Archive for March, 2007

Kajian di UIN Jakarta

Sunday, March 4th, 2007

Hadirilah Kajian Islam Ilmiah

 

Dengan
Kitab

 

Syarh
Ushul Tsalatsah

( Karya,
Asy Syaikh Faqihul Ashr Muhammad bin Shalih Al Utsaimin )

 

Bersama  : Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdulrahman

 

Hari   :  Senin,
Insya Alloh Rutin

 

Waktu   :  Ba’da
Ashar / 16.00 WIC

 

Tempat : Masjid Al
Jamiah Student Center Universitas Islam Negeri Jakarta. Lantai Atas, Hijab
Berwarna Hijau

( tanpa pengeras suara ).

 

Terbuka Untuk Umum

Ikhwan & Akhowat

 

Penyelenggara ;

 

FKI ASY SYIFA UIN
JAKARTA

 

( Berdakwah
Ditengah Syubhat, Istiqomah Diatas Sunnah )

 

Contact Person
:

 


Abu Yahya Rizki : 0856 780 3627

 

Mirta E Fahmy : 0813 808 25347


 

 

Kemuliaan Ilmu dan Pentingna Berilmu

Thursday, March 1st, 2007

Muadz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu berkata :

 

“ Belajarlah kalian akan ilmu, karena
mempelajarinya karena Alloh merupakan khasy-yah
(yakut) kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mempelajarinya kembali ilmu itu
adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, dan mengajarkannya kepada orang yang
belum tahu adalah shadaqah. Karena ilmu itu adalah petunjuk halal dan haram dan
petunjuk jalan ahli surga. Ilmu itu penghibur di saat takut, teman di saat
asing, teman bicara disaat sendiri, pedang yang menebas musuh, dan sebagai
perhiasan disaat kosong (tak punya perhiasan apapun).

 

Dengan ilmu ini, Alloh mengangkat derajat suatu
kaum sehingga Alloh jadikan mereka sebagai panutan dalam kebaikan, sebagai imam
(pemimpin) yang diikuti jejaknya, tindak-tanduknya mereka ditauladani dan
pemikiran mereka selalu dijadikan pegangan.

 

Malaikat senang menjadi sahabat karib mereka
(penuntut ilmu, pen) dan meletakkan sayap-sayapnya untuk mengagungkan mereka
(penuntut ilmu, pen). Seluruh yang basah maupun yang kering dan ikan-ikan di
laut berikut binatang buasnya dan binatang-binatang ternak, semuanya memintakan
ampun buat mereka (penuntut ilmu, pen). Karena ilmu itu penghidup hati yang
bodoh dan penerang bagi pandangan yang gelap. Dengan ilmu ini seorang hamba
bisa sampai kepada kedudukkan orang-orang pilihan dan derajat yang tinggi di
dunia dan akhirat.

 

Tafakkur dalam ilmu sama halnya dengan puasa dan
mempelajarinya sama halnya dengan qiyamullail. Dengan ilmu ini silaturahmi
tersambung dan dengannya-lah diketahui mana yang halal dan mana yang haram. Ilmu adalah imam bagi
amal, sedangkan amal pengikutnya, orang-orang yang diberi ilmu (dan
mengamalkannya) adalah orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang diharamkan
dari ilmu adalah orang yang bahagia. “

 

( Jami’
Bayanil Ilmi wal Fadhlihi
1 / 54-55, Al Imam Ibnu Abdil Barr )  

Meraih Kemulian Dengan Kemurnian Tauhid

Thursday, March 1st, 2007

Prolog

 

Thayyib, awalnya tulisan ini mau saya beri judul La Izzata Ila bi At Tauhid, dengan
maksud untuk mendahulukan segala aspek dakwah, muamalah, ibadah, dan urusan
syari’ah lainnya kepada tauhid, dan tidak memulainya dengan aspek yang lain
dalam membenahi ummat. Dimana kita bisa melihat sebagian besar saudara kita
muslim, sangat menggebu-gebu dan bersemangat dalam berupaya untuk mendirikan daulah
Islam. Namun sangat disayangkan sebagian dari mereka justru tidak menyoroti hal
ini ( tauhid ) lebih awal sebagai prioritas utama. Melainkan mereka ingin
menjadikan Jihad, Daulah, Khilafah dan sebagainya sebagai prioritas utama.

 

Sehingga sangat disayangkan sekali, seandainya
saja mereka mau merenungi dan menggunakan seluruh semangatnya tidak untuk
hal-hal yang mubazir terlebih laisa minal
Islam
( bukan dari Islam ), maka Insya Alloh kita akan dapat menyaksikan
dan menyongsong kejayaan ummat lebih cepat dan menuai buah yang sempurna,
dengan kokohnya akar keimanan dan terpancangnya batang kemurnian secara
paripurna.

 

Selamat menikmati tulisan ini, semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca.

 

Pembahasan

 

Tauhid, adalah sesuatu yang paling mulia dan
merupakan suatu prioritas yang paling utama dan paling awal dalam Islam. Dakwah
seluruh Rasul dan Anbiya pertamakali ialah tentang At Tauhid, tentang
mengesakan Alloh menjadi satu-satunya Dzat Yang Berhak Diibadahi oleh kaum
muslimin dan menafikan sembahan-sembahan lain selain Alloh yaitu At Thaghut.

 

Ayat-ayat yang mendahulukan tentang wajibnya
mendahulukan tauhid ialah diantaranya sangat banyak sekali di dalam Al Qur’an,
diantaranya :

 


Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan ( yang berhak
diibadahi)melainkan Alloh. “
( QS. Muhammad : 19 )

 


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat ( untuk
menyerukan ): ‘ Sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah thaghut. “
( QS. An Nahl : 36 )

 

Adapun hadist-hadist yang berkaitan dengan
pembinaan tauhid paling awal pun sangat banyak sekali, diantaranya ialah hadist
yang paling masyhur ialah hadist ketika Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa
sallama mengutus sahabat Muadz bin Jabal radhiayallohu’anhu, beliau shalallahu
‘alaihi wa sallama bersabda :

 


Hendaknya hal pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah persaksian bahwa
tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Alloh saja, maka jika mereka
menta’atimu dalam hal itu …..(dan seterusnya hingga akhir hadist tersebut) “
( Muttafaqun Alaih ).

 

Asy Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani
rahimahullah, mengatakan “ Jalan keluar dari semua problem ummat islam di dunia
modern sekarang ini dan setiap waktu ialah hal yang mengharuskan kita untuk
memulai dengan apa-apa yang telah dimulai oleh Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa
sallama, yaitu pertama-tama memperbaiki apa-apa yang telah rusak dari akidah
kaum muslimin. Dan yang kedua ialah ibadah mereka, sedangkan yang ketiga adalah
akhlak mereka “ ( Tauhid Awwalan Yaa
Duatal Islam
, terjemahan Indonesia. Tauhid
Prioritas Pertama Dan Utama
. hal 9  )

 

Namun belakangan ini munculnya gerakan-gerakan
Islam yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Islam khususnya Indonesia;
membuat ummat semakin bingung dan rancu dengan perkembangan Islam yang
dilakukan oleh antar gerakan islam. Diantara gerakan-gerakan Islam tersebut
justru ada yang memulainya tidak dengan pembinaan tauhid di awal dakwahnya atau
yang lebih dikenal dengan Tashfiyah
dan Tarbiyah, melainkan diantara
mereka justru menganggap hal ini merupakan permasalahan kulit bukan
permasalahan inti. Mereka membagi kondisi ummat ini dan kajiannya dengan
permasalahan inti ( juz’iyyat) dan
kulit (kulliyat). Bahwa memulai
dakwah dengan tauhid adalah sebuah usaha yang sia-sia dan terlalu lambat dalam
memajukan kondisi ummat Islam yang menurut dugaan mereka telah terpuruk.

 

Sehingga akhirnya mereka memulainya dengan
permasalahan-permasalahan yang dapat membangkitkan ghirah ummat dengan cepat.
Maka dihembuskanlah isu-isu tentang daulah
islamiyyah
, jihad fi sabilillah, masa’il waqi’iyyah, dimaqratiyyah harakiyyah, dan hizbiyyah
al jadidah
. Dimana hal itu mereka menganggap dapat mengembalikkan izzah
ummat Islam. Sehingga akhirnya timbullah ketergesa-gesaan dan menimbulkan sikap
saling menggampangkan terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka meremehkan
kaum muslimin yang itisham bi sunnah
dengan sungguh-sungguh dan terkadang mencibir dengan pandangan yang miris dan
meremehkan dakwah kepada islam yang sebenarnya dengan tuduhan-tuduhan keji,
jelek, dan kotor. Maka ketahuilah sesungguhnya usaha-usaha yang dilakukan oleh
gerakan-gerakan dakwah Islam saat ini tidak akan berhasil dengan paripurna dan
sempurna sebelum mereka kembali mendakwahkan tauhid terlebih dahulu diantara
masalah lainnya. Sebab tauhidlah seperti apa yang dikatakan di awal inti dakwah
para Nabi alaihimush shalatu wa sallam hingga akhir hayatnya.

 

Maka ketahui pula apabila dalam suatu masyarakat
telah terciptanya kekokohan tauhid dan keimanan mereka telah kuat dan tak mudah
goyah dengan segala macam syubhat niscaya Alloh akan menurunkan keberkahan pada
penduduk tersebut, sebagaimana firman alloh subhanahu wa ta’ala “

 

Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..”
 ( QS. Al A’raaf : 96 )

 

Kejayaan ummat Islam akan kembali bila mengikuti
generasi awal yang telah baik. Seperti  apa yang pernah dikatakan oleh Al Imam Malik
rahimahullah dalam memberikan solusi agar kejayaan Islam dapat kembali kepada
izzahnya. Perkataan beliau rahimahullah ialah “ tidak akan baik akhir ummat ini, sebelum kembali kepada apa-apa yang
membuat baik generasi awal ummat ini “
(dinukil oleh Al Imam Asy Syathibi
dalam Al Itishamnya).

 

Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang berfikir
jernih dan memiliki keyakinan dalam mencari sebuah kebenaran. Sudah sepantasnya
mereka memulai dakwahnya dan amal kesehariannya pertamakali ialah tauhid.
Tauhidlah jalan awal yang menjadi landasan bagi setiap muslim dalam
kehidupannya.

 

Wallahul muwaffiq.