SYAIR AQIDAH MUSLIM

January 29th, 2007 by adjhee

                                    
( dalam kitab
“ Manhaj Firqatun Najiyah “ hal 140-141 ; karya Asy Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Hafidzahulloh, yang beliau kutip dari Syaikh Mulla ‘Umran )

 

Jika pengikut
Ahmad adalah Wahabi,

maka aku akui
bahwa diriku wahabi.

Kutiadakan sekutu
bagi Tuhan,

maka tak ada
Tuhan bagiku

selain Yang Maha
Esa dan Maha Pemberi.

 

Tak ada kubah
yang bisa diharap,

tidak pula
berhala,

dan kuburan
tidaklah sebab diantara penyebab.

Tidak, sama
sekali tidak,

tidak pula batu,
pohon, mata air[1] atau
patung-patung.

 

Juga, aku tidak
mengalungkan jimat,

temali, rumah
kerang

atau taring,

untuk
mengharapkan manfaat, atau menolak bala

Alloh yang
memberiku manfaat dan menolak bahaya dariku.

 

Adapun bid’ah
dan segala perkara yang di ada-adakan

dalam agama

maka orang-orang
berakal mengingkarinya.

 

Aku berharap,

semoga ku tak

kan

mendekatinya

tidak pula rela
secara agama,

ia tidak benar.

 

Dan aku
berlindung dari Jahmiyah[2]

Aku mencela
perselisihan setiap ahli takwil dan peragu-ragu,

serta yang
mengingkari istiwa’[3]

 

Tentangnya,

cukuplah bagiku
teladan dari

ucapan para
pemimpin yang mulia ;

Syafi’i, Malik,
Abu Hanifah, Ibnu Hanbal ;

orang-orang yang
bertakwa dan ahli bertaubat.

 

Dan pada zaman
kita sekarang ini, ada orang yang

mempercayai,
seraya berteriak atasnya[4] ;

Mujassim[5],
wahabi[6]

 

Telah ada hadist
tentang keterasingan Islam,

maka hendaknya para pencinta menangis,

karena terasing dan orang-orang yang dicintainya

Alloh yang melindungi kita,

yang menjaga agama kita,

dari kejahatan setiap pembangkang dan pencela

 

Dia menguatkan agama-Nya yang lurus,

dengan sekelompok orang-orang yang berpegang teguh

dengan sunnah dan kitab-Nya.

 

Mereka tidak mengambil hukum lewat pendapat dan
kias,

Sedang kepada para ahli wahyu,

mereka sebaik-baik orang

yang kembali

 

Sang Nabi terpilih telah mengabarkan tentang
mereka,

bahwa mereka adalah orang-orang asing,

di tengah keluarga

dan kawan pergaulannya.

 

Mereka menapaki jalan orang-orang yang mendapat
petunjuk,

dan berjalan diatas jalan mereka,

dengan benar,

Karena itu orang-orang yang suka berlebihan,

berlari dan

menjauh dari mereka.

 

Tapi kita berkata, tidak aneh.

Telah lari pula orang-orang yang diseru

oleh sebaik-baik,

manusia,

bahkan menjulukinya

sebagai tukang ( ahli ) sihir lagi pendusta.

 

Padahal mereka mengetahui,

betapa beliau seorang yang teguh memegang amanah
dan janji,

mulia dan jujur menepati.

Semoga keberkahan atasnya,

Selama angin masih berhembus,

juga atas segala keluarga

dan semua sahabatnya. “

 

 

 


[1] Mata air
tempat pemandian yang dimaksudkan untuk mencari berkah atau mendapat kesembuhan.
Hal yang merupakan perbuatan syirik, karena berdo’a dan memohon sesuatu kepada
selain Alloh.

[2]
Jahmiyah adalah kelompok sesat yang mengingkari bahwa Alloh berada di langit,
dan berpendapat bahwa Alloh berada di setiap tempat.

[3] Maksudnya
bahwa Alloh berada di atas Arsy.

[4] Yakni
Imam Ahmad bin Hambal

[5] Mujassim
artinya yang menvisualisasikan sifat-sifat Alloh.

[6]
Bagaimana mungkin Ahmad bin Hambal seorang wahabi, sedangkan beliau hidup jauh
ratusan tahun sebelum lahirnya Muhammad bin Abdul Wahhab….?

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdi Salam bin Abdillah bin Taiymiyah Al Harany

January 28th, 2007 by adjhee

Ibnu Taimiyah,
Dai dan Mujahid Besar 

 

Demi Allah,
tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut
hawa nafsu. Qodhinya para qadhi Abdul Bar As-Subky

NAMA DAN NASAB

 

Beliau adalah
imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan,
kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan
penghidup sunah Rasul shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh
banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad
bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.Lahir di Harran, salah satu kota
induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan
Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H.

 

Beliau berhijrah
ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih
kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh
perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang
dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta
benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

 

Suatu saat
gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan
musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah
(mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama
kitab-kitabnya dapat selamat.

 

PERTUMBUHAN
DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

 

Semenjak kecil
sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik
beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para
ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan
otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

 

Ketika umur
beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan
sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa
kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

 

Suatu kali,
ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab
(suatu

kota

lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk
melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir.
Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan
hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan
tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun
dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut
berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab
belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

 

Sejak kecil
beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan
untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat.
Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu
terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh
berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika
dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah
yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau
kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku
lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku
untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

 

Begitulah
seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya
mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta
dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

 

PUJIAN ULAMA

 

Al-Allamah
As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun
kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata:
Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah)
ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy,
Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan
para imam ulama lain.

 

Al-Hafizh
Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah …..
dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan
sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan
beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul
dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan
matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya,
terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka
akan tercipta manasia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam,
lalu siapa dia ini ?

 

Syaikh Ahli
nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah
berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia ….. Kemudian
melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam
tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan
Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.
Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata:
Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau
melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu
itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya.
Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan
mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang
sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan
hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu
syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti
terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan,
pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah
lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap
Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada
zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian,
kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan
amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat
menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik
pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi
lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai
rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad,
pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits
yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa
menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap
hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

 

Demikian antara
lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

 

DA`I,
MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH

 

Sejarah telah
mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`,
zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda.
Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh
dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah
dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam
untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan
sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran.
Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar,
memberikan kesaksiannya: …tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia
bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan
memberikan peringatan keras supaya tidak lari… Akhirnya dengan izin Allah
Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam,
Palestina, Mesir dan Hijaz.

 

Tetapi karena
ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq,
akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama
dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut
kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami
berbagai tekanan di penjara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

 

KEHIDUPAN
PENJARA

 

Hembusan-hembusan
fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan
beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan
tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di
Dimasyq. Dan beliau berkata:

 

Sesungguhnya
aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!

Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku

Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku

dan tiada pernah tinggalkan aku.

Aku, terpenjaraku adalah khalwat

Kematianku adalah mati syahid

Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

 

Beliau pernah
berkata dalam penjara:

 

Orang dipenjara
ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah
orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.

 

Ternyata penjara
baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya
untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab
bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

 

Pengagum-pengagum
beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak
penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka
iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan
melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan
suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang
sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya
penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

 

Tetapi kenyataan
ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah
semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan
beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau
semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau
dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya
mengeluarkan

surat

keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari
tangan Ibnu Taimiyah.

 

Namun beliau
tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau
tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya.
Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan
berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan
tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah
dan kita sekalian ke dalam surgaNya.

 

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang
muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

 

Beliau berada di
penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua
puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir,
tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga
juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau
delapan puluh satu kali.

 

Perlu dicatat
bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun
dari penguasa.

 

Jenazah beliau
dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk
Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`,
Ulama, tentara dan sebagainya, hingga

kota

Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus)
tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian
beliau.

 

Seorang saksi
mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang
ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan
diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah
terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu
melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

 

Beliau wafat
pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di
samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah
merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah
musuh. Wallahu a`lam.

 

Dinukil dari
buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II
1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma`rifah–Dimasyq. hal. Depan.

source : http://www.salafyoon.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=35

Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman hafizhahulloh

January 28th, 2007 by adjhee

Dialihbahasakan oleh Abu
Hudzaifah dari www.mashhoor.net

SilsilahBeliau

Nama beliau adalah Masyhur bin
Hasan bin Mahmud Ali Salman, dan kunyah beliau adalah Abu Ubaidah. Beliau
adalah seorang Syaikh yang mengikuti manhaj salaf dan berpegang dengan atsar
mereka. Beliau memiliki banyak buku yang unik, bermanfaat dan sangat ilmiah.
Termasuk buku ulama lain yang beliau takhrij dan tahqiq.

KelahiranBeliau

Beliau dilahirkan di Palestina
tahun 1380 H. (1960 M.)

Latar belakang keluarga dan pencarian ilmu

Beliau dididik di dalam keluarga
yang shalih yang telah berhijrah ke Yordania dan menetap di

Amman

pada tahun 1967 sebagai akibat dari Agresi

Israel

la’anahumullohu.
Beliau menyelesaikan SMA nya di

sana

,
kemudian beliau memasuki Universitas Syari’ah (1400H/1980M) di mana beliau
mendaftar di Jurusan Fikih dan Ushul Fiqh. Beliau melewatkan waktunya di

sana

dengan mengembangkan
ketertarikan beliau yang sangat besar terhadap belajar, membaca dan menambah
ilmu pengetahuan Islam. Sehingga beliau telah membaca sejumlah besar buku-buku
seperti Al Majmu’ karya An Nawawi, Al Mughny karya Ibnu Qudamah, Tafsir Ibnu
Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Shahih Al Bukhari dengan syarahnya Ibnu Hajar,
Shahih Muslim dengan syarahnya An Nawawi, dan banyak buku-buku lainnya. Beliau
lebih banyak terpengaruh oleh Ulama Besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
dan muridnya yang mulia, ‘Alim Robbani, Syaikhul Islam kedua Ibnul Qoyyim Al
Jauziyah.

Guru beliau yang paling menonjol

Beliau juga terpengaruh secara
kuat oleh sebagian besar guru-gurunya, baik mereka yang beliau belajar padanya
secara formal maupun yang beliau bermajelis dengannya dalam halaqoh-halaqoh
ilmiah. Di antara guru-guru beliau yang paling terkenal adalah:

1. Al ‘Allamah Syaikh Al Muhaddits
Muhammad Nashirudin Al Albani rohimahullohu
2. Syaikh Al Faqih Muqtofa az-Zarqaa’

Aktivitas Dakwah Beliau:

  1. Beliau adalah salah satu pendiri Majalah Al Asholah yang
         dipublikasikan di Yordania. Beliau juga salah seorang editor dan penulis
         Majalah Al Asholah.
  2. Beliau adalah salah satu pendiri Markaz Imam Albani, Yordania.
  3. Beliau termasuk anggota Mujtama’ al-ilmi wal Ifta’
         markaz Imam Albani.
  4. Beliau berpartisipasi dalam dauroh-dauroh dasar keislaman dan
         program orientasi dakwah.

Pujian Ulama terhadap beliau

Gurunya, Syaikh Muhammad
Nashirudin al-Albany rohimahullohu telah berulang kali memuji beliau dalam
banyak pertemuan di berbagai tempat seperti yang beliau nyatakan dalam Silsilah
Ash Shahihah, “Dan semua ini adalah dari apa yang aku telah beristifadah
(memetik manfaat) dari tahqiq dan ta’liq kitab Al Khilaafat oleh Saudaraku yang
mulia, Masyhur Salman.” (I/193)
.

Berikut ini juga apa yang
dikatakan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid mengenai beliau di dalam Muqoddimah Tahqiq
Syaikh Masyhur terhadap buku Al Muwafaqaat, “Berapa kali saya memandang
buku ini sembari berhadap ada yang mentahqiq, mentashih dan mencetaknya
sebagaimana layaknya, hingga Alloh Yang Maha Bijaksana menjadikan hal ini
mungkin dengan rahmat-Nya melalui tangan Al Allamah Al Muhaqqiq Syaikh Masyhur
bin Hasan Alu Salman”
.

Aktivitas Beliau Sekarang

Masjid As-Sunnah:
Syaikh yang Mulia Abu Ubaidah Masyhur Hasan Ali Salman hafizhohullohu memiliki
kelas mingguan pada Kamis sore antara Magrib dan Isya yang diadakan di Masjid
As Sunnah (selatan ibukota

Amman

,
Yordania), di mana beliau menjelaskan Shahih Muslim berdasarkan Syarh Imam
Nawawi. Alhamdulillah, kelas ini telah berlangsung selama lebih dari delapan
tahun sekarang.

Masjid Imam Al Albani:
Berdasarkan kebutuhan, Syaikh sering kali bersedia berkumpul di Masjid Imam
Albani di mana beliau akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Kunjungan ke Indonesia:
Syaikh baru-baru ini mengunjungi Indonesia bersama Syaikh Ali Hasan Al Halabi,
Syaikh Muhammad Musa Nashr dan Syaikh Salim Al Hilaly, dalam rangka mengajar di
Dauroh Ilmiyah fi Masa`ili Aqdiyah wal Manhajiyah, dimana Syaikh mengajar Fikih
di dalamnya. Dauroh ini terselenggara atas kerjasama Markaz Imam Albani dengan
Ma’had Ali Al-Irsyad Al-Islamiyyah Surabaya.

Masjid Mu’awiyah bin Abi
Sufyan:
Syaikh mengajar Ushul Fiqh di musim panas ini di acara Dauroh
Syari’ah Tahunan yang keempat yang diselenggarakan oleh Markaz Imam Albani di
lokasi baru yang dekat dengan Masjid Mu’awiyah bin Abi Sufyan (utara

Amman

).

 

Asy Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

January 28th, 2007 by adjhee

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah
bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baaz rahimahullah dilahirkan di
kota Riyadh pada tanggal 12 Dzul Hijjah tahun 1330 H, dari keluarga yang
sebagian besar kaum lelakinya bergelut dalam dunia keilmuan.

Pada mulanya beliau bisa
melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai
melemah hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun 1350 kedua matanya mulai
buta.

 

Pendidikannya lebih banyak
tertuju pada pelajaran Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Beliau tumbuh dalam peliharaan salah seorang keluarganya. Al-Qur’an
merupakan pelita yang menerangi hidupnya, sehingga umurnya dipergunakan untuk
menimba ilmu Al-Qur’an, dan beliau hafal Al-Qur’an secara menyeluruh ketika
beliaumasih kecil,belum mencapai usia baligh.

 

Beliau belajar ilmu-ilmu syar’i
dari para ulama besar di Riyadh, seperti Syaikh Sa’d binb athiq dan Syaikh Hamd
bin Faris dan Syaikh Sa’d bin Waqqash Al-Bukhari dan Syaikh Muhammad bin
Ibrahim Ali Syaikh -semoga Allah merahmati mereka-, beliau terus menimba ilmu
hingga mulai terpandang di kalangan para ulama.

 

Beliau pernah menjadi Qadhi
mulai bulan Jumadats Tsaniah tahun 1357 hingga tahun 1371. Selanjutnya pada
tahun 1372 beliau mengajar di Ma’had Ilmi di Riyadh selama setahun kemudian
pindah ke Fakultas Syariat Di Riyadh mengajar Ilmu Fiqih, Tauhid dan Hadits
selama tujuh tahun, semenjak didirikannya fakultas ini hingga tahun 1380.

Pada tahun 1381 beliau ditunjuk menjadi wakil rektor Jamiah Islamiyah di
Madinah Al Munawwarah, dan menempati posisinya tersebut hingga tahun 1390.
Selanjutnya pada mulai tahun itu hingga tahun 1395 beliau menjadi rektor
Jami’ah Islamiyah.

 

Pada tanggal 14/10/1395 terbit
keputusan kerajaan yang menunjuk Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
rahimahullah sebagai mufti besar (Semacam ketua MUI) untuk negara Saudi Arabia
dan sebagai ketua ikatan para ulama serta ketua idarah buhuts ilmiyah wal ifta’
yang setingkat dengan kedudukan mentri, hingga beliau meninggal.

Beliau juga banyak berkecimpung di berbagai lembaga dan majlis ilmiah
islamiyah, di antaranya sebagai ketua ikatan para ulama, ketua majlis pendiri
rabithah ‘alam islamy, ketua lembaga internasional yang mengurusi masjid dan
ketua mujamma’ fiqhy islamy di Mekkah Al Mukarramah. Beliau juga sebagai
anggota lembaga tinggi Jami’ah Islamiyah di Madinah Al Munawwarah, anggota
lembaga tinggi dakwah Islam, anggota majlis syuro untuk WAMY (Ikatan Pemuda
Islam Internasional) dan beberapa keanggotaan yang lain.

 

Beliau juga beberapa kali
mengetuai berbagai mu’tamar internasional yang diadakan di negra Saudi Arabia,
yang merupakan sarana bagi beliau untuk saling tukar pendapat dan fikiran
dengan beberapa ulama, da’i dan pemikir lainnya dari berbagai belahan dunia.

Meski beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan tersebut, beliau tidak lupa
tugas utamanya sebagai seorang alim dan da’i. Beliau telah menulis berbagai
karangan dan buku-buku, di antaranya: Al
Fawa’id Al Jaliyyah fil Mabahits Al Fardhiyyah, At Tahqiq wal Idhah likatsir
min masailil Hajj wal Umrah waz Ziyarah, At Tahdzir minal Bida’, Ar Risalatanil
Mujazatani fiz Zakat wash Shiyam, Al Akidatul Mujazah, Wujubul Amal Bisunnatir
Rasul, Ad Da’wah Ilal-llaah, Shifatud Da’iyah, Wujubu Tahkimi Syar’illaahi.
Hukmus Sufur Wal Hijab, Nikahus Syighar, Tsalatsu Rasail Fish Shalat, Hukmul
Islam Fiiman Tha’ana fil Qur’an Aw Fii Rasulillah, Hasyiyah Mufidah Ala Fathil
Bari, Iqamatul Barahin ala Hukmi Manista’ana Bighairillaah Aw Shaddaqal Kuhhan
wal Arrafin, Al Jihad fii Sabilillah, Wujubu Luzumis Sunnah Wal Hadzru Minal
Bid’ah,
dan berbagaimacam fatwa-fatwa dan tulisan-tulisan lainnya.

 

Beliau juga mempunyai berbagai
kegiatan dakwah dan kepedualian terhadap berbagai urusan orang-orang muslimin,
di antaranya sumbangan beliau kepada berbagai yayasan-yayasan Islam dan
lembaga-lembaga Islam lainnya yang ada di berbagai belahan dunia. Beliau juga
sangat peduli dengan permasalahan tauhid dan berbagai kerancuan yang terjadi
pada masyarakat muslim. Lebih khusus lagi, beliau sangat memperhatikan mengenai
pangajaran hafalan Al-Qur’an dan senantiasa menganjurkan kepada berbagai
lembaga untuk mengadakan program tahfidz A-Qur’an.

 

Beliau telah banyak memberikan
berbagai pelajaran dan muhadharah Islamiyah untuk menanamkan pemahaman Islam yang
benar kepada kaum muslimin. Beliau juga telah menulis berbagai makalah dalam
majallah Al Buhuts Al Islamiyah.

 

Pada tahun 1402 Yayasan Sosial
Malik Faishal menganugerahkan trophy Internasional Raja Faishal kepada beliau
atas jasa-jasa beliau kepada Islam.

 

Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

January 28th, 2007 by adjhee

Imam Ahmad bin Hanbal

Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan
bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin
Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada
diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi
Ibrahim.

Ketika beliau masih dalam
kandungan, orang tua beliau pindah dari

kota

Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke

kota

Baghdad

. Di

kota

itu beliau
dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling
masyhur- tahun 164 H.

Ayah beliau, Muhammad, meninggal
dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau,
Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali

kota

Sarkhas pada masa pemeritahan Bani
Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan
karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia
dahulunya adalah seorang panglima.

Masa Menuntut Ilmu

Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai
seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik
asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya,
sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di

kota

Baghdad

. Yang
sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan
harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan
syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat
yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada
kemajuan dan kemuliaan.

Beliau mendapatkan pendidikannya
yang pertama di

kota

Baghdad

. Saat itu,

kota

Bagdad

telah menjadi pusat peradaban dunia
Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam
kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di

sana

tinggal para qari’,
ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan
mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau
melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh
azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi
beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap
memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Tentang
hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi
pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil
pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau
setelah orang-orang selesai shalat subuh.’”

Perhatian beliau saat itu memang
tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau
mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah
al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk
menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di

kota

Baghdad

mengambil
hadits dari syaikh-syaikh hadits

kota

itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin
Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183.
Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar
tiga ratus ribu hadits lebih.

Pada tahun 186, beliau mulai
melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman,
dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu
darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di

sana

adalah Imam Syafi‘i. Beliau banyak
mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan
diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan
sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber beliau mengambil ilmu adalah
Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya
al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak
sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan
Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid,
tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”

Demikianlah, beliau amat
menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal
lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru menikah setelah
berumur 40 tahun.

Ada

orang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai
semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.”
Beliau menjawab, “Bersama
mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut
ilmu sampai aku masuk liang kubur.”
Dan memang senantiasa seperti itulah
keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang
memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau
berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya.

Ada

banyak ulama yang
pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah
dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.

Beliau menyusun kitabnya yang
terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh
tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau
mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh
dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam
Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik
ash-shagir
dan al-kabir, kitab az-Zuhud,
kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada
Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah,
kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal,
kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah,
Fadha’il ash-Shahabah.

Pujian dan Penghormatan Ulama Lain
Kepadanya

Imam Syafi‘i pernah mengusulkan
kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut,
agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya
dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu
dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah
itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah
al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.

Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk
menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan
perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah
aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi
mendatanginya jika memang shahih.”
Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan
akal Imam Syafi‘i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.
Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu
tidak aku tinggalkan di

kota

tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad
bin Hanbal.”

Abdul Wahhab al-Warraq berkata,
“Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang
bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang
engkau pandang dia melebihi yang lain?”
Al-Warraq menjawab, “Dia
seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan
berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada
kami’.”
Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin
Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada
Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan
hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar
dengannya”.
Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun bin Yazid
adalah salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah seorang imam
huffazh.

Keteguhan di Masa Penuh Cobaan

Telah menjadi keniscayaan bahwa
kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi
seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad
termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani
Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.

Pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan
unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka.
Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang

Persia

sebagai kekuatan
pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya,
justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa
itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari

Yunani

,

Rumania

,

Persia

, dan

India

dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk
bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai
macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah,
Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.

Kelompok Mu‘tashilah, secara
khusus, mendapat sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun.
Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk
membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat
yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat
dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa
kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.

Sebenarnya Harun ar-Rasyid,
khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan
Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat
itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar
Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy
mengatakan bahwa Alquran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, jika Allah
menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara
yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”.
Tatkala Khalifah ar-Rasyid
wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha
menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru
kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka mampu
melakukannya.

Untuk memaksa kaum muslimin
menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada
mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah
dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan
pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi
bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak
dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang
hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran,
termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang
hak, bahwa Alquran itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun bahkan sempat
memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya
di

kota

Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan
terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke
Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di

sana

karena telah sampai
kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap
mendoakan al-Makmun.

Sepeninggal al-Makmun,
kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat
wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji
orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad
dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan
konco-konconya. Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi
beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah.
Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke
dalam penjara dan mendekam di

sana

selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau
shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

 

Selama itu pula, setiap harinya
al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap
sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau.
Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih
keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad
dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Wafatnya

Menjelang wafatnya, beliau jatuh
sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan
ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya,
sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya,
pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap
kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin
bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar
jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang,
ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu
juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat
banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan
kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan
kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada)
hari kematian kami”.

Pada akhirnya, beliau dibebaskan
dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan.
Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali
menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.

Selanjutnya, al-Watsiq diangkat
menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun
melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin
kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk

Bagdad

merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq
melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad
bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau
menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih

lima

tahun, yaitu sampai
al-Watsiq meninggal tahun 232.

Sesudah al-Watsiq wafat,
al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya,
ujian tentang kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234,
dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya
larangan atas pendapat tentang kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati
bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para
ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah. Maka
demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu.
Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan
kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya
disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul
Aziz.

Demikianlah gambaran ringkas
ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang
tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas.
Beliau bersikap seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari
kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya
itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau
sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan
keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang
laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur
Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya),
dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.

 

Al Imam Nashirusunnah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Rahimahullah

January 28th, 2007 by adjhee

Imam Syafii

Ditulis Oleh: Abu Auf Abdurrahman Attamimi

www.salafindo.com

 

Nama lengkap
beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris. Beliau dilahirkan di Gaza,
Palestina, tahun 150 H, dan ayahnya meninggal ketika masih bayi, sehingga
beliau hanya dipelihara oleh ibunya yang berasal dari Qabilah Azad dari Yaman.
Diwaktu kecil Imam Syafii hidup dalam kemiskinan dan penderitaan sebagai anak
yatim dalam “dekapan” ibundanya . Oleh karena itu ibunya berpendapat agar
sebaiknya beliau (yang ketika itu masih kecil) dipindahkan saja ke Makkah
(untuk hidup bersama keluarga beliau disana). Maka ketika berusia 2 tahun
beliau dibawa ibundanya pindah ke Makkah.

Imam Syafi’i rahimahullah dilahirkan bertepatan dengan meninggalnya Imam Abu
Hanifah oleh karena itu orang-orang berkata : “telah meninggal Imam dan
lahirlah Imam”. Pada usia 7 tahun beliau telah menghafal Al Qur’an. Dan suatu
sifat dari Imam Safi’i adalah, jika beliau melihat temannya diberi pelajaran
oleh gurunya, maka pelajaran yang dipelajari oleh temannya itu dapat beliau
pahami. Demikian pula jika ada orang yang membacakan buku dihadapan Imam
Syafi’i, lalu beliau mendengarkannya, secara spontan beliau dapat menghafalnya.
Sehingga kata gurunya : “Engkau tak perlu belajar lagi di sini (lantaran
kecerdasan dan kemampuan beliau untuk menyerap dan menghafal ilmu dengan hanya
mendengarkan saja)”.

 

Setelah beberapa
tahun di Makkah, Imam Syafi’i pergi ke tempat Bani Hudzail dengan tujuan untuk
belajar kepada mereka. Bani Hudzail adalah Kabilah yang paling fasih dalam
berbahasa Arab. Beliau tinggal di tempat Bani Hudzail selama 17 tahun. Ditempat
ini beliau beliau banyak menghafal sya’ir-sya’ir, memahami secara mendalam
sastra Arab dan berita-berita tentang peristiwa yang dialami oleh orang-orang
Arab dahulu.

 

Pada suatu hari
beliau bertemu dengan Mas’ab bin Abdullah bin Zubair yang masih ada hubungan
famili dengan beliau. Mas’ab bin Abdullah berkata : “Wahai Abu Abdullah (yaitu
Imam Syafi’i), sungguh aku menyayangkanmu, engkau sungguh fasih dalam berbahasa
Arab, otakmu juga cerdas, alangkah baiknya seandainya engkau menguasai ilmu
Fiqih sebagai kepandaianmu.” Imam Syafi’i : “Dimana aku harus belajar?” Mas’ab
bin Abdullah pun menjawab : “Pergilah ke Malik bin Anas”. Maka beliau pergi ke
Madinah untuk menemui Imam Malik. Sesampainya di Madinah Imam Malik bertanya :
“Siapa namamu?”. “Muhammad” jawabku. Imam Malik Berkata lagi : “Wahai Muhammad
bertaqwalah kepada Allah dan jauhilah laranganNya maka engkau akan menjadi
orang yang disegani di kemudian hari”. Esoknya beliau membaca al Muwaththa’
bersama Imam Malik tanpa melihat buku yangdipegangnya, maka beliau disuruh
melanjutkan membaca, karena Imam Malik merasa kagum akan kefasihan beliau dalam
membacanya.

 

Al Muwaththa’
adalah kitab karangan Imam Malik yang dibawa beliau dari seorang temannya di
Mekkah. Kitab tersebut beliau baca dan dalam waktu 9 hari, dan beliau telah
menghafalnya.Beliau tinggal di Madinah sampai Imam Malik meninggal dunia, kemudian
beliau pergi ke Yaman.

 

Kunjungan Imam
Syafi’i Keberbagai Tempat Sudah menjadi
kebiasaan ulama’-ulama’ pada masa Imam Syafi’i yaitu berkunjung ke berbagai
negeri untuk menimba ilmu di tempat tersebut. Mereka tidak perduli terhadap
rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi. Demikian pula Imam Syafi’i
berkunjung ke berbagai tempat untuk menimba ilmu dengan sungguh-sungguh dan
memperoleh manfaatnya. Sebagaimana yang telah diketahui tentang perjalanannya dari
Mekkah ke Bani Hudzail, kemudian kembali ke Mekkah dan perjuangannya untuk
menemui Imam Malik, dan setelah meninggalnya Imam Malik beliau pergi ke Yaman
dan selanjutnya pergi ke Baghdad dan kembali ke Madinah , dan setelah itu
kembali lagi ke Baghdad kemudian ke Mesir.

 

Kunjungan-kunjungan
itu menghasilkan banyak ilmu dan pengalaman baginya serta membuatnya gigih
dalam menghadapi berbagai rintangan dalam membela kebenaran dan membela Sunnah
Rasulullah saw. Sehingga namanya menjadi terkenal dan disegani umat Islam di
zamannya.

 

Imam Ahmad Bin
Hambal berkata tentang gurunya Imam Syafi’i rahimahullah telah diriwayatkan bahwa
Rasulullah saw bersabda :

 

"Inna
Allaha yub’astu lihadzihil ummah ‘ala ra’si kulla miati sanatin man yujaddidu
laha diinaha"

 

“Sesungguhnya
Allah swt mengutus (mengirim) seseorang kepada umat ini setiap seratus tahun
untuk memperbarui urusan agamanya”. (shahih sunan Abu daud hadits no : 4291)

 

Kemudian Imam
Ahmad bin Hambal menambahkan dengan berkata : “Umar bin Abdul Aziz adalah orang
yang pertama dan mudah-mudahan Imam Syafi’i adalah yang kedua”.

 

Ilmu Yang
Dimiliki Oleh Imam Syafi’i rahimahullah Imam
Syafii rahimahullah memiliki ilmu yang luas seperti yang dikatakan Ar Rabbii
bin Sulaiman : “Setiap selesai shalat shubuh Imam Syafi’i selalu duduk
dikelilingi orang-orang yang ingin bertanya tentang tafsir Al Qur’an. Dan
seandainya matahari telah terbit, barulah orang-orang itu berdiri dan
bergantian dengan orang-orang lain yang ingin bertanya juga tentang haditsserta
tafsirnya. Beberapa jam kemudian ganti orang-orang lain untuk bertanya-jawab.
Dan sebelum waktu dhuhur mereka pergi disusul oleh orang-orang yang bertanya
tentang nahwu, urudh dan syai’r sampai waktu dhuhur”. Mas’ab bin Abdullah Az
Zubairi berkata : “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui
peristiwa tentang orang-orang Arab dahulu seperti Imam Syafi’i”. Abu Isma’il At
Tarmudzi juga berkata : “Aku perna mendengar Ishak bin Rahawih berceritra :
“ketika kami berada di Makkah Imam Bin Hambal rahimahullah, berkata kepadaku :
“Wahai abu Ya’kub belajarlah kepada orang ini ”Seraya memandang Imam Syafi’i””.

Kemudian aku berkata : “Apa yang akan aku peroleh dari orang ini, sementara
usianya hampir sama dengan kita? Apakah aku tidak merugi seandainya
meninggalkan Ibnu Uyainah dan Mugni?”. Imam Ahmad pun menjawab : “Celaka
engkau! Ilmu orang-orang itu dapat engaku tinggalkan tapi Ilmu orang ini tidak
dapat”. Lalu aku belajar padanya.

 

Imam Ahmad bin
hambal menambahkan tentang Imam Syafi’I, adalah beliau orang yang paling paham
(pengetahuannya) tentang Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam.

 

Kesederhanaan
Dan ketaatan Imam Syafi’i Pada Kebenaran Al Imam Syafi’i rahimahullah terkenal akan kesederhanaan dan (ketaatan)
dalam menerima kebenaran. Hal ini telah dibuktikan dalam diskusi-diskusi dan
tadarus-tadarusnya serta pergaulan murid-murid, teman-teman dan orang umum.
Banyak orang yang telah meriwayatkan sifat-sifat yang telah dimilikioleh Imam
Syafi’i yang seolah-olah sifat itu hanya dimiliki oleh beliau saja.

Al Hasan bin Abdul Aziz Al Jarwi Al Masri (dia adalah Abu Ali Al Judzami, guru
Syeikh Al Bukhari yang meninggal di

Baghdad

pada tahu 257 H) berkata : “As Syafi’i mengatakan : “tidak pernah terbesit
dalam hatiku agar seseorang bersalah bila berdiskusi denganku, malah aku
menginginkan agar semua ilmu yang kumiliki juga dimiliki oleh semua orang tanpa
menyebut namaku””.

Dan Ar Rabii berkata : “Ketika aku mengunjungi As Syafi’i sakit, beliau masih
sempat menyebutkan buku-buku yang telah ditulisnya dan berkata : “Aku ingin
semua orang membacanya tanpa mengkaitkanya dengan namaku””.

Harmalah bin Yahya juga mengatakan : “Aku pernah mendengar As Syafi’i berkata :
“Aku ingin setiap ilmu yang kumiliki, dimiliki oleh semua orang dan aku
mendapatkan pahalanya tanpa ucapan terima kasih dari orang-orang itu”.” Beliau
juga mengatakan demikian :

 

"Idza
wajadtum fii kitaabii khilafa sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam,
fakuuluu sunnati rasulillahi sallallahu ‘alaihi wasallam, wa da’uu ma
kultu"

“jika kalian mendapati dalam kitabku (suatu tulisan) yang menyelisihi sunnah
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam , maka ambillah sunnah Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam dan tinggalkan perkataanku.

 

Dan beliau juga
berkata :

 

"Idza sohhal
hadits fahuwa madzhabii"

 

“jika hadits
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam (derajatnya) shahih, maka itulah madhabku”

"Kullu haditsin ‘anin nabi shalallahu ‘alaihi wa salam fahuwa kaulii, wain
lam tasma’uu minni"

 

“setiap hadits
dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam adalah pendapatku, walaupun kalian tidak
pernah mendengarkan dariku”

 

"Kullu maa
kultu, fakaana ‘aninnabiyyi khilafu kaulii mimma yashihhu, fahadtsun nabiyyi
awlaa, falaa tukalliduunii"

 

“segala pendapat
yang aku katakan ,sedangkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam yang shahih
menyelisihi perkataanku, maka hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam lebih
utama (untuk diikuti) , dan janganlah kalian taklid kepadaku”.

 

Imam Syafi’i
rahimahullah sendiri berkata : “Demi Allah aku belum pernah berdiskusi dengan
seseorang kecuali dengan tujuan nasihat”. Seandainya aku menyampaikan tentang
kebenaran kepada seseorang dengan bukti-bukti yang tepat, lalu diterima dengan
baik, maka aku akan menjadi sayang dan akrab dengan orang tersebut. Sebaliknya
jika orang tersebut sombong dan membantah bukti-bukti tadi, maka seketika itu
juga orang tersebut jatuh dalam pandanganku”.

 

Dan beliau juga
berkata : “ketahuilah bahwa perbuatan yang terberat itu ada tiga : “Memiliki
harta sedikit tetapi dermawan. Takut kepada Allah swtdalam kedaaan sepi, dan
mengatakan kebenaran kepada orang yang diharapkan serta ditakuti banyak orang”.

 

Ketaatannya Dan
Ibadahnya Kepada Allah. Tentang ketaatan Imam Syafii dan ibadahnya kepada
Allah, semua orang yang bergaul dengannya, guru maupun murid, tetangga maupun
teman, semuanya mengakuinya.

 

Ar Rabii bin
Sulaiman mengatakan : “Imam Syafii telah mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 60
kali di bulan Ramadhan yang kesemuanya itu terbaca dalam shalatnya”. Dan Imam
Syafii pernah berkata kepadaku : “Semenjak usia 16 tahun aku belum pernah
merasa kenyang, kecuali hanya sekali saja. Karena kenyang itu memberatkan
badan, mengeraskan hati dan dapat menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa
kantuk serta membuat malas seseorang untuk beribadah”.

Rabii juga mengatakan bahwa Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian, bagian
pertama untuk menulis, bagian kedua untuk shalat dan bagian ketiga untuk tidur.

Kedermawanannya

Imam Syafi’i
rahimahullah terkenal dengan kedermawanannya. Hal ini tidak bisa dipungkiri
atau diragukan lagi. Muhammad bin Abdullah Al Misri berkata : “Imam Syafii
adalah orang yang paling dermawan terhadap apa yang dimilikinya”.

Dan Amr bin Sawwad As Sarji berkata : “Imam Syafii adalah orang yang paling
dermawan dalam hal keduniaan. Beliau pernah berkata kepadaku : “Aku pernah
bangkrut sebanyak tiga kali dalam hidupku, sampai aku menjual semua
barang-barang yang aku miliki, baik yang mahal maupun yang murah, juga perhiasan
anak dan istriku tetapi aku belum pernah menggadaikannya””.

 

Muhammad Al
Busti As Sajastani juga mengatakan : “Imam Syafi’i rahimahullah belum pernah
menyimpan sesuatu karena kedermawanannya”. Al Humaidi juga berkata tentang
Syafi’i ketika beliau datang dari Makkah, Imam Syafii membawa uang sebanyak
10.000 dinar, kemudian bermukim di pinggiran kota Makkah, dan dibagi-bagikan
uang itu kepada orang yang mengunjunginya. Dan ketika beliau meninggalkan tempat
itu uangnya sudah habis.

 

Ar Rabbii’
menambahkan tentang hal ini : “Seandainya Imam Syafi’i didatangi oleh seseorang
untuk meminta kepadanya, maka wajahnya merah karena malu kepada orang tersebut,
lalu dengan cepat dia akan memberinya”.

Bukti-bukti tentang kedermawanan Imam Syafi’i rahimahullah banyak sekali dan
tidak mungkin untuk mengungkapkannya di dalam lembaran yang pendek ini.

Wafatnya Imam Syafi’i rahimahullah Di Mesir (Di Fisthath) Tahun 204 H
Al Muzni berkata ketika aku mengunjungi beliau yang sakit yang tidak lama
kemudian beliau meninggal, aku bertanya kepadanya bagaimana keadaanmu? Beliau
menjawab : “Tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, meninggalkan
saudara-saudaraku dan akan menjumpai Allah swt. Aku tidak tahu apakah aku masuk
surga atau neraka”. Kemudian beliau menangis dan mengucapkan sebuah sya’ir

 

"Falamma
kosaa kalbii wa dookot madzahidii

ja’altu rajaai
nahwa ‘afwika sullamaa"

 

“ketika hatiku
membeku dan menyempit semua jalan bagiku,

aku jadikan
harapanku sebagai tangga untuk menuju ampunanMu”.

 

Rabii’ bin Sulaiman
berkata : “Al Imam Syafi’i meningl dunia pada malam jum’at, sehabis isya’ akhir
bulan Rajab. Kami menguburkannya pada hari jum’at, dan ketika kami meninggalkan
pemakaman itu kami melihat bulan (hilal) Sya’ban 204”.

 

Ar Rabbii’
bercerita : “Beberapa hari setelah berpulangnya Imam Syafi’i rahimahullah ke
Rahmatullah dan ketika itu kami sedang duduk berkeliling seperti tatkala Imam
Syafi’i masih hidup, datang seorang badui dan bertanya : “Dimana matahari dan
bulan (yaitu Imam Syafi’i) yang selalu hadir di tengah-tengah kalian?” kami
menjawab : “Beliau telah wafat” kemudian orang itu menangis tersedu-sedu seraya
berkata : “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, sesungguhnya beliau
dengan kata-kata yang indah telah membuka bukti-bukti yang dahulu tidak pernah
kita ketahui. Dan mampu membuat bungkam musuh-musuhnya dengan bukti yang benar.
Serta telah mencuci besih wajah-wajah yang menghitam karena aib dan membuka
pintu-pintu yang dulu tertutup dengan pendapat-pendapatnya”. Setelah berucap
kata-kata itu dia meninggalkan tempat itu”.

 

Ibnu Khollikan
(penulis buku Wafiati A’yan) berkata : “Seluruh ulama’ hadits, fiqhi, usul,
lughah, nahwu dan lain-lain sepakat bahwa Al Imam Syafi’i rahimahullah adalah
orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, amanatnya, adilnya, zuhudnya,
taatnya, akhlaqnya, kedermawannya dan kewibawaannya dikalangan para ulama’”.

 

Abu Hasan Al
Razi berkata : “Aku belum pernah melihat Muhammad Al Hasan mengagungkan seorang
ulama’ seperti dia mengagungkan Al Imam Syafi’i rahimahullah.”.

Abdullah din Ahmad bin Hambal betanya kepada ayahnya : “Ayah, bagaimana Imam
Syafi’i itu? Aku sering kali melihatmu mendoakannya”.

 

Imam Ahmad bin
hambal menjawab : “ketahuilah anakku, bahwa Imam Syafi’i itu ibarat matahari
bagi dunia dan kesehatan bagi manusia. Seandainya keduanya itu tidak ada,
bagaimana mungkin dapat digantikannya dengan yang lain?”.

Maraji’:
- Diwan Asy Syafi’i.

- Tarikh Al
Mudzahib Al Islamiyyah oleh Asy Syaikh Muhammad Abu Zuhroh.
- Sifat Shalat Nabi saw karya Syaikh Muhammad Nashirudin Albani

 

 

 

 

Biografi Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di

January 26th, 2007 by adjhee

(Buah pena seorang muridnya)

Penerjemah: Abu Muslih Ari
Wahyudi (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)

Diambil dari kitab Al
Mukhtaraat Al Jaaliyah, karya Syaikh As Sa’di cetakan Mu’assasah as-Sa’diyah,
disertai beberapa penambahan

Beliau adalah Al ‘Allamah
(seorang yang sangat dalam ilmunya) yang memiliki sifat wara’ (hati-hati),
zuhud, pengingat akan generasi salaf asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin
Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan di kota
‘Unaizah di wilayah Qashim pada tahun 1307 hijriah, ibundanya telah meninggal
pada saat beliau masih berumur 4 tahun, lalu ayahandanya juga meninggal pada
tahun 1314 H ketika beliau menginjak umur 8 tahun, dan kemudian istri ayahnya
(ibu tiri beliau) memberikan perhatian yang besar kepada beliau, sehingga
beliau amat disayanginya melebihi kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri,
demikian pula saudaranya, Hamad dirawat olehnya, sehingga tumbuhlah Syaikh
dengan baik. Beliau pun memasuki madrasah tahfizh/penghafal Quran dan sudah
bisa menghafalnya dalam umur 11 tahun, dan beliau mampu menghafal Al Quran di
luar kepala ketika mencapai umur 14 tahun.

Guru-Guru Beliau

Setelah beliau bisa menghafalkan
Al Quran dengan melihat mushaf maupun di luar kepala maka beliau pun
menyibukkan diri dengan menuntut ilmu syar’i, beliau membaca pelajaran Hadits
kepada Ibrahim bin Hamd bin Jasir, membaca pelajaran Fikih dan Nahwu kepada
Muhammad bin Abdul Karim Asy Syibl, membaca pelajaran tauhid, tafsir, fikih dan
ushul fikih, dan juga nahwu kepada Syaikh Shalih bin Utsman Qadhi di ‘Unaizah
beliaulah guru yang paling banyak ditimba ilmunya oleh Syaikh, beliau belajar
secara terus menerus kepadanya sampai tamat hingga ia wafat. Dan beliau juga
membaca pelajaran kepada Syaikh Abdullah bin ‘Aidh dan Syaikh Sha’ab bin
Abdullah at-Tuwaijiri, Syaikh Ali as-Sinani, Syaikh Ali bin Nashir Abu Wadi;
beliau membaca pelajaran hadits dan kitab-kitab induk hadits yang enam
kepadanya, maka ia pun memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan
hadits. Beliau juga membaca pelajaran kepada Syaikh Muhammad asy-Syinqithi
ketika masih tinggal di Hijaz dulu, kemudian ia pindah ke kota az-Zubair,
beliau membaca pelajaran tafsir, hadits dan mushthalah hadits kepadanya sewaktu
ia menetap di kota ‘Unaizah.

Beliau Mulai Memberikan
Pelajaran

Ketika umur beliau sudah
mencapai 23 tahun, beliau sudah mulai membuka pelajaran, beliau senantiasa
belajar dan mengajar, dan memanfaatkan waktunya untuk itu. Beliau juga
menggeluti penelitian karya-karya tulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan
karya-karya muridnya Ibnul Qayyim dengan penuh perhatian dan pemahaman,
sehingga beliau sangat banyak mengambil faedah dari karya-karya ini.

Murid-Murid Beliau

Banyak sekali orang yang telah
mengambil ilmu dari beliau, di antara murid beliau yang terkenal adalah sebagai
berikut:

Pertama, Syaikh
Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi dan pernah
ditunjuk sebagai Qadhi tapi ia menolaknya.

Kedua, Syaikh
Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’ yang menjabat sebagai Qadhi di Majma’ah
kemudian di ‘Unaizah.

Ketiga, Syaikh
Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassam salah seorang anggota Lembaga Peneliti di
Propinsi bagian Barat dan juga anggota Lembaga Ulama Besar.

Keempat, Syaikh
Muhammad al-Manshur az-Zamil yang mengajar di Ma’had ‘Unaizah al-‘Ilmi.
Kelima, Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil seorang pengajar di
Ma’had ‘Unaizah, ia adalah warga Nejed yang paling mengerti ilmu Nahwu di
masanya.
Keenam, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ustadz di
Jami’ah Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah di Qashim dan menjadi pengganti gurunya
sebagai imam di Masjid Jami’ di ‘Unaizah, beliau juga termasuk salah seorang
anggota Lembaga Ulama Besar.
Ketujuh, Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil salah
seorang anggota Lembaga Fatwa dan pemimpin Lembaga Ilmiah Mandiri setelah
meninggalnya pemimpin kehakiman yang sebelumnya.

Kedelapan,
Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di Makkah
al-Mukarramah.

Kesembilan,
Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan yang mengajar di Ma’had ‘Ilmi di
‘Unaizah. Beliau rohimahulloh memiliki banyak murid selain mereka yang telah
disebutkan, saya tidak bisa memperkenalkannya satu persatu di sini.

Karya-Karya Beliau

Beliau telah menulis banyak
karya yang bermanfaat, kami sebutkan sebagiannya berikut ini:

Tafsir Al Quran Al Karim yang
bernama Taisir Karim al-Mannan fii Tafsir Al Quran (Mungkin maksudnya Taisir
Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, pent.) yang berjumlah 8 jilid,
beliau selesai menulisnya pada tahun 1344 H yang telah diterbitkan oleh
Maktabah Salafiyah di Mesir.

Hasyiyah ‘alal Fiqh sebagai
koreksi atas berbagai kitab yang tersebar dan pernah ditulis di kalangan mazhab
Hambali.

Irsyad Ulil Basha’ir wal Albab
li Ma’rifatil Fiqh bi Aqrabi Thuruq wa Aisaril Asbab yang disusun dalam bentuk
tanya jawab. Buku ini dicetak di Maktabah At Taraqi di Damaskus pada tahun 1365
H dengan biaya penulis dan dibagi-bagikan secara gratis.

Tanzih ad-Din wa Hamlatihi wa
Rijalihi min Maftarahu Al Qashimi fi Aghlalihi. Buku ini dicetak di Dar Ihya
al-Kitab al-Arabi dengan biaya seorang pejabat Hijaz Syaikh Muhammad Afandi
Nashif pada tahun 1366 H.

Ad Durrah Al Mukhtasharah fi
Mahasinil Islam, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Khuthab Al ‘Ashriyah dicetak
di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Qawa’idul Hisan fi Tafsiril
Quran, dicetak di Percetakan Ansharus Sunnah pada tahun 1366 H.

Al Haq Al Wadhih Al Mubin fi
Syarhi Tauhid Al Anbiya’ wal Mursalin, ia merupakan penjelasan Nuniyah karya
Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh, dicetak di Percetakan As Salafiyah di Mesir.

Taudhihul Kafiyah asy-Syafiyah,
dicetak di percetakan as-Salafiyah di Mesir.

Wujubut Ta’awun bainal Muslimin
wa Maudhu’ul Jihad ad-Dini, dicetak di Percetakan as-Salafiyah di Mesir dengan
biaya penulis.

Al Qaul As Sadid fi Maqashid At
Tauhid, dicetak di Percetakan Al Imam, dengan biaya dari Abdul Muhsin Aba
Bathin pada tahun 1367 H.

Manhaj As Salikin sebuah
ringkasan dalam ilmu Ushul Fiqih.

Taisir Lathif Al Mannan fi
Khulashati Tafsir Al Quran, dicetak percetakan Al Imam di Mesir pada tahun 1368
H dengan biaya dari penulis dan sekelompok donatur.

Dan kitab-kitab lainnya seperti:

1. Ar-Riyadh an-Nadhirah
2. Bahjatu Qulub al-Abrar
3. Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam
4. Al-Fawakih asy-Syahiyah fil Khuthab al-Minbariyah
5. Manhaj as-Salikin wa Taudhih al-Fiqh fi ad-Din
6. Thariq al-Wushul ila Ilmi al-Ma’mul bi ma’rifati qawa’id wa Dhawabith wal
Ushul
7. Ad-Din ash-Shahih yahullu Jami’al Masyakil
8. Al-Furuq wa Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah
9. Al-Adillah al-Qawathi’ wal barahin fi Ibthali Ushul al-Mulhidin
10. Fawa’id Mustanbithah
11. Al-Wasa’il al-Mufidah
12. Syuruh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah allati Radda biha ‘alal Qadariyah
13. Al-Fatawa as-Sa’diyah
14. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman
15. Fathu Rabb al-Hamid fi Ushulil ‘Aqa’id wa Tauhid
16. Ad-Dala’il al-Quraniyah
17. At-Tanbihat al-Lathifah ‘ala mahtawat ‘alaihi Al-Wasithiyah fil Mabahits
al-Munifah
18. Su’al wa Jawab bi Ahammil Muhimmat

Beliau Jatuh Sakit

Pada tahun 1371 H beliau
tertimpa sakit tekanan darah dan penyempitan pembuluh darah sehingga membuat
sekujur tubuh beliau menggigil apabila berbicara selama beberapa jam, maka
beliau menghentikan aktivitasnya, apabila membaca Al Quran lalu berbicara maka
kembalilah kondisinya seperti biasanya. Dengan kondisi seperti itu beliau
berangkat ke Libanon pada tahun 1372 H berkat pembiayaan dari Pemerintah Saudi
Arabia, semoga Alloh memperkuatnya, beliau tinggal di Libanon selama sebulan
demi menjalani terapi sehingga Alloh mengaruniakan kesembuhan kepadanya.

Sesudah kembali ke

kota

‘Unaizah beliau
langsung meneruskan aktivitas-aktivitasnya yang dahulu ditekuninya sebelum
jatuh sakit yaitu memberikan pelajaran, berfatwa, menulis, berkhutbah Jum’at,
menjadi imam sholat. Maka sakitnya kembali kambuh. Pada bulan Jumadil Akhirah
tahun 1376 H beliau merasakan kembali penyakit yang dulu pernah menimpanya
dengan ditambah suhu tubuh yang mendingin dan badannya menggigil pada malam
Rabu tanggal 22 di bulan tersebut pada tahun 1376 H itu terjadi sesudah beliau
selesai mengajar yang biasa dilakukannya, seperti pengajian-pengajian beliau
yang lainnya. Beliau menyampaikan pelajaran di hadapan jamaah di mesjid, dan
sesudah memberikan pelajaran tiba-tiba beliau merasakan berat dan tubuhnya
tidak bisa digerakkan. Sesudah sholat selesai beliau mengisyaratkan kepada
sebagian muridnya untuk menyangga tangannya dan pergi menuntun beliau kembali
ke rumahnya. Maka hal itu dilakukan sehingga bangkitlah beberapa orang dari
hadirin untuk memapah beliau, dalam perjalanan ke rumah beliau sudah pingsan di
tengah jalan. Sesudah itu beliau rohimahulloh kembali siuman dan beliau memuji
dan bersyukur kepada Alloh dan bercakap-cakap bersama para hadirin dengan
pembicaraan baik dan menyenangkan lalu beliau kembali jatuh pingsan sehingga
tidak berbicara lagi sesudah itu, tatkala tiba hari Rabu pagi mereka pun
memanggil dokter. Dokter itu mendiagnosa penyakit beliau dan berkesimpulan
bahwa beliau menderita pendarahan di otak, apabila hal itu tidak segera
ditangani maka beliau terancam maut, maka dengan segera mereka menelegram
kepada Raja Saudi.

Perawatan kepada beliau segera
dilakukan dengan berbagai cara yang bisa ditempuh, sampai-sampai sebuah pesawat
dengan membawa para dokter dan perawat sudah akan diberangkatkan menuju kota
‘Unaizah, akan tetapi ketika itu cuaca sangat buruk, langit dipenuhi mendung,
petir dan kilat menyambar-nyambar, angin bertiup sangat kencang sehingga
menyebabkan pesawat tidak bisa lepas landas dari bandara, maka beliau
rohimahulloh wafat di saat fajar hari Kamis yang bertepatan dengan 23 Jumadil
Akhirah tahun 1376 H. Orang-orang pun tertimpa musibah dengan wafatnya beliau,
air mata pun mengalir, hati-hati manusia tergetar karenanya, banyak sekali
orang yang turut mensholati jenazahnya sesudah sholat Zhuhur di hari Kamis dalam
sebuah perkumpulan manusia yang sangat besar yang belum pernah disaksikan
semisalnya di ‘Unaizah. Sehingga Masjid Jami’ penuh dengan orang-orang yang
sholat jenazah dan para pelayat, mata-mata mereka berlinang air mata dan
lisan-lisan pun ikut serta mendoakan rahmat baginya, mereka memohonkan ampunan
dan keridhoan baginya. Setelah selesai sholat, jenazahnya dipanggul di atas
pundak-pundak dengan berdesak-desakan menuju pekuburan Asy Syahwaniyah sebuah
pekuburan yang cukup dikenal di

kota

‘Unaizah.

Sesudah itu berbagai telepon dan
telegram ta’ziah datang dari berbagai penjuru negeri. Beliau telah mewariskan
peninggalan (ilmu) yang sangat banyak sulit untuk dihitung. Beliau meninggalkan
tiga orang putra, mereka adalah: Abdullah, Muhammad dan Ahmad. Semoga Alloh
mengampuni Syaikh yang sedang ditulis biografinya ini Abdur-Rahman bin Nashir
as-Sa’di, semoga Alloh merahmati dan memaafkan beliau, sesungguhnya beliau
termasuk ulama yang memiliki sifat wara’/hati-hati, salawat dan keselamatan
sebanyak-banyaknya semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, pengikut dan
seluruh sahabatnya, tercurah hingga hari kiamat.

Diterjemahkan dari Taisir
Lathifil Mannaan, hal. 5-12 Penerbit Maktabah Ar Rusyd,

Riyadh

Saudi Arabia

.

http://muslim.or.id/?p=599

 

Biografi Syaikh Ali Hasan Al Halaby hafizhohulloh

January 26th, 2007 by adjhee

Beliau adalah Syaikh Abul Harits
Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid As Salafy Al Atsary. Beliau lahir di kota Zarqa Yordania, 29
Jumadi at-Tsani 1380 H. (1960 M)

Studi dan Guru-Guru
Beliau

Ayah dan kakeknya hijrah ke kota Yordania dari kota
Yafa Palestina pada tahun 1368 H/1948 M, karena penjajahan Yahudi (Laknat Alloh
atas Yahudi). Beliau memulai studi ilmu-ilmu agama di saat usia beliau belum
melebihi dua puluh tahun, guru beliau yang paling menonjol adalah Al ‘Allamah
Asy Syaikh ahli Hadits Muhammad Nashiruddin Al Albani ( semoga rahmat Alloh
tercurah padanya), kemudian syaikh ahli bahasa Abdul Wadud Az Zarazi (semoga
rahmat Alloh tercurah padanya) dan ulama-ulama lainnya.

Beliau berjumpa dengan gurunya yaitu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani di
akhir tahun 1977 di

kota
Amman Yordania. Beliau belajar pada syaikh Al Albani kitab “Iskaalat Al Baiul
Hatsis” pada tahun 1981, dan beliau juga mempelajari kitab-kitab Musthalahul
Hadits lainnya. Beliau memiliki ijazah-ijazah (pengakuan) dari sejumlah ulama,
di antaranya syaikh Badiuddin As Sanadi, dan juga Al ‘Allamah Al Fadhil
Muhammad As Salik Asa Syinqithi (semoga rahmat Alloh tercurah pada mereka) dan
ulama-ulama lainnya.

Pujian Ulama Terhadap
Beliau

Sejumlah ulama yang terkemuka
memuji beliau, di antaranya: Asy-Syaikh al-Allamah ahli hadits yang berilmu
tokoh pembela sunnah Muhammad Nashiruddin Al Albani (semoga rahmat tercurah
padanya) sebagaimana dalam kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah 2/720 tatkala
syaikh Al Albani menjelaskan kedustaan “penghancur sunnah” Hasan Abdul Manan;
beliau berkata: “ ….penjelasan yang luas dalam menerangkan kesalahan ucapannya
dalam melemahkan hadits itu membutuhkan satu karya khusus, dan ini yang tidak
mungkin bagi saya lantaran keterbatasan waktu, semoga sebagian saudara-saudara
kami yang mempunyai kemampuan hebat dalam ilmu hadits ini mengarang kitab
tentangnya, seperti misalnya al-Akh Ali al-Halabi”

Lihat juga Muqaddimah kitab
at-Ta’liqat ar-Raudhiyyah ala ar-Raudhah an-Nadiyyah” dan kitab Adabuz Zifaf cetakan
Al Maktabah Al Islamiyyah.

Beliau juga dipuji oleh syaikh
bin Baz (semoga rahmat Alloh tercurahkan padanya) di mana syaikh mengomentari
kitabnya: “Sesungguhnya kitabnya beraqidah dan bermanhaj salaf.”

Demikian juga syaikh Bakr Abu
Zaid memuji beliau dalam kitabnya: Tahrifunnusus min Maaqod Ahlil Ahwa fil
Istidlal hal 93-94

Demikian juga syaikh Al Allamah
ahli hadits Muqbil bin Hadi al-Wadi’I (semoga rahmat Alloh tercurah padanya)
memuji beliau. Syaikh Muqbil menuturkan: “sesudah ini, aku melihat sebuah karya
bagus yang berjudul Fikhul Waqi Baina An Nadhariyyah wat Tathbiq karya saudara
kami Ali bin Hasan bin Abdul Hamid, saya menasihatkan agar membaca kitab itu,
semoga Alloh membalas kebaikan kepadanya. Syaikh Muqbil juga menukil karya
syaikh Ali Hasan ini dalam kitabnya yang berjudul Gharah al-Asrithah ala ahlil
Jahli was Safsatah beliau menyebutkannya “Saya tidak pernah mengetahui semisal
ini”.

Demikian juga syaikh Al Allamah
ahli hadits Abdul Muhsin al-Abbad (semoga Alloh menjaganya) juga memuji beliau.
Dalam kitabnya yang menawan Rifqon Ahli Sunnah bi Ahli Sunnah cetakan kedua
yang diperbaharui 1426 H, hal. 9-8 menuturkan: “Aku juga mewasiatkan kepada
para penuntut ilmu di seluruh negeri agar mengambil faedah dari para ahli ilmu
yang berkecimpung dalam masalah ilmu dari kalangan ahli sunnah di negeri ini
semisal murid-murid syaikh al-Albani di Jordania, yang mendirikan sebuah markaz
yang menggunakan nama syaikh al-Albani sepeninggal beliau”.

Aktivitas Dakwah Beliau

Beliau salah seorang pendiri
majalah Al Ashalah yang terbit di negara Yordania, beliau salah seorang dewan
redaksi dan penulis dalam majalah ini. Beliau termasuk pendiri markaz Imam
Albani.

Beliau aktif menulis
makalah-makalah yang terbit tiap pekan di Koran Al Muslimun yang terbit di London
Inggris, dalam rubrik “as-Sunnah”, hal ini berlangsung sekitar dua tahun
semenjak tanggal 18 Rabiul Awal 1417.

Beliau pernah mengikuti berbagai
muktamar Islam, kegiatan dakwah dan dauroh ilmiah di berbagai Negara, dan ini
sering beliau lakukan, seperti Negara: Amerika, Inggris, Belanda, Hongaria, Kanada,Indonesia,
Perancis dan Negara-negara lainnya.

Beliau juga pernah di undang di
berbagai Universitas di Yordania untuk berceramah dan pertemuan-pertemuan,
semisal: Universitas Yordania, Universitas Yarmuk, Universitas Az Zaitunah.

Karya-Karya dan
Buku-Buku Yang Telah Diteliti Beliau

Karya-karya dan buku-buku yang
telah diteliti beliau lebih dari 150 judul, yang terdiri atas buku yang tidak
terlalu tebal maupun yang berjilid-jilid, diantara karya beliau yang paling
penting :

  1. Ilmu Ushulul Bid’ah
  2. Dirasah Ilmiyyah fi Shahih Muslim
  3. Ru’yatun Waqiah fil Manahij ad-Dakwiyyah
  4. An Nukatu ala Nuzhatin Nadhar
  5. Ahkamus Sita
  6. dan lain-lain

Adapun buku-buku yang diteliti
beliau :

  1. Mifatahu Daris Sa’adah karya Ibnul Qayyim, 3 jilid
  2. At Ta’liqat ar-Raudiyyah ala ar-Raudah an-Nadiyyah karya
         al-Albani, 3 jilid
  3. Al-Baisul Hasis karya Ibnu Kasir, 2 jilid
  4. Al-Huttah fi zikri as-Shihah as-Sittah, karya Sodiq hasan Qan
  5. Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnul Qayyim, 1 jilid
  6. dan lain-lain

Sejumlah karya beliau ini telah
diterjemahkan dalam berbagai bahasa, di antaranya: Perancis, Urdu, Indonesia
dan lain-lain. (www.alhalaby.com)

Sumber: www.salafindo.com

 

 

teori perubahan masyarakat

January 26th, 2007 by adjhee

TEORI PERUBAHAN MASYARAKAT

FERDINAND TONNIES

 

Oleh

Rizki Aji Hertantyo*

 

Pendahuluan

 

Pembahasan kali
ini berkisar pada teori perubahan masyarakat, sebuah teori yang dicetuskan oleh
seorang sosiolog Jerman, Ferdinand Tonnies. sebenarnya dalam pembahasan ini
kami belum memahami persis apakah yang dimaksud dengan teori perubahan
masyarakat dalam persepsi Tonnies adalah Gemeinschaft dan Geselschaft atau ada
teori lain selain kedua teori tersebut, melainkan di beberapa referensi hanya
pembahasan inilah yang kami ketahui.

 

Selanjutnya
pembahasan berikut adalah pembahasan yang kami cukupkan pada teori Tonnies
tentang Gemeinschaft dan Geselschaft, semoga makalah ini dapat memenuhi dari
apa yang dimaksud oleh mata kuliah ini dimana kami mendapatkan bahasan mengenai
teori perubahan masyarakat yang digagas oleh Tonnies. Dan semoga makalah ini
bermanfaat bagi kami khususnya dan teman-teman yang lain.

 

Biografi Ferdinand Tonnies

 

Ferdinand
Tonnies lahir pada tahun 1855 dan wafat pada tahun 1936[1].
Ia merupakan salah seorang sosiolog Jerman yang turut membangun institusi
terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman. Dan ia jugalah yang
melatarbelakangi berdirinya German
Sosiological Association
( 1909, bersama dengan George Simmel, Max Webber,
Werner Sombart, dan lainnya )[2]

 

Ferdinand
Tonnies memiliki berbagai karya diantaranya Gemeinschaft und Gesellschaft  (yang
dipublikasikan pertamakali pada tahun 1887) yang selanjutnya diedit dan di
alihbahasakan kedalam bahasa Inggris menjadi Community and Society (1957) oleh Charles P. Loomis,
karyanya yang lain yang berupa essai-essai tentang sosiologi terdapat di dalam
bukunya Einfuhrung in die Soziologie (An Introduction to Sociology).[3]

 

Diakhir usianya
Tonnies adalah seorang yang aktif menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali
ia diundang menjadi Professor tamu di University of Kiel, setelah hampir masa
hidupnya ia gunakan untuk melakukan penelitian, menulis, dan mengedit karya
para sosiolog dimasanya.[4]

 

Gemeinschaft dan Gesellschaft

 

Seperti
dipaparkan sebelumnya, bahwa Tonnies memiliki teori yang penting yang akhirnya
berhasil membedakan konsep tradisional dan modern dalam suatu organisasi sosial,
yaitu Gemeinschaft (yang diartikan sebagai kelompok atau asosiasi) dan Gesellschaft
(yang diartikan sebagai masyarakat atau masyarakat modern-istilah Piotr
Sztompka). Setelah sebelumnya Weber menegaskan bahwa ia melihat bahwa perubahan
masyarakat terlihat pada kecenderungan menuju rasionalisasi kehidupan sosial
dan organisasi sosial di segala bidang (pertimbangan instrumental, penekanan
efisiensi, menjauhkan diri dari emosi dan tradisi, impersonalitas, manajemen
birokrasi dan sebaliknya). Senada dengan hal itu, Durkheim menegaskan bahwa
perkembangan pembagian kerja pun akan didikuti integrasi masyarakat melalui
“solidaritas organik” yang menimbulkan ikatan yang saling menguntungkan dan
kontribusi anggota masyarakat akan saling melengkapi.[5]

 

Tonnies
memasukkan Gemeinschaft dan Gesellschaft di bukunya (1887) satu diantara
beberapa nomor yang dipaparkan, sebagai salah satu teori yang bersifat modern.
Menurutnya Gemeinschaft adalah sebagai situasi yang berorientasi nilai nilai,
aspiratif, memiliki peran, dan terkadang sebagai kebiasaan asal yang
mendominasi kekuatan sosial. Jadi baginya secara tidak langsung Gemeinschaft
timbul dari dalam individu dan adanya keinginan untu memiliki hubungan atau
relasi yang didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan. Individu
dalam hal ini diartikan sebagai pelekat/perekat dan pendukung dari kekuatan sosial
yang terhubung dengan teman dan kerabatnya (keluarganya), yang dengannya mereka
membangun hubungan emosional dan interaksi satu individu dengan individu yang
lain. Status dianggap berdasarkan atas kelahiran, dan batasan mobilisasi juga
kesatuan individu yang diketahui terhadap tempatnya di masyarakat.

 

Sedangkan
Gesellschaft, sebagai sesuatu yang kontras, menandakan terhadap perubahan yang
berkembang, berperilaku rasional dalam suatu individu dalam kesehariannya,
hubungan individu yang bersifat superficial
(lemah, rendah, dangkal), tidak menyangkut orang tertentu, dan seringkali antar
individu tak mengenal, seperti tergambar dalam berkurangnya peran dan bagian
dalam tataran nilai, latar belakang, norma, dan sikap, bahkan peran pekerja
tidak terakomodasi dengan baik seiring dengan bertambahnya arus urbanisasi dan
migrasi juga mobilisasi.[6]

 

Tonnies
memaparkan Gemeinschaft adalah wessenwill[7] yaitu bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti
positif maupun negatif, yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan
kepercayaan, yang berlaku didalam bagian tubuh dan perilaku atau kekuatan
naluriah[8].
Jadi, wessenwill itu sudah merupakan
kodrat manusia yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami. Sedangkan
Gesselschaft adalah Kurwille yaitu
merupakan bentuk-bentuk kehendak yang mendasarkan pada akal manusia yang
ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan sifatnya rasional dengan menggunakan
alat-alat dari unsur-unsur kehidupan lainnya.[9]
Atau dapat pula berupa pertimbangan dan pertolongan.[10]
Tonnies membedakan Gemeinschaft menjadi 3 jenis, yaitu :

 

 

  1. Gemeinschaft by
         blood
    , yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ikatan darah atau
         keturunan. Didalam pertumbuhannya masyarakat yang semacam ini makin lama
         makin menipis, contoh : Kekerabatan, masyarakat-masyarakat daerah yang
         terdapat di DI.

    Yogyakarta

    , Solo, dan
         sebagainya.

  2. Gemeinschaft of
         placo (locality)
    , yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat
         tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapatnya saling
         menolong, contoh : RT dan RW.
  3. Gemeinschaft of
         mind
    , yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau
         pikiran yang sama.

 

Dimana, dari
ketiga bentuk ini dapat ditemui pada masyarakat, baik di

kota

maupun di desa.[11] 

 

Ferdinand Tonnies dan Evolusi tanpa Kemajuan

 

Apabila Durkheim
menjelaskan tipologi perubahan masyarakat dengan membuat perbandingan
“solidaritas mekanik” dan “solidaritas organik”, Spencer membuat tipe
“masyarakat militer” vs “masyarakat industri”, Weber yang membagi
“masyarakat agraris tradisional” dengan “masyarakat kapitalis”. Maka dibawah ini
adalah tabel dikotomi serupa yang disajikan oleh Tonnies dalam Gemeinschaft
und Gesellschaft
 (yang dipublikasikan pertamakali pada tahun
1887). Gemeinschaft (komunitas) ditandai oleh ikatan sosial bersifat pribadi,
akrab, dan tatap muka (primer).

 

Ciri-ciri ikatan sosial ini seperti yang
dikemukakan sebelumnya ialah berubah menjadi impersonal, termediasi, dan
sekunder dalam masyarakat modern (Gesellschaft). Keunikan pendekatan Tonnies
terlihat dari sikap kritisnya terhadap masyarakat modern (Gesellschaft), terutama
nostalgianya mengenai kehidupan tipe komunitas/kelompok/asosiasi (Gemeinschaft)
yang lenyap.

 

Tonnies adalah contoh langka penganut
evolusionisme yang tak menganggap evolusi identik dengan kemajuan. Menurutnya,
evolusi terjadi secara berlawanan dengan kebutuhan manusia, lebih menuju kearah
memperburuk ketimbang meningkatkan kondisi kehidupan manusia. [12].
Dan dibawah ini adalah tabel pemaparan Tonnies tentang perbedaan antar
Gemeinschaft dengan Gesellschaft sebagai suatu perubahan yang justru bergerak
kearah memperburuk, menurut dirinya.[13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ciri

 

 

Gemeinschaft
  (komunitas)

 

 

Gesellschaft
 

 

(masyarakat
  modern
)

 

 

Hubungan
  sosial

 

 

Ikatan
  Keluarga

 

 

Pertukaran
  ekonomi

 

 

Institusi
  khas

 

 

Keluarga

 

 

Negara
  dan ekonomi

 

 

Citra
  tentang individu

 

 

Kedirian

 

 

Orang,
  warga

 

 

Bentuk
  kekayaan

 

 

Tanah

 

 

Uang

 

 

Tipe
  hukum

 

 

Hukum
  keluarga

 

 

Hukum
  kontrak

 

 

Institusi
  sosial

 

 

Desa

 

 

Kota

 

 

Kontrol
  sosial

 

 

Adat
  dan agama

 

 

Hukum
  dan pendapat umum

 

 

 

Tentang hal ini
pula secara tidak langsung bagi Tonies faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan masyarakat dimana prinsip evolusi yang ia miliki hampir sama dan
senada dengan prinsip evolusi ahli lain seperti Max Weber begitu juga dengan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara penyebab terjadi perubahan itu
adalah adanya kecenderungan berfikir secara rasional, perubahan orientasi
hidup, proses pandangan terhadap suatu aturan dan sistem organisasi.

 

Sebagai contoh
kasus ialah adanya suatu masyarakat bernama kampung Ambon di daerah Bekasi,
dimana asalnya sebuah komunitas tersebut merupakan hanya kaum urban yang datang
dari Ambon dan sekitarnya untuk mencari penghasilan dengan bekerja seadanya,
namun seiring dengan perubahan masa, waktu dan zaman urbanisasi yang datang
dari daerah tersebut semakin banyak dan mengikuti pendahulunya yang lain untuk
menempati lokasi yang sama. Sehingga saat ini terbentuklan suatu masyarakat
Ambon yang datang ke

Jakarta

setelah sebelumnya hanya sebuah komunitas belaka.

Penutup

 

Setelah tadi
kita mengetahui dari pemaparan diatas apa yang dijelaskan oleh Ferdinand
Tonnies tentang evolusionisme, antar Gemeinscahft dengan Geselschaft. Maka
dapat diambil suatu kesimpulan sementara bahwa apa yang dimaksudkan oleh
Tonnies tentang teorinya sendiri tak berbeda jauh dengan para sosiolog
seangakatnnya semisal Durkheim, Spencer, dan Weber tentang suatu bentuk teori
evolusi klasik. Dimana ia menjelaskan dengan seksama pula bahwa suatu kehidupan lebih berorieentasi
kepada perubahan terlihat pada
kecenderungan menuju rasionalisasi kehidupan sosial dan organisasi sosial di
segala bidang.[14]

 

Demikianlah
makalah yang dapat kami sajikan, sekalipun kami meyakini masih banyak sekali
kekurangan yang berlimpah disamping menurut kami terbatasnya teks-teks
terjemahan dalam bahasa Indonesia, dan juga buku berbahasa asing (terutama
Inggris) hampir menyampaikan penjelasan yang setara dan sama tentang apa yang
dikemukakan Tonnies mengenai teorinya. Oleh karena itu kami berharap agar
nantinya kami bisa melakukan perbaikan dengan kritikan dari kawan-kawan untuk yang
akan datang.

 

 

Daftar Pustaka :

 

Bernard, Jessie,
The Sociology of Community, Scott,
Foresman and Company,

Glenview

,

Illinois

: 1973

 

Dictionary of Social Science on American
Corner Library. State Islamic University

Jakarta

 

Narwoko, J.Dwi
dan Bagong Suyanto (ed), Sosiologi ;
Teks, Pengantar dan Terapan
, Prenada Media,

Jakarta

: 2004 

 

Sztompka, Piotr,
Sosiologi Perubahan Sosial (alih
bahasa oleh Alimandan), Prenada Media,

Jakarta

:
2005

 

Truzzi,
Marcello, Sociology: The Classic Statements.

New
York

:

Oxford

University Press,1971.download http://www2.pfeiffer.edu/~lridener/courses/GEMEIN.HTML

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kaki :


[1] Dictionary
of Social Science
, hal 486

[2] Ibid,
hal 486

[3] Marcello Truzzi, Sociology: The Classic
Statements
.p.1

[4] Opcit,
hal. 487

[5] Sosiologi
Perubahan Sosial
, hal 27

[6] Ibid,
hal 486-487

[7] Dalam buku Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan disebutkan wessenwilo dan
kurwillo untuk Gesellschaft

[8] Dictionary
of Social Science
, p. 486

[9] Sosiologi,
Teks Pengantar dan Terapan
, hal. 32

[10] Opcit,
p. 486

[11] Sosiologi, Teks Pengantar dan Terapan,
hal. 34

[12] Sosiologi Perubahan Sosial, hal 123-124

[13] Ibid, hal. 123-124

[14] Sosiologi
Perubahan Sosial
, hal 27

‘Perbandingan Paradigma; Kritik Barat terhadap Barat, dan Kritik Islam terhadap Barat’

January 22nd, 2007 by adjhee

Pendahuluan

 

Pada pembahasan
kali ini kita akan membahas satu judul yang dalam pengerjaaannya cukup rumit
dalam pencarian sumbernya, sebab dalam judul ini tidak ada buku khusus yang
mengkaji secara mendetail dalam pemaparan bab ini. Judul yang saat ini dipaparkan
adalah berjudul ‘Perbandingan Paradigma; Kritik Barat terhadap Barat, dan
Kritik Islam terhadap Barat’.

 

Semoga pemaparan kali ini dapat bermanfaat dan
memiliki nilai tersendiri, dan menjadi suatu muhasabah bagi kita untuk kembali
memajukan kejayaan Islam sesuai dengan paradigma tetapnya yaitu Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Kami mohon maaf bila ada kekurangan dalam makalah ini karena alasan
satu dan lain hal.

 

Perbandingan
Paradigma. Kritik Barat terhadap Barat

 

Sejak beberapa abad yang lalu pasca runtuhnya
peradaban Islam, tampillah peradaban Barat yang saat ini menjadi sebuah
hegemoni terbesar di dunia yang telah memadamkan musuh-musuhnya dari kalangan
komunis-sosialis yang hampir pernah berjaya beberapa tahun silam. Mencermati
perkembangan paradigma barat pun seringkali selalu keluar paradigma-paradigma
baru khususnya di bidang sosiologi yang seringkali meruntuhkan paradigma sosiologi
pula sebelumnya.

 

Setelah sebelumnya Emile Durkheim mencoba
melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan yang mempengaruhinya yaitu
filsafat dan psikologi. Durkheim yang
didasarkan atas hasil penelitian empirisnya terhadap gejala bunuh diri sebagai
suatu fenomena sosial di dalam bukunya Suicide (1951), dan The Rule
of Sociological Method
(1964) yang berintikan tentang konsep dasar metode
empiris yang dapat dipakai untuk melakukan penelitian dalam bidang sosiologi.
Lantas paradigma-paradigma sosial muncul satu demi satu dan tumbuh dan runtuh
sesuai dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman yang terpaksa menyebabkan
terjadinya perubahan paradigma.

Kritik pertama, tercatat dalam Paradigma Fakta Sosial dengan
satu cabangnya yaitu teori Fungsionalisme-struktural pernah mengalami kritikan
yang dianggap dan dituduh mengabaikan variabel konflik dan perubahan sosial
dalam teori-teori mereka dikarenakan terlalu menekankan kepada perilaku
keteraturan (order) yang akhirnya seringkali dicap sebagai golongan
konservaitif dan terkesan status quo hingga akhirnya muncullah teori
konflik, walaupun akhirnya hal ini dibantah lagi oleh Parson sekaligus
perwakilan dari teori ini yang kembali mengembangkan teori ini menjadi lebih
modern dengan dilengkapi dengan konsep fungsi, dis-fungsi, fungsi laten, dan
keseimbangan telah banyak kembali menjuruskan perhatian para sosiolog kepada
persoalan konflik dan perubahan sosial. Sehingga akhirnya Parson berpendirian
bahwa orang tidak dapat berharap banyak mempelajari perubahan sosial sebelum
memahami secara memadai struktur sosial.[1]
Sebaliknya setelah teori Fungsionalisme struktural dikritik teori konflik pun
dikritik pula dikarenakan teori ini ternyata selalu mengabaikan keteraturan dan
stabilitas yang memang ada dalam masyarakat disamping konflik itu sendiri.
Masyarakat bagi teori ini selalu dipandangnya dalam kondisi konflik.[2]

 

Kritik kedua, terjadi antara dua paradigma yang dikritik oleh
satu teori. Adalah Blumer yang menyatakan bahwa organisasi masyarakat (fakta
sosial) merupakan kerangka di mana tindakan-tindakan sosial mengambil tempat,
bukan faktor penentu dari tindakan sosial. Pengorganisasian dan
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu hasil dari kegiatan
unit-unit tindakan dan bukan karena kekuatan-kekuatan yang terletak di luar
perhitungan unit-unit tindakan itu. Interaksional-Simbolik teori ini yang
menolak pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma perilaku sosial dengan
alasan yang sama yaitu keduanya tidak mengakui arti kepentingan individu.[3]

 

Kritik ketiga, kritik yang dilakukan oleh Skinner dalam
memandang kedua paradigma sebelumnya yaitu fakta sosial dan definisi sosial
yang dikatakannya sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti tidak dapat diterangkan secara rasional
dimana kritik tersebut berdasarkan substansial dari kedua paradigma tersebut
yakni eksistensi obyek studinya itu sendiri. Khususnya di dalam bukunya Beyond
Freedom and Dignity
, dimana secara terang-terangan Skinner menyerang secara
langsung paradigma definisi sosial dan secara soft power menyerang
paradigma fakta sosial.[4]

 

Kritik
keempat
, Ritzer menyerang paradigma perilaku sosial dimana ia mengatakan pada paradigma ini perilaku
sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Baginya tanggapan yang
diberikannya ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar
dirinya, jadi tingkahlaku manusia lebih bersifat mekanik dibandingkan dengan menurut
pandangan paradigma definisi sosial.[5]

 

Masih banyak kritik-kritik yang tertuju pada
keseluruhan paradigma ini, disebabkan adanya rasa saling ingin merasa paling
unggul diantara para ahli sosiolog dalam rangka memaparkan kevaliditasan teori
yang diusungnya. Tapi masing-masing ahli yang dikritik pun dengan segera
membantah kritikan-kritikan yang ditujukan kepada dirinya dengan penjelasan
lebih lanjut aspek-aspek idenya yang sebelumnya masih dirasa sebagian ahli yang
lain membingungkan. Contohnya adalah Parsons sebagai sosiolog yang paling
banyak diserang dengan kritikan tajam karena fungsionalisme-strukturalnya,
namun Parsons menanggapinya dengan pernyataan bahwa teori miliknya yang
acapkali di klaim sebagai status quo dan terkesan konservatif dijelaskannya
dengan nada bahwa teori miliknya hanya bersifat teoritis dan bukan bersifat
ideologis. Selanjutnya terdapat pula nama James Coleman (kubu fakta sosial)
yang memaki buku Harold Garfinkel ‘Studies in Ethnomethodology’ yang
notabene ia adalah seorang penganut paradigma definisi sosial.

 

Yang terakhir dan terpenting, kritik yang
dilancarkan oleh penganut paradigma yang berbeda dapat membantu menunjukkan
kepada pengarangnya bahwa premis-premis dari paradigma lain dapat memberikan
sumbangan yang berharga terhadap pemikirannya sendiri. Namun sayangnya
sumbangan yang demikian penting itu dalam prakteknya jarang muncul. Justru yang
ada karena kefanatikannya terhadap salah satu paradigma yang diyakininya
menimbulkan pertentangan yang hebat terhadap paradigma yang tak sepaham
dengannya.

 

Kritik
Islam terhadap Barat

 

Setelah pertemuan sebelumnya kita mengetahui dan
memahami apa itu paradigma islam dan merumuskan kembali format paradigma Islam[6].
Maka secara langsung kami akan menanggapi bagaimanakah kritik yang dilancarkan
Islam terhadap Barat. Sebagai suatu bahan untuk mengulas kembali bahwa inti
dari ajaran islam adalah Tauhid ( mengesakan Alloh dalam ber-ibadah ). Selain
itu ini juga merupakan sebuah kritik terhadap Dr. Kuntowijoyo yang
mengkategorikan Tauhid tidak dibawah bimbingan kitab ‘ulama yang shahih[7],
hakikat pembagian Tauhid yang haq adalah seperti dibawah ini[8]
:

 

  1. Tauhid
         Rububiyyah
    : berarti
         mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Alloh subhanahu wa ta’ala, baik
         mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Alloh adalah Raja,
         Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. Dalilnya : QS. Al A’raaf :
         54, QS. Al Fathir : 13, QS. Yunus : 31-32, QS. Az Zuhruuf : 9, QS. Al
         Mu’minuun : 84-89, dll.
  2. Tauhid
         Uluhiyyah
    : berarti
         mengesakan Alloh melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu
         mereka bisa mendekatkan diri kepada Alloh tabaraka wa ta’ala apabila hal
         itu disyari’atkan olehNya, seperti berdo’a, khauf, raja’, mahabbah,
         dzabh, bernadzar, isti’anah, istighatsah, isti’adzah,
         dan segala apa yang disyari’atkannya dan diperintahkan Alloh azza wa jalla
         dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah tersebut
         harus dilakukan hanya kepada Alloh semata dan ikhlas karenaNya, dan ibadah
         tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh. Dalilnya QS. Al
         Baqarah : 163, QS. Ali Imran : 18,QS. Al Hajj : 62, QS. An Nisaa : 48 dan
         116, QS. Al Mukminuun : 32, dll.
  3. Tauhid
         Asma wa Shifat
    :
         berarti menetapkan dan wajib meyakini terhadap Sifat-Sifat Alloh, baik
         yang terdapat di dalam al Qur’an maupun As sunnah tanpa takwil, takyif,
         ta’thil, tahrif, dan tamtsil. Dalilnya Qs. Asy
         Syuuraa : 11

 

Kembali kepada topik bahasan makalah ini, Barat
telah melukai sekian miliar juta masyarakat Islam dari dulu hingga saat ini
pasca runtuhnya khalifah terakhir. Dan terakhir yang paling sangat menghebohkan
Barat telah berhasil menginfiltrasi pemahaman racunnya kedalam sarjana-sarjana
muslim yang bergelar ‘intelektual muslim’, dari mulai pemahaman equality
gender
, tafsir hermeneutika, Liberalisme dan re-aktualisasi Islam, Sekulerisasi,
Inklusivisme, Pluralisme, kajian orientalisme, dll.[9]

 

Umumnya,
dipahami bahwa kalangan orientalis (yang dianggap pihak Barat) memahami Timur
(mayoritas adalah Islam) sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak
berimbang, cenderung menyudutkan pihak yang kedua. Turner[10]
mencoba menjelaskan di mana letak ambiguisitas antara keduanya (Islam dan
Barat), mana yang menjadi persamaan dan perbedaannya.  Kita pernah
diguncangkan oleh bukunya Samuel Huntington, yang berjudul The Clash of
Civilization and the Remaking of world Order
. Buku ini menjelaskan
bagaimana Barat dan non-Barat (Timur) adalah dua wilayah yang saling
berbenturan. Menurut Huntington, pasca runtuhnya Komunisme maka Islam memiliki
peluang untuk berbenturan dengan Barat. Konflik yang terjadi lebih pada
kebudayaan yang berbeda antar keduanya. Lebih lanjut

Huntington

menyatakan :

 

“Dalam
dunia baru tersebut, konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat
penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial, antara
golongan kaya dengan golongan miskin, atau antara kelompok-kelompok (kekuatan)
ekonomi lainnya, tapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitas-entitas
budaya yang berbeda-beda”.

 

 

Tesis Huntington
inilah yang oleh beberapa ahli dipegang oleh presiden US, saat ini dalam
melakukan invasi keberbagai Negara Islam, dengan dalih terorisme tetapi tak
bias menutupi kedok aslinya yaitu ‘war and crusade with me or with terorist
dengan doktrinnya stick or carrot.

 

Penutup

 

Sekalipun Barat
saat ini telah memegang tampuk peradaban dunia tetapi dikalangan mereka
kritikan terhadap Barat dari tubuh Barat pun seringkali bermunculan. Contoh
diatas hanyalah disajikan sebagai kritikan Barat oleh Barat dalam tinjauan ilmu
paradigma sosial, sedangkan dalam perjalanan peradabannya Barat tak pernah
lepas dari kecaman berbagai pihak yang tak menyetujui kebijakannya yang saat
ini menjadi jargon Barat sendiri yaitu human right.

 

Sedangkan kritik
Islam sendiri terhadap Barat tak akan pernah ada habisnya, dan tidak
sepantasnya kritikan tanda kekecewaan terhadap Barat dilakukan dengan cara-cara
model Barat[11]. Maka
sebagaimana layaknya seorang muslim sejati hendaklah kita mengembalikkan Islam
sesuai dengan prinsip dasarnya yaitu Tauhid terlebih dahulu, sebagaimana
nasehat Imam Malik rahimahullah yang dinukil oleh Al Imam Asy Syathibi
rahimahullah di kitabnya Al-Itishom “ Tidak akan baik generasi akhir umat ini,
selama tidak kembali kepada apa-apa yang membuat baik generasi awal ummat ini ”

 

Daftar Pustaka

 

Ritzer, George, Sosiologi
Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda
( penyadur : Drs. Alimandan ), CV.
Rajawali,

Jakarta

:
Januari 1985

Jawwas, Yazid
bin Abdul Qadir, Prinsip Dasar Islam, Pustaka At Taqwa,

Bogor

: Rabi’ul akhir 1427
H.

Susanto, Happy, Membongkar
Hegemoni Wacana Sosiologi Barat
dalam Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3,
September2003. terbitan International
Institute of Islamic Thought Indonesia download http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/book3.htm

 

 


[1] Sosiologi, Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (dengan sedikit
perubahan), hal. 29.

[2] Ibid, hal 34.

[3] Ibid, hal.63

[4] Opcit, hal 82

[5] Opcit, hal. 85

[6] Lihat kembali makalah dua pertemuan sebelumnya

[7] Sebab di dalam buku beliau Paradigma
Islam; Intepretasi untuk Aksi. Penyusun makalah tidak menemukan daftar pustaka
kitab ‘ulama yang mu’tabar dan mu’tamat dalam buku beliau, yang ada hanyalah
buku-buku karya orientalis barat yang berbicara dengan Islam sesuai dengan
kehendak hatinya. Semoga Alloh menunjukkan Dr. Kuntowijoyo kepada kebenaran!

[8] Penjeasan ini saya ( abu yahya ) ambil dari kitab guru kami Fadhilatu Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas
yaitu Prinsip Dasar Islam, bacalah kitab tersebut karena sangat bermanfaat dan
berfaedah. Penjelasan ini saya ringkas dari hal 34-46. adapun masih banyak
karya ‘ulama ahlusunnah lain yang tak bisa saya sebutkan disini karena akan
menambah panjang halaman makalah ini.

[9] Walhamdulillah banyak saudara kita dari kalangan muslim yang telah
membantah pemikiran dan pemahaman teologis semacam ini, tak kurang seperti
al-akh Adian Husaini, MA yang saat ini menjadi kandidat Doktor di ISTAC-IIUM
Malaysia di dalam bukunya Islam Liberal, Wajah Peradaban Barat, Pluralisme
Agama,dll. Ada pula saudara kita yang lain semisal al-akh Adnin Armas, MA, dan juga kita
mengenal al-akh Hartono Ahmad Jaiz yang seringkali membongkar kedok JIL, dan selainnya.
Wal’iyadzubillah

[10] Dalam bukunya : Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat, Bongkar Wacana
atas Islam vis a vis   Barat, Orientalisme, Postmodernisme, dan Globalisme. Dalam resensi yang
dilakukan oleh Happy Susanto dengan judul Membongkar Hegemoni Wacana Sosiologi
Barat, transkrip hal 9

[11]Saya telah menguraikan beberapa
model-model barat di blog saya pribadi di www.adjhee.blogs.friendster.com
ataupun di www.albykazi.blogspot.com
khususnya tentang demonstrasi.