Archive for January, 2007

Mengapa Salafiyah ???

Wednesday, January 31st, 2007

MENGAPA
SALAFIYAH

 

Lahirnya istilah
Salafiyah sebenarnya merupakan sebuah tuntutan keadaan dari munculnya
berbagai firqah atau kelompok baru dalam tubuh umat Islam. Jadi pada
dasarnya sebutan salafiyah, ahlussunnah dan yang semisal itu tidak akan
ada kalau saja dalam tubuh umat Islam tidak muncul berbagai aliran dan kelompok
yang menyimpang dari jalan Nabi dan para shahabat.

 

Disebabkan umat
Islam terpecah, maka istilah Salafiyah / ahlusssunnah tersebut
keberadaannya justru menjadi sebuah keharusan, sebab tanpa dimunculkannya nama
ini, kaum muslimin tidak dapat membedakan mana kelompok yang paling sesuai
dengan jalan para pendahulunya: Nabi, shahabat dan tabi’in. Banyak dalil shahih
yang menunjukkan bahwa ummat Islam ini akan terpecah belah dan mengalami banyak
perselisihan seperti disebutkan dalam hadits iftiraq atau hadits Al-Irbadh bin
Sariyah.

Dan fakta juga membuktikan bahwa apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut
benar-benar terjadi. Belum selesai masa Khulafaur Rasyidin umat Islam sudah
mulai berpecah belah dan bahkan hingga saling bunuh, yakni dengan munculnya
firqah khawarij. Dan seterusnya muncul berbagai kelompok aliran seperti syi’ah,
murji’ah, qadariyah, jabbariyah, shufiyah
dan lain-lain. Maka dalam kondisi
demikian ahlussunnah atau salafiyah menjadi sesuatu yang mau tidak mau pasti
ada atau tidak bisa tidak.

 

Mungkin akan
timbul pertanyaan, "Bukankah dengan memunculkan nama salafiyah,
ahlussunnah justru akan menambah perpecahan dan memperparah keadaan?"
Mengapa kita tidak mengembalikannya sebagaimana pada masa Nabi dan shahabat
yaitu Islam atau Muslimin? Untuk
menjawab pertanyaan ini maka kita harus mendudukkan beberapa masalah, yaitu:

 

Pertama;
Sebutan Islam atau muslim secara mutlak itu berlaku ketika kaum muslimin dalam
keadaan bersatu, sebagaimana yang terjadi pada masa Nabi dan generasi terbaik setelah
beliau.

 

Ke Dua;
Ajaran salafiyah atau ahlussunnah itu adalah ajaran kaum muslimin atau Islam
sebelum mereka berpecah. Dan dalam keadaan umat terpecah, terbukti ahlussunnah
tetap komitmen dengan para pendahulunya. Jadi esensi ajaran mereka sama sekali
tidak berubah atau menyelisihi apa yang dipegang oleh Rasulullah dan para
shahabat.

Ke Tiga; Apabila ahlussunnah hanya menggunakan nama Islam secara mutlak,
maka tidak ada yang dapat dibedakan antara mereka dengan kelompok-kelompok
lainnya yang menyimpang dari al-haq, sebab mereka yang menyimpang dari manhaj
nabawi pun mengatasnamakan Islam.

 

Ke Empat;
Penyebutan salafiyah atau ahlusssunnah ini justru untuk mempertahankan
identitas dan memberikan tekanan bahwa mereka adalah kaum muslimin yang
benar-benar konsisten dengan jalan Islam yang ditempuh Nabi dan para shahabat.

 

Ke Lima;
Salafiyah atau ahlussunnah tidak berintima’ atau dinisbatkan kepada seseorang,
tetapi berintima’ kepada Nabi dan para shahabat. Salafiyah atau ahlussunnah
bukan kelompoknya Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah, Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab, Imam Ibnul Qayyim, bukan pula kelompoknya Syaikh Bin Baz, Syaikh
Nashiruddin al-Albani, Syaikh Utsaimin.

 

Karena itu tidak
pernah ada yang namanya amir salafiyah, musyrif ‘aam atau sekjen salafiyah. Ini
menunjukkan bahwa salafiyah bukanlah firqah yang ta’ashub kepada seseorang,
sebagaimana terjadi pada aliran-aliran sesat atau thariqah shufiyah dan
selainnya. Mereka menjadikan syaikh mereka sebagai figur sentral dan
berta’ashub buta kepada masyayikhnya. Sementara ahlussunnah mengikuti masyayikh
dan para ulama semata-mata karena kesesuaian dan komitmen mereka kepada sunnah
Nabi.

 

Ke Enam;
Penggunaan istilah ahlussunnah wal jama’ah, al jama’ah, salafiyah, ahlul hadits
dan semisalnya adalah sah-sah saja. Sebab itu tidak menghilangkan eksistensi
dan identitas keislaman, bahkan memperjelas identitas pada masa perpecahan.
Dalil yang paling jelas adalah hadits Nabi, yang merangkan tentang iftiraq (perpecahan
ummat).

 

Nabi bersabda, "Umat
yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, umat nashrani
telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah
menjadi tujuh puluh tiga golongan. Seluruh golongan itu masuk neraka kecuali
hanya satu kelompok saja.

 

Para shahabat bertanya, "Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah? Beliau menjawab, "Mereka adalah al-Jama’ah" (HR.
Abu Dawud, ad-Darimi, Ahmad, al-Hakim, berkata al-Hakim "Sanad-sanadnya
dapat menjadi pegangan untuk menshahihkan hadits ini," disetu-jui oleh
adz-Dzahabi. Al Hafidz berkata, "Sanadnya hasan, Syaikul Islam Ibnu
Taimiyah berkata, "Ini adalah hadist shahih masyhur". Dishahihkan
oleh asy-Syathibi dalam al-I’tisham, dan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, no
204).

 

Perhatikan
jawaban Nabi ketika para shahabat bertanya, "Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah? Yaitu siapakah satu golongan yang akan selamat itu. Maka beliau
menjawab, "Mereka adalah al-Jama’ah". Rasulullah tidak mengatakan
bahwa mereka adalah al Islam atau Muslimin.

 

Apakah kita
berpikiran bahwa Nabi akan mengganti agama Islam pada saat terjadi perpecahan
dengan nama baru yaitu al-Jama’ah? Tidak sama sekali, sebab al Jama’ah yang
dimaksudkan Nabi ini tidak lain juga Islam yang beliau praktekkan bersama para
shahabat. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau dalam riwayat lain
ketika para shahabat bertanya dengan pertanyaan serupa, beliau menjawab, "Man
kaana ‘ala mitsli maa ana ‘alaihil yauma wa ash-habii." Yaitu siapa saja
yang seperti aku dan para shahabatku saat ini."

 

Kalau kita
menggunakan nama Islam dalam menyifati satu golongan yang selamat ini, maka
jelas tidak akan nyambung. Bagaimanakah kita akan memahami kalimat berikut ini,
"Ummat Islam akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya
di neraka, kecuali hanya satu golongan saja yang selamat, yaitu Islam."

Dalam kalimat ini tidak ada yang spesifik, sehingga membutuhkan penekanan bahwa
di antara mereka yang menisbatkan diri dalam Islam yang selamat adalah yang
Islamnya sesuai dengan Islamnya Nabi dan para shahabat atau jama’ah (kelompok)
mereka, yakni Islam ahlussunnah wal jama’ah, salafiyah, ahlul hadist, ahlul
atsar dan semisalnya.

 

Kasus ini mirip
dengan yang terjadi pada masa Imam Ahmad bin Hanbal, yakni ketika ada seseorang
bertanya kepada beliau, "Apakah tidak cukup kita mengatakan bahwa
al-Qur’an kalamullah, tanpa tambahan bukan makhluk? Maka beliau menjawab,
"Kalimat itu (Al-Qur’an kalamullah) tidak ada masalah jika diucapkan pada
masa shahabat, tetapi untuk saat ini maka harus ditambah dengan kalimat
"bukan makhluk" karena kondisinya berbeda." Ucapan beliau ini
sangat beralasan, karena pada saat itu menyebar di kalangan kaum muslimin paham
mu’tazilah yang berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan paham ini
menjadi madzhab resmi pemerintahan kala itu.

 

Karena perlunya
spesifikasi inilah, seorang pemimpin partai politik di Indonesia menambahkan
kata "perjuangan" *) pada nama partai yang dia pimpin. Sebabnya
adalah karena ada pihak lain yang mengklaim punya partai dengan identitas yang
sama. Nah untuk membedakan antara partainya dengan partai lain yang serupa,
serta untuk memperjelas identitas bahwa visinya adalah visi yang semula ketika
partai belum pecah, maka dia menambahkan kata perjuangan tersebut. Padahal
partai tersebut hanya terpecah menjadi dua kubu saja, lalu bagaimana dengan
ummat Islam yang oleh Rasulullah sudah dipastikan akan terpecah menjadi tujuh
puluh tiga golongan?

 

Maka sangat
beralasan dan bahkan merupakan keharusan jika kita menambahkan kalimat
ahlussunnah (sunni), salafi pada identitas keislaman kita, pada saat kondisi
kaum muslimin sedang terpecah belah. Jadi kesimpulan-nya tidak ada yang perlu
dikhawatirkan atau ditakutkan dengan sebutan salafiyah, ahlussunnah atau al
jama’ah. (Kholif Muttaqin)

*) Ini hanya
sebagai misal dalam hal perpecahan.

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=409

AL-KAFIYAH ASY-SYAFIYAH FIL INTISHOR LIL FIRQOTIN NAJIYAH

Monday, January 29th, 2007

(sebuah kutipan
dari Qashidah Nuuniyah karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah)

 

Sungguh aku akan
menjadikan peperangan terhadap mereka ahlul ahwa’ dan bid’ah sebagai
kebiasaanku

 

Dan sungguh aku
akan membongkar kedok mereka di hadapan orang banyak

Memotong kulit mereka dengan lisanku

 

Akan kusingkap
rahasia-rahasia yang selama ini tersembunyi

 

Bagi orang yang
lemah diantara makhluk-Mu, dari mereka dengan penjelasan

 

Aku akan selalu
membidik mereka hingga dimanapun mereka berada
Hingga dikatakan hamba yang paling jauh

 

Sungguh aku akan
merajam mereka dengan bukti-bukti petunjuk

 

Sebagai rajam
terhadap pembangkang dengan bintang yang gemerlapan

 

Sungguh aku akan
menggagalkan tipu daya mereka

 

Dan aku akan
mendatangi mereka di setiap tempat

 

Sungguh aku akan
buat daging-daging mereka menjadi darah mereka

 

Pada hari
datangnya pertolongan-Mu adalah pengorbanan yang sangat besar

 

Sungguh aku akan
datangkan pada mereka pasukan tentara

 

Yang takkan lari
ketika dua pasukan telah saling berhadapan

 

Dengan
membawakan pasukan tentara pengikut wahyu dan hati nurani

 

Memadukan logika
dan nash-nash syariat dengan baik

 

Hingga jelaslah
bagi orang yang berakal

 

Siapa yang lebih
utama menurut logika dan petunjuk

 

Sungguh aku akan
menasehati mereka karena Allah kemudian Rasul-Nya

 

Kitab-Nya dan
syariat-syariat keimanan

 

Jika Tuhanku
menghendaki dengan saya kekuatan-Nya

 

Jika tidak
dikehendaki, maka perkara itu kembali kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

 

( Majalah Adz
Dzaakiirah Al Islamiyyah )

Alangkah Mulianya Menuntut Ilmu Agama !!!

Monday, January 29th, 2007

Imam Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah rahimahullah, berkata :

( Ilmu adalah
peninggalan dan warisan para Nabi, oleh karena itu ), Ahli Ilmu adalah pewaris
para Nabi. Ilmu adalah kehidupan bagi hati, pelita tuk penerangan dan obat bagi
sanubari. Ilmu adalah taman akal pikiran, penyejuk bagi yang dilanda resah dan
gulana serta kelezatan bagi rohani. Dialah petunjuk bagi yang ditimpa
kebingungan dan dialah timbangan bagi kata dan amal perbuatan serta realita
dalam kehidupan ini

 

Ilmu adalah
pembeda antara keraguan dan keyakinan, antara petunjuk dan kesesatan. Dengan
ilmu itulah Alloh dikenal dan di ibadahi, disebut dan di Esakan, di sanjung dan
dipuji. Dengan ilmulah seseorang yang berjalan menemukan tujuan. Dari jalan
ilmulah orang bisa meraih impian dan harapan. Dengan ilmulah ( manusia )
mengetahui hukum-hukum syari’at, mengenal mana yang halal dari yang haram.
Dengan ilmu itulah tali persaudaraan semakin merekat. Dengan ilmu itulah bisa
diketahui apa yang dicintai dan diridhai
oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, yang dengan mengikuti ( syari’at-Nya )
seseorang bisa mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Ilmu adalah imam
dan perbuatan adalah makmumnya. Dia adalah panglima sedangkan amal adalah
prajuritnya. Ilmu adalah teman dikala keterasingan, tempat kecurahan hati
dikala kesepian, penghibur lara tatkala dirundung kegelisahan. Ilmu adalah
penyingkap bagi kesamar-samaran. Ilmu adalah suatu kekayaan yang takkan pernah
miskin pemiliknya. Ilmu adalah tempat bernaung yang takkan pernah tersia-siakan.

 

Mempelajari ilmu
adalah tasbih, menuntut ilmu merupakan jihad dan mendekatkan diri kepada Alloh.
Menyebarkan ilmu itu shadaqoh, mengulang kembali itu sama pahalanya dengan
puasa dan shalat ( dimalam yang gelap gulita-pent ) kebutuhan manusia akan ilmu
melebihi kebutuhan tuk makan dan melepas dahaga.

 

( Madaarijus
Salikin 3 / 469 – 470 ; Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 12 Th. II 1425 H / 2005 M )

 

SYAIR AQIDAH MUSLIM

Monday, January 29th, 2007

                                    
( dalam kitab
“ Manhaj Firqatun Najiyah “ hal 140-141 ; karya Asy Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Hafidzahulloh, yang beliau kutip dari Syaikh Mulla ‘Umran )

 

Jika pengikut
Ahmad adalah Wahabi,

maka aku akui
bahwa diriku wahabi.

Kutiadakan sekutu
bagi Tuhan,

maka tak ada
Tuhan bagiku

selain Yang Maha
Esa dan Maha Pemberi.

 

Tak ada kubah
yang bisa diharap,

tidak pula
berhala,

dan kuburan
tidaklah sebab diantara penyebab.

Tidak, sama
sekali tidak,

tidak pula batu,
pohon, mata air[1] atau
patung-patung.

 

Juga, aku tidak
mengalungkan jimat,

temali, rumah
kerang

atau taring,

untuk
mengharapkan manfaat, atau menolak bala

Alloh yang
memberiku manfaat dan menolak bahaya dariku.

 

Adapun bid’ah
dan segala perkara yang di ada-adakan

dalam agama

maka orang-orang
berakal mengingkarinya.

 

Aku berharap,

semoga ku tak

kan

mendekatinya

tidak pula rela
secara agama,

ia tidak benar.

 

Dan aku
berlindung dari Jahmiyah[2]

Aku mencela
perselisihan setiap ahli takwil dan peragu-ragu,

serta yang
mengingkari istiwa’[3]

 

Tentangnya,

cukuplah bagiku
teladan dari

ucapan para
pemimpin yang mulia ;

Syafi’i, Malik,
Abu Hanifah, Ibnu Hanbal ;

orang-orang yang
bertakwa dan ahli bertaubat.

 

Dan pada zaman
kita sekarang ini, ada orang yang

mempercayai,
seraya berteriak atasnya[4] ;

Mujassim[5],
wahabi[6]

 

Telah ada hadist
tentang keterasingan Islam,

maka hendaknya para pencinta menangis,

karena terasing dan orang-orang yang dicintainya

Alloh yang melindungi kita,

yang menjaga agama kita,

dari kejahatan setiap pembangkang dan pencela

 

Dia menguatkan agama-Nya yang lurus,

dengan sekelompok orang-orang yang berpegang teguh

dengan sunnah dan kitab-Nya.

 

Mereka tidak mengambil hukum lewat pendapat dan
kias,

Sedang kepada para ahli wahyu,

mereka sebaik-baik orang

yang kembali

 

Sang Nabi terpilih telah mengabarkan tentang
mereka,

bahwa mereka adalah orang-orang asing,

di tengah keluarga

dan kawan pergaulannya.

 

Mereka menapaki jalan orang-orang yang mendapat
petunjuk,

dan berjalan diatas jalan mereka,

dengan benar,

Karena itu orang-orang yang suka berlebihan,

berlari dan

menjauh dari mereka.

 

Tapi kita berkata, tidak aneh.

Telah lari pula orang-orang yang diseru

oleh sebaik-baik,

manusia,

bahkan menjulukinya

sebagai tukang ( ahli ) sihir lagi pendusta.

 

Padahal mereka mengetahui,

betapa beliau seorang yang teguh memegang amanah
dan janji,

mulia dan jujur menepati.

Semoga keberkahan atasnya,

Selama angin masih berhembus,

juga atas segala keluarga

dan semua sahabatnya. “

 

 

 


[1] Mata air
tempat pemandian yang dimaksudkan untuk mencari berkah atau mendapat kesembuhan.
Hal yang merupakan perbuatan syirik, karena berdo’a dan memohon sesuatu kepada
selain Alloh.

[2]
Jahmiyah adalah kelompok sesat yang mengingkari bahwa Alloh berada di langit,
dan berpendapat bahwa Alloh berada di setiap tempat.

[3] Maksudnya
bahwa Alloh berada di atas Arsy.

[4] Yakni
Imam Ahmad bin Hambal

[5] Mujassim
artinya yang menvisualisasikan sifat-sifat Alloh.

[6]
Bagaimana mungkin Ahmad bin Hambal seorang wahabi, sedangkan beliau hidup jauh
ratusan tahun sebelum lahirnya Muhammad bin Abdul Wahhab….?

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdi Salam bin Abdillah bin Taiymiyah Al Harany

Sunday, January 28th, 2007

Ibnu Taimiyah,
Dai dan Mujahid Besar 

 

Demi Allah,
tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut
hawa nafsu. Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky

NAMA DAN NASAB

 

Beliau adalah
imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan,
kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan
penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh
banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad
bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.Lahir di Harran, salah satu kota
induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan
Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.

 

Beliau berhijrah
ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih
kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh
perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang
dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta
benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

 

Suatu saat
gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan
musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah
(mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama
kitab-kitabnya dapat selamat.

 

PERTUMBUHAN
DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

 

Semenjak kecil
sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik
beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para
ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan
otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

 

Ketika umur
beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan
sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa
kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

 

Suatu kali,
ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab
(suatu

kota

lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk
melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir.
Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan
hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan
tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun
dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut
berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab
belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

 

Sejak kecil
beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan
untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat.
Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu
terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh
berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika
dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah
yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau
kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku
lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku
untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

 

Begitulah
seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya
mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta
dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

 

PUJIAN ULAMA

 

Al-Allamah
As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun
kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata:
Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah)
ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy,
Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan
para imam ulama lain.

 

Al-Hafizh
Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah …..
dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan
sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan
beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul
dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan
matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya,
terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka
akan tercipta manasia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam,
lalu siapa dia ini ?

 

Syaikh Ahli
nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah
berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia ….. Kemudian
melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam
tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan
Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.
Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata:
Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau
melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu
itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya.
Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan
mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang
sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan
hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu
syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti
terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan,
pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah
lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap
Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada
zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian,
kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan
amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat
menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik
pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi
lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai
rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad,
pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits
yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa
menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap
hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

 

Demikian antara
lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

 

DA`I,
MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH

 

Sejarah telah
mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`,
zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda.
Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh
dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah
dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam
untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan
sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran.
Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar,
memberikan kesaksiannya: …tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia
bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan
memberikan peringatan keras supaya tidak lari… Akhirnya dengan izin Allah
Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam,
Palestina, Mesir dan Hijaz.

 

Tetapi karena
ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq,
akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama
dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut
kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami
berbagai tekanan di penjara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

 

KEHIDUPAN
PENJARA

 

Hembusan-hembusan
fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan
beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan
tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di
Dimasyq. Dan beliau berkata:

 

Sesungguhnya
aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!

Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku

Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku

dan tiada pernah tinggalkan aku.

Aku, terpenjaraku adalah khalwat

Kematianku adalah mati syahid

Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

 

Beliau pernah
berkata dalam penjara:

 

Orang dipenjara
ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah
orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.

 

Ternyata penjara
baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya
untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab
bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

 

Pengagum-pengagum
beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak
penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka
iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan
melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan
suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang
sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya
penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

 

Tetapi kenyataan
ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah
semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan
beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau
semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau
dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya
mengeluarkan

surat

keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari
tangan Ibnu Taimiyah.

 

Namun beliau
tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau
tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya.
Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan
berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan
tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah
dan kita sekalian ke dalam surgaNya.

 

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang
muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

 

Beliau berada di
penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua
puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir,
tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga
juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau
delapan puluh satu kali.

 

Perlu dicatat
bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun
dari penguasa.

 

Jenazah beliau
dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk
Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`,
Ulama, tentara dan sebagainya, hingga

kota

Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus)
tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian
beliau.

 

Seorang saksi
mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang
ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan
diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah
terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu
melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

 

Beliau wafat
pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di
samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah
merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah
musuh. Wallahu a`lam.

 

Dinukil dari
buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II
1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma`rifah–Dimasyq. hal. Depan.

source : http://www.salafyoon.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=35

Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman hafizhahulloh

Sunday, January 28th, 2007

Dialihbahasakan oleh Abu
Hudzaifah dari www.mashhoor.net

SilsilahBeliau

Nama beliau adalah Masyhur bin
Hasan bin Mahmud Ali Salman, dan kunyah beliau adalah Abu Ubaidah. Beliau
adalah seorang Syaikh yang mengikuti manhaj salaf dan berpegang dengan atsar
mereka. Beliau memiliki banyak buku yang unik, bermanfaat dan sangat ilmiah.
Termasuk buku ulama lain yang beliau takhrij dan tahqiq.

KelahiranBeliau

Beliau dilahirkan di Palestina
tahun 1380 H. (1960 M.)

Latar belakang keluarga dan pencarian ilmu

Beliau dididik di dalam keluarga
yang shalih yang telah berhijrah ke Yordania dan menetap di

Amman

pada tahun 1967 sebagai akibat dari Agresi

Israel

la’anahumullohu.
Beliau menyelesaikan SMA nya di

sana

,
kemudian beliau memasuki Universitas Syari’ah (1400H/1980M) di mana beliau
mendaftar di Jurusan Fikih dan Ushul Fiqh. Beliau melewatkan waktunya di

sana

dengan mengembangkan
ketertarikan beliau yang sangat besar terhadap belajar, membaca dan menambah
ilmu pengetahuan Islam. Sehingga beliau telah membaca sejumlah besar buku-buku
seperti Al Majmu’ karya An Nawawi, Al Mughny karya Ibnu Qudamah, Tafsir Ibnu
Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Shahih Al Bukhari dengan syarahnya Ibnu Hajar,
Shahih Muslim dengan syarahnya An Nawawi, dan banyak buku-buku lainnya. Beliau
lebih banyak terpengaruh oleh Ulama Besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
dan muridnya yang mulia, ‘Alim Robbani, Syaikhul Islam kedua Ibnul Qoyyim Al
Jauziyah.

Guru beliau yang paling menonjol

Beliau juga terpengaruh secara
kuat oleh sebagian besar guru-gurunya, baik mereka yang beliau belajar padanya
secara formal maupun yang beliau bermajelis dengannya dalam halaqoh-halaqoh
ilmiah. Di antara guru-guru beliau yang paling terkenal adalah:

1. Al ‘Allamah Syaikh Al Muhaddits
Muhammad Nashirudin Al Albani rohimahullohu
2. Syaikh Al Faqih Muqtofa az-Zarqaa’

Aktivitas Dakwah Beliau:

  1. Beliau adalah salah satu pendiri Majalah Al Asholah yang
         dipublikasikan di Yordania. Beliau juga salah seorang editor dan penulis
         Majalah Al Asholah.
  2. Beliau adalah salah satu pendiri Markaz Imam Albani, Yordania.
  3. Beliau termasuk anggota Mujtama’ al-ilmi wal Ifta’
         markaz Imam Albani.
  4. Beliau berpartisipasi dalam dauroh-dauroh dasar keislaman dan
         program orientasi dakwah.

Pujian Ulama terhadap beliau

Gurunya, Syaikh Muhammad
Nashirudin al-Albany rohimahullohu telah berulang kali memuji beliau dalam
banyak pertemuan di berbagai tempat seperti yang beliau nyatakan dalam Silsilah
Ash Shahihah, “Dan semua ini adalah dari apa yang aku telah beristifadah
(memetik manfaat) dari tahqiq dan ta’liq kitab Al Khilaafat oleh Saudaraku yang
mulia, Masyhur Salman.” (I/193)
.

Berikut ini juga apa yang
dikatakan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid mengenai beliau di dalam Muqoddimah Tahqiq
Syaikh Masyhur terhadap buku Al Muwafaqaat, “Berapa kali saya memandang
buku ini sembari berhadap ada yang mentahqiq, mentashih dan mencetaknya
sebagaimana layaknya, hingga Alloh Yang Maha Bijaksana menjadikan hal ini
mungkin dengan rahmat-Nya melalui tangan Al Allamah Al Muhaqqiq Syaikh Masyhur
bin Hasan Alu Salman”
.

Aktivitas Beliau Sekarang

Masjid As-Sunnah:
Syaikh yang Mulia Abu Ubaidah Masyhur Hasan Ali Salman hafizhohullohu memiliki
kelas mingguan pada Kamis sore antara Magrib dan Isya yang diadakan di Masjid
As Sunnah (selatan ibukota

Amman

,
Yordania), di mana beliau menjelaskan Shahih Muslim berdasarkan Syarh Imam
Nawawi. Alhamdulillah, kelas ini telah berlangsung selama lebih dari delapan
tahun sekarang.

Masjid Imam Al Albani:
Berdasarkan kebutuhan, Syaikh sering kali bersedia berkumpul di Masjid Imam
Albani di mana beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Kunjungan ke Indonesia:
Syaikh baru-baru ini mengunjungi Indonesia bersama Syaikh Ali Hasan Al Halabi,
Syaikh Muhammad Musa Nashr dan Syaikh Salim Al Hilaly, dalam rangka mengajar di
Dauroh Ilmiyah fi Masa`ili Aqdiyah wal Manhajiyah, dimana Syaikh mengajar Fikih
di dalamnya. Dauroh ini terselenggara atas kerjasama Markaz Imam Albani dengan
Ma’had Ali Al-Irsyad Al-Islamiyyah Surabaya.

Masjid Mu’awiyah bin Abi
Sufyan:
Syaikh mengajar Ushul Fiqh di musim panas ini di acara Dauroh
Syari’ah Tahunan yang keempat yang diselenggarakan oleh Markaz Imam Albani di
lokasi baru yang dekat dengan Masjid Mu’awiyah bin Abi Sufyan (utara

Amman

).

 

Asy Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Sunday, January 28th, 2007

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah
bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz rahimahullah dilahirkan di
kota Riyadh pada tanggal 12 Dzul Hijjah tahun 1330 H, dari keluarga yang
sebagian besar kaum lelakinya bergelut dalam dunia keilmuan.

Pada mulanya beliau bisa
melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai
melemah hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun 1350 kedua matanya mulai
buta.

 

Pendidikannya lebih banyak
tertuju pada pelajaran Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Beliau tumbuh dalam peliharaan salah seorang keluarganya. Al-Qur’an
merupakan pelita yang menerangi hidupnya, sehingga umurnya dipergunakan untuk
menimba ilmu Al-Qur’an, dan beliau hafal Al-Qur’an secara menyeluruh ketika
beliaumasih kecil,belum mencapai usia baligh.

 

Beliau belajar ilmu-ilmu syar’i
dari para ulama besar di Riyadh, seperti Syaikh Sa’d binb athiq dan Syaikh Hamd
bin Faris dan Syaikh Sa’d bin Waqqash Al-Bukhari dan Syaikh Muhammad bin
Ibrahim Ali Syaikh -semoga Allah merahmati mereka-, beliau terus menimba ilmu
hingga mulai terpandang di kalangan para ulama.

 

Beliau pernah menjadi Qadhi
mulai bulan Jumadats Tsaniah tahun 1357 hingga tahun 1371. Selanjutnya pada
tahun 1372 beliau mengajar di Ma’had Ilmi di Riyadh selama setahun kemudian
pindah ke Fakultas Syariat Di Riyadh mengajar Ilmu Fiqih, Tauhid dan Hadits
selama tujuh tahun, semenjak didirikannya fakultas ini hingga tahun 1380.

Pada tahun 1381 beliau ditunjuk menjadi wakil rektor Jamiah Islamiyah di
Madinah Al Munawwarah, dan menempati posisinya tersebut hingga tahun 1390.
Selanjutnya pada mulai tahun itu hingga tahun 1395 beliau menjadi rektor
Jami’ah Islamiyah.

 

Pada tanggal 14/10/1395 terbit
keputusan kerajaan yang menunjuk Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
rahimahullah sebagai mufti besar (Semacam ketua MUI) untuk negara Saudi Arabia
dan sebagai ketua ikatan para ulama serta ketua idarah buhuts ilmiyah wal ifta’
yang setingkat dengan kedudukan mentri, hingga beliau meninggal.

Beliau juga banyak berkecimpung di berbagai lembaga dan majlis ilmiah
islamiyah, di antaranya sebagai ketua ikatan para ulama, ketua majlis pendiri
rabithah ‘alam islamy, ketua lembaga internasional yang mengurusi masjid dan
ketua mujamma’ fiqhy islamy di Mekkah Al Mukarramah. Beliau juga sebagai
anggota lembaga tinggi Jami’ah Islamiyah di Madinah Al Munawwarah, anggota
lembaga tinggi dakwah Islam, anggota majlis syuro untuk WAMY (Ikatan Pemuda
Islam Internasional) dan beberapa keanggotaan yang lain.

 

Beliau juga beberapa kali
mengetuai berbagai mu’tamar internasional yang diadakan di negra Saudi Arabia,
yang merupakan sarana bagi beliau untuk saling tukar pendapat dan fikiran
dengan beberapa ulama, da’i dan pemikir lainnya dari berbagai belahan dunia.

Meski beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan tersebut, beliau tidak lupa
tugas utamanya sebagai seorang alim dan da’i. Beliau telah menulis berbagai
karangan dan buku-buku, di antaranya: Al
Fawa’id Al Jaliyyah fil Mabahits Al Fardhiyyah, At Tahqiq wal Idhah likatsir
min masailil Hajj wal Umrah waz Ziyarah, At Tahdzir minal Bida’, Ar Risalatanil
Mujazatani fiz Zakat wash Shiyam, Al Akidatul Mujazah, Wujubul Amal Bisunnatir
Rasul, Ad Da’wah Ilal-llaah, Shifatud Da’iyah, Wujubu Tahkimi Syar’illaahi.
Hukmus Sufur Wal Hijab, Nikahus Syighar, Tsalatsu Rasail Fish Shalat, Hukmul
Islam Fiiman Tha’ana fil Qur’an Aw Fii Rasulillah, Hasyiyah Mufidah Ala Fathil
Bari, Iqamatul Barahin ala Hukmi Manista’ana Bighairillaah Aw Shaddaqal Kuhhan
wal Arrafin, Al Jihad fii Sabilillah, Wujubu Luzumis Sunnah Wal Hadzru Minal
Bid’ah,
dan berbagaimacam fatwa-fatwa dan tulisan-tulisan lainnya.

 

Beliau juga mempunyai berbagai
kegiatan dakwah dan kepedualian terhadap berbagai urusan orang-orang muslimin,
di antaranya sumbangan beliau kepada berbagai yayasan-yayasan Islam dan
lembaga-lembaga Islam lainnya yang ada di berbagai belahan dunia. Beliau juga
sangat peduli dengan permasalahan tauhid dan berbagai kerancuan yang terjadi
pada masyarakat muslim. Lebih khusus lagi, beliau sangat memperhatikan mengenai
pangajaran hafalan Al-Qur’an dan senantiasa menganjurkan kepada berbagai
lembaga untuk mengadakan program tahfidz A-Qur’an.

 

Beliau telah banyak memberikan
berbagai pelajaran dan muhadharah Islamiyah untuk menanamkan pemahaman Islam yang
benar kepada kaum muslimin. Beliau juga telah menulis berbagai makalah dalam
majallah Al Buhuts Al Islamiyah.

 

Pada tahun 1402 Yayasan Sosial
Malik Faishal menganugerahkan trophy Internasional Raja Faishal kepada beliau
atas jasa-jasa beliau kepada Islam.

 

Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

Sunday, January 28th, 2007

Imam Ahmad bin Hanbal

Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan
bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin
Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada
diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi
Ibrahim.

Ketika beliau masih dalam
kandungan, orang tua beliau pindah dari

kota

Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke

kota

Baghdad

. Di

kota

itu beliau
dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling
masyhur- tahun 164 H.

Ayah beliau, Muhammad, meninggal
dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau,
Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali

kota

Sarkhas pada masa pemeritahan Bani
Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan
karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia
dahulunya adalah seorang panglima.

Masa Menuntut Ilmu

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai
seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik
asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya,
sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di

kota

Baghdad

. Yang
sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan
harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan
syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat
yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada
kemajuan dan kemuliaan.

Beliau mendapatkan pendidikannya
yang pertama di

kota

Baghdad

. Saat itu,

kota

Bagdad

telah menjadi pusat peradaban dunia
Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam
kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di

sana

tinggal para qari’,
ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan
mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau
melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh
azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi
beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap
memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang
hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi
pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil
pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau
setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”

Perhatian beliau saat itu memang
tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau
mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah
al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk
menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di

kota

Baghdad

mengambil
hadits dari syaikh-syaikh hadits

kota

itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin
Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183.
Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar
tiga ratus ribu hadits lebih.

Pada tahun 186, beliau mulai
melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman,
dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu
darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di

sana

adalah Imam Syafi‘i. Beliau banyak
mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan
diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan
sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber beliau mengambil ilmu adalah
Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya
al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak
sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan
Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid,
tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”

Demikianlah, beliau amat
menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal
lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru menikah setelah
berumur 40 tahun.

Ada

orang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai
semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.”
Beliau menjawab, “Bersama
mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut
ilmu sampai aku masuk liang kubur.”
Dan memang senantiasa seperti itulah
keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang
memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau
berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya.

Ada

banyak ulama yang
pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah
dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.

Beliau menyusun kitabnya yang
terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh
tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau
mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh
dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam
Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik
ash-shagir
dan al-kabir, kitab az-Zuhud,
kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada
Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah,
kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal,
kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah,
Fadha’il ash-Shahabah.

Pujian dan Penghormatan Ulama Lain
Kepadanya

Imam Syafi‘i pernah mengusulkan
kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut,
agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya
dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu
dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah
itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah
al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk
menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan
perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah
aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi
mendatanginya jika memang shahih.”
Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan
akal Imam Syafi‘i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.
Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu
tidak aku tinggalkan di

kota

tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad
bin Hanbal.”

Abdul Wahhab al-Warraq berkata,
“Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang
bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang
engkau pandang dia melebihi yang lain?”
Al-Warraq menjawab, “Dia
seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan
berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada
kami’.”
Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin
Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada
Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan
hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar
dengannya”.
Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun bin Yazid
adalah salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah seorang imam
huffazh.

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan

Telah menjadi keniscayaan bahwa
kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi
seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad
termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani
Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.

Pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan
unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka.
Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang

Persia

sebagai kekuatan
pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya,
justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa
itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari

Yunani

,

Rumania

,

Persia

, dan

India

dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk
bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai
macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah,
Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.

Kelompok Mu‘tashilah, secara
khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun.
Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk
membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat
yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat
dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa
kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.

Sebenarnya Harun ar-Rasyid,
khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan
Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat
itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar
Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy
mengatakan bahwa Alquran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah
menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara
yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”.
Tatkala Khalifah ar-Rasyid
wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha
menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru
kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu
melakukannya.

Untuk memaksa kaum muslimin
menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada
mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah
dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan
pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi
bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak
dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang
hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran,
termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang
hak, bahwa Alquran itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat
memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya
di

kota

Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan
terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke
Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di

sana

karena telah sampai
kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap
mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun,
kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat
wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji
orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad
dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan
konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi
beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah.
Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke
dalam penjara dan mendekam di

sana

selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau
shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

 

Selama itu pula, setiap harinya
al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap
sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau.
Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih
keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad
dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Wafatnya

Menjelang wafatnya, beliau jatuh
sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan
ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya,
sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya,
pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap
kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin
bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar
jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang,
ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu
juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat
banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan
kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan
kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada)
hari kematian kami”.

Pada akhirnya, beliau dibebaskan
dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan.
Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali
menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.

Selanjutnya, al-Watsiq diangkat
menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun
melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin
kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk

Bagdad

merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq
melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad
bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau
menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih

lima

tahun, yaitu sampai
al-Watsiq meninggal tahun 232.

Sesudah al-Watsiq wafat,
al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya,
ujian tentang kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234,
dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya
larangan atas pendapat tentang kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati
bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para
ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka
demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu.
Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan
kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya
disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul
Aziz.

Demikianlah gambaran ringkas
ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang
tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas.
Beliau bersikap seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari
kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya
itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau
sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan
keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang
laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur
Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya),
dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.

 

Al Imam Nashirusunnah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Rahimahullah

Sunday, January 28th, 2007

Imam Syafii

Ditulis Oleh: Abu Auf Abdurrahman Attamimi

www.salafindo.com

 

Nama lengkap
beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris. Beliau dilahirkan di Gaza,
Palestina, tahun 150 H, dan ayahnya meninggal ketika masih bayi, sehingga
beliau hanya dipelihara oleh ibunya yang berasal dari Qabilah Azad dari Yaman.
Diwaktu kecil Imam Syafii hidup dalam kemiskinan dan penderitaan sebagai anak
yatim dalam “dekapan” ibundanya . Oleh karena itu ibunya berpendapat agar
sebaiknya beliau (yang ketika itu masih kecil) dipindahkan saja ke Makkah
(untuk hidup bersama keluarga beliau disana). Maka ketika berusia 2 tahun
beliau dibawa ibundanya pindah ke Makkah.

Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu
Hanifah oleh karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal Imam dan
lahirlah Imam”. Pada usia 7 tahun beliau telah menghafal Al Qur’an. Dan suatu
sifat dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat temannya diberi pelajaran
oleh gurunya, maka pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat beliau
pahami. Demikian pula jika ada orang yang membacakan buku dihadapan Imam
Syafi’i, lalu beliau mendengarkannya, secara spontan beliau dapat menghafalnya.
Sehingga kata gurunya : “Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran
kecerdasan dan kemampuan beliau untuk menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya
mendengarkan saja)”.

 

Setelah beberapa
tahun di Makkah, Imam Syafi’i pergi ke tempat Bani Hudzail dengan tujuan untuk
belajar kepada mereka. Bani Hudzail adalah Kabilah yang paling fasih dalam
berbahasa Arab. Beliau tinggal di tempat Bani Hudzail selama 17 tahun. Ditempat
ini beliau beliau banyak menghafal sya’ir-sya’ir, memahami secara mendalam
sastra Arab dan berita-berita tentang peristiwa yang dialami oleh orang-orang
Arab dahulu.

 

Pada suatu hari
beliau bertemu dengan Mas’ab bin Abdullah bin Zubair yang masih ada hubungan
famili dengan beliau. Mas’ab bin Abdullah berkata : “Wahai Abu Abdullah (yaitu
Imam Syafi’i), sungguh aku menyayangkanmu, engkau sungguh fasih dalam berbahasa
Arab, otakmu juga cerdas, alangkah baiknya seandainya engkau menguasai ilmu
Fiqih sebagai kepandaianmu.” Imam Syafi’i : “Dimana aku harus belajar?” Mas’ab
bin Abdullah pun menjawab : “Pergilah ke Malik bin Anas”. Maka beliau pergi ke
Madinah untuk menemui Imam Malik. Sesampainya di Madinah Imam Malik bertanya :
“Siapa namamu?”. “Muhammad” jawabku. Imam Malik Berkata lagi : “Wahai Muhammad
bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah laranganNya maka engkau akan menjadi
orang yang disegani di kemudian hari”. Esoknya beliau membaca al Muwaththa’
bersama Imam Malik tanpa melihat buku yangdipegangnya, maka beliau disuruh
melanjutkan membaca, karena Imam Malik merasa kagum akan kefasihan beliau dalam
membacanya.

 

Al Muwaththa’
adalah kitab karangan Imam Malik yang dibawa beliau dari seorang temannya di
Mekkah. Kitab tersebut beliau baca dan dalam waktu 9 hari, dan beliau telah
menghafalnya.Beliau tinggal di Madinah sampai Imam Malik meninggal dunia, kemudian
beliau pergi ke Yaman.

 

Kunjungan Imam
Syafi’i Keberbagai Tempat Sudah menjadi
kebiasaan ulama’-ulama’ pada masa Imam Syafi’i yaitu berkunjung ke berbagai
negeri untuk menimba ilmu di tempat tersebut. Mereka tidak perduli terhadap
rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi. Demikian pula Imam Syafi’i
berkunjung ke berbagai tempat untuk menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan
memperoleh manfaatnya. Sebagaimana yang telah diketahui tentang perjalanannya dari
Mekkah ke Bani Hudzail, kemudian kembali ke Mekkah dan perjuangannya untuk
menemui Imam Malik, dan setelah meninggalnya Imam Malik beliau pergi ke Yaman
dan selanjutnya pergi ke Baghdad dan kembali ke Madinah , dan setelah itu
kembali lagi ke Baghdad kemudian ke Mesir.

 

Kunjungan-kunjungan
itu menghasilkan banyak ilmu dan pengalaman baginya serta membuatnya gigih
dalam menghadapi berbagai rintangan dalam membela kebenaran dan membela Sunnah
Rasulullah saw. Sehingga namanya menjadi terkenal dan disegani umat Islam di
zamannya.

 

Imam Ahmad Bin
Hambal berkata tentang gurunya Imam Syafi’i rahimahullah telah diriwayatkan bahwa
Rasulullah saw bersabda :

 

"Inna
Allaha yub’astu lihadzihil ummah ‘ala ra’si kulla miati sanatin man yujaddidu
laha diinaha"

 

“Sesungguhnya
Allah swt mengutus (mengirim) seseorang kepada umat ini setiap seratus tahun
untuk memperbarui urusan agamanya”. (shahih sunan Abu daud hadits no : 4291)

 

Kemudian Imam
Ahmad bin Hambal menambahkan dengan berkata : “Umar bin Abdul Aziz adalah orang
yang pertama dan mudah-mudahan Imam Syafi’i adalah yang kedua”.

 

Ilmu Yang
Dimiliki Oleh Imam Syafi’i rahimahullah Imam
Syafii rahimahullah memiliki ilmu yang luas seperti yang dikatakan Ar Rabbii
bin Sulaiman : “Setiap selesai shalat shubuh Imam Syafi’i selalu duduk
dikelilingi orang-orang yang ingin bertanya tentang tafsir Al Qur’an. Dan
seandainya matahari telah terbit, barulah orang-orang itu berdiri dan
bergantian dengan orang-orang lain yang ingin bertanya juga tentang haditsserta
tafsirnya. Beberapa jam kemudian ganti orang-orang lain untuk bertanya-jawab.
Dan sebelum waktu dhuhur mereka pergi disusul oleh orang-orang yang bertanya
tentang nahwu, urudh dan syai’r sampai waktu dhuhur”. Mas’ab bin Abdullah Az
Zubairi berkata : “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui
peristiwa tentang orang-orang Arab dahulu seperti Imam Syafi’i”. Abu Isma’il At
Tarmudzi juga berkata : “Aku perna mendengar Ishak bin Rahawih berceritra :
“ketika kami berada di Makkah Imam Bin Hambal rahimahullah, berkata kepadaku :
“Wahai abu Ya’kub belajarlah kepada orang ini ”Seraya memandang Imam Syafi’i””.

Kemudian aku berkata : “Apa yang akan aku peroleh dari orang ini, sementara
usianya hampir sama dengan kita? Apakah aku tidak merugi seandainya
meninggalkan Ibnu Uyainah dan Mugni?”. Imam Ahmad pun menjawab : “Celaka
engkau! Ilmu orang-orang itu dapat engaku tinggalkan tapi Ilmu orang ini tidak
dapat”. Lalu aku belajar padanya.

 

Imam Ahmad bin
hambal menambahkan tentang Imam Syafi’I, adalah beliau orang yang paling paham
(pengetahuannya) tentang Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam.

 

Kesederhanaan
Dan ketaatan Imam Syafi’i Pada Kebenaran Al Imam Syafi’i rahimahullah terkenal akan kesederhanaan dan (ketaatan)
dalam menerima kebenaran. Hal ini telah dibuktikan dalam diskusi-diskusi dan
tadarus-tadarusnya serta pergaulan murid-murid, teman-teman dan orang umum.
Banyak orang yang telah meriwayatkan sifat-sifat yang telah dimilikioleh Imam
Syafi’i yang seolah-olah sifat itu hanya dimiliki oleh beliau saja.

Al Hasan bin Abdul Aziz Al Jarwi Al Masri (dia adalah Abu Ali Al Judzami, guru
Syeikh Al Bukhari yang meninggal di

Baghdad

pada tahu 257 H) berkata : “As Syafi’i mengatakan : “tidak pernah terbesit
dalam hatiku agar seseorang bersalah bila berdiskusi denganku, malah aku
menginginkan agar semua ilmu yang kumiliki juga dimiliki oleh semua orang tanpa
menyebut namaku””.

Dan Ar Rabii berkata : “Ketika aku mengunjungi As Syafi’i sakit, beliau masih
sempat menyebutkan buku-buku yang telah ditulisnya dan berkata : “Aku ingin
semua orang membacanya tanpa mengkaitkanya dengan namaku””.

Harmalah bin Yahya juga mengatakan : “Aku pernah mendengar As Syafi’i berkata :
“Aku ingin setiap ilmu yang kumiliki, dimiliki oleh semua orang dan aku
mendapatkan pahalanya tanpa ucapan terima kasih dari orang-orang itu”.” Beliau
juga mengatakan demikian :

 

"Idza
wajadtum fii kitaabii khilafa sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam,
fakuuluu sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam, wa da’uu ma
kultu"

“jika kalian mendapati dalam kitabku (suatu tulisan) yang menyelisihi sunnah
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam , maka ambillah sunnah Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam dan tinggalkan perkataanku.

 

Dan beliau juga
berkata :

 

"Idza sohhal
hadits fahuwa madzhabii"

 

“jika hadits
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam (derajatnya) shahih, maka itulah madhabku”

"Kullu haditsin ‘anin nabi shalallahu ‘alaihi wa salam fahuwa kaulii, wain
lam tasma’uu minni"

 

“setiap hadits
dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah pendapatku, walaupun kalian tidak
pernah mendengarkan dariku”

 

"Kullu maa
kultu, fakaana ‘aninnabiyyi khilafu kaulii mimma yashihhu, fahadtsun nabiyyi
awlaa, falaa tukalliduunii"

 

“segala pendapat
yang aku katakan ,sedangkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam yang shahih
menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam lebih
utama (untuk diikuti) , dan janganlah kalian taklid kepadaku”.

 

Imam Syafi’i
rahimahullah sendiri berkata : “Demi Allah aku belum pernah berdiskusi dengan
seseorang kecuali dengan tujuan nasihat”. Seandainya aku menyampaikan tentang
kebenaran kepada seseorang dengan bukti-bukti yang tepat, lalu diterima dengan
baik, maka aku akan menjadi sayang dan akrab dengan orang tersebut. Sebaliknya
jika orang tersebut sombong dan membantah bukti-bukti tadi, maka seketika itu
juga orang tersebut jatuh dalam pandanganku”.

 

Dan beliau juga
berkata : “ketahuilah bahwa perbuatan yang terberat itu ada tiga : “Memiliki
harta sedikit tetapi dermawan. Takut kepada Allah swtdalam kedaaan sepi, dan
mengatakan kebenaran kepada orang yang diharapkan serta ditakuti banyak orang”.

 

Ketaatannya Dan
Ibadahnya Kepada Allah. Tentang ketaatan Imam Syafii dan ibadahnya kepada
Allah, semua orang yang bergaul dengannya, guru maupun murid, tetangga maupun
teman, semuanya mengakuinya.

 

Ar Rabii bin
Sulaiman mengatakan : “Imam Syafii telah mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 60
kali di bulan Ramadhan yang kesemuanya itu terbaca dalam shalatnya”. Dan Imam
Syafii pernah berkata kepadaku : “Semenjak usia 16 tahun aku belum pernah
merasa kenyang, kecuali hanya sekali saja. Karena kenyang itu memberatkan
badan, mengeraskan hati dan dapat menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa
kantuk serta membuat malas seseorang untuk beribadah”.

Rabii juga mengatakan bahwa Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian, bagian
pertama untuk menulis, bagian kedua untuk shalat dan bagian ketiga untuk tidur.

Kedermawanannya

Imam Syafi’i
rahimahullah terkenal dengan kedermawanannya. Hal ini tidak bisa dipungkiri
atau diragukan lagi. Muhammad bin Abdullah Al Misri berkata : “Imam Syafii
adalah orang yang paling dermawan terhadap apa yang dimilikinya”.

Dan Amr bin Sawwad As Sarji berkata : “Imam Syafii adalah orang yang paling
dermawan dalam hal keduniaan. Beliau pernah berkata kepadaku : “Aku pernah
bangkrut sebanyak tiga kali dalam hidupku, sampai aku menjual semua
barang-barang yang aku miliki, baik yang mahal maupun yang murah, juga perhiasan
anak dan istriku tetapi aku belum pernah menggadaikannya””.

 

Muhammad Al
Busti As Sajastani juga mengatakan : “Imam Syafi’i rahimahullah belum pernah
menyimpan sesuatu karena kedermawanannya”. Al Humaidi juga berkata tentang
Syafi’i ketika beliau datang dari Makkah, Imam Syafii membawa uang sebanyak
10.000 dinar, kemudian bermukim di pinggiran kota Makkah, dan dibagi-bagikan
uang itu kepada orang yang mengunjunginya. Dan ketika beliau meninggalkan tempat
itu uangnya sudah habis.

 

Ar Rabbii’
menambahkan tentang hal ini : “Seandainya Imam Syafi’i didatangi oleh seseorang
untuk meminta kepadanya, maka wajahnya merah karena malu kepada orang tersebut,
lalu dengan cepat dia akan memberinya”.

Bukti-bukti tentang kedermawanan Imam Syafi’i rahimahullah banyak sekali dan
tidak mungkin untuk mengungkapkannya di dalam lembaran yang pendek ini.

Wafatnya Imam Syafi’i rahimahullah Di Mesir (Di Fisthath) Tahun 204 H
Al Muzni berkata ketika aku mengunjungi beliau yang sakit yang tidak lama
kemudian beliau meninggal, aku bertanya kepadanya bagaimana keadaanmu? Beliau
menjawab : “Tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, meninggalkan
saudara-saudaraku dan akan menjumpai Allah swt. Aku tidak tahu apakah aku masuk
surga atau neraka”. Kemudian beliau menangis dan mengucapkan sebuah sya’ir

 

"Falamma
kosaa kalbii wa dookot madzahidii

ja’altu rajaai
nahwa ‘afwika sullamaa"

 

“ketika hatiku
membeku dan menyempit semua jalan bagiku,

aku jadikan
harapanku sebagai tangga untuk menuju ampunanMu”.

 

Rabii’ bin Sulaiman
berkata : “Al Imam Syafi’i meningl dunia pada malam jum’at, sehabis isya’ akhir
bulan Rajab. Kami menguburkannya pada hari jum’at, dan ketika kami meninggalkan
pemakaman itu kami melihat bulan (hilal) Sya’ban 204”.

 

Ar Rabbii’
bercerita : “Beberapa hari setelah berpulangnya Imam Syafi’i rahimahullah ke
Rahmatullah dan ketika itu kami sedang duduk berkeliling seperti tatkala Imam
Syafi’i masih hidup, datang seorang badui dan bertanya : “Dimana matahari dan
bulan (yaitu Imam Syafi’i) yang selalu hadir di tengah-tengah kalian?” kami
menjawab : “Beliau telah wafat” kemudian orang itu menangis tersedu-sedu seraya
berkata : “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, sesungguhnya beliau
dengan kata-kata yang indah telah membuka bukti-bukti yang dahulu tidak pernah
kita ketahui. Dan mampu membuat bungkam musuh-musuhnya dengan bukti yang benar.
Serta telah mencuci besih wajah-wajah yang menghitam karena aib dan membuka
pintu-pintu yang dulu tertutup dengan pendapat-pendapatnya”. Setelah berucap
kata-kata itu dia meninggalkan tempat itu”.

 

Ibnu Khollikan
(penulis buku Wafiati A’yan) berkata : “Seluruh ulama’ hadits, fiqhi, usul,
lughah, nahwu dan lain-lain sepakat bahwa Al Imam Syafi’i rahimahullah adalah
orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, amanatnya, adilnya, zuhudnya,
taatnya, akhlaqnya, kedermawannya dan kewibawaannya dikalangan para ulama’”.

 

Abu Hasan Al
Razi berkata : “Aku belum pernah melihat Muhammad Al Hasan mengagungkan seorang
ulama’ seperti dia mengagungkan Al Imam Syafi’i rahimahullah.”.

Abdullah din Ahmad bin Hambal betanya kepada ayahnya : “Ayah, bagaimana Imam
Syafi’i itu? Aku sering kali melihatmu mendoakannya”.

 

Imam Ahmad bin
hambal menjawab : “ketahuilah anakku, bahwa Imam Syafi’i itu ibarat matahari
bagi dunia dan kesehatan bagi manusia. Seandainya keduanya itu tidak ada,
bagaimana mungkin dapat digantikannya dengan yang lain?”.

Maraji’:
- Diwan Asy Syafi’i.

- Tarikh Al
Mudzahib Al Islamiyyah oleh Asy Syaikh Muhammad Abu Zuhroh.
- Sifat Shalat Nabi saw karya Syaikh Muhammad Nashirudin Albani

 

 

 

 

Biografi Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di

Friday, January 26th, 2007

(Buah pena seorang muridnya)

Penerjemah: Abu Muslih Ari
Wahyudi (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)

Diambil dari kitab Al
Mukhtaraat Al Jaaliyah, karya Syaikh As Sa’di cetakan Mu’assasah as-Sa’diyah,
disertai beberapa penambahan

Beliau adalah Al ‘Allamah
(seorang yang sangat dalam ilmunya) yang memiliki sifat wara’ (hati-hati),
zuhud, pengingat akan generasi salaf asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin
Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan di kota
‘Unaizah di wilayah Qashim pada tahun 1307 hijriah, ibundanya telah meninggal
pada saat beliau masih berumur 4 tahun, lalu ayahandanya juga meninggal pada
tahun 1314 H ketika beliau menginjak umur 8 tahun, dan kemudian istri ayahnya
(ibu tiri beliau) memberikan perhatian yang besar kepada beliau, sehingga
beliau amat disayanginya melebihi kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri,
demikian pula saudaranya, Hamad dirawat olehnya, sehingga tumbuhlah Syaikh
dengan baik. Beliau pun memasuki madrasah tahfizh/penghafal Quran dan sudah
bisa menghafalnya dalam umur 11 tahun, dan beliau mampu menghafal Al Quran di
luar kepala ketika mencapai umur 14 tahun.

Guru-Guru Beliau

Setelah beliau bisa menghafalkan
Al Quran dengan melihat mushaf maupun di luar kepala maka beliau pun
menyibukkan diri dengan menuntut ilmu syar’i, beliau membaca pelajaran Hadits
kepada Ibrahim bin Hamd bin Jasir, membaca pelajaran Fikih dan Nahwu kepada
Muhammad bin Abdul Karim Asy Syibl, membaca pelajaran tauhid, tafsir, fikih dan
ushul fikih, dan juga nahwu kepada Syaikh Shalih bin Utsman Qadhi di ‘Unaizah
beliaulah guru yang paling banyak ditimba ilmunya oleh Syaikh, beliau belajar
secara terus menerus kepadanya sampai tamat hingga ia wafat. Dan beliau juga
membaca pelajaran kepada Syaikh Abdullah bin ‘Aidh dan Syaikh Sha’ab bin
Abdullah at-Tuwaijiri, Syaikh Ali as-Sinani, Syaikh Ali bin Nashir Abu Wadi;
beliau membaca pelajaran hadits dan kitab-kitab induk hadits yang enam
kepadanya, maka ia pun memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan
hadits. Beliau juga membaca pelajaran kepada Syaikh Muhammad asy-Syinqithi
ketika masih tinggal di Hijaz dulu, kemudian ia pindah ke kota az-Zubair,
beliau membaca pelajaran tafsir, hadits dan mushthalah hadits kepadanya sewaktu
ia menetap di kota ‘Unaizah.

Beliau Mulai Memberikan
Pelajaran

Ketika umur beliau sudah
mencapai 23 tahun, beliau sudah mulai membuka pelajaran, beliau senantiasa
belajar dan mengajar, dan memanfaatkan waktunya untuk itu. Beliau juga
menggeluti penelitian karya-karya tulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan
karya-karya muridnya Ibnul Qayyim dengan penuh perhatian dan pemahaman,
sehingga beliau sangat banyak mengambil faedah dari karya-karya ini.

Murid-Murid Beliau

Banyak sekali orang yang telah
mengambil ilmu dari beliau, di antara murid beliau yang terkenal adalah sebagai
berikut:

Pertama, Syaikh
Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi dan pernah
ditunjuk sebagai Qadhi tapi ia menolaknya.

Kedua, Syaikh
Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’ yang menjabat sebagai Qadhi di Majma’ah
kemudian di ‘Unaizah.

Ketiga, Syaikh
Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassam salah seorang anggota Lembaga Peneliti di
Propinsi bagian Barat dan juga anggota Lembaga Ulama Besar.

Keempat, Syaikh
Muhammad al-Manshur az-Zamil yang mengajar di Ma’had ‘Unaizah al-‘Ilmi.
Kelima, Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil seorang pengajar di
Ma’had ‘Unaizah, ia adalah warga Nejed yang paling mengerti ilmu Nahwu di
masanya.
Keenam, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ustadz di
Jami’ah Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah di Qashim dan menjadi pengganti gurunya
sebagai imam di Masjid Jami’ di ‘Unaizah, beliau juga termasuk salah seorang
anggota Lembaga Ulama Besar.
Ketujuh, Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil salah
seorang anggota Lembaga Fatwa dan pemimpin Lembaga Ilmiah Mandiri setelah
meninggalnya pemimpin kehakiman yang sebelumnya.

Kedelapan,
Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di Makkah
al-Mukarramah.

Kesembilan,
Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di
‘Unaizah. Beliau rohimahulloh memiliki banyak murid selain mereka yang telah
disebutkan, saya tidak bisa memperkenalkannya satu persatu di sini.

Karya-Karya Beliau

Beliau telah menulis banyak
karya yang bermanfaat, kami sebutkan sebagiannya berikut ini:

Tafsir Al Quran Al Karim yang
bernama Taisir Karim al-Mannan fii Tafsir Al Quran (Mungkin maksudnya Taisir
Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, pent.) yang berjumlah 8 jilid,
beliau selesai menulisnya pada tahun 1344 H yang telah diterbitkan oleh
Maktabah Salafiyah di Mesir.

Hasyiyah ‘alal Fiqh sebagai
koreksi atas berbagai kitab yang tersebar dan pernah ditulis di kalangan mazhab
Hambali.

Irsyad Ulil Basha’ir wal Albab
li Ma’rifatil Fiqh bi Aqrabi Thuruq wa Aisaril Asbab yang disusun dalam bentuk
tanya jawab. Buku ini dicetak di Maktabah At Taraqi di Damaskus pada tahun 1365
H dengan biaya penulis dan dibagi-bagikan secara gratis.

Tanzih ad-Din wa Hamlatihi wa
Rijalihi min Maftarahu Al Qashimi fi Aghlalihi. Buku ini dicetak di Dar Ihya
al-Kitab al-Arabi dengan biaya seorang pejabat Hijaz Syaikh Muhammad Afandi
Nashif pada tahun 1366 H.

Ad Durrah Al Mukhtasharah fi
Mahasinil Islam, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Khuthab Al ‘Ashriyah dicetak
di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Qawa’idul Hisan fi Tafsiril
Quran, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Haq Al Wadhih Al Mubin fi
Syarhi Tauhid Al Anbiya’ wal Mursalin, ia merupakan penjelasan Nuniyah karya
Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh, dicetak di Percetakan As Salafiyah di Mesir.

Taudhihul Kafiyah asy-Syafiyah,
dicetak di percetakan as-Salafiyah di Mesir.

Wujubut Ta’awun bainal Muslimin
wa Maudhu’ul Jihad ad-Dini, dicetak di Percetakan as-Salafiyah di Mesir dengan
biaya penulis.

Al Qaul As Sadid fi Maqashid At
Tauhid, dicetak di Percetakan Al Imam, dengan biaya dari Abdul Muhsin Aba
Bathin pada tahun 1367 H.

Manhaj As Salikin sebuah
ringkasan dalam ilmu Ushul Fiqih.

Taisir Lathif Al Mannan fi
Khulashati Tafsir Al Quran, dicetak percetakan Al Imam di Mesir pada tahun 1368
H dengan biaya dari penulis dan sekelompok donatur.

Dan kitab-kitab lainnya seperti:

1. Ar-Riyadh an-Nadhirah
2. Bahjatu Qulub al-Abrar
3. Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam
4. Al-Fawakih asy-Syahiyah fil Khuthab al-Minbariyah
5. Manhaj as-Salikin wa Taudhih al-Fiqh fi ad-Din
6. Thariq al-Wushul ila Ilmi al-Ma’mul bi ma’rifati qawa’id wa Dhawabith wal
Ushul
7. Ad-Din ash-Shahih yahullu Jami’al Masyakil
8. Al-Furuq wa Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah
9. Al-Adillah al-Qawathi’ wal barahin fi Ibthali Ushul al-Mulhidin
10. Fawa’id Mustanbithah
11. Al-Wasa’il al-Mufidah
12. Syuruh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah allati Radda biha ‘alal Qadariyah
13. Al-Fatawa as-Sa’diyah
14. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman
15. Fathu Rabb al-Hamid fi Ushulil ‘Aqa’id wa Tauhid
16. Ad-Dala’il al-Quraniyah
17. At-Tanbihat al-Lathifah ‘ala mahtawat ‘alaihi Al-Wasithiyah fil Mabahits
al-Munifah
18. Su’al wa Jawab bi Ahammil Muhimmat

Beliau Jatuh Sakit

Pada tahun 1371 H beliau
tertimpa sakit tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah sehingga membuat
sekujur tubuh beliau menggigil apabila berbicara selama beberapa jam, maka
beliau menghentikan aktivitasnya, apabila membaca Al Quran lalu berbicara maka
kembalilah kondisinya seperti biasanya. Dengan kondisi seperti itu beliau
berangkat ke Libanon pada tahun 1372 H berkat pembiayaan dari Pemerintah Saudi
Arabia, semoga Alloh memperkuatnya, beliau tinggal di Libanon selama sebulan
demi menjalani terapi sehingga Alloh mengaruniakan kesembuhan kepadanya.

Sesudah kembali ke

kota

‘Unaizah beliau
langsung meneruskan aktivitas-aktivitasnya yang dahulu ditekuninya sebelum
jatuh sakit yaitu memberikan pelajaran, berfatwa, menulis, berkhutbah Jum’at,
menjadi imam sholat. Maka sakitnya kembali kambuh. Pada bulan Jumadil Akhirah
tahun 1376 H beliau merasakan kembali penyakit yang dulu pernah menimpanya
dengan ditambah suhu tubuh yang mendingin dan badannya menggigil pada malam
Rabu tanggal 22 di bulan tersebut pada tahun 1376 H itu terjadi sesudah beliau
selesai mengajar yang biasa dilakukannya, seperti pengajian-pengajian beliau
yang lainnya. Beliau menyampaikan pelajaran di hadapan jamaah di mesjid, dan
sesudah memberikan pelajaran tiba-tiba beliau merasakan berat dan tubuhnya
tidak bisa digerakkan. Sesudah sholat selesai beliau mengisyaratkan kepada
sebagian muridnya untuk menyangga tangannya dan pergi menuntun beliau kembali
ke rumahnya. Maka hal itu dilakukan sehingga bangkitlah beberapa orang dari
hadirin untuk memapah beliau, dalam perjalanan ke rumah beliau sudah pingsan di
tengah jalan. Sesudah itu beliau rohimahulloh kembali siuman dan beliau memuji
dan bersyukur kepada Alloh dan bercakap-cakap bersama para hadirin dengan
pembicaraan baik dan menyenangkan lalu beliau kembali jatuh pingsan sehingga
tidak berbicara lagi sesudah itu, tatkala tiba hari Rabu pagi mereka pun
memanggil dokter. Dokter itu mendiagnosa penyakit beliau dan berkesimpulan
bahwa beliau menderita pendarahan di otak, apabila hal itu tidak segera
ditangani maka beliau terancam maut, maka dengan segera mereka menelegram
kepada Raja Saudi.

Perawatan kepada beliau segera
dilakukan dengan berbagai cara yang bisa ditempuh, sampai-sampai sebuah pesawat
dengan membawa para dokter dan perawat sudah akan diberangkatkan menuju kota
‘Unaizah, akan tetapi ketika itu cuaca sangat buruk, langit dipenuhi mendung,
petir dan kilat menyambar-nyambar, angin bertiup sangat kencang sehingga
menyebabkan pesawat tidak bisa lepas landas dari bandara, maka beliau
rohimahulloh wafat di saat fajar hari Kamis yang bertepatan dengan 23 Jumadil
Akhirah tahun 1376 H. Orang-orang pun tertimpa musibah dengan wafatnya beliau,
air mata pun mengalir, hati-hati manusia tergetar karenanya, banyak sekali
orang yang turut mensholati jenazahnya sesudah sholat Zhuhur di hari Kamis dalam
sebuah perkumpulan manusia yang sangat besar yang belum pernah disaksikan
semisalnya di ‘Unaizah. Sehingga Masjid Jami’ penuh dengan orang-orang yang
sholat jenazah dan para pelayat, mata-mata mereka berlinang air mata dan
lisan-lisan pun ikut serta mendoakan rahmat baginya, mereka memohonkan ampunan
dan keridhoan baginya. Setelah selesai sholat, jenazahnya dipanggul di atas
pundak-pundak dengan berdesak-desakan menuju pekuburan Asy Syahwaniyah sebuah
pekuburan yang cukup dikenal di

kota

‘Unaizah.

Sesudah itu berbagai telepon dan
telegram ta’ziah datang dari berbagai penjuru negeri. Beliau telah mewariskan
peninggalan (ilmu) yang sangat banyak sulit untuk dihitung. Beliau meninggalkan
tiga orang putra, mereka adalah: Abdullah, Muhammad dan Ahmad. Semoga Alloh
mengampuni Syaikh yang sedang ditulis biografinya ini Abdur-Rahman bin Nashir
as-Sa’di, semoga Alloh merahmati dan memaafkan beliau, sesungguhnya beliau
termasuk ulama yang memiliki sifat wara’/hati-hati, salawat dan keselamatan
sebanyak-banyaknya semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, pengikut dan
seluruh sahabatnya, tercurah hingga hari kiamat.

Diterjemahkan dari Taisir
Lathifil Mannaan, hal. 5-12 Penerbit Maktabah Ar Rusyd,

Riyadh

Saudi Arabia

.

http://muslim.or.id/?p=599