hotel mewah di Jakarta untuk menghadiri malam penghargaannya, klo beruntung dan tentunya tulisan sesuai dengan ideology dapat deh 25 juta. Thoyyib…

Dus kawan-kawan saya yang aktif di FORMACI pakaiannya rata-rata necis lho, jangan salah penampilannya aja dandy. Tapi dari atas kebawah apa dari bawah keatas terselip misi tertentu. Jangan heran ketika mereka seringkali mondar-mandir PARAMADINA untuk mengikuti kajian filsafatnya Hermawan Kertajaya, dkk.

Bagaimana dengan organ ekstra yang dibawah naungan organisasi terbesar di Indonesia, yang dahulu pernah jadi presiden Indonesia salah satu tokohnya. Gak jauh beda ! gini lho mas klo yang ini lebih lucu, sebab mereka mempelajari Filsafat oke, Hermeneutik jalan, Postmodernisme apalagi kritik nalar epistemology (yang bahsannya pernah saya turunkan disini beberapa waktu lalu). Tapi mesti diingat klo sudah dihadapkan dengan kyai-nya cium kaki pun rela, yah itukan hanya sekedar common sense mereka aja lah. Tapi klo ahlusunnah salafiyin menilai itu sih jahil banget atau bahkan jahil murakkab (jahil kuadrat).

Ayah saya memperoleh beberapa lembar artikel milik pak Hartono Ahmad Jaiz ( tapi klo mas ulil lebih suka mengatakan Hartono yang boleh-boleh saja, jaiz=boleh) yang setelah saya baca sempat surprise. Apa itu ? beberapa organisasi yang dinaungi oleh TAF dan FF (Ford Foundation, gak beda ama TAF ). Pak Hartono menrinci jumlahnya hingga sampai 44-an organisasi yang memiliki satu corak ideology.

Diantaranya ada pula yang membuat saya dan teman-teman lain cukup terkejut sebab memang sebelumnya kami seringkali menerka-nerka apa iya organisasi itu memiliki misi tertentu.

Lalu apakah FORMACI termasuk ? jelas pasti. Gini lho mas FORMACI itu dari dulu sudah gak beres, lha kenapa gak beres ? seperti yang telah saya terangkan mereka itu punya misi lain selain liberal, tetapi yang lebih dari itu bisa jadi sinkkretisme.

Belakangan ini kan muncul kabar bahwa Salamullah / kerajaan Tuhan / Lia Eden yang mentahbiskan bahwa Jibril masuk ke dalam dirinya dia dan banyak lagi persaksian bodoh dan perkataannya (mas bisa lihat di tv deh akhir-akhir ini ). Organisasi ini kan berasaskan perenialisme (tak ada perbedaan antar agama) ya Kristen, Islam , Buddha, Hindu, bahkan Atheis kan boleh jadi satu. Benang merahnya apa sama gak dengan JIL? Yah jelas lha wong yang bela mati-matian aja mereka kok biar bunda Lia dibebaskan. Mungkin kawan ada yang mengenal dengan Imam Mahdinya ? dengan menyelisipkan nama Muhammad yang katanya memang titisan dari Rasulullah, menjadi Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman. Mas (abdul rahman) yang satu ini juga alumni satu almamater dengan saya, fakultas Ushuludin Jurusan Filsafat (ibaratnya saya tau lah dikit-dikit anak ushulludin, lha kan satu gedung dengan fakultas saya). Klo dah begini kayak tumbu ketemu tutup. Beliau ini ternyata pernah menjadi Imam Besar Formaci klo gak salah periode 93/94, klo sekarang kan Imam besar FORMACI nya kak Seif El Jihadi (terus terang saya belum ketemu orangnya). Dengan jelas mas abdul rahman mendampingi ibu Lia setelah mengalami pengembaraan spiritualnya seluruh aliran mungkin hampir pernah ia salami. Barulah partner yang cocok saat ini Ibu Lia, karena apa? Statusnya enak IMAM MAHDI versi mereka kan dahsyat toh.

Seperti setiap orang yang menayakan kepada saya tentang bagaimana IAIN? Dengan enak kan bisa saya jawab dengan “ klo mo bikin aliran sesat atau mau menemukan ratusan aliran nyeleneh ya disana itu “ karena apa didalam sini ada berbagai macam pemikiran dan puluhan seminar setiap minggunya, dari tekhnologi sampai teologi mas.

Kita hampir sampai pada titik akhir bahsan ini, kesimpulan yang didapat adalah kampus islam yang 100 % mahsiswanya muslim memang memiliki aneka jajanan tersendiri, ada gado-gado, es buah, lontong sayur, nasi uduk, dll sesuai dengan selera ada disini. Dikit aja coba deh bandingkan dengan Universitas Islam Madinah (wuiih jauh amat) tapi setidaknya disana kan tolak ukurnya satu yaitu satu pemahaman dibawah Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan manhaj Salafush Shaleh. Lalu sampai kapan pendidikan islam ini menjadi sebuah corak yang berbeda tanpa satu kalimat yang sama. Ujung-ujungnya pada satu akhir kata, seperti yang seringkali orang lain katakan pada saya “ bagaimana orang islam mau bener, lha klo anak mudenye aje udeh kagak bener. Pan kite jadi bingung semue Professor, semue Doktor, jadi mane nyang bener ???”

Wallahu ‘Alam Bishawwab

Abu yahya al-bykazi

KARENA HIDUP HARUS BERBAGI

Sunday, August 6th, 2006

A. Sepotong kebahagiaan Abu Thalhah

      

  Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah kedatangan tamu. Kelelahan terpancar di wajah tamu yang hanya seorang diri itu. Rasulullah SAW mengutus seorang sahabat untuk menanyakan kepada istri-istri beliau, adakah sesuatu yang bisa dimakan. Nihil. Dirumah istri-istri beliau pun tidak ada makanan sedikitpun. Maka beliau menawarkan kepada para sahabat Muhajirin dan Anshar untuk menjamu tamu itu pada malam itu saja. Salah seorang sahabat Anshar itu yang tidak ingin didahului oleh sahabat yang lainnya dalam berbuat kebaikan angkat suara, menyambut tawaran itu, “Saya yang akan menjamunya, wahai Rasulullah.”


        Setelah meminta izin kepada beliau, sahabat Anshar itu pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya.”kita akan menjamu tamu Rasulullah! Jangan kamu simpan makanan apapun! Keluarkan semuanya.” Katanya kepada istri yang dicintainya.


Sang istri terperanjat, seingatnya hanya ada sedikit makanan untuk anak-anak mereka yang masih kecil-kecil, itupun hanya cukup untuk sekali makan. Kepada suami yang dicintainya itu, ia berterus terang.


Lalu ternyata solusi apa yang didapatkan oleh istrinya dari suaminya itu membuat sang istri makin terhenyak, katanya “ begini saja, kalau mereka ingin makan malam carilah cara supaya mereka tertidur. Apa saja terserah kamu.”

“dan sekarang tolong matikan lampu, dan tidak mengapa bukan…perut kita kosong malam ini.” Sambungnya.


Tanpa ragu wanita sholehah itupun melaksanakan perintah suaminya. Setelah semua siap, sahabat Anshar itu pun menjamu tamu Rasulullah dalam gelap. Tujuannya supaya tamunya tidak tahu bahwa ia hanya makan seorang diri, sementara tuan rumahnya yang ada didekatnya hanya pura-pura makan.

Keesokan harinya, sahabat Anshar itu menghadap Rasulullah

. Beliau bersabda, “ Allah kagum dengan apa yang kamu lakukan bersama istrimu. Allah turunkan firmanNya,

“Mereka mengutamakan (saudara-saudara mereka)atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sangat memerlukan (yang mereka berikan itu)”

(QS. Al-Hasyr :9)

Sahabat Anshar yang hatinya berbunga-bunga itu adalah Abu Thalhah.


B. Berikanlah Yang Terbaik

Subhanallah, betapa sangat mulia dan kedudukan bagi seorang yang mendermakan harta dan sebagian dari miliknya untuk diberikan kepada saudaranya.. Saat ini dimana semua orang telah banyak bersifat hidup apatis lebih senang budaya konsumerisme dan benar-benar jatuh cinta pada dunia (hubbud dunia). Membuat terlena pada kehidupan yang sangat sementara hanya singgah dan tidak merasa bahwa kita sebenarnya sedang antri dan menanti menunggu ajal. Lalu mengapa tidak kita lakukan dan memberikan apa yang terbaik yang kita miliki untuk bekal yang lebih abadi.


Dan apa yang terjadi disaat kita sekarang ini jangankan memberi, kita lebih banyak seringkali melakukan perbuatan yang lebih menyakitkan saudara kita sesama muslim sendiri dibandingkan dengan memberi dan perbuatan baik lainnya. Lalu benarlah seperti apa yang dikatakan seorang tabi’in dan seorang ulama dari kalangan salafus sholeh yaitu Al Qadhi Fudhail bin Iyadh., “sesungguhnya diantara cirri-ciri orang yang munafik adalah senang jika mendengar aib saudaranya.”


Yaa diantaranya kita lebih sering melakukan pembicaraan tentang saudara kita tanpa mengetahui bahwa diri kita ini tak berbeda dengan orang yang kita bicarakan. Sekalipun memberi kita pun lebih suka dan senang mengungkit-ungkit pemberian yang pernah kita berikan tak sedikit dan tak jarang pula orang-orang yang melakukan perbuatan hal seperti itu.


Belajarlah mencoba memahami situasi orang lain, belajarlah mencoba mengerti siapa kita ini, dan belajarlah mencoba memberi seberapa pun yang kita miliki. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”

(QS. Al-Hujuraat:10)


Begitu pun Rasulullah menegaskan “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu angota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya menanggungnya, tidak tidur malam dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Lalu perhatikan pula apa yang dikatakan oleh Rasulullah “ Tidaklah beriman seorang dari kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” ( HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik )


Kalangan AhluSunnah adalah kalangan orang-orang yang mencintai dan menyayangi saudaranya. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum Wal Hikam hal 308 menyitir sebagian perkataan para salaf, “Orang-orang yang dipenuhi cinta karena Allah akan memandang dengan cahaya Allah. Mereka merasa kasihan kepada orang-orang yang selalu bermaksiat. Mereka mencela perbuatannya tapi mengasihi pelakunya. Untuk itu mereka menasihati pelaku maksiat itu supaya meninggalkan kemaksiatannya. Mereka merasa sayang jika tubuh-tubuh saudaranya itu sampai dilahap api neraka. Demikianlah, tidak dianggap sebagai orang yang memiliki iman yang hakiki apabila seseorang tidak meridhoi untuk saudaranya sebagaimana ia meridhai untuk dirinya sendiri.


Apakah kita masih belum juga memberi dan memperhatikan situasi di sekitar kita, teladanilah para generasi terdahulu yang membuat islam telah berjaya disegala bidang, memahami bagaimana mereka merajut tali ukhuwah yang sangat kuat merelakan dan memberikan apa yang mereka miliki ( itsar ).


Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Madarij As-Salikin, mengatakan bahwa itsar itu memiliki beberapa tahapan-tahapan. Barangsiapa mengaku telah ber-itsar sementara ia belum melewati tahapan-tahapannya, sungguh ia telah maghrur, telah tertipu. Adapun tahapannya adalah :


Pertama, Sakha’. Yaitu saat seseorang sama sekali tidak merasa keberatan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Berapa keperluannya ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Seperti yang dilakukan shahabat Sa’ad bin ‘Ubadah saat ia membebaskan hutang semua orang yang berhutang kepadanya.


Kedua, Juud. Yaitu saat seseorang memberikan sebagian besar miliknya saat saudaranya membutuhkannya. Kalaupun ia menyisakan untuk dirinya, ia sisakan sekedarnya.


Ketiga, Itsar. Yaitu saat seseorang memenuhi kebutuhan saudaranya padahal ia sendiri sangat membutuhkannya. Seperti ‘Aisyah yang memberikan beberapa keping roti kering yang sedianya untuk berbuka puasa-kepada pengemis padahal itu adalah roti terakhir yang dimilikinya.

C. Tetangga, sebagai saudara terdekat

Perhatikanlah dimana saat-saat kita harus memberi dan bagaimana kita memperhatikan saudara kita se-islam, sesama tetangga pun harus dapat se-maksimal mungkin kita pergauli dengan baik karena tetangga adalah saudara yang paling dekat dengan kita. Rasulullah pernah menasehati Abu Dzar :Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas. ( HR. Muslim no. 4759 ).


Di lain Sabdanya Rasulullah bersabda : “ Janganlah seseorang diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya.” ( HR. Bukhari no 2283 dan Muslim no 3019 ). Berkenaan dengan hadist diatas, Syaikh Saliem bin Ied Al-Hilali membawakan pelajaran yang berkaitan dengan hak tetangga. Yang pertama, saling membantu dan bersikap toleran sesama tetangga merupakan hak-hak tetangga ( yang wajib dipenuhi ), sekaligus merupakan wujud kekokohan bangunan masyarakat islam. Yang kedua, jika seseorang memiliki rumah, kemudian ia memiliki tetangga dan tetangganya itu ingin menyandarkan sebatang kayu di temboknya tersebut, maka boleh hukumnya bagi si tetangga untuk meletakkannya dengan izin atau tanpa izin pemilik rumah, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan mudharat bagi si pemilik rumah, karena islam telah menetapkan satu kaidah umum ladharara wa la dhirara.[1]


Allah pun berfirman tentang bagaimana cara kita dalam memperlakukan kerabat dan tetangga

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

( QS. An-Nisa : 36 )


Semoga sedikit muhasabah ini dapat membuat diri kita semakin peduli akan pentingnya berbagi, kemewahan dunia tidak membuat kita lalai dan satu hal yang perlu diperhatikan bahwa saat ini sesungguhnya KITA SEDANG ANTRI MENUGGU AJAL. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk dapat memberikan yang terbaik dan mempersingkat siksa kita di neraka.

Wallahu ‘Alam bi Shawwab

 Abu Yahya Al-Bykazi 

( adjhee_al-bykz@plasa.com / abu_yahya_al_bykazi@yahoo.com / albykazi@yahoo.com )



[1] Bahjatun Nazhirin bi syarh Riyadhus Shalihin, Asy Syeikh Salim bin Ied Al-Hilali I / 387

Jadwal Kajian Astatidz Ahlusunnah wal Jamaah

Sunday, August 6th, 2006

SENIN

Ustadz Ahmad Rofi’ Aqidah dan Akhlaq Masjid At-Taqwa Komp. Perumahan Pajak Kemanggisan Jakarta Barat

Senin Ba’da Isya / Minggu Ke 1 dan 3 Ustadz Mudrik Masjid Baitullah / Petukangan Jakarta Selatan

Senin 19.30 - 21.00, Ustadz Abu Abdul Aziz Muhtarom Kitab Tauhid Karya Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin Rahimahullah Masjid An-Nashr Depan Kampus STAN Bintaro Sektor V

Senin Ba’da Maghrib

SELASA

Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas Kitab Riyadhus Shalihin dan Fathul Majid Masjid Al ? Furqan Gedung DDII Jl. Kramat Raya 45 Jakarta Pusat

Tiap Selasa Waktu : 13.30 - Ashar Ustadz Abu Abdul Azis Muhtarom Kajian Kitab Riyadussholihin Masjid An-Nuur ? Basement Menara Sudirman Jl. Sudirman Kav 60 Jakarta Selatan

Setiap Selasa Ba’da Dzuhur Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah) Kitab Risalah Bid’ah Masjid Al A’la ? Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) Jl. Jendral Sudirman Jakarta Selatan

Setiap Selasa Pukul 16.30 -18.00 RABU Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat Kajian Mustholahul Hadits (Bahasa Arab) Masjid Al-Ikhlas Jati Padang Jakarta Selatan

RABU

Setiab Rabu 16.30 ? 18.00 Ustadz Abu Abdul Azis Muhtarom Kajian Tafsir Al-Qur’an (Tafsir Ibn Katsir ? Khusus Ikhwan/Tempat Terbatas) Mushalla Ash Shahabah ? Basement Summitmas I Jl. Sudirman Kav. 59 Jakarta Selatan

Setiap Rabu 17:00 ? Maghrib Ustadz Abu Abdurrohman Kajian Kitab Jamiul Ulum Wal Hikam (Penjelas Kitab Arbain Nawawi) Karya Al-Hafidz Ibnu Rojab Masjid An-Nashr Depan Kampus STAN Bintaro Sektor V.

Ba’da Ashar Ustadz Ibnu Saini Masjid As-Syifa FK Kedokteran Tri Sakti ? Samping RS Sumber Waras Jakarta Barat Setiap Rabu 15.30 ? 18.00

KAMIS

Ustadz. Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat Mushalla Hidayatussholihin Jl. Poltangan Pasar Minggu Jakarta Selatan

Setiap Kamis Malam Ba’da Maghrib Ustadz Arman Amri Masjid Al A’la ? Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) Jakarta Selatan

Setiap Kamis Pekan ke 2 dan 4 Ba’da Dzuhur Ustadz Arman Amri Kitab Tauhid Masjid Nurul Jami’ Dekat Terminal Rawamangun Jakarta Timur Setiap Kamis Ba’da Maghrib

JUM’AT

Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy Kajian Fiqh Kitab Taudhihul Ahkam Syarah Bulughul Marom Masjid Nurul Iman Sukaluyu Bandung Ba’da Ashar - Maghrib

SABTU

Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat Kajian Hadits Shahih Bukhari (Khusus Ikhwan) Masjid Al-Mubarak ? Krukut, Jl. Gajah Mada, Hayam Wuruk (Belakang Poskota Gajahmada) Jakarta Pusat Setiab Sabtu 08.30 ? 11.00 Informasi: Abdullah 08161885025/Nabil 081317222327/Abu Sulthan 08128527913

Ustadz Zainal Abidin Tafsir Al-Qur’an (Tafsir Ibnu Katsir) Setiap Sabtu Pekan 1 ? 3 pukul 09.00

Ustadz Mudrik Kitab Shahih Bukhori Setiap Sabtu Pekan 2 ? 4 pukul 09.00

Ustadz Djazuli Kitab Riyadhus Sholihin Setiap Sabtu Pekan 5 pukul 09.00 Masjid Ar-Rachmat ? Jl. Anggrek Cenderawasih - Slipi (Belakang Gedung Samudera Indonesia) Jakarta Barat

Ustadz Mudrik Ilyas Kajian Kitab Tafsir Karya Ibnu Katsir Masjid At-Tauhid Jln.Rajawali Bintaro Sektor 9

Setiap Sabtu Ba’da Mahgrib Ustadz Salim bin Yahya Kitab Tauhid Masjid Nurul Jami’ Dekat Terminal Rawamangun Jakarta Timur

Setiap Sabtu Ba’da Maghrib Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy Kajian Tauhid Kitab Mukhtasor Ma’arijul Qobul Masjid Al Furqon Jl.Jurang Gg Masjid Al Furqon Bandung Ba’da Ashar - Maghrib

AHAD

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Kitab Bulughul Maram ? Al Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani Kitab Aqidah Salaf Ashabul Hadits Masjid Imam Ahmad bin Hanbal KPP IPB IV Baranangsiang, Bogor Setiap Ahad Jam 10:00 sampai selesai

Ustadz Abu Abdul Azis Muhtarom Kajian Kitab Bahjatun Nadzirin (Syarah Kitab Riyadhus Shalihin ? Imam an-Nawawi Rahimahullah) karya Syaikh Salim Bin Ad-Hilaly Hafidzahulloh Masjid Raya Bintaro ? Sektor 9 Setiap Ahad Ba’da Maghrib

Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat Kitab Shahih Muslim Masjid Muhammad Ramadhan Taman Galaxi Indah Jl.Pulo Ribung Raya Kav-2 Bekasi Selatan Samping Kantor Kecamatan Bekasi Selatan Setiap Ahad ? Minggu ke-3 Jam 09:00 ? 12:00 Informasi: Supandi : 0813 1630 350/Ananto Wijaya : 0812 9573 868/Hendro Irawan : 0812 1055 662 Sekretariat : 021 8243 1486

Ustadz Abdurrahman Kajian Hadits Imam Bukhori ? Syarah Faathul Bari Musholla Al Marwah ? Komplek Japos Setiap Ahad Ba’da Maghrib,

Pekan ke 1, 2 dan 3 Ustadz Zainal Abidin Tafsir Ibnu Katsir, pekan 4 Syarh Aqidah Wasithiyah Syaikhul Islam Ibn Taiymiyah Masjid Muhajirin, Belakang RS Mitra Keluarga Bekasi Ahad Ba’da Ashar

Ustadz Djazuli Masjid Ash Shalihin Jl Walang Baru Raya No. 25 Jakarta Utara Setiap Ahad jam 17:00 s/d maghrib

Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy Kajian Hadits/Akhlak Kitab Bahjatun Nadzirin Syarah Riyadus Shalihin Masjid Al Furqon Jl.Jurang Gg Masjid Al Furqon Bandung Ahad Jam 08:30 - 10:00

Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy Masjid Ash-Shiddiq Gg. Siti Aisyah - Kebon Gedang Kiaracondong Bandung Ahad Pekan Pertama Ba’da Ashar (16.00 - Maghrib)

catatan dan otokritik untuk jurnal ‘ Islam & Good Governance ‘ terbitan PPIM, Ciputat

Sunday, August 6th, 2006

Meluruskan cara pandang dalam beragama

Sebuah tinjauan kritis pada jurnal Islam & Good Governance

Al-Islam adalah agama yang haq, agama yang diridhai oleh Alloh satu-satunya “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Alloh hanyalah Islam” (QS. Ali Imron : 19). Al Islam pulalah ad-din yang diturunkan secara sempurna, tidak akan ada penambahan di dalamnya lagi setelah sempurnanya risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam kecuali dilakukan oleh orang yang jahil dalam beragama, dan tidak ada pula pengurangan didalamnya kecuali orang yang beragama seperti berdagang. Karena Alloh telah berfirman “…Pada hari ini telah Kusempurnakan agama ini bagimu…” (QS. Al Maidah : 3)

Kesempurnaan Islam selain terdapat dalam Al Qur’an terdapat pula dalam beberapa hadist Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya :


  1. Dari Salman Radhiyallohu anhu. Beliau berkata, “orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman radhiyallohu anhu menjawab, Ya!”[1]

  2. Dari Hudzaifah radhiyallohu anhu, beliau berkata, “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami (berkhutbah), tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan seseuatu pun juga di tempatnya itu (tentang peristiwa-peristiwa)yang akan terjadi sampai hari kiamat melainkan beliau menceritakannya kepada kami. Akan hafal orang yang hafal dan akan lupa orang yang lupa…”[2] 

  3. Dari Abud Darda’ radhiyallohu anhu, ia berkata, “Sungguh Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat) dan tidaklah seekor burung yang terbang di langit melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya.“[3]

Dan masih banyak hadist lainnya yang menjelaskan tentang kesempurnaan Islam yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.


Adanya fenomena kekerasan dan perlakuan kekasaran dalam beragama saat ini seperti yang terdapat dalam jurnal “ Para pelaku kekerasan keagamaan selalu menandaskan tujuannya dalam kerangka agama, seperti memerangi maksiat, membela Tuhan dan menghancurkan kemusyrikan ”[4]. Dalam artikel tersebut bisa diambil kesimpuan bahwa hal itulah yang dapat memotivasi terjadinya kekerasan/sifat radikalisme dalam beragama, disamping ketiga hal itu terdapat pula faktor kesalahpahaman dalam memahami ajaran yang benar tentang Islam. Kesalahpahaman dalam memahami ayat dan hadist itupulalah yang juga secara tidak langsung menjadikan sebagian kelompok Islam mendapatkan seakan-akan mendapatkan legitimasi dan legalitas seakan hal perbuatan mereka dibenarkan.


Padahal yang dimaksud dengan ayat dan hadist yang mereka pakai tidak demikian tafsirannya, sehingga sebagian diantara mereka terjerumus dalam kesalahan penafsiran. Seperti pada syair arab “ semua mengaku mencintai Laila, tetapi yang Laila inginkan hanya satu ”. kesalahpahaman itulah yang terjadi pada beberapa kasus justru menjadi pemicu dan menimbulkan kerusakan bagi Islam. Kesalahan fatal lagi-lagi dalam menta’wilkan teks-teks Al Qur’an maupun menafsirkan hadist dari maksud sesungguhnya, yang membuat sebagian individu/kelompok menimbulkan sifat kekerasan dalam beragama.


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari : (1) Tahriful Ghalin ( pemutar balikkan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang ). (2) Intihalul Mubthilin ( kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama ). (3) Ta’wilul Jahilin (penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil ).”[5]

Dari hadist diatas itu pulalah yang menjadi petunjuk yang sangat terang dan jelas seperti matahari bagi para jama’ah Islam yang bersifat keras (mutasyadidun) dan kasar dalam maksud untuk berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Bukanlah ayat dan hadist yang mereka gunakan salah, tetapi kaifiyah yang mereka gunakannya. Dalam sebuah syair terdapat perkataan “kalimatul haq, bihi uridha bathil” (kalimat kebenaran yang digunakan untuk melegalkan kebathilan). Lihatlah para pelaku pengrusakkan tempat maksiat dan pelaku pengeboman disana-sini dengan dalih apa mereka melakukannya? Pastilah mereka menjawab dengan tujuan amar ma’ruf nahi munkar dan melindungi izzah Islam, mereka tak peduli bahwa tempat yang mereka rusakkan (sekalipun salahnya pengelola tempat maksiat, dan jelas salah orang muslim yang bekerja di tempat maksiat) tetapi tempat tersebut legal dan dilindungi negara dan kita masih memiliki aparat yang berwenang dalam melakukan tugas itu. Hendaknya para jama’ah Islam jangan tergesa-gesa dalam berbuat dan bertindak.


Selain itu pihak pengeboman kepada tempat kaum kafir mu’ahad yang jelas terikat perjanjian damai dengan pihak pemerintahan Indonesia mereka bunuh dan berangus dengan nama Islam dan Jihad. Apakah diantara mereka tidak membaca dan memahami hadist dari Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam “ Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka dia tidak akan mencium aroma harum al-jannah. (padahal) sesungguhnya aroma harum al-jannah itu sudah tercium sejauh jarak perjalanan 40 tahun!.”[6]


Suatu kekerasan yang bersifat publik seperti dalam jurnal tertulis “ Jenis tindakannya bisa berupa intimidasi, pengekangan, penyerangan, atau pembunuhan atas kelompok yang tidak sama dengan dirinya. ”[7]. Benar sekali, hal ini menjadikan indikasi yang sangat valid dan akurat bahwa dalam setiap kelompok atau komunitas yang memiliki tujuan berbeda akan terjadi hal seperti itu. Sebagai contoh paling ekstrim adalah seorang yang jelas muslim dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim bisa jadi di cap seenaknya oleh suatu komunitas dengan perkataan “kafir” hanya karena si muslim ini tidak bergabung dengan kelompoknya. Tingkah polah inilah yang membuat kelompok yang mengaku Islam itu seperti apa yang terjadi pada khawarij “anjing-anjing neraka” di masa awal slam. Dengan langsung menghukumi pelaku dosa besar KAFIR.


Sedangkan dalam lingkup domestik, kasus kekerasan yang lebih sering terjadi disebut dengan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) padahal bila dilihat dari data dan menilai secara objektif dalam timbangan agama Islam bila kekerasan tersebut hanya karena si korban dipukul oleh pelaku dengan maksud untuk mendapatkan kebaikan dan menuruti perintah Alloh, dan peaku yang memukulnya hanya ingin mengingatkan bukan dipukul dengan sengaja dan merusakkan fisik, seharusnya hal itu bisa dimengerti dan dipahami sehingga jangan di masukkan kedalam kasus KDRT. Setidaknya Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda “ perintahlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah untuk shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka. “[8]


Tetapi bila kekerasan itu dilakukan denagn sengaja dan tanpa memiliki landasan syar’I maka hal itu dilarang dan tidak diperbolehkan. Terlebih terjadinya kekerasan itu dilakukan hanya karena misalnya si suami menyuruh isteri menjadi seorang pelacur dan menyuruhnya bermaksiat kepada Alloh. Maka itu diharamkan seperti dalam hadist “ laa ta’ati li makhluq fii maksiatil khaliq “

Adanya tindakan kekerasan dalam beragama baik dari sisi publik maupun domestik akan memacu dan menimbulkan dampak yang sebagian besar negatif, diantaranya :


1. aspek politik : kasusu kekerasan dengan menumpang pada agama di sisi publik dapat menimbulkan kekacauan stabilitas politik, kepercayaan pihak asing (notabene kafir) akan mempengaruhi hubungan diplomasi dan kerjasama dengan pihak Indonesia


2. aspek sosial : hilangnya social trust (kepercayaan sosial) dan prasangka di kalngan kaum muslimin itu sendiri. Bahkan dampak yang paling dapat dirasakan adanya pendiskriminasian, pengkotak-kotakan, menimulkan stigma dan stereotype ngatif terhadap sejumlah kelompok Islam yang jelas tidak melakukan suatu kekerasan. Sedangkan untuk lingkup domestik menyebabkan kerenggangan interaksi social antara keluarga KDRT dengan masyarakat sekitar bisa berupa malu dan lain-lain.


3. aspek psikologis : dalam intern umat Islam sendiri terjadi kebingungan dengan adanya tindakan kekerasan tersebut, adanya perasaan was-was takut terror bom dan korban perusakan, hingga adanya umat Islam yang merasa phobia dengan Islam. Sedangkan dalam lingkup domestik KDRT dapat menimbulkan tertekan jiwa si korban ataupun pelaku, selalu dihantui ketakutan, hingga titik yang paling ekstrimnya menyebabkan mental illness (gangguan mental) bahkan bunuh diri.


4. aspek ekonomi : jelas sekali dengan adanya kekrasan dalam beragama menimbulkan sikap antipati pihak investor luar negeri dalam melakukan kerjasama ekonomi karena keamana Indonesia yang tak stabil hingga banyaknya ancaman disana-sini. Sedagkan dalam lingkup domestik bisa menyebabkan perekonomian keluarga berantakan.



Demikian telaah ilmiah kami pada artikel Islam & Good Governance. Kami yakin masih banyak memiliki kekurangan disana-sini dalam menaggapinya. Satu hal permasalahan kekerasan beragama ini akan terus ada dan berkembang seiring dengan perkembangan jaman, peradaban, dan pola pikir. Dan lihatlah kerusakan yang ditimbulkan lebih besar, sehingga apabila keputusan pemerintah untuk membekukan organisasi yang cenderung anarkis dan illegal maka kami dukung sebab dalam kaidah amar ma’ruf yang berlaku “ Dar’ul Maslahah Muqaddam ‘ala Jalbil Maslahah” (mendahulukan mafsadat lebih awal dibandingkan dengan mengambil maslahatnya).

 


Sehingga kami katakan pada kelompok mutasyadidun cukuplah ayat ini buat anda semua. Alloh berfirman “ Dan bila dikatakan kepada mereka. “janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi.” Mereka menjawab, “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. “ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. ( QS. Al Baqarah : 11-12 ) dan bila kalian mutasyadidun berada dalam kebaikan dan kebenaran kami katakan “ … Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar “ (QS. Al Baqarah : 111)

abu yahya al-bykazi

 

 



[1] HR. Muslim no 262 (57), Abu Dawud no 7, At Tirmidzi no.16. dinukil dari kitab “Prinsip Dasar Islam” karya Yazid Abdul Qadir Jawas hal 166 cetakan revisi penerbit pustaka At Taqwa.

[2] HR.Bukhari no.6604, Muslim no.2891.& lafazh ini milik Muslim. “Prinsip Dasar Islam” hal 167.

[3] HR.Ath Thabrani dalam Majmu’ Az Zawaid (VIII/264) “Prinsip Dasar Islam” hal 165.

[4] Artikel Jurnal hal 1, paragraf 1 kalimat terakhir.

[5] HR. Ibnu ‘Ady dalam Al-Kamil I/145-148. dishahihkan oleh Asy Syaikh Muhaddist Nashiruddin Al Albani dalam Misykatul Masabih, dinukil dari kitab “Mereka Adalah Teroris” karya Al Ustadz Lqman bin Muhammad Ba’abduh, cetakan revisi. Penerbit Pustaka Qaulan Sadida. Hal 104.

[6] HR. Bukhari no 3166 & 6914, lihat Meeka Adalah Teroris hal 237.

[7] Jurnal hal 2, paragraf 2 kalimat terakhir.

[8] HR. Abu Dawud no 490 sanadnya hasan ; Ahmad 2/180,187 ; Daruquthni dan Al Hakim, 1/197. lihat pula di kitab “Bgini Seharusnya Mendidik Anak “ karangan Said Al Maghribi. Terj Darul Haq Jakarta, hal 282.