Archive for February, 2007

Saudaraku…. Sudahkah Engkau Ikhlaskan Seluruh Perbuatanmu

Saturday, February 17th, 2007

Seringkali kita mendengarkan sebagian orang
mengatakan perkataan seperti “ saya mah
ikhlas kalo di apa-apain.. ”
atau juga perkataan “ saya gak ikhlas kalo dia sampai melakukan hal itu…” dan perkataan-perkataan
lainnya yang semisal dengan itu. Umumnya pula masyarakat muslim di sekitar kita
pun tidak mengerti dan memahami apa itu ikhlas yang sebenarnya dan bagaimanakah
sesuatu dapat diakatakan ikhlas, maupun bagaimanakah pula caranya seseorang dapat
menggapai predikat ikhlas. Sehingga pernah ada suatu film yang mengangkat tema
ini, yang bercerita tentang seorang pria dimana ia berkeinginan untuk menikahi seorang
gadis, namun sebelum dapat menikahinya si pria di haruskan oleh orang tua si
gadis untuk dapat memiliki ilmu ikhlas.

 

Definisi ikhlas adalah memurnikan tujuan
bertaqarrub kepada Alloh azza wa jalla dari hal-hal yang mengotorinya. Arti
lainnya; menjadikan Alloh azza wa jalla sebagai satu-satunya tujuan dalam
segala bentuk ketaatan. Atau; mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu
berkonsentrasi kepada Al Khaliq. ( Tazkiyatun Nafs, Dr Ahmad Farid. Hal 1 )

 

Alloh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang
keikkhlasan di beberapa tempat di dalam Al Qur’an, diantaranya :

 


Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan
(katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah
Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah
menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)"
. (QS.
Al A’raaf : 29)

 

Di ayat yang lain Alloh berfirman :

 


Dan (aku Telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus
dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.”
( QS. Yunus : 105 )

 

Dan masih ada beberapa tempat lain di dalam Al
Qur’an yang menyebutkan tentang keutamaan ikhlas diantaranya, QS. Al Mukminuun
: 14 dan 65, QS. Az Zumar : 2 dan
11, QS. At Tahrim : 8, maupun ayat yang
paling masyhur dan sering diucapkan oleh para da’i di dalam tiap khutbahnya
yaitu QS. Al Bayyinah : 5.

 

Sebagian ‘ulama seperti Al Imam Fudhail bin Iyadh
dan Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan ikhlas termasuk merupakan syarat
diterimanya amal dan ibadah. Keikhlasan disandingkan dengan ittiba’ yaitu
mengikuti dengan benar apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahahu
‘alaihi wa sallam. Keikhlasan memiliki derajat yang agung dan kedudukan yang
tinggi, sehingga Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada saat
haji Wada’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallohu
‘anhu yaitu :

 


Semoga Alloh mencerahkan orang yang mendengar kata-kataku lalu menjaganya.
Betapa banyak orang yang membawa pemahaman, tetapi ia sendiri tidak paham. Tiga
hal yang seorang mukmin tidak akan dengki terhadapnya; mengikhlaskan amal
kepada Alloh, memberikan loyalitas kepada para pemimpin kaum muslimin, dan
selalu bergabung dengan jama’ah mereka. “
( HR. Al Bazzaar ) [1]

 

Setidaknya kita pun pernah mendengar hadist yang
berbunyi tentang ketiga manusia yang dilemparkan oleh Alloh kedalam neraka
disebabkan amalan-amalan yang dilakukan oleh mereka tidak diniatkan ikhlas
karena Alloh. Diantaranya ialah seorang qari’ yang membaca Al Qur’an hanya
untuk dikatakan bahwa ia adalah seorang yang bagus bacaanyna, adapula seorang mujahid
yang hanya ingin dipanggil sebagai mujahid / pahlawan dan jihadnya itu tidak
dilakukan karena Alloh, adapula seorang dermawan yang hanya ingin dipanggil
sebagai orang yang baik dan hanya ingin diketahui oleh orang banyak bahwa ia
adalah seorang dermawan.

 

Telah banyak atsar dan qaulus salaf tentang
perkataan-perkataan yang menyatakan tentang keutamaan ikhlas, diantaranya :

 

Dari Musa bin Al Mu’alla, dia berkata : Hudzaifah
berkata : “ Wahai Musa, ada tiga hal
jika ketiuganya berada dalam dirimu maka tidak akan ada kebaikan yang turun
dari langit kecuali hanya yang memang telah menjadi bagianmu. Pertama,
hendaklah amal perbuatanmu ikhlas karena Alloh azza wa jalla. Kedua, hendaklah
kamu mencintai manusia sebagaimana ketika kamu mencintai dirimu sendiri.
Ketiga, hendaklah kamu mencari makananmu yang halal. “ ( Shifatush Shafwah IV /
269, Karya Abul Faraj Ali bin Al Jauzi ).

 

Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata : Hamdun bin
Ahmad pernah ditanya : “ Mengapa perkataan orang-orang salaf bisa lebih
bermanfaat dibandingkan dengan perkataan kita ?” Dia ( Hamdun bin Ahmad )
menjawab : “ Sebab mereka berbicara atas nama kejayaan Islam, dengan jiwa yang
murni dan karena mencari ridha Dzat Yang Maha Pengasih. Sedangkan kita
berbicara berdasarkan kejayaan pribadi, mencari dunia dan untuk mencari ridha
makhluk. “ ( Shifatush Shafwah IV / 122 ).

 

Demikianlah sebagian dari perkataan teladan yang
telah mendahului kita, dimana mereka ( para salafush shaleh )melakukan segala
hal di dalam kehidupan mereka semata-mata hanya dilakukan untuk mengharapkan
Wajah Alloh… dan saat ini pula sebagian ‘Aimmah Ahlusunnah yang hidup pada
zaman mutaakhirin semisal Asy Syaikh Ibnu Baaz, Asy Syaikh Nashiruddin Al
Albani, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin, Asy Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi,
dan selainnya. Senantiasa melakukan selruh amalannya hanya untuk Alloh dan
mengharapkan hanya RidhaNya. Setidaknya hal ini dapat kita temukan dalam
berbagai mukaddimah kitab mereka yang terkadang berbunyi “ Semoga Alloh menjadikan amalanku hanya
untuk mengharapkan WajahNya saja “

 

Lantas saudaraku, sudahkah saat ini kita telah
melakukan hal yang sama dengan senantiasa menjaga segala bentuk amalan kita
dari riya’, sum’ah, dan penyakit hati lainnya yang dapat menjadi sebab
terhalangnya keridhaan Alloh kepada para hambaNya.

 

Yaa…keikhlasan yang tumbuh dari dalam diri dan
tidak hanya sekedar perkataan tanpa arti dan makna. Dan jadikanlah pembeda
dalam ucapanmu antara kerelaan dengan keikhlasan. Sebab keikhlasan adalah
merupakan amalan hati dan hanya Allohlah yang tahu apakah ia itu ikhlas ataupun
tidak.

 

Semoga kita semua terlindung dari hal seperti itu
dan Alloh menjaga kita dan hati kita agar tetap di dalam keikhlasan dalam
beribadah kepadaNya. 

 

Wallahul Muwaffiq..

 

Maraji’

 

Dimana
Posisi Kita Pada Kalangan Salaf
, Abdul ‘Aziz bin Nashirul Jalil & Bahauddin bin Fatih ‘Aqil.
Penterjemah Wawan Djunaedi,  Penerbit Pustaka
Azzam.

Tazkiyatun
Nafs
,  Dr. Ahmad Farid. Penterjemah Imtihan Asy Syafi’i,
Penerbit Pustaka Arafah

Catatan Kaki


[1] HR. Al Bazzaar dengan isnad hasan
dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya. Hadist ini shahih, dan diriwayatkan juga
oleh Ibnu Majah dari berbagai jalan, As Sundiy berkata, “sebagian hadist ini
telah diperbincangkan dalam Az Zawaaid.
Akan tetapi matan-matannya nyata-nyata benar dari para imam. ( I / 104 ) Ibnu
Hibban mencantumkan hadist ini dalam Al
Mawaarid
hal 47 dari sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu. Wallahu
‘alam

Murrabi’… Sekarang Aku Telah Menemukan Kebenaran Itu

Tuesday, February 13th, 2007

( bagian kedua dari serial ‘Kembalilah Murrabi’ku’,
tulisan sebelumnya adalah ‘Pesan Singkat Untuk Murrabi’ku’ bagi yang belum
mengikutinya dapat dibaca  di sini
)

 

Alhamdulillah..ini mungkin surat kedua yang aku
tujukkan untukmu, guruku sekaligus sahabatku tersayang. Oh iya semoga engkau
telah membaca suratku sebelumnya dan semoga pula kau tak merasakan keheranan
ataupun terkejut sebelumnya.

 

Akhi / ukhti murabbi’ku.. aku telah mengetahui dan
mengikuti kajian yang dikatakan penuh dengan kebenaran itu, dan aku sangat
merasakan hal yang berbeda di dalam kajian itu. Kenapa yaa..?? mungkin karena
ini kali pertama aku merasakan sebuah sensasi baru dalam kehidupan keislamanku.

 

Akhi / ukhti murabbi’ku.. sebenarnya aku sangat
riskan untuk mengatakan ini. Hal ini terjadi ketika aku baru pertama kalinya
memasuki majelis kajian itu. Entah mengapa yaa..?? saat itu aku sendirian
memasukinya dan merasakan hatiku penuh dengan gejolak yang semakin lama,
semakin terus berkecamuk di dalam dadaku ini.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. sungguh kudapati kajian
yang penuh ilmu, perkataannya tak pernah keluar dari apa yang difirmankan oleh
Alloh dan apa yang dikatakan oleh RasulNya, selain itu pula aku temukan di
dalamnya para ustadznya (begitu mereka menyebutnya) tidak termakan dengan
isu-isu yang terjadi di luaran sana.. seakan-akan dalam kajian ini terdapat
keteduhan dan sajiannya tidak terlepas dari sesuatu yang melalaikan dan
merugikan.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. mengapa ketika ku disana
aku menemukan sesuatu yang berbeda di bandingkan dengan halaqoh kita, tidak
sekalipun mereka mengatakan tentang sesuatu berdasarkan kehendak dan dari akal
pikiran mereka, ketika itu juga bila bersamamu halaqoh kita terfokus pada
tarbiyah. Maka kali ini lain, kali ini kajian yang ada memfokuskan kepada dua
hal sekaligus yaitu tashfiyah dan tarbiyah.. mengapa seperti itu..?, semoga
nanti aku menemukan jawabannya..

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. sungguh aku sangat ingin
untuk mengajakmu dan sahabat kita yang lain untuk duduk di kajian itu, bersama
saudara muslim yang lain menikmati indahnya untaian perkataan-perkataan yang
bermanfaat dari Alloh dan RasulNya dengan pemahaman generasi yang sesungguhnya
merasakan kemenangan, yaa… generasi  yang
penuh dengan kegemilangan dan kebenaran dibawah bimbingan hamba Alloh yang
paling dicintaiNya alaihimush shalatu wa sallam.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. ikutlah dikajian itu
niscaya engkau, aku, dan sahabat yang lain akan merasakan sesuatu yang
subhanallah…. membuat mataku semakin berkaca-kaca dan merasakan kegembiraan
yang nyata. Sebagaimana ketika dahulu aku menemukan halaqoh yang di bina
olehmu..

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. mari kita bersama ikuti
kajian itu, mari bersama pula kita memfokuskan kepada ilmu yang bermanfaat dan
pemahaman yang benar, mari bersama juga kita menuntut ilmu yang diridhai oleh
Alloh.. majelis yang penuh dengan dzikrullah.. majelis yang dipenuhi oleh para
malaikat yang membentangkan sayapnya.. majelis yang diisi oleh orang-orang yang
semangat untuk bersegera kepada kebaikan..majelis yang penuh dengan hamba-hamba
Alloh yang zuhud..hamba Alloh yang wara’.. dan hamba Alloh yang senantiasa haus
dengan ilmu syar’i berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasululloh shallahu
‘alaihi wa sallam.

 

Akhi / ukhti murrabi’ku.. aku berharap kepada
Alloh, semoga surat ini dapat membuat dirimu menemui kebenaran yang selalu
engkau rindui.. akhi / ukhti buanglah terlebih dahulu prasangka yang
menyelimuti qalbumu terhadap kajian penuh ilmu ini.. jauhkan pula segala bentuk
caci-maki yang pernah kau lontarkan kepada saudara-saudara muslim kita selagi
dahulu.. toh buktinya murrabi’ku, di kajian yang pernah kau caci dan sering kau
ghibahi ini tersimpan ilmu yang ternyata kita belum pernah mengetahuinya.

 

“…
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak Mengetahui.”
( QS. Al - Baqarah : 216 )

 

 

Silaturahmi Akbar, Ulama dan Ummat 4

Monday, February 5th, 2007

HADIRILAH!
TERBUKA UNTUK UMUM


Silaturahmi Akbar
ULAMA & UMMAT


SEBAB-SEBAB TURUNNYA MUSIBAH DAN AZAB SERTA JALAN
KELUARNYA

Bersama Ulama Ahli Hadits dari Yordania
Murid-murid senior Syaikh Al-Albani rahimahullah

Syaikh Salim Bin ‘Ied al-Hilali
Syaikh Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid al-Halabi
Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nashr

Masjid ISTIQLAL, Jakarta
Sabtu, 10 Februari 2007
09.00 - Dhuhur

Hadiri pula Silaturahmi & Tabligh Akbar :


KEMBALI kepada Al-QUR’AN & AS-SUNNAH
DENGAN PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH

Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara
Ahad, 11 Februari 20007
09.00 - Dzuhur

RUTE ANGKUTAN UMUM ke Jakarta Islamic Centre:

KP.
Rambutan PAC07/P8,

Cawang/Cililitan
P8A,

Blok
M PAC65/P89


Ciputat PAC135,

Bekasi
PAC25/P40,

Cikarang
Mayaraya,


Cikampek Warga Baru,

Tangerang
Bus AJA


Kemudian naik KWK 06, Jurusan Semper, turun di JIC

Informasi:
0815 8863 543
0812 9040 267
0812 1055 616
0812 1055 891

Penyelenggara:
Yayasan Imam Bukhari,

Jakarta

Yayasan Minhajus Sunnah,

Bogor